
Zyandru mengajak Ansell ke jalan di mana ia meninggalkan Alula semalam. Sejak keluar dari rumah sakit, Zyandru hanya diam tak bersuara.
Hari yang masih pagi sekali menjadikan jalanan lengang tanpa satupun kendaraan melintas.
Cukup lama perjalanan, hingga Zyandru menghentikan Ansell di tengah jalan yang begitu sepi. Zyandru memperhatikan sekeliling, tepat di tengah jalan ini, ia melihat Alula terjatuh.
Zyandru menunduk menumpukan tubuhnya pada kedua tangannya. Pria itu bersusah payah menahan air matanya yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
Melihat Zyandru kembali berdiri kemudian berjalan lurus, Ansell mengikuti di belakang meninggalkan mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.
Langkah kaki Zyandru terhenti ketika melihat sepasang heels transparan dengan motif kupu-kupu di bagian atasnya. Zyandru ingat betul ini adalah sepatu yang dipakai Alula semalam.
Matanya melebar ketika menemukan bercak darah pada bagian salah satu heels juga pada aspal yang jaraknya tak jauh.
"Selidiki apa di sekitar sini ada CCTV!"
Mendengar perintah Zyandru, Ansell segera berlari sambil menatap sekitar jalan, sayangnya Ansell tak menemukan apapun selain pepohonan.
Melihat pecahan kaca berserakan, pria itu mencoba mengikuti jalan, langkahnya terhenti begitu melihat bercak darah yang cukup banyak di sana.
Menemukan beberapa rumah memasang CCTV, Ansell segera meminta rekamannya pada sang tuan rumah dengan imbalan uang yang lumayan.
Cukup lama Ansell melakukan tugasnya. Begitu kembali, ia melihat Zyandru masih menunduk di jalan dengan posisi yang tak berubah.
"Tuan, saya sudah mendapatkan beberapa rekaman CCTV."
Zyandru segera meminta Ansell memutarkan di ponselnya, sejak awal menonton perasaannya sudah tidak tenang. Pria itu menangis tepat ketika melihat istri yang begitu dicintainya disiksa habis-habisan.
Dengan kondisi yang sudah babak belur, Alula tetap mencoba mempertahankan cincin pernikahan mereka, namun dengan tanpa perasaan salah satu preman menginjak dada Alula hingga wanita itu melepaskan genggaman tangannya.
Zyandru tak bisa lagi menahan perasaannya, isak tangisnya begitu terdengar di jalan sepi itu. Ia membayangkan betapa sakit tubuh istrinya.
Ansell pun ikut menangis menyaksikan video menyakitkan tersebut. Ia tahu Alula dilarikan ke rumah sakit, namun ia tak tahu penyebabnya.
__ADS_1
"Bawa saya ke tempat ini" ucap Zyandru di tengah tangisnya.
Ansell menghapus dengan kasar air matanya kemudian menuntun Zyandru ke tempat sebelumnya.
Zyandru melihat di sekitar sini ada beberapa rumah. Dengan teriakan Alula yang keras pasti mereka dengar, Namun mengapa tak ada satupun yang menolong Alula.
Zyandru meraba salah satu tembok rumah, seberapa keras mereka membenturkan kepala Alula hingga ada bercak darah di sana.
Entah apa yang ada di pikirannya, Zyandru tiba-tiba saja memukul dadanya sendiri berkali-kali.
Ansell yang melihat tentu tak tinggal diam, pria itu mencoba menghentikan Zyandru yang terus menyakiti dirinya sendiri.
Ansell terus menahan Zyandru agar tak berbuat jauh, meskipun sedikit kesulitan karena tenaga Zyandru yang begitu kuat. Hingga pada akhirnya Zyandru terjatuh duduk diantara bercak darah Alula.
"Ketiga preman itu... Harus diberi tahu apa itu rasa sakit!" gumam Zyandru dengan tangan mengusap tanah.
Maaf kalau aku melanggar laranganmu tuhan, namun aku tidak bisa membiarkan mereka baik-baik saja sementara istriku terbaring lemah dibuatnya. Aku akan membalas semua perlakuan mereka berkali lipat dari yang mereka berikan pada istriku.
Kedua pria yang sejak tadi menangis, kini sudah bisa mengendalikan diri dan sibuk membicarakan rencana mereka ke depan.
Sesampainya di area parkir rumah sakit, Zyandru terlihat mengotak-atik ponselnya.
