
Ternyata Zyandru tak berbohong soal pindah rumah, mobil yang di kendarai pak Mun berhenti tepat di depan sebuah gerbang besar.
Begitu gerbang terbuka, Alula kira akan langsung menampilkan rumah, namun ternyata salah. Mobil masuk begitu saja ke halaman yang begitu luas di kelilingi pepohonan.
Masih butuh sekitar 100 meter sebelum akhirnya benar-benar sampai pada sebuah bangunan yang besarnya puluhan kali lipat dari rumah yang mereka tinggali sebelumnya.
Mansion bergaya klasik Eropa dengan bagian luar berwarna putih sepenuhnya itu terdapat bagasi mobil yang berada di sisi kanan dan kirinya. Terlihat beberapa mobil mewah terparkir di sana.
Sedangkan di depan Mansion mewah tersebut, jalan yang membentuk lingkaran, terdapat sebuah lampu besar juga air mancur kecil yang di kelilingi pohon hias.
Alula yang masih terpaku dengan kemewahan tempat tinggal Zyandru terus diam hingga tak sadar suaminya itu sudah membukakan pintu mobil untuknya.
Dari tempatnya berdiri, Alula melihat empat orang wanita dan dua orang pria tengah berdiri memberikan senyum padanya.
Zyandru menggenggam erat tangan istrinya dan membawanya berjalan bersama.
Suami istri itu berhenti tepat pada tujuh orang yang Alula yakini adalah pelayan yang bekerja di sana.
"Selamat datang dan selamat atas kesembuhannya nyonya muda." Mereka bertujuh kompak menundukkan kepala dan menyapa Alula.
Alula yang tak tahu harus berbuat apa, hanya bisa diam tak membalas sapaan mereka.
Mansion yang begitu luas dengan tangga besar yang berada di sisi kanan dan kiri menjadi pemandangan pertama Alula ketika pintu besar itu terbuka sempurna.
Pada bagian kanan dekat tangga, Alula melihat sebuah foto keluarga yang terlihat begitu harmonis. Melihat wanita cantik dengan rambutnya yang kecoklatan berpose dengan perut buncitnya, Alula meyakini itu adalah ibu mertuanya. Kemudian di sampingnya, seorang pria yang begitu tampan dan gagah, terlihat tangannya berada pada perut wanita hamil tersebut.
Di antara suami istri tersebut, ada anak kecil laki-laki berusia sekitar 10 tahun. Melihat wajah kedua mertuanya, Alula jadi tahu bagaimana Zyandru mendapatkan wajah sempurnanya itu.
Lalu, di sebelah kiri dekat tangga, terpampang sebuah foto yang juga sangat besar. Foto yang membuat hati Alula berdenyut sakit, yaitu foto pernikahan mereka.
__ADS_1
Di foto itu, Alula dan Zyandru nampak sangat mesra dengan tangan Alula yang berada di kedua bahu Zyandru, dan tangan Zyandru yang berada di pinggang Alula. Mereka berdua saling melemparkan senyum yang begitu indah.
Wanita cantik dengan wajah yang sedikit pucat itu kembali membawa matanya menatap sekitar. Bagian dalam Mansion tersebut di dominasi oleh warna coklat yang sedikit gelap dengan beberapa bagian berwarna putih.
Untuk apa rumah besar jika penghuninya tidak bahagia. Alula hanya bisa mengatakan hal tersebut di dalam hatinya.
"Yuk sayang!"
Sejak datang, Zyandru tak melepaskan genggaman tangannya pada Alula. Takut memikirkan kesehatan istrinya yang baru saja pulih, Zyandru langsung membawa Alula menaiki tangga.
Begitu masuk ke kamar, Alula lagi-lagi di buat mencelos. Entah bagaimana menjelaskannya, kamar yang didominasi warna abu-abu itu dihias seperti kamar pengantin baru dengan bunga dan lilin beraroma yang berada di setiap sudut.
Tepat di tengah tempat tidur, terdapat puluhan kelopak mawar merah dibentuk seperti hati, lalu di atasnya ada dua handuk yang berbentuk seperti angsa dengan kepala saling mendekat yang juga membentuk sebuah hati.
