Blind Husband

Blind Husband
Blind 56


__ADS_3

Seorang pria nampak tersenyum senang setelah pembicaraan dengan seseorang di ponselnya usai.


Aziel yang sudah tak sabar, langsung mengajak Zyandru untuk kembali bertemu dengan dalih membahas lanjutan kerja sama mereka.


Awalnya Zyandru menolak dengan alasan sibuk di pertambangan, namun Aziel terus meyakinkan hingga rekan bisnisnya itu setuju. Aziel tentu saja senang bukan main, akhirnya ia bisa melihat Alula kembali.


Dengan mengumpulkan para anak buahnya, Aziel merencanakan penculikan yang akan mereka lakukan terhadap Alula pada pertemuannya dengan Zyandru minggu depan.


Setelah nanti berhasil menculik cinta pertamanya itu, Aziel akan membawa Alula ke negara lain dan menutup rapat data pribadi tentang Alula agar Zyandru tak dapat menemukan istrinya itu.


Rio yang ikut berunding, langsung memberitahukan hal tersebut kepada Ansell. Tanpa di kurangi atau di lebihkan, Rio menceritakan semua rencana mereka.


Malam harinya, setelah selesai dengan pekerjaannya di kantor, Ansell datang ke rumah sakit dan mengabarkan maasalah ini pada Zyandru.


Mendengar cerita asistennya, pria tampan dengan tatapan tajamnya itu menunjukkan smirk di wajahnya. "Bagaimana bisa dia menculik Alula sedangkan istriku saja di sini?"


"Apa kita jalankan saja rencana tuan beberapa waktu lalu?" Tanya Ansell. Pria itu terlihat begitu semangat.


Zyandru menghela napasnya berat, "Sebenarnya saya ingin Alula melihat semua keburukan Aziel dan Princy, tapi keadaan Alula seperti ini." Zyandru terdiam dan nampak memikirkan sesuatu.


"Ah, ya sudahlah. Kesempatan tak datang dua kali bukan?" Dengan alis terangkat sebelah, Zyandru menatap Ansell yang berada di sampingnya.


Dengan senyum lebarnya, Ansell membenarkan ucapan Zyandru. Setelah memanggil beberapa anak buahnya yang berjaga di depan, Zyandru dan Ansell membicarakan rencana mereka.


Tangan Zyandru nampak bergerak ke kanan dan kiri seiring dengan pembicaraan yang makin seru. Beberapa pria bertubuh besar yang berada di dekatnya begitu kagum dengan tuan mereka yang bisa menyeimbangi kelicikan lawannya.


"Saat nanti dia sudah dibawa pergi Aziel, saya akan kembali ke rumah sakit. Pertemuan saya dan Aziel minggu depan, jadi pastikan kalian sudah menyiapkan semuanya dengan baik!"


"Baik tuan," Para pria yang mengelilingi Zyandru dengan kompak menjawab tuannya itu.


"Satu hal lagi. Berani kalian mengkhianati saya, itu artinya kalian siap jika keluarga kalian tidak ada yang selamat satupun!" Zyandru kembali menunjukkan sisi kejamnya.


Para pria yang bekerja dengannya nampak dengan susah payah meneguk ludahnya. Mereka kompak menggeleng dengan wajah takutnya.


"Ya sudah, sana kembali berjaga!" Zyandru mengibaskan tangannya sebagai perintah.

__ADS_1


Kini tinggalah Zyandru dan Ansell yang masih duduk di depan ruang rawat Alula.


Zyandru memicingkan matanya menatap asistennya itu. "Kamu gak pulang Ansell?"


"Tidak tuan. Saya mau menemani tuan menjaga Alula," Jawab Ansell.


Zyandru memiringkan tubuhnya dan menelisik Ansell dari atas sampai bawah. Ansell tentu saja merasa risih, pria itu bergerak gelisah sambil sesekali menggaruk tengkuknya.


Melihat perilaku Ansell, Zyandru semakin menajamkan matanya, "Selama ini kamu bersikap baik bukan karena suka sama Alula kan Ansell?" Zyandru bertanya dengan nada horror dan membuat situasi makin menakutkan.


"M–maksud tuan? Tentu saja tidak. Alula istri tuan, saya menganggap Alula tak lebih dari sekedar adik sendiri." Ansell menjawab dengan jujur, karena memang begitulah kenyataannya.


"Tuan mencurigai saya?" Ansell menunjukkan dirinya sendiri.


"Bisa jadi kan? Kamu diam-diam suka sama istri saya dan berencana merebutnya dari saya. Ingat ya Ansell, saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi!"


"Saya juga tidak pernah mempunyai niat seperti itu tuan! Wahh, anda benar-benar ya tuan Zyandru."


