Blind Husband

Blind Husband
Blind 63


__ADS_3

Satu hal yang Alula tak tahu ialah, Tiana bukanlah dokter umum melainkan dokter khusus kejiwaan. Zyandru memang tak mengatakannya karena tak mau menyinggung perasaan Alula.


Zyandru dan Tiana berkuliah di universitas yang sama, namun fakultas yang berbeda. Zyandru yang mengambil jurusan manajemen, sedangkan Tiana psikologi.


Zyandru yang memang dikenal sebagai mahasiswa paling populer dengan ketampanan dan kepintarannya, membuat mahasiswi lain termasuk Tiana menyukainya. Namun mereka semua harus menelan pil pahit begitu mengetahui Zyandru sudah menjalin hubungan dengan Princy yang saat itu memang sudah memulai karier modelnya.


Tak sedikit wanita yang tetap mendekati meski Zyandru menolak, bahkan ada yang terang-terangan menerima jika menjadi selingkuhannya.


Lain halnya dengan Tiana, wanita itu hanya bisa melihat Zyandru dari kejauhan, Tiana sering pergi ke fakultas ekonomi dan bisnis hanya untuk melihat Zyandru. Tiana tak pernah berani mengutarakan perasaannya dan lebih memilih memendamnya hingga sekarang.


Pengumuman pernikahan yang di lakukan Zyandru membuat Tiana begitu terkejut sekaligus sakit, pasalnya pria itu menikahi orang lain dan bukan Princy. Yang lebih membuat Tiana terkejut adalah ternyata Alula memiliki gangguan mental.


Tiana yang memang membuka praktek sendiri, tiba-tiba didatangkan Ansell dan memintanya untuk menjadi psikolog pribadi sekitar 2 sampai 3 bulan ke depan.


Dengan pembayaran cukup besar yang ditawarkan Ansell, Tiana langsung menyetujuinya begitu saja. Hingga malam harinya, Ansell mengajak Tiana untuk bertemu dengan suami dari calon pasiennya.


Betapa terkejutnya Tiana melihat pria yang masih dicintainya lah yang ternyata menyewa jasanya sebagai psikolog.


Zyandru pun sama terkejutnya dengan Tiana, entah sudah berapa tahun mereka tidak bertemu.


Meski tak dipungkiri, perasaan itu masih ada, namun Tiana mencoba mengubur dalam-dalam cintanya pada Zyandru. Karena biar bagaimanapun, Zyandru sudah menikah.


...***...


Satu bulan sudah Tiana menjadi psikolog pribadi Alula. Tiana akan datang pagi dan pulang siang hari.


Tiana selalu berusaha untuk dekat dengan Alula, namun Alula seperti selalu membangun tembok di antara mereka. Alula terlalu sulit untuk dijangkau.


Bukan tanpa alasan Alula seperti itu. Sejak kepergian kedua orang tuanya, orang-orang berubah secepat kilat, semua mengkhianatinya, bahkan keluarganya sendiri.


Apalagi sejak menikah, rasa sakit Alula kembali bertambah karena menaruh kepercayaan penuh pada suaminya. Alula mulai membatasi kepercayaan dan kedekatannya pada orang lain.


Jika bayangannya saja bisa meninggalkannya di kegelapan, bagaimana dengan orang lain. Kira-kira seperti itulah yang Alula pikirkan.


Alula juga merasa ada sesuatu yang aneh dari seorang Tiana. Jika siang hari, Zyandru selalu pulang hanya untuk menemani Alula yang hingga sekarang masih sulit makan, di saat itulah Alula sering menangkap Tiana sering mencuri pandang bahkan tak segan mendekati Zyandru.


Mungkin Zyandru tak menyadarinya, namun Alula tahu tatapan yang Tiana berikan. Alula akui Tiana memang sangat baik padanya, namun sikapnya menjadi berlebihan jika ada Zyandru di sana.


Seperti siang ini, di ruang keluarga, Tiana terus mengajak Alula mengobrol. Meski Alula hanya berbicara sedikit, Tiana tetap memaksa bertanya karena ini termasuk pengobatannya.


Begitu mendengar Zyandru datang, Tiana dengan cepat merapikan penampilannya. Saking sibuknya Tiana, hingga tak menyadari Alula tengah memperhatikannya.


"Sayang, aku bawa es krim kesukaan kamu," Ucap seorang pria yang memakai pakaian kantornya. Zyandru memeluk Alula dan mencium kepala istrinya itu.

__ADS_1


Zyandru memberikan bingkisannya pada salah satu pelayannya dan meminta memasukkan es krim tersebut di lemari pendingin.


"Kok di taruh di kulkas? Kan aku mau makan!" Protes Alula dengan wajah kesalnya.


Zyandru tertawa kecil melihat tingkah istrinya itu. Mengangkat tangan kirinya, Zyandru mencubit pelan pipi Alula.


"Kita makan nasi dulu, setelah itu kamu boleh makan es krim, ya!" Zyandru memberi wejangan pada Alula layaknya tengah menasehati putri kecilnya.


"Oh iya Zyandru, kamu tahu gak, barusan aku ada buat cookies coklat lho. Aku ingat saat kuliah dulu, kamu sering beli cookies buatan teman aku kan!"


Tiana mencela kemesraan suami istri itu dengan mengingatkan masa lalu mereka pada Zyandru.