Alula mengingat kemesraan dirinya bersama Zyandru beberapa minggu lalu. Saat itu, Alula sudah siap untuk memberikan hak yang seharusnya Zyandru dapatkan sejak menikah, namun karena kejadian naas yang dialaminya, hubungan mereka kembali memburuk.
Mata wanita itu memanas, air mata sudah menggenangi kedua kelopak matanya dan sudah siap ditumpahkan kapan saja. Tangan yang sejak tadi digenggam Zyandru, mengerat begitu saja.
Zyandru yang ingin menumpahkan semua penyesalannya langsung di tolak mentah-mentah oleh Alula. Wanita itu mendorong kuat tubuh Zyandru yang bahkan belum ada satu menit memeluknya.
"Sayang,,,"
"Pergi!" Lirih Alula dengan kepala menunduk dan wajah yang sudah basah dengan air mata.
"Sayang, aku minta maaf. Tadi aku cuma–"
"PERGI!"
Alula langsung memotong ucapan Zyandru, bahkan wanita itu meninggikan suaranya tak peduli tempat yang dipijaknya adalah kamar pria itu.
__ADS_1
Melihat tangan Alula bergetar, Zyandru yang tak ingin mengambil resiko memilih menuruti perintah istrinya dan meninggalkan kamarnya.
Zyandru menutup dengan rapat pintu kamar, pria itu tak benar-benar pergi melainkan memilih menunggu di depan.
Sedangkan di dalam, Alula melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi. Wanita itu menuangkan cukup banyak sabun cair yang berada di dekat wastafel kemudian menggosok tangannya di bawah air mengalir.
Entah sudah berapa lama Alula menggosok tangannya hingga telapak tangannya memerah dan kulitnya sedikit mengelupas.
Kamar yang kedap suara itu menjadikan Zyandru tak dapat mendengar teriakan Alula. Duduk dengan menekuk kedua lututnya, pria itu takut memikirkan istrinya yang bisa saja melakukan hal aneh di dalam, namun jika memaksa masuk, Alula pasti menolak dan yang lebih parah trauma Alula bisa saja kembali.
"Tuan muda"
Zyandru yang tengah fokus menatap pintu di depannya, tak menyadari ada seseorang yang memanggilnya di belakang.
"Tuan muda," Suara itu kembali terdengar di iringi tepukan pelan di bahu hingga membuat Zyandru sadar.
"Eh, bi Asri." Zyandru memaksakan senyumnya pada wanita paruh baya yang sudah bekerja sejak ia masih kecil itu.
"Tuan muda sedang apa jongkok di sini?"
Di antara yang lain, bi Asri adalah pelayan yang paling dekat hingga sudah dianggap keluarga oleh Zyandru.
"Lagi cari semut bi," Zyandru menjawab asal sambil tangannya menunjuk lantai.
Melihat tingkah majikannya, wanita paruh baya itu hanya bisa tersenyum kecil. Bi Asri mengajak Zyandru ke meja makan dan membuatkan pria itu jus nanas, sesuai kesukaan pria itu.
Zyandru mengusap sudut bibirnya begitu selesai meminum jusnya. "Bi, saya mau tanya sesuatu! Kamar saya siapa yang hias? Kenapa banyak bunga sama lilin gitu? Perasaan saya gak pernah minta bibi ngelakuin itu."
"Maaf tuan muda, sebenarnya itu ide bibi sama yang lain. Mendengar tuan muda sudah menikah dan akan membawa istri tuan muda ke sini, bibi berinisiatif melakukan itu tanpa sepengetahuan tuan muda. Apa nyonya muda gak suka?" Tanya bi Asri dengan hati-hati.
__ADS_1
"Dia suka kok bi, suka banget malah! Bahkan dia sampai nangis saking terharunya. Tapi... bibi pasti udah dengar berita yang beredar! Kita sudah menikah selama satu tahun. Dan selama itu juga, hubungan kita selalu ada cobaannya. Sikap dingin yang dia tunjukkan itu karena kesalahan saya sendiri."