"Apa? Berani kamu sama saya Ansell. Hah?"


Kedua pria itu malah sibuk berdebat dan membuat suara bising hingga di tegur oleh salah satu perawat.


Satu minggu kemudian.


Berbeda namun sama, itulah yang kini dapat menggambarkan pria bernama Zyandru Avior dan Aziel Savio. Meski berbeda tempat, kedua pria itu sama-sama tengah memakai pakaian mereka sambil tersenyum senang memikirkan rencana yang sudah mereka susun serapi mungkin.


Sesuai dengan kesepakatan, Aziel kembali mengajak Zyandru bertemu di salah satu hotel. Sengaja memilih tempat penginapan tersebut karena akan memudahkannya menculik wanita yang terus ia pikirkan.


Zyandru mengambil ponselnya dan mengetik pesan pada seseorang. Bibirnya tersungging kala pesannya langsung terbalas dengan kata-kata yang ia harapkan.


Sementara Aziel yang terlihat pergi meninggalkan halaman kediamannya, lain halnya dengan Zyandru yang memilih pergi ke rumah sakit. Pria itu berniat meminta izin pada istrinya terlebih dahulu.


Dengan pakaian serba hitam dan topi juga masker yang berwarna hitam, Zyandru mengendap-endap masuk ke ruang rawat istrinya.


Dilihatnya wanita pujaan hatinya masih menutup mata, wajar saja, hari masih sangat pagi. Zyandru kembali waspada takut para perawat atau dokter datang tiba-tiba.

__ADS_1


Melepas maskernya, Zyandru perlahan mendekati brankar. Diusapnya pelan kepala wanita yang selama dua minggu ini tak pernah dilihatnya, di kecupnya pipi yang makin hari makin tirus.


"Sayang! Hari ini aku akan membuang para pengganggu kita. Do'akan aku ya! Semoga rencana aku berhasil dan kehidupan kita kembali bahagia."


Zyandru kembali mencium wajah dan punggung tangan Alula beberapa kali hingga akhirnya ia benar-benar pergi.


Tanpa sepengetahuan Zyandru, Alula sebenarnya sudah bangun. Wanita itu mendengar semua ungkapan suaminya.


"Bagaimana jika kebahagiaanku adalah pergi sejauh mungkin dari hidup kamu Zyandru? Apa kamu bisa memberikannya?"


Setelah sekian lama, akhirnya Alula mengeluarkan suara. Sayang tak ada yang mendengar selain dirinya sendiri.


Setelah bertemu istrinya yang sudah lama tak di temui, Zyandru merasa seperti mendapat jutaan dukungan dari Alula, padahal wanita itu tak berbuat apapun.


Dengan semangat, Zyandru berangkat bersama Ansell, tak lupa di belakang ada beberapa pria mengikuti.


Tak berbeda dengan Zyandru, Aziel pun melakukan hal yang sama. Semangat kembali membara dalam dirinya begitu menatap foto Alula yang berada di ponselnya.


Kedua pria yang sama-sama memiliki rencana terselubung satu sama lain itu kompak turun dari mobil dan berjalan masuk.


Aziel yang sudah menyewa hotel untuk satu hari ini, menjadikan tempat itu begitu sepi. Hanya terlihat beberapa pelayan berlalu lalang yang merupakan anak buah Aziel sendiri.


"Pagi pak Aziel!" Sapa Zyandru membuat sang pemilik nama membalikkan tubuhnya.


"Pagi pak Zyandru!" Aziel terlihat celingukan mencari satu nama, yaitu Alula.


Zyandru yang melihat itu hanya bisa menahan senyumnya. Tanpa ingin berbasa-basi lagi, Zyandru segera mengajak rekan bisnisnya itu untuk membahas proyek mereka.


"Ansell tolong kamu gantikan tugas Alula sebentar ya!" Pinta Zyandru yang mulai menjalankan rencananya.


"Memangnya istri anda ke mana pak Zyandru? Dia kan sekretaris anda, seharusnya dia juga berada di sini bukan?"


"Ya, seharusnya seperti itu, tapi dia sedang tidak enak badan, jadi tidak bisa ikut."


"Jadi, anda meniggalkan istri anda di rumah sendiri?" Tanya Aziel yang tanpa sadar makin membuat dirinya jatuh ke dalam perangkap Zyandru.

__ADS_1


"Ya, begitulah. Sebenarnya saya tidak tega, tapi pertemuan ini begitu penting. Jadi, ya sudahlah." Zyandru berbicara dengan nada dan wajah yang dibuat selemah mungkin.


"Oh, seperti itu"


__ADS_2