Blind Husband

Blind Husband
Blind 26


__ADS_3

Zyandru menatap wajah tenang Alula, istrinya itu baru saja terlelap setelah makan kemudian minum obat.


Merasa rencananya sudah berjalan mulus, entah mengapa ada sebuah perasaan yang Zyandru sendiri pun tak mengerti.


Bukankah ini jalan yang sejak awal Zyandru inginkan, kembali dengan Princy, menikah dan hidup bersama dengan bahagia seperti impiannya dan Princy dulu. Namun mengapa bayang-bayang Alula yang akan pergi dari hidupnya, membuat Zyandru takut.


Zyandru kembali teringat hari di mana ia dan Alula resmi menjadi suami istri. Janji untuk selalu membahagiakan Alula seakan memenuhi kepala pria itu.


Zyandru membawa tangannya mengusap pelan kepala Alula, merasakan lembutnya rambut yang setiap malam diam-diam ia hirup aromanya. Zyandru tersenyum sendiri mengingat perkataan Alula bahwa ia belum keramas 500 tahun.


"Nanti setelah kita bercerai, kamu cari pria yang baik, jangan bajingan seperti Revaz, kamu juga harus cari pria yang lebih dari aku. Pria yang bisa mencintai kamu dengan tulus, bukan seperti aku yang hanya memanfaatkan kamu"


Zyandru menempelkan bibirnya tepat di pelipis Alula, seolah tak ingin lepas, Zyandru kembali menghirup dalam-dalam harumnya rambut Alula.


Merasakan kepalanya yang berat, Alula membuka mata kemudian menepuk pelan lengan pria yang sejak tadi menumpukkan kepalanya.


Alula terkejut begitu melihat wajah Zyandru, suaminya itu terlihat seperti habis menangis.


"Kamu kenapa?"


Zyandru menggeleng kemudian merebahkan tubuhnya dan memeluk erat Alula.


"Kamu kenapa sih?" Alula di buat semakin heran kala Zyandru berkali-kali mengecup kening hingga kepalanya.


"Tidur!" titah Zyandru yang masih memeluk Alula.


"Jawab dulu pertanyaan aku!, kamu kenapa aneh begini?"


Sekarang pria itu malah menutup matanya dan membuat Alula geram, dengan jahilnya Alula mencubit perut kotak-kotak suaminya itu.


"Sakit Alula!" keluh Zyandru namun tak melepaskan pelukannya.


"Jawab pertanyaan aku!"


"Tidur udah malam!"


"Emang sekarang jam berapa?" tanya Alula mendongak menatap wajah sang suami.


"Emm jam 8 kayaknya"


Hahahahah


Alula menyemburkan ketawanya tepat di depan telinga Zyandru hingga membuat pria itu membelalakan matanya.


"Disuruh tidur malah ketawa"


"Jam 8 itu belum terlalu malam Zyandru"


"Halah, tadi aja kamu udah ngorok" cibir Zyandru.


"Tadi itu efek obat, sekarang udah gak ngantuk jadi gak bisa tidur"

__ADS_1


"Kamu baru aja keluar dari rumah sakit Alula!, emang mau sakit lagi, hah? lagian kamu tuh manusia bukan kuntilanak yang gak tidur malam"


Alula cekikikan mendengar omelan Zyandru, "aku tuh bukan kuntilanak"


"Terus apa dong?"


"Tuyul"


"Hehehe, pantesan aku kaya"


Suara tertawa mereka memenuhi ruangan itu, kesedihan yang sempat Zyandru rasakan kini hilang ketika melihat wajah ceria Alula. Biarkanlah mereka berbahagia walau hanya sebentar.


"Tuan, nyonya"


Alula menoleh ke arah pintu, ingin menjawab tapi Zyandru terus saja menggelitikinya.


"Zyandru lepas dulu, itu pak mun manggil" pinta Alula sambil tertawa.


"Tuan, nyonya" panggil pak mun sekali lagi di iringi ketukan pintu.


Tak mempedulikan permintaan Alula, Zyandru terus menggerakkan jarinya di perut sang istri. Alula yang merasa kesal akhirnya menggigit bahu Zyandru hingga membuat sang suami berteriak kesakitan.


"Sukurin"


Dengan rambut yang acak-acakan, Alula menjulurkan lidahnya sambil berjalan ke arah pintu. Di sana pak mun memberitahu bahwa ada Ansell yang berkunjung.


Alula dan Zyandru turun ke ruang tamu menyambut tamu mereka, mendengar Alula masuk ke rumah sakit tentu saja membuat Ansell khawatir, ingin menjenguk tapi pekerjaan menumpuk.


Zyandru memicingkan matanya melihat kedekatan Alula dan Ansell, apalagi ketika mendengar Alula memanggil Ansell dengan sebutan 'kak'.


