
Sebuah restoran berkonsep Jepang menjadi pilihan Alula, wanita itu memainkan ponsel sambil menunggu pesanannya berupa beef rice bowl datang.
Tidak sampai lima belas menit pesanannya pun sampai, Alula segera menyantapnya karena cacing di perutnya sangat berisik.
Alula yang baru saja selesai makan, di kejutkan dengan seorang pria yang tak sengaja menumpahkan minumannya pada pakaian yang Alula baru beli.
Pria tampan dengan kemeja putih dan celana formal hitam itu langsung meminta maaf dan berniat mengganti rugi, namun Alula bersikeras menolaknya.
"Saya serius nona, saya akan mengganti pakaian nona, apalagi itu pakaian yang belum sempat nona pakai" ucap pria tersebut.
"Saya juga serius tuan, anda tidak perlu menggantinya!" jawab Alula dengan sopan.
Alula mengambil semua totebag nya hendak pergi, namun lengannya langsung di tahan oleh pria tersebut.
"Tidak bisa seperti ini nona, saya salah jadi biarkan saya bertanggung jawab!"
Alula melepaskan cekalan pria itu dari lengannya, "maaf tuan, saya tahu tuan mau bertanggung jawab, tapi saya tidak mempermasalahkannya, tuan hanya menumpahkan jus itupun sedikit, saya sudah memaafkan tuan jadi anda tidak perlu ganti rugi, saya permisi"
Lagi-lagi pria itu menahan Alula yang hendak pergi, namun kali ini pria itu memegang bahu. Alula segera menepiskan tangan pria itu.
"Maaf jika anda tidak nyaman dengan sentuhan saya, bisa kita berkenalan nona" pria tersebut menjulurkan tangannya.
Alula menatap uluran tangan pria tersebut, saat ingin menggapainya, seorang pria yang begitu Alula kenal tiba-tiba berdiri dan menggamit tangan pria yang mengajak Alula berkenalan tersebut.
"Zyandru Avior"
Pria asing tersebut langsung menarik uluran tangannya yang di genggam Zyandru, "maaf anda siapa?"
"Suami nona cantik ini" Zyandru merangkul pinggang Alula dan merapatkan tubuh mereka.
"Oh jadi anda sudah menikah nona?"
"Bukankah tadi sudah di bilang, saya itu suaminya!, kenapa masih bertanya?" lagi dan lagi Zyandru lah yang menjawab.
Alula merasa sangat kesal melihat sang suami yang entah dari mana datangnya, dengan kasar Alula melepaskan tangan Zyandru yang berada di pinggangnya dan langsung pergi meninggalkan kedua pria itu.
Di tempat yang tak jauh, Alula juga bertemu dengan Ansell, ia melengos tak ada niat menyapa pria itu.
"Perempuan kalau lagi marah serem banget" ucap Ansell menatap punggung Alula.
Zyandru berlari berusaha menghampiri sang istri, sedangkan pria asing tersebut menatap kepergian wanita dan pria yang baru saja ditemuinya.
"Kamu sudah menikah ternyata, melihat sikap kamu, sepertinya kalian sedang bertengkar" ucap pria asing tersebut dengan smirk nya.
...***...
Napas Alula memburu, setelah tadi terus saja berlari dari kejaran Zyandru, kini ia tengah berada di dalam taksi. Beruntung saat keluar langsung ada taksi yang lewat, bergegas Alula menaikinya.
__ADS_1
"Gimana bisa Zyandru sama pak Ansell ada di sana, apa mereka ngikutin gue, dasar kurang kerjaan"
Saat tengah bergumam sendiri, Alula kembali di kejutkan dengan kehadiran suaminya. Mobil Zyandru tepat di samping taksi yang Alula naiki.
Sekarang Zyandru malah membuka kaca mobil dan tersenyum dan melambaikan tangannya. Kaca mobil taksi yang tembus pandang menjadikan Alula melihat dengan jelas tingkah konyol suaminya itu.
"Senyum yang menjijikkan!" gumam Alula membuang wajahnya ke arah lain.
Setelah menempuh perjalanan beberapa waktu, Alula lebih dulu sampai, dengan cepat ia membayar taksi tersebut dan berlari memasuki halaman rumah.
Zyandru yang juga sampai langsung turun dari mobil dan ikut berlari mengejar Alula.
"Alula, Alula jangan lari nanti jatuh!, Alula berhenti!" teriak Zyandru yang sama sekali tak di dengar sang istri.
"Tuan sama nyonya kenapa lari-larian gitu?" tanya pak mun pada Ansell yang baru saja turun dari mobil.
Ansell mengedikkan bahunya, "lagi simulasi maraton kali"
Alula langsung mengunci pintu sesaat setelah berhasil masuk ke dalam kamar tamu.
"Ah capek, berasa lagi di kejar Zombie" gumam Alula memegangi dadanya yang berdegup kencang.
"Sialan, Alula pasti udah ganti kodenya" maki Zyandru ketika gagal membuka pintu kamar tamu tersebut.
