Blind Husband

Blind Husband
Blind 62


__ADS_3

Kita bisa melupakan orang yang sudah mati, namun sulit melupakan orang yang berubah. Apalagi perubahan itu ditunjukkan dalam waktu sekejap mata.


Alula sibuk berlari dari masalah yang setiap hari menunggunya, hingga rasanya tak memiliki waktu untuk kesepian.


Hembusan angin malam menerpa kulit, hawa dingin menusuk tulang namun tak membuat wanita itu kedinginan.


Sejak sore hingga malam hari, Alula tak keluar dari kamar. Duduk dengan memeluk kedua lututnya, Alula memilih balkon sebagai tempatnya mengadukan segala kepedihannya.


"Aku menangis dan tertawa sendiri seperti orang bodoh."


Sementara di luar, sambil menggigit bibirnya sendiri, Zyandru terlihat mondar-mandir di depan pintu kamar mereka. Entah sudah berapa lama Zyandru seperti itu hingga membuat para pelayannya begitu heran.


Pria itu tak ingin lagi menunggu. Dengan sangat hati-hati, Zyandru membuka pintu kamarnya, kepalanya menjulur sedikit menatap sekitar.


Dilihatnya kamar begitu sunyi, Zyandru melangkahkan kakinya masuk. Hiasan di kamarnya tak berubah sedikit pun sejak ia keluar. Namun, di mana istrinya berada.


"Sayang," Panggil Zyandru dengan suara sangat pelan.


Melihat pintu kamar mandi tertutup, Zyandru melangkahkan kakinya ke sana. Beberapa panggilan tak ada jawaban, Alula pun tak ada di sana.


Zyandru yang mulai khawatir, mencoba mengecek ke balkon kamar mereka. Dan benar saja, begitu membuka pintu kaca, Zyandru melihat istrinya itu tertidur di ayunan kursi gantung.


Pria itu mulai mendekat kemudian menunduk, menyingkirkan rambut jahat yang menutup wajah cantik istrinya. Zyandru yang ingin mencium Alula langsung mengurungkan niatnya begitu teringat akan kejadian sore tadi.


Mengangkat tubuh lemah istrinya, Zyandru membaringkan Alula di tempat tidur mereka tepat pada kelopak mawar yang masih tersusun rapi itu.


Seakan tak ada bosannya memandang wajah Alula, Zyandru kembali mengingat malam pengantin mereka.


Malam yang harusnya mereka habiskan dengan indah, malah menjadi awal mula dirinya memberi luka pada Alula. Di mana malam itu, Zyandru meninggalkan Alula sendiri dan lebih memilih memantau wanita lain, yaitu Princy.


"Berikanlah aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku Alula, kumohon!"


Tangan yang sejak tadi di gunakan untuk menopang tubuhnya sendiri, kini beralih memeluk istrinya dari samping.


Merasakan sesuatu melingkar di perutnya, Alula membuka mata dan melihat wajah Zyandru yang begitu dekat dengan wajahnya.


Dengan kasar Alula menghempaskan tangan dengan urat tercetak jelas itu hingga Zyandru yang tadi terpejam kembali membuka matanya.

__ADS_1


"Sayang,,, " Panggil Zyandru dengan lembut dan kembali memeluk Alula yang memunggunginya.


"Berhenti panggil aku sayang! Panggilan murahan lebih pantas keluar dari mulutmu."


"Tak akan! Kamu istriku dan kamu bukan wanita murahan!" Zyandru memberikan penekanan di setiap kata-katanya.


Alula yang mendengarnya lantas berdecih, "Segitu hausnya sampai harus menjilat ludah sendiri!"


"Maaf"


Alula kembali memberontak ingin pergi, namun sayang tubuh kecilnya tak sebanding dengan tubuh kekar Zyandru, hingga akhirnya ia pasrah dan tertidur dalam posisi suaminya itu memeluk dari belakang.


...***...


Pagi harinya, Zyandru terlihat tengah sibuk berbicara dengan para pelayan mengenai makanan untuk Alula. Mengingat Alula yang baru saja pulih, Zyandru ingin semua makanan yang masuk ke mulut istrinya adalah makanan sehat.


Sementara, keempat wanita dengan usia yang berbeda dan tahun bekerja yang berbeda itu, nampak diam mendengarkan tuan mereka yang terkenal pendiam dan irit bicara, kini begitu bersemangat berbicara masalah istrinya.


Sejak kepergian sang ayah 5 tahun lalu, Zyandru memang menjadi orang yang pendiam dan Arogan. Perbedaan itu dirasakan oleh bi Asri sebagai pelayan yang paling lama bekerja di rumah ini.


Pemandangan itu tak luput dari pandangan Zyandru dan keempat pelayan yang berada di depannya.


"Lho sayang. Kamu mau ke mana?" Tanya Zyandru, pria itu dengan cepat menghampiri istrinya.


Melirik keempat wanita di belakang Zyandru, Alula menghembuskan napasnya. "Kantor"


Zyandru terdiam, dengan susah payah pria itu menelan ludahnya sendiri. Ada satu fakta yang ia tutupi dari Alula.


"Sayang, sebenarnya aku sudah memecat kamu." Ucapan Zyandru membuat Alula membulatkan matanya.


"Sayang dengarkan aku sebentar ya! Aku melakukan itu karena punya alasan, aku mau kamu tetap di rumah, biar aku aja yang bekerja. Kamu masih pegang kartu yang aku kasih kan? Kamu bisa beli semua kebutuhan kamu dengan kartu itu."


Zyandru menjeda ucapannya untuk menggenggam kedua tangan Alula.


"Aku gak mau kamu lelah apalagi sakit."


Alula kembali terdiam, selama ini ia bekerja hanya demi adiknya Devin. Namun jika Zyandru melarangnya bekerja, bagaimana nasib Devin di inggris sana.

__ADS_1


Siapa lagi yang akan mengirimkan Devin uang, Alula pun tak bisa membebankan masalah Devin pada Zyandru, karena memang itu bukan tanggung jawab suaminya.


"Kalau kamu pecat aku, ya sudah. Aku akan melamar di perusahaan lain." Alula yang hendak pergi, langkahnya tertahan dengan Zyandru yang masih menahan lengannya.


"Sayang, kamu pasti mikirin Devin kan!" Ucapan Zyandru membuat Alula seketika menatapnya. Sebelum mengambil keputusan ini, tentu Zyandru sudah memikirkan semuanya termasuk masalah adik iparnya.


"Aku sudah mengurus semuanya sampai Devin wisuda nanti, kamu tenang aja ya!" Zyandru mengusap wajah penuh khawatir istrinya.


Ucapan Zyandru tersebut membuka perdebatan kedua suami istri itu. Alula yang tak ingin Zyandru membantunya karena merasa Devin adalah tanggung jawabnya, dan Zyandru yang tetap memaksa karena bagaimanapun mereka adalah keluarga.


Kedatangan seorang tamu, membuat suami istri itu berhenti beradu argumen. Zyandru yang tak membiarkan Alula pergi, terus menggenggam tangan istrinya itu dan berjalan menyambut tamu mereka pagi ini.


Seorang wanita yang memakai pakaian kantor seperti Alula, nampak duduk dengan anggunnya. Wajahnya yang sangat cantik dipoles make up tipis, rambutnya yang hitam sepunggung, terlihat diikat dengan rapi.


Zyandru dan wanita tersebut saling sapa membuat Alula yang berdiri di antara mereka begitu heran karena suaminya terlihat sudah akrab dengan tamu mereka itu.


"Sayang perkenalkan, ini adalah Tiana. Tiana ini temanku semasa kuliah dulu. Dia adalah dokter dan mulai sekarang setiap hari dia akan datang untuk membantu kesehatan kamu."


Wanita bernama Tiana itu nampak memberikan senyumnya pada Alula namun tak mendapat balasan dari wanita itu.


Alula menunduk melihat tangan kanannya, wanita itu kembali mengingat penyebab jari manisnya mengalami keretakan. Alula tak memungkiri rasa traumanya kembali menyerang.


Tak ingin kembali menggila, Alula memilih meninggalkan suami dan tamunya itu tanpa berkata apa-apa.


Zyandru yang melihat itu tentu mengerti perasaan sang istri. Pamit pada Tiana, Zyandru berlari menghampiri istrinya di kamar.


"Sayang"


"KUBILANG BERHENTI MEMANGGILKU DENGAN ITU!"


Meninggikan suaranya dengan air mata yang bercucuran, Alula menutup kedua telinganya yang terus memutarkan suara ketiga preman yang menyiksanya beberapa waktu lalu.


Terus meminta tolong, Alula membuat Zyandru kembali merasa bersalah sekaligus takut.


"Kamu tenang ya! Ada aku di sini"


Meski terus memberontak bahkan memukulnya, Zyandru tetap memaksa memeluk istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2