Blind Husband

Blind Husband
Blind 73


__ADS_3

Setelah masalah di penambangan benar-benar selesai, Zyandru memilih segera pulang. Bagi Zyandru, hanya dengan melihat senyum Alula mampu menghilangkan segala rasa lelahnya.


Begitu sampai di rumah, Zyandru malah mendengar Alula berbicara tentang perceraian, jantung pria itu seakan berhenti saat itu juga.


"Lepas!"


Zyandru yang terus berusaha menghalau Alula yang ingin pergi, tak mempedulikan teriakan dan pukulan sang istri, Zyandru mengangkat tubuh Alula menaiki tangga menuju kamar mereka.


Tanpa berbicara apa-apa, Zyandru mendudukkan Alula di pinggir tempat tidur, pria itu kemudian membuka koper Alula dan kembali memasukkan pakaian istrinya ke dalam lemari besar yang berada di ruang ganti.


Melihat itu, Alula tak tinggal diam, ia berjalan menghampiri dan kembali memasukkan pakaiannya, hal itu membuat Zyandru terlihat begitu marah.


Zyandru menahan kedua tangan Alula dan menusuk istrinya itu hanya dengan tatapan tajamnya.


"Kenapa kamu suka banget ngomong gitu sih Alula? Kamu sendiri yang bilang kalau ada masalah kita selesaikan baik-baik. Tapi apa? Tanpa ada masalah apapun kamu mau meninggalkan rumah ini, bahkan berniat menggugat cerai aku."


Alula tak mempedulikan perkataan Zyandru, wanita itu sibuk mengurusi pakaiannya. Setelah berhasil memasukkan semuanya, Alula menutup rapat kopernya.


Zyandru tentu tak membiarkannya, pria itu kembali menahan pergelangan tangan istrinya cukup kuat, hingga menimbulkan bekas merah berbentuk jari pada kulit Alula.


Menghempaskan dengan kasar tangan Zyandru, Alula hanya bisa menunduk tak berani menatap mata suaminya itu. Alula menarik handle koper namun lagi-lagi Zyandru menahannya.


"ALULA!"


Seharian dibuat lelah dengan urusan penambangan, bukannya sambutan manis seperti biasa yang dapat mengurangi segala bebannya, Alula malah menambah pening di kepala Zyandru hingga membuat pria itu tanpa sadar meninggikan suaranya.


Air mata yang sejak tadi Alula tahan mati-matian, kini mengalir begitu deras. Zyandru yang panik, segera memeluk Alula dengan erat, pria itu juga kembali membopong tubuh istrinya dan membawanya ke tempat tidur mereka.


"Maafkan aku Alula," Ucap Zyandru yang terdengar begitu menyesal.

__ADS_1


Tangisan Alula yang semakin keras membuat tubuhnya bergetar hebat, hal itu dapat di rasakan oleh Zyandru yang masih setia memeluknya. Tak mungkin Alula menangis sekuat ini hanya karena bentakan.


"Aku benci kamu Zyandru"


Hal yang tak ingin pernah Zyandru dengar akhirnya keluar dari mulut Alula. Perlahan Zyandru melepaskan pelukannya dan menatap mata Alula dengan wajah penuh tanda tanya.


"Sayang, sebenarnya kamu kenapa?" Zyandru kembali bertanya dengan nada yang begitu rendah.


Alula tak menjawab melainkan mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan beberapa pesan yang di kirimkan Princy.


Melihat wajah terkejut Zyandru, Alula menjadi semakin yakin untuk berpisah dengan pria yang sudah memanfaatkan dan membohonginya sedalam ini.


"A—Alula, aku... Aku bisa jelasin, ini bukan—"


"Bukan seperti yang aku pikirkan karena jalan pikiran kita memang selalu beda." Alula menyela Zyandru yang berbicara terbata-bata.


"Kenapa? Kalau kamu memang masih mencintai Princy, kamu bisa meminta bantuanku agar kalian bisa kembali bersama. Kenapa harus sampai menikahiku Zyandru? Kamu juga tahu pernikahan bukanlah hal yang bisa di permainkan."


Alula tertawa renyah mendengar jawaban yang Zyandru keluarkan.


