
Di sebuah ruangan yang di penuhi dengan map dan berkas, Aziel tengah mendengarkan laporan Rio, anak buahnya yang ia perintahkan menyelidiki Alula semalam.
Aziel seketika menghembuskan napasnya ketika mendengar Rio mengatakan hubungan Alula dan Zyandru baik-baik saja.
Segala cara telah ia lakukan untuk mendapatkan Alula, namun hasilnya nihil. Haruskah ia menculik dan menikahi paksa Alula, kalaupun itu adalah satu-satunya jalan, Aziel akan melakukannya.
Melihat wajah Rio babak belur, Aziel tentu merasa heran dan mempertanyakan hal tersebut.
Rio menjawab, semalam ia nyaris menabrak seseorang hingga ia menjadi bulan-bulanan warga.
Mendengar hal tersebut, Aziel mengerutkan keningnya, namun ia langsung membuang rasa curiganya tersebut. Aziel mengangkat tangan dan mengibaskannya.
Mengerti perintah sang tuan, Rio berlalu pergi. Keluar dari rumah besar milik Aziel, Rio mengendarai mobilnya menuju sebuah tempat yang telah ia janjikan dengan seseorang.
Tempat yang begitu sepi, hanya di kelilingi pepohonan dan suara cuitan burung. Sesampainya di sana, Rio turun dari mobil dan duduk di salah satu kursi yang terbuat dari kayu.
Tak lama, datanglah seorang pria dengan jas yang melekat di tubuhnya. Sambil merogoh sakunya, pria itu berjalan menuju ke tempat Rio berada.
"Nih!" Tanpa berbasa-basi lagi, Ansell memberikan amplop coklat yang cukup tebal berisi uang pada Rio.
Dengan senyum tipisnya, Rio mengambil amplop tersebut dan mengajak Ansell untuk duduk di sebelahnya.
"Gimana? Aziel curiga?" Tanya Ansell dengan pandangan lurus ke arah danau yang berada di depannya.
"Gak, dia percaya gitu aja sama omongan gue," Rio menghembuskan napasnya sebelum kembali berbicara. "Adik gue akan baik-baik aja kan!"
"Tenang, gue akan mengerahkan anak buah gue buat jaga adik lo!" Ansell beralih menatap pria di sampingnya.
"Adik lo masih sekolah?" Lanjut Aziel dengan alis terangkat sebelah.
"Tahun ini dia lulus SMA, umurnya 18 tahun." Rio menghembuskan napasnya panjang, kemudian berdiri. "Gue duluan, masih ada yang harus gue kerjakan."
__ADS_1
Ansell mengangguk pelan, melihat Rio pergi sepenuhnya dari hadapannya, Ansell mengingat kejadian setelah perkelahiannya dengan Rio semalam.
Sebelum Ansell membawa Rio ke rumah Aziel, ia lebih dulu mencari data diri tentang Rio. Ternyata Rio baru saja bergabung dengan Aziel, pria yatim piatu itu mempunyai seorang adik perempuan yang saat ini tinggal di desa.
Ansell mengajak Rio untuk bekerja sama dengannya dan mengkhianati Aziel. Sebagai gantinya, Ansell tak akan mencelakai adik Rio, bahkan Ansell akan membantu menjaga dan membiayai kehidupan adik Rio.
Melirik jam tangannya, Ansell teringat akan pekerjaan yang sudah menumpuk. Pria itu meninggalkan tempat tersebut dan pergi ke kantor.
Sesampainya di tempat kerjanya, begitu keluar dari mobil, Ansell langsung dikerubungi oleh para karyawan, yang lebih banyak adalah wanita.
Pengumuman pernikahan dengan sekertarisnya yang tiba-tiba dilakukan Zyandru membuat para karyawan heboh, apalagi saat itu Zyandru mengatakan mereka sudah menikah selama satu tahun.
Selama beberapa bulan belakang, para karyawan memang merasa ada yang janggal ketika melihat Zyandru dan Alula. Tak jarang mereka berdua menangkap kemesraan antara kedua insan itu.
Banyak dari mereka yang berpikir buruk tentang Alula, bahkan ada gosip yang mengatakan Alula adalah sekertaris sekaligus pemuas nafsu Zyandru. Namun tak disangka ada ikatan di antara mereka.