Bukan hanya pintu utama, namun juga semua pintu kamar menggunakan kunci digital yang harus memasukkan kode untuk membukanya.
Zyandru tak mau menyerah, entah sudah berapa lama ia berada di sana sambil terus memanggil nama Alula. Bahkan tangannya pun memerah akibat terus memukul pintu itu.
Alula yang pusing akhirnya memilih menyalakan musik dengan suara yang cukup kencang. Zyandru menghela napasnya berat, ia lelah tapi ingin sekali berbicara dengan istrinya.
Pada akhirnya Zyandru menyerah, pria tampan dengan wajah lesunya itu memilih melangkahkan kakinya menuju ruang tamu dan menemui Ansell di sana.
"Tuan, bukankah bagus seperti ini"
Zyandru yang tengah menyandarkan kepalanya di sofa langsung menegakkan tubuhnya ketika mendengar perkataan Ansell.
"Alula marah sama saya kamu bilang bagus Ansell?" ucap Zyandru yang sudah tersulut emosi.
"Maksud saya, kembali lagi ke tujuan awal tuan menikahi Alula!, bukankah kalau Alula membenci tuan itu akan memudahkan tuan untuk menceraikannya nanti?"
Ansell pikir ini adalah jalan terbaik agar Alula tidak terus disakiti Zyandru. kebencian yang Zyandru tanamkan akan membuat rasa cinta Alula hilang.
Entah bagaimana, Ansell merasa Alula sangat mencintai Zyandru, wanita lain tidak mungkin mau menerima keadaan Zyandru yang buta, kalaupun ada pasti mereka hanya mengincar harta.
Berbeda dengan Alula, wanita itu terlihat sangat tulus, namun sayangnya Zyandru tidak dapat melihat ketulusan itu karena sudah benar-benar buta akan cintanya pada Princy.
"Saya permisi tuan" ucap Ansell kemudian berlalu pergi meninggalkan kediaman atasannya tersebut.
__ADS_1
Zyandru terdiam mencerna ucapan Ansell, ia bahkan sampai tak sadar Ansell telah pergi. Yang dikatakan asisten sekaligus sahabatnya itu memang benar, namun mengapa hatinya seolah menolak.
...***...
Malam harinya, Alula dan Zyandru berada di kamar yang berbeda, sejak siang masing-masing dari mereka tak ada yang keluar.
Di tempat tidur yang cukup besar, Zyandru berbaring sendiri sambil kembali merenungi hubungannya dengan Alula.
Zyandru akui ia memang nyaman dengan Alula dan jauh dari istrinya itu membuat Zyandru tersiksa. Namun perkataan Ansell terus terngiang-ngiang di kepalanya.
Untuk apa ia bersikap baik dan meminta maaf jika memang Alula tak penting di hidupnya, pikir Zyandru.
Saat tengah termenung, Zyandru di sadarkan dengan ketukan pintu, pak mun mengabari ada seorang wanita yang ingin bertemu, mau tak mau Zyandru turun dan menemui wanita tersebut yang ternyata adalah Princy.
Zyandru terpaku sepersekian detik, namun sebisa mungkin ia menetralkan jantungnya.
"Hai Zyandru"
"Emm Princy?" Zyandru kembali bersandiwara tak melihat.
"Iya ini aku, kamu masih inget suara aku ternyata"
"Princy maaf ya bukannya mau ngusir, tapi Alula udah tidur jad–"
"Aku kesini bukan cari Alula tapi mau ketemu kamu" Princy memotong ucapan Zyandru.
"Oh cari aku, ada apa ya?"
Di saat Zyandru dan Princy tengah berbicara dengan intim, Alula sedang mencak-mencak di kamar karena merasakan perutnya yang lapar.
Alula ingin sekali keluar tapi tak ingin bertemu Zyandru, bukan karena takut, Alula hanya malas melihat wajah suaminya itu.
"Ah dari pada mati kelaperan" gumam Alula kemudian membuka pintu kamar yang sejak siang ia kunci.
Baru saja pintu terbuka sedikit, Alula di kejutkan dengan pemandangan Zyandru tengah berpelukan dengan seorang wanita.
"Zyandru sama siapa?" gumam Alula yang sayangnya tak dapat melihat wajah wanita itu karena duduk memunggungi arah kamarnya.
"Emang dasar brengsek, dia yang selingkuh tapi gue yang di tuduh, awas aja!"
Alula mengambil ponselnya dan mengambil beberapa gambar suaminya dan wanita asing tersebut.
Cukup lama Zyandru dan Princy berpelukan hingga tak menyadari sepasang mata tengah menatap mereka.
Perutnya yang tadi lapar, tiba-tiba kenyang, niat hati ingin makan ia urungkan. Alula kembali masuk dan menatap hasil fotonya barusan.
Rambut pirang bergelombang sepunggung, mengingatkan Alula pada seseorang.
__ADS_1
"Kenapa mirip Princy"