"Tapi itu dulu, sebelum aku menyadari aku mencintaimu Alula. Semenjak ada kamu, nama Princy hilang sepenuhnya dari hatiku. Kumohon percaya padaku, aku sangat mencintaimu Alula Zayana."


Alula menjauhkan tangannya begitu Zyandru hendak kembali menggenggamnya. Wanita itu kembali mengotak-atik ponselnya dan menunjukkan foto ketika Zyandru dan Princy saling memeluk di rumah lama mereka.


"Wanita yang kamu peluk ini Princy kan? Kamu tahu kapan aku melihat ini? Hari di mana aku mengungkap kebenaran tentang mata kamu, di hari itu juga kamu menampar wajahku. Tapi—"


Alula berhenti berbicara ketika merasakan napasnya tersengal.


"Tapi kamu malah melakukan ini, dan itupun di rumah kita Zyandru."

__ADS_1


Alula meremas pahanya sendiri di balik dress yang ia gunakan, Zyandru yang melihat itu lantas menggenggam tangan istrinya. Zyandru menunduk dan menyandarkan kepalanya pada telapak tangan Alula.


Zyandru menyesal tak menceritakan masalah ini sejak awal, dengan bodohnya dulu ia terus menyangkal cintanya pada Alula, padahal perasaannya sudah begitu jelas.


Dengan menarik napas dalam-dalam, Zyandru mulai menceritakan tentang mereka yang mempunyai ikatan di masa lalu. Kemudian bagaimana Princy yang datang dan menyatakan perasaannya namun ia tolak.


Zyandru berlanjut menceritakan segala kebusukan Princy dan Aziel, hingga alasan dirinya meninggalkan Alula di tengah jalan.


Alula melebarkan matanya begitu mendengar Zyandru mengatakan dirinya mengirim Princy dan Aziel ke Kolombia. Namun Alula tak percaya karena Aziel pernah mengatakan dirinya tak akan lama di Indonesia.


Dengan semua rasa sakit yang Zyandru berikan, Alula tetap pada pendiriannya untuk berpisah. Menghapus dengan kasar air matanya, Alula kembali mengambil koper miliknya.


"Alula, aku gak mau pisah, jangan tinggalkan aku Alula. Aku sudah menjelaskan semuanya, kumohon percaya padaku."


"Kamu sudah mencapai tujuan kamu Zyandru, untuk apa aku masih di sini? Kumohon lepaskan aku, biarkan aku pergi."


Alula mengambil posisi menunduk dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Alula terus memohon hingga membuat Zyandru yang melihat menjadi tak tega, namun tetap tak mau berpisah. Zyandru mendekap tubuh mungil Alula dan tak membiarkan istrinya itu pergi.


Kepalan kecil tangan Alula tak mampu membuat tubuh kekar Zyandru kesakitan, bahkan jika Alula menusuknya dengan pisau hingga berkali-kali pun Zyandru pastikan ia tetap tak akan melepaskan Alula.


Sakit, itulah yang sama-sama mereka rasakan saat ini, tangisan keduanya memenuhi seisi kamar. Entah berapa lama mereka menangis hingga tubuh mereka sama-sama lemas.


Tak peduli dirinya yang begitu lelah apalagi setelah pulang belum sempat istirahat sedikitpun. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Zyandru membawa Alula ke tempat tidur mereka.


Tak membiarkan Alula jauh darinya sedikitpun, Zyandru memeluk erat Alula hingga tak ada jarak di antara mereka berdua. Terus mengusap punggung Alula, hingga istrinya itu tertidur.


Merasakan napas teratur Alula menerpa kulit wajahnya, Zyandru kembali dibuat bimbang saat ini. Haruskah ia mempertahankan pernikahan mereka di saat ia yang selalu memberikan sakit pada Alula, atau justru melepaskan Alula dan membiarkan Alula pergi mencari kebahagiaan yang lain.


Jarak mereka yang begitu dekat, bahkan tidak sampai sejengkal, membuat Zyandru dengan mudah meraih bibir Alula. Zyandru memberikan kecupan yang begitu lama untuk istri tercintanya itu.

__ADS_1


"Kuharap ini bukan ciuman terakhir kita Alula"


__ADS_2