Zyandru menatap istri dan asistennya bergantian, "heh Ansell sejak kapan kamu adik kakak sama Alula?"


"Gak usah kepo" ucap Alula membuat Zyandru makin kesal.


Ansell mengeluarkan sebuah map dari dalam tasnya, "tuan sebenarnya saya mau membicarakan masalah perusahaan"


"Alula, ini kan udah malam, kamu tidur, ya, aku mau ngomongin bisnis sama Ansell" ucap Zyandru dengan lembut.


Alula yang sedang asik makan buah, seketika berhenti mengunyah dan menatap kedua pria itu, "ya udah"


"Bisa jalan sendiri kan?" Zyandru mengusap pelan kepala Alula.


"Bisa"


Setelah kepergian Alula, Zyandru menatap Ansell dengan wajah serius, "kita bicara di ruang kerja saya"


...***...


Zyandru terlihat tengah membaca beberapa berkas yang dibawa Ansell, matanya yang bergerak ke kanan dan kiri seketika berhenti tepat pada satu kalimat.


"Jadi mereka mengajak kerjasama pak Johan untuk mengakuisisi prusahaan saya?"

__ADS_1


"Benar tuan"


Bibir pria itu tersungging membentuk seringai menakutkan, otaknya berputar mengingat sebuah nama. Zyandru menghela napas sebelum melanjutkan bacaannya.


"Sungguh licik paman dan sepupuku ini" Zyandru membanting berkas tersebut ke mejanya.


"Saya juga sudah menyelidiki sepak terjang pak johan di dunia bisnis, dan ini hasilnya tuan"


Ansell kembali mengeluarkan sebuah map, Zyandru langsung membuka map berisi beberapa kertas dan beberapa lembar foto.


"Wah wah wah, apa ini Ansell?, kerja sama berujung sengketa, luar biasa sekali pak johan" Zyandru terkekeh di akhir kalimatnya.


"Benar tuan, perusahaan yang di kelola pak Johan selama bertahun-tahun adalah hasil akuisisi perusahaan rekannya."


"Siapa orang yang sudah di khiananti pak Johan?" tanya Zyandru penasaran.


"Maaf tuan, untuk itu saya belum tahu"


"Setelah ini cari tahu!" titah Zyandru.


"Baik tuan"


Sementara itu, Alula yang baru saja kembali dari dapur sehabis minum, Samar-samar mendengar percakapan Zyandru dan Ansell.


Ruang kerja Zyandru berada di lantai dua dan jaraknya tak jauh dari kamarnya. Alula melangkahkan kakinya mendekati pintu ruangan tersebut.


Alula sebenarnya tak ada maksud untuk menguping, hanya saja ia mendengar namanya disebut oleh kedua pria yang sedang mengobrol di dalam.


Pintu yang terbuka sedikit itu menjadi kesempatan bagi Alula, wanita yang memakai piyama tersebut mendekatkan telinganya ke pintu.


Bukan hanya menyebut namanya, namun mereka juga menyebut nama Revaz. Itulah yang Alula dengar.


Bagai terkena sayatan pisau, Alula begitu terkejut sekaligus sakit ketika mendengar ternyata Zyandru masih mencurigai dirinya berhubungan dengan Revaz.


Alula juga mendengar Zyandru sampai menyuruh Ansell menyelidiki dirinya, Ansell memang terdengar beberapa kali membela Alula, namun Zyandru terus menyangkalnya.


Tak terasa air mata Alula jatuh begitu saja, tak ingin terus mendengar kata-kata menyakitkan dari sang suami, Alula memilih kembali ke kamar.


Di dalam kamar, Alula tak lagi menahan air matanya, ia membiarkannya tumpah membasahi wajahnya.


Alula sempat berpikir untuk membatalkan rencananya mengungkap kebenaran tentang mata Zyandru dan memilih menanyakan secara baik-baik. Namun mengapa di saat ia ingin melakukannya, Zyandru justru kembali melakukan hal menyakitkan.


Mencurigai istri sendiri dan menyuruh orang lain untuk mengawasi, bukankah itu sudah kelewat batas. Alula tidak akan membiarkannya begitu saja.


"Apa semua sikap manis yang kamu tunjukan hanya pura-pura, aku cinta sama kamu Zyandru, gak mungkin aku mengkhianati kamu, hiks hiks"


Mendengar suara langkah kaki, dengan cepat Alula menghapus air matanya dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


Beberapa menit berlalu, Alula mendengar suara pintu, ia juga merasa ada yang mendekat dan selimut yang menutupi wajahnya ditarik begitu saja.


"Kamu kenapa suka banget nutup muka pake selimut sih Alula" gumam Zyandru kemudian memeluk Alula dari belakang.

__ADS_1


Kamu kenapa suka banget bohong Zyandru. Timpal Alula dalam hati.


__ADS_2