"Selidiki ini semua!" Titah Zyandru sambil memberikan ponselnya pada Ansell, setelahnya pria itu berlari masuk ke dalam rumah sakit.
Di mobil, Ansell terus memperhatikan berberapa foto Alula dan Aziel juga kata-kata yang dikirimkan lewat aplikasi pesan berwarna hijau itu.
"Apa ini sumber masalahnya?"
Bertahun-tahun bekerja dengan Zyandru, Ansell tentu tahu sepak terjang atasannya itu. Zyandru adalah orang yang tegas dan selalu mencari kebenaran dari sebuah masalah tak peduli membutuhkan waktu yang lama.
Namun entah mengapa setelah ditinggal Princy, Zyandru menjadi seperti orang yang memiliki krisis kepercayaan. Pria itu senang mengambil kesimpulan tanpa menelitinya terlebih dahulu.
Apalagi setelah menikah dengan Alula, berkali-kali Zyandru memberi tuduhan yang tidak benar. Entah karena terlalu cemburu atau takut kembali disakiti, Zyandru justru menyakiti orang lain.
__ADS_1
...***...
Kedua pria yang ditugaskan untuk menjaga Alula seketika memundurkan tubuhnya begitu melihat kedatangan Zyandru.
"Istri saya kenapa dokter?" Tanya Zyandru tak sabar.
"Akibat terlalu lama ditangani menyebabkan istri anda menderita bradikardia. Bradikardia sendiri adalah kondisi jantung berdetak lebih lambat dari biasanya. Detak jantung istri anda saat ini kurang dari 60 kali per menit."
"Tapi istri saya bisa selamat kan?" Telihat sebuah ketakutan di wajah Zyandru saat ini.
"Bradikardia bisa menyebabkan henti jantung mendadak, itu saja sudah cukup mengkhawatirkan. Ditambah luka yang cukup parah di sekujur tubuh istri anda, maaf, saya tidak bisa memberikan jawaban yang pasti. Kita berdoa saja yang terbaik demi keselamatan istri anda."
Zyandru memegang tangan dokter pria tersebut dan berkali-kali meminta untuk menyelamatkan Alula. Tak peduli berapapun biayanya, akan Zyandru keluarkan asalkan istrinya bisa selamat. Dokter itu mengerti dengan perasaan Zyandru, namun ia tak bisa menjanjikan apapun. Selain berdo'a, tak ada yang bisa di lakukan saat ini.
Hancur sudah pertahanan Zyandru, pria itu membungkuk di lantai dan langsung menangis sejadi-jadinya. Nama istrinya tak hentinya ia panggil, perasaan bersalah yang mendalam Zyandru rasakan saat ini.
Berkali-kali Zyandru mengatakan maaf, namun tak dapat di dengar oleh istrinya yang sedang bertaruh nyawa di dalam.
Semua ini terjadi karena kesalahan yang ia buat, andai saja ia tak tersulut emosi, andai ia membicarakan semuanya dengan cara baik-baik. Andai saja ia tak meninggalkan Alula di pinggir jalan, andai ia tak membiarkan Alula masuk ke dalam kamar, Alula tak akan seperti ini. Sayang semua itu hanya angan yang menjadi penyesalan bagi Zyandru.
Cukup lama Zyandru menggila dengan memukul tubuhnya sendiri, kedua anak buahnya yang berusaha menenangkan tak jarang mereka ikut terkena pukulan pria itu.
Hanya keajaiban dari Tuhan yang bisa menyelamatkan Alula.
...***...
Tuhan, aku tahu aku hanyalah seorang bajingan yang hanya bisa memberi luka padanya. Tak terhitung sudah berapa kali aku menyakitinya.
Kumohon satu kali ini saja, izinkanlah aku menebus segala kesalahan dan dosaku pada dirinya.
Aku ingin mengobati semua luka yang kusebabkan, aku ingin kembali melihat senyumnya, bahkan aku ingin menjadi sumber kebahagiaannya, walau ku tahu itu sulit namun aku akan berusaha.
Tuhan, aku tahu kau sangat mencintai dan mengasihinya lebih dari yang aku bisa berikan padanya. Namun, izinkanlah aku mengatakan ini, tolong jangan dulu kau ambil nyawanya.
__ADS_1
Kalaupun kau ingin mengambilnya, aku akan meminta dengan sangat agar kau juga mengambil nyawaku. Aku hanya berharap bisa bersamanya entah di dunia atau di akhirat.
^^^^Zyandru Avior ^^^^