
Suara halus yang terdengar tenang tapi terdengar keras itu, membuat Nathan tersentak, dia mencari darimana asal suara itu berasal.
Dan tatapannya tertuju pada seorang gadis bersepatu hels dan dress yang pendek dan sedikit ketat berwarna putih dengan bando di kepalanya, masker menutupi wajahnya dan memakai sedikit hiasan, sedang berada dipintu masuk para penonton.
Dia terlihat seperti seorang dewi meski wajahnya tertutup masker. Mata merah rubynya menatap pria yang sedang menahan serangan dari pria P.
Ia melambaikan tangannya pada pria yang bernama Nathan. Melihat itu, Nathan kembali bersemangat dan memasang muka datarnya dan bertarung sengit dengan pria P.
Selesai mengalahkan pria berinisial P, Nathan berlari menuju wanita yang berada di depannya sekarang ini dan menatap Nathan dengan tatapan lembut dan santai.
Wanita yang sekarng berjarak beberapa cm dari tubuhnya, mengucapkan "Selamat kakak!" Seketika perhatian para penonton teralihkan kepada gadis bersurai hitam, bermata merah seperti ruby dan berkulit seputih salju.
...๐๐๐...
..."Lady, anda terlihat sangat cantik dan sexy" Menjilat sebagian bibirnya agar terlihat menggoda....
..."Lady, i love you..." Sambil mencium tangannya dan mengarahkannya pada wanita itu....
..."Aku membayangkan seorang dewi, apakah aku sudah mati?" Yang mati siapa, yang dipukul siapa. <- Mukul orang disebelahnya, ceritanya......
..."Apa aku bermimpi!?"...
..."Au... cubit pipimu sendiri lah" <- Pipinya dicubit oleh orang yang berbicara diatasnya....
..."Maaf!" Orang itu pun meminta maaf....
Jangan pemilikan obrolan-obrolan yang ada diatas, mereka hanyalah seorang tetangga yang sangat cerewet.
ใKembali pada Nathan
"Anna, kamu darimana saja?" Tanya Vicent pada wanita berambut hitam dan berkata merah seperti ruby yang dikenal dengan nama Anna.
"YA! ayah tau kalau aku itu..." Tidak berani mengakuinya, Vicent yang tau apa yang dimaksud oleh anaknya pun sadar "Dimana Axel dan Alex?"
"Hari ini adalah hari piket mereka, jadi..." Ucap Anna sambil memainkan kedua jari yang berasal dari tangan yang berbeda.
Huft... sudahlah... Yang terpenting adalah Anna kesini dengan selamat dan itu sudah cukup bagi Nathan. Berkat dukungan