Ansell yang memang beberapa hari tak datang ke kantor karena sibuk dengan urusan Alula, hari ini harus dihadapkan dengan pertanyaan yang sama. Yaitu mengenai pernikahan Zyandru dan Alula.
Tubuh Ansell dihimpit di pintu mobil oleh beberapa karyawan. Jangankan untuk pergi, bergerak saja susah, membuat pria itu menjadi pusing sendiri.
Karena suara para karyawan begitu berisik, terpaksa Ansell meninggikan suaranya. Setelah berhasil lepas, Ansell segera berlari ke dalam.
Dikejar gerombolan manusia, Ansell bagaikan seekor kelinci kecil yang dikejar kumpulan cheetah yang lapar.
Sesuai dengan perintah Ansell, para karyawan itu dengan tertib berbaris di lantai satu.
"Masalah gosip aja nomor satu kalian!" Cibir Ansell dengan bibir yang dimonyongkan.
"Memang benar pak Zyandru dan Alula sudah menikah!"
Haahhh !!!
__ADS_1
Para karyawan kompak membulatkan mata dan mulut mereka ketika mendengar ucapan Ansell.
"Sesuai yang dikatakan pak Zyandru malam itu, pernikahannya sudah berjalan satu tahun. Sekarang pak Zyandru dan Alula tengah melakukan bulan madu mereka yang tertunda. Saya sebagai asisten pribadi pak Zyandru, mulai hari ini akan menggantikan beliau. Sudah cukup pengumumannya, saya permisi!"
Semua karyawan wanita yang mendengar seketika menjadi histeris, beberapa dari mereka bahkan ada yang menangis.
Bagaimana tidak, CEO kebanggaan dan incaran mereka sudah ada yang memiliki. Mau tidak mau dengan berat hati mereka semua harus mundur.
...***...
Sementara itu di rumah sakit, perkataan psikiater yang menangani Alula terus membayangi kepala Zyandru.
Mungkin satu bulan adalah waktu yang singkat bagi orang lain, namun tidak bagi Zyandru. Satu bulan tanpa Alula akan membunuhnya perlahan, namun jika ia nekat menemui Alula, istrinya itu yang akan terbunuh mentalnya.
Sekarang, Alula sudah dipindahkan ke kamar rawat lain, sedangkan Zyandru masih setia menunggu di depan. Kaki pria itu tak hentinya bergerak menepuk-nepuk lantai.
Zyandru rela menggelontorkan biaya yang cukup besar untuk menyewa satu lantai rumah sakit selama satu bulan ke depan. Hal itu ia lakukan hanya agar Alula tak terganggu dengan pasien lain, dan demi kenyamanan Alula sendiri tentunya.
Zyandru bangkit dari duduknya, dengan langkah yang sangat pelan, pria itu berjalan menuju ke arah pintu di depannya.
"Alula, aku ke kantor sebentar ya! Nanti aku ke sini lagi." Zyandru tetap pamit meski tahu Alula tak dapat mendengarnya, pria itu memaksakan senyumnya kemudian pergi.
Sebenarnya berat bagi Zyandru meninggalkan Alula, apalagi di kantor ada Ansell, namun ia tak bisa terus mengandalkan asistennya itu.
Zyandru jadi teringat suatu pagi dirinya pernah merasa sangat malas pergi ke kantor, ia hanya ingin berbaring seharian bersama Alula. mendengar hal itu Alula tak hentinya mengomel, bahkan ketika sudah berada di kantor, Alula tetap membahas hal yang sama.
Senyum tipis terpatri diwajah tampan Zyandru. Ia merindukan kebersamaannya bersama dengan Alula, bahkan ia rindu omelan istrinya itu. Tanpa terasa air matanya kembali terjatuh, buru-buru ia menghapusnya.
Zyandru sudah berjanji pada Alula bahwa ia akan menjadi orang yang lebih baik, dan ia akan menepati janjinya itu.
Dengan mengendarai mobil sendiri, Zyandru sampai di perusahaan miliknya.
__ADS_1
Melihat kedatangan orang nomor satu di kantor, sontak para karyawan begitu terkejut. Pasalnya Ansell berkata Zyandru tengah cuti.
Yang menjadi pertanyaan adalah di mana Alula? Mengapa Zyandru datang sendiri? Sayangnya para karyawan harus memendam rasa penasaran mereka, karena tak berani menanyakan hal tersebut pada Zyandru.