Blind Husband

Blind Husband
Blind 67


__ADS_3

Kedua pria yang di larikan ke rumah sakit dengan keluhan yang sama, yaitu luka akibat tusukan, kini tengah berkumpul bersama kedua wanita.


Hari di mana Ansell terkapar tak berdaya di pelukan Chika, gadis itu langsung menelepon polisi dan meminta bantuan.


Saat Ansell di larikan ke rumah sakit, mereka berpapasan dengan Alula. Mata Alula melebar melihat keadaan Ansell yang sudah di penuhi darah. Wanita itu panik bukan main, terus bertanya namun tak ada satupun yang menjawab.


Begitu Ansell di bawa ke ruang operasi, tatapan Alula tertuju pada gadis dengan sudut bibir berdarah yang ikut menemani Ansell ke rumah sakit.


Melihat Chika terus menangis, Alula tak kuasa untuk bertanya. Dengan sabar Alula menunggu hingga Chika sudah mulai tenang dan barulah ia bertanya apa yang sebenarnya terjadi.


Chika menjelaskan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Mulai dari seorang pria yang tiba-tiba saja menerobos masuk ke apartemen sang kakak, hingga melihat secara langsung Rio ditusuk menggunakan pisau secara membabi buta.


Chika juga menceritakan dirinya segera menyalakan ponsel Rio dan menelepon nama teratas di ponsel kakaknya itu. Hingga akhirnya Ansell datang dan kembali terjadi penusukan dan penembakan.


Gadis bertubuh mungil itu kembali menangisi kakaknya yang sudah tiada. Chika yang ingin pergi melihat mayat Rio yang juga di bawa ke rumah sakit ini, langkahnya tertahan oleh Alula.


Wanita itu membawa gadis yang terlihat kacau itu menemui Zyandru dan menceritakan semuanya.


Wajah Zyandru menunjukkan betapa terkejut dirinya mendengar hal ini. Terlebih dengan keadaan Ansell, ingin melihat namun kondisinya juga tidak baik-baik saja.


Zyandru yang tak ingin ada hal buruk kembali terjadi, memerintahkan beberapa bodyguard untuk menemani Chika dan membantu semua urusan pemakaman Rio.


Di sisi lain, Zyandru benar-benar bersyukur memiliki asisten sekaligus sahabat seperti Ansell di hidupnya. Entah sudah berapa kali nyawanya hampir melayang hanya karena membantu Zyandru.


Sejujurnya Alula masih tak mengerti dengan situasi ini, wanita itu bertanya-tanya siapa itu Rio dan mengapa Rio di bunuh. Apa hubungan Rio dengan Zyandru dan Ansell.


Alula hanya bisa memendam rasa penasarannya itu dalam hatinya, wanita itu tak berani bertanya karena memikirkan perasaan Chika.


Tak jarang mereka melihat Chika melamun bahkan menangis sendiri, mereka mengerti akan hal itu. Rio adalah satu-satunya keluarga yang dimiliki Chika, wajar jika gadis itu sangat terpukul.


...***...


Setelah satu minggu di rawat, dokter mengatakan Zyandru dan Ansell sudah di perbolehkan pulang, jadilah Alula dan Chika sibuk membantu.


Sebagai bentuk pertanggungjawaban, Zyandru sudah mengurus semua masalah Chika, mulai dari tempat tinggal dan biaya sekolah hingga kuliah nanti dan segala kebutuhan hidup. Zyandru juga akan menerima Chika dengan tangan terbuka di perusahaannya jika nanti gadis itu sudah lulus sekolah.


Walaupun Chika sudah menolak, Zyandru tak mendengarkan. Gadis itu memilih pasrah dan menguatkan hatinya untuk menjalani hidup tanpa seorangpun di sisinya.


"Kalian menginap beberapa hari di rumah saya, ya?" Zyandru meminta namun nada bicaranya terdengar seperti ancaman.


Ansell dan Chika kompak menatap pria yang duduk di kursi roda itu.


"Kondisi pak Ansell kan masih gitu, apalagi di rumah tinggal sendiri, jadi gak ada yang urus." Alula menimpali ucapan suaminya.

__ADS_1


Awalnya Ansell dan Chika menolak, namun karena terus dipaksa Alula, jadilah mereka berdua menurut.


...***...


Suara tertawa kedua wanita terdengar begitu nyaring. Entah apa yang tengah dibicarakan, Alula dan Chika nampak sesekali memukul pelan lengan satu sama lain.


Chika menatap penuh wanita cantik yang saat ini tengah mengaduk adonan sambil terus berbicara. Gadis itu begitu bersyukur mendapat keluarga baru yang begitu menyayanginya. Terhitung 5 hari sudah Chika dan Ansell menginap di istana mewah Zyandru.


"Aku tidak punya adik perempuan, dan kamu juga tidak punya kakak perempuan kan? Anggap saja kita saudara yang baru saja bertemu setelah berpisah sekian tahun."


Seperti itulah kata-kata Alula yang begitu Chika ingat saat mereka masih berada di rumah sakit.


Alula tak main-main dengan ucapannya yang akan memperlakukan Chika sebaik ia memperlakukan Devin. Lagipula keinginannya untuk mendapatkan adik perempuan akhirnya tercapai.


Seolah tak membiarkan gadis cantik dengan tahi lalat di pipi kanan dekat mata itu bersedih. Alula tahu bagaimana rasanya kehilangan, dan ia akan berusaha agar hidup Chika di penuhi kebahagiaan.