"Kamu ingat?" Zyandru membalikkan tubuhnya menatap wanita di belakangnya. "Wahh, itu udah lama banget lho, siapa tuh nama teman kamu?"


"Dea"


Zyandru dan Tiana menyebut satu nama secara bersama kemudian tertawa bersama.


"Rasanya sih beda banget sama buatan Dea. Maklumlah, aku masih belajar."


Alula yang melihat kedekatan suami dan dokter pribadinya, merasa tak peduli bahkan terkesan acuh. Wanita itu memilih meninggalkan kedua orang itu dan berjalan menuju ruang makan.


"Semalam tuan muda bawa banyak udang besar, katanya itu kesukaan nyonya muda." Ucap seorang wanita dari arah belakang membuat Alula seketika menolehkan kepalanya.


"Nah, ini bibi buatkan udang asam manis khusus untuk nyonya muda Alula."


Alula seketika melebarkan matanya melihat makanan kesukaannya terhidang di depannya. Udang yang sudah di kupas kulitnya itu nampak seperti memanggil Alula untuk segera menyantapnya.


Menatap penuh bi Asri, Alula mengucapkan banyak Terima kasih pada wanita paruh baya itu.


Melihat senyum Alula, bi Asri pun ikut tersenyum. Wanita paruh baya itu ingat, saat pertama kali Alula datang ke rumah ini, Alula begitu murung tak mengeluarkan suara sedikitpun.


Begitu mengetahui Alula tengah memiliki gangguan pada mentalnya, bi Asri menjadi iba. Apalagi melihat keadaan Alula yang begitu kurus karena sulit sekali untuk makan.


Dengan memberanikan diri, bi Asri mendekati Alula dan meminta nyonya mudanya itu untuk makan. Bak gayung bersambut, Alula yang menolak suapan Zyandru malah menerima suapan bi Asri.


Sejak saat itu hingga sekarang, jika Alula susah makan, bi Asri lah yang akan menjadi penolongnya. Bahkan, satu-satunya orang yang mampu membuat Alula banyak berbicara hingga tertawa hanyalah bi Asri.


Sedangkan Zyandru dan Tiana yang baru saja datang. Melihat Alula sudah lebih dulu makan, wanita itu terlihat begitu lahap.


"Kok kamu makan lebih dulu sih Alula?" Tanya Tiana heran.


"Kenapa? Masalah?" Alula balik bertanya tanpa menatap wanita itu.

__ADS_1


"Maksud aku, kenapa gak nunggu Zyandru datang?"


"Gak masalah, yang penting kesayangan aku mau makan," Bukan Alula yang menjawab, melainkan Zyandru. Pria itu mengusap pelan kepala istrinya.


"Kamu juga ikut makan Tiana!"


"Iya"


...***...


Malam harinya, seperti biasa Alula akan berada di balkon kamarnya dan menikmati indahnya langit malam. Namun kali ini ada yang berbeda, langit begitu sepi tanpa ada bintang yang menghiasi.


"Mungkin mau hujan," Gumam Alula. Wanita itu mengusap lengannya sendiri ketika merasakan angin yang tak terlalu kencang namun mampu membuatnya kedinginan.


Merasakan sesuatu melingkar di tubunya, Alula menoleh dan mendapati Zyandru yang menyelimutinya.


"Kalau mau duduk di sini malam hari, pakai jaket atau bawa selimut!"


Zyandru tak melepaskan lingkaran tangannya pada bahu Alula, pria itu malah ikut menyelimuti tubuhnya dan kembali merangkul istrinya.


Alula tak menolak apalagi memberontak, bahkan wanita itu hanya diam ketika Zyandru menarik dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang milik Zyandru.


Keromantisan sepasang suami istri itu harus rusak karena tiba-tiba salah satu pelayan mengabari jika ada tamu yang datang.


Zyandru menyempatkan mencium kepala Alula sebelum benar-benar pergi. Dilihatnya ternyata Tiana yang datang, wanita itu sudah duduk di sofa ruang tamu.


"Aku bawakan kamu buku resep cookies, ini aku yang minta sendiri dari Dea lho." Ujar Tiana. Wanita itu mengeluarkan buku kecil berwarna coklat.


"Jadi, kamu cuma mau nganter ini aja?" Tanya Zyandru. Sejujurnya pria itu sedikit heran.


"Iya! Kamu sendiri kan yang bilang, kamu mau tahu resep cookies Dea, biar nanti bisa di buatin kapan aja sama sama pelayan kamu."


"Iya, tapi kenapa gak besok aja? Ini sudah malam lho Tiana."


"Eh, ehm maaf. Aku ganggu kamu ya?" Tiana bertanya sambil memainkan jarinya sendiri.


"Sedikit, tapi makasih ya!"


Tiana kembali tersenyum senang, wanita itu melirik jam kecil yang melingkar di tangannya. "Sudah jam segini, aku pamit ya?"


Tiana bangkit dari duduknya. Saat hendak berbalik, Tiana malah berpapasan dengan Zyandru yang hendak berdiri. Tiana yang tak dapat menopang tubuhnya sendiri, membuatnya terjatuh tepat di atas pangkuan Zyandru.


Sementara dari tempat yang tak jauh, Alula yang hendak pergi ke dapur malah melihat suaminya memangku wanita lain. Alula diam memperhatikan dengan tangan menekuk di depan dada.

__ADS_1


"Bibit pelakor"


__ADS_2