
"Kamu ngapain sih ngagetin kakak gitu" ucap Alula sambil meletakkan nampak berisi minuman dan beberapa camilan di meja.
Seorang laki-laki berparas tampan berusia 20 tahun yang diajak berbicara dengan Alula hanya terkekeh melihat wajah kesal sang kakak.
"Cuma mau kasih surprise kak"
"Kalau jantung kakak copot gimana hah?, pulang gak ngabarin, tiba-tiba udah sampe di rumah, bener-bener kamu ya"
Alula yang awalnya terlihat kesal, kini tersenyum dan dengan jahilnya Alula menggelitik tubuh sang adik Devin.
"Ampun kak ampun, geli ya ampun hahahaha"
Saat ini kedua adik kakak tersebut sedang duduk mengobrol di ruang keluarga rumah mereka.
Devin yang kemarin tiba di indonesia, sengaja menyembunyikan kepulangannya karena ingin memberikan kejutan pada Alula.
Setelah sampai di rumah, Devin tak mendapati keberadaan Alula, ia lantas bertanya pada tetangga mereka, ternyata Alula berada di luar kota.
"Kakak kangen banget" Alula memeluk Devin sangat erat, wajar saja, mereka tak bertemu selama beberapa bulan belakang.
"Devin juga, apalagi masakan kakak, ya ampun enam bulan gak makan masakan kakak rasanya makan tuh gak berselera."
Alula melepaskan pelukannya, "oh iya astaga, kamu udah makan belum? kakak masakin ya, tunggu sebentar"
Devin menghentikan Alula yang hendak pergi, "Devin udah makan kak"
"Makan apa?"
"Nasi padang di ujung jalan"
"Jadi gak mau makan lagi nih?"
"Enggak kakakku yang cantik, sini aja, jangan pergi ke mana-mana, Devin masih kangen"
Alula terkekeh melihat tingkah manja sang adik, ia terus mengusap pelan kepala Devin yang bersandar di bahunya.
"Oh iya, kakak perjalanan bisnis kemana?"
"Kalimantan, biasalah cek pertambangan di sana"
"Oh, si Revaz masih suka deketin kakak?"
"Yaa gitu deh"
Devin mengetahui tentang itu, beberapa kali Revaz datang ke rumah mereka hanya untuk membawakan makanan, sebagai sesama laki-laki Devin mengerti, bahkan sangat.
Meski Revaz terlihat seperti laki-laki yang baik, namun entah mengapa Devin tak menyukainya, tatapan yang Revaz berikan pada Alula, menurut Devin sangat aneh.
Cukup lama mereka saling diam, hingga Devin merasa mendengar suara dengkuran halus, saat menoleh, ternyata Alula tertidur, kepalanya mendongak dengan wajah yang menunjukkan ia sangat lelah.
Dengan sangat hati-hati Devin mengangkat tubuh Alula dan membawanya menuju kamar sang kakak berada.
Setelah memastikan Alula tidur dengan posisi yang nyaman, Devin kembali ke ruang keluarga.
...***...
Sementara itu di tempat lain.
Seorang pria nampak gagah dengan jas yang melekat di tubuhnya, pria itu terlihat memasuki sebuah rumah dengan halaman yang sangat luas.
Dengan langkah lebarnya, Ansell menghampiri Zyandru yang saat ini sedang duduk terdiam di pinggir kolam renang.
__ADS_1
"Tuan Zyandru"
Merasa namanya di panggil, Zyandru menoleh sebentar lalu kembali mengalihkan pandangannya.
"Saya sudah mencari informasi tentang Alula"
"Ke ruangan saya" Zyandru bangkit dari duduknya kemudian berjalan mendahului sang asisten.
"Ini berkas tentang perusahaan yang mengajak berkerjasama, dan ini beberapa gambar yang berhubungan dengan Alula" Ansell menyerahkan beberapa berkas yang ia bawa.
"Menurut informasi yang saya dapat, orang tua Alula meninggal karena pesawat yang mereka tumpangi terjatuh di perairan batam pada tahun 2013, mayatnya tidak ditemukan. saat ini Alula tinggal sendiri, sedangkan adiknya berkuliah dengan jurusan Hukum pidana di Universitas of Cambridge"
"Cambridge? wow" Zyandru terlihat kagum mendengar penjelasan Ansell.
"Apa ini adiknya?" Zyandru menunjuk sebuah foto seorang laki-laki sedang berdiri di depan sebuah rumah.
"Iya tuan, kebetulan saat ini adiknya baru saja pulang ke Indonesia, dan foto itu baru saja saya ambil"
Zyandru meletakkan berkas yang ia pegang, "terus bagaimana hubungan Alula dan princy?"
"Mereka tak pernah terlihat bertemu apalagi bersama"
Zyandru terkesiap menatap Ansell, "kenapa begitu, mereka berdua kan sepupu"
"Sesuai penyelidikan saya, ibu princy adalah adik satu-satunya yang dimiliki ayah Alula, dan ketika orang tua Alula meniggal, ibu princy tidak mau menampung Alula dan adiknya"
"Jadi semenjak orang tuanya meninggal, Alula berjuang sendiri untuk hidupnya dan adiknya, begitu?"
"Benar tuan"
"Umur Alula sekarang berapa?"
"Sekarang masih 25, tapi dua bulan lagi 26 tahun tuan"
"Tidak tuan, perusahaan orang tua Alula berbeda bidang dengan orang tua princy"
"Tapi kenapa mereka sekejam itu menelantarkan kedua anak yang saat itu masih kecil?"
"Kalau masalah itu, saya tidak tahu tuan"
"Saya mau menikahi Alula"
"A-apa tuan?"
...***...
Malam harinya.
Setelah menghadiri sebuah pertemuan antar pengusaha, saat ini Zyandru sedang di jalan menuju pulang, dengan Ansell sebagai sopir sebagai biasa.
Di tengah jalan, Zyandru melihat sesuatu yang terus menarik perhatiannya.
"Berhenti Ansell"
Dengan perintah Zyandru, Ansell menghentikan mobil yang di kendarainya.
Tatapan Zyandru terus tertuju ke arah sebrang jalan, tepatnya pada seorang wanita sederhana yang sedang bersenda gurau bersama seorang laki-laki.
Tanpa pakaian formal yang melekat di tubuhnya seperti biasa, Alula tetap terlihat cantik dengan celana kulot dengan kaosnya, rambutnya dicepol seadanya, bahkan wanita itu tak memakai make up sedikitpun.
"Kita turun"
__ADS_1
"I-iya tuan gimana?"
"Kita turun ke sebrang"
Ansell mengikuti pandangan Zyandru, "Alula tuan?"
"Iya Ansell, kamu seharian ini kenapa lemot banget heran"
"Maaf tuan, mari"
Dengan membawa tongkat dan bantuan Ansell, Zyandru menghampiri Alula yang sedang duduk di sebuah tempat makan kaki lima.
"Loh Alula" Ansell berpura-pura terkejut melihat Alula.
"Eh pak Ansell, pak Zyandru, malam Pak"
"Di mana Alula Ansell?" Zyandru mengetuk-ngetukkan tongkatnya.
"Ini pak, oh iya ini siapa?" Ansell menunjuk Devin yang hanya diam sejak tadi.
"Perkenalkan, ini adik saya Devin, dan Devin perkenalkan ini bos kakak namanya pak Zyandru dan asistennya pak Ansell"
"Pak Zyandru sama pak Ansell mau makan ketoprak juga?" tanya Alula, saat ini mereka berempat sudah duduk bersama.
"Iya, pak Zyandru tiba-tiba kepengen ketoprak, ya udah deh kita menepi, eh gak sengaja lihat kamu"
Tak beberapa lama, makanan mereka datang, melihat Zyandru yang sedang meraba meja membuat Alula mengerti.
"Pak Zyandru mau saya bantu?" tanya Alula yang duduk tepat di samping pria itu.
"Boleh tolong suapin Alula?"
"B-boleh pak"
"Kita kan lagi di luar kantor, kamu jangan panggil pak, saya risih"
"Terus saya panggil apa pak?"
"Nama saya aja"
Alula membulatkan matanya, "saya gak enak, kan pak Zyandru bos saya"
"Tapi kita lagi di luar kantor, anggap saya teman kamu bukan atasan kamu"
"Iya deh"
Devin yang melihat itu hanya menunjukkan wajah datarnya, entah apa yang dipikirkan laki-laki itu.
"Oh iya, adik kamu masih sekolah atau udah lulus Alula?" tanya Zyandru di tengah-tengah makan mereka.
"Saya bisa mendengar dan berbicara dengan jelas pak, silakan tanya langsung, kenapa harus bertanya pada kakak saya?" Devin menjawab dengan tegas.
Alula menyenggol lengan sang adik, "Devin, dia lebih tua dari kamu"
"Maaf, saya gak bisa lihat jadi,,, "
"Maafin adek saya pak, umur Devin 20 dan sekarang berkuliah pak"
"Pak?, kamu manggil saya pak lagi?"
"Eh maaf, Zyandru"
__ADS_1
Gak jauh beda sama Revaz, batin Devin seraya memutar bola matanya jengah.