Dengan membawa brownies coklat buatan mereka, Alula dan Chika menghampiri Zyandru dan Ansell yang saat ini tengah mengobrol di ruang keluarga.


"Nih camilan teman ngobrol, resepnya dari Chika sendiri lho." Ujar Alula meletakkan nampan berisi makanan berbahan tepung tersebut.


Mengambil posisi duduk di sebelah Zyandru, Alula membuat suaminya itu dengan mudah merangkulnya.


Sejak hubungan sepasang insan itu membaik, Zyandru dan Alula tak segan menunjukkan kemesraan mereka. Seperti saat ini, Zyandru dan Alula saling menyuapi brownis satu sama lain tak peduli ada Ansell dan Chika di depannya.


"Oh ya Chika, setelah lulus SMA, kamu akan melanjutkan ke Universitas kan?" Tanya Alula. Wanita itu menegakkan tubuhnya setelah tadi bersandar pada bahu Zyandru.


"Iya kak, rencananya aku mau mengambil jurusan kedokteran."


"Wah, bagus dong. Aku do'akan semoga kamu bisa menggapai semua impian kamu dan kamu akan menjadi dokter yang bisa membantu banyak orang." Ucap Alula sambil mengusap pelan kepala Chika.


Ditengah-tengah kehangatan mereka, seorang pelayan Zyandru mengabarkan jika Tiana datang bertamu.


Alula mendengus mendengar hal tersebut, wanita itu terlihat kesal. Perilakunya itu tak luput dari perhatian Zyandru.


"Aku usir aja, ya?" Tanya Zyandru yang tak ingin menemui teman lamanya itu.


"Gak usah! Aku mau tahu dia ngapain malam-malam begini datang. Ayo kita temui dia!"


Dari arah yang tak jauh, Ansell dan Chika terlihat bersembunyi di balik tembok dengan menjulurkan sedikit kepalanya.


"Itu siapa kak?" Tanya Chika dengan mata tertuju pada Tiana.


"Calon pelakor"

__ADS_1


Haah! Plak!


Chika memukul cukup kencang lengan Ansel hingga membuat pria itu sedikit meringis.


"Kak Ansell laki-laki tapi mulutnya kayak perempuan, gak boleh gitu kak! Seenaknya ngatain orang gitu, nanti dosa lho! Terus ju–"


Ansell membekap mulut Chika yang terus saja berbicara menggunakan tangannya. Pria itu kembali melirik ke arah ruang tamu.


"Mulut kamu tuh berisik banget ya Chika! Kalau gak percaya ya udah, sana pergi! Aku mau lihat drama ini," Ansell mengibaskan tangannya tanda perintah.


Sejak kejadian Tiana yang tak sengaja duduk diatas pangkuan Zyandru, mereka tak pernah bertemu lagi hingga malam ini.


Ketika Zyandru masih di rawat di rumah sakit, Tiana sering datang, namun para penjaga tak mengizinkan wanita itu masuk hingga membuat Tiana uring-uringan sendiri.


Kini, tanpa merasa malu sedikitpun, Tiana mendekati Zyandru dan memegang tangan pria yang dicintainya itu.


Zyandru tentu menolak, apalagi begitu melihat wajah Alula, pria itu takut istrinya itu akan kembali marah padanya. Namun hal tak terduga terjadi, Zyandru harus menahan sakit di perut kirinya karena tiba-tiba saja Alula memeluknya dari samping.


"Sayang, emangnya kamu gak kasih tahu Tiana kita pergi ke mana?" Tanya Alula dengan nada yang di buat selembut mungkin.


Zyandru yang mendengar itu sontak melebarkan matanya, untuk pertama kalinya Alula memanggilnya sayang.


Kini, Alula meletakkan dagunya di bahu Zyandru dan menatap suaminya itu dengan genit. Lagi dan lagi Zyandru di buat tak berdaya. Sebisa mungkin pria itu menegakkan tubuhnya yang mudah sekali melemah jika berada dekat Alula.


"Sebenarnya seminggu belakang Aku dan Alula pergi liburan berdua. Oh ya Tiana, mulai besok kamu tidak perlu datang lagi ya!"


"M–maksud kamu apa Zyandru?" Tanya Tiana gugup.


"Yaa, Alula tidak lagi membutuhkan jasa kamu sebagai dokter." Jawab Zyandru dengan wajah datarnya.


"Memangnya mental Alula sudah sembuh total? Aku sebagai dokter kejiwaan hanya memastikan pasien aku baik-baik saja."


Tiana mencoba menyerang Alula, karena ia tahu Zyandru menyembunyikan profesi aslinya.


"Mental aku sudah baik-baik saja kok! Aku juga tahu kamu itu psikolog kan?" Alula melepaskan rangkulannya pada tubuh suaminya.


"Kamu tahu Tiana, Zyandru melakukan semua ini karena dia begitu mencintaiku. Dia tidak ingin menyakiti hati istrinya, ya kan sayang?"


Zyandru kembali dibuat meleleh dengan sikap Alula, pria itu tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya lagi. Dengan gemas Zyandru mencubit pipi Alula.


Tiana yang melihat itu begitu kesal, wanita itu beranjak dari duduknya dan pergi tanpa berkata apapun.


Zyandru yang tak mengalihkan pandangannya dari Alula, langsung saja menangkup wajah Alula dengan kedua tangannya. Setelahnya pria itu menciumi seluruh bagian wajah istrinya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu Alula"


__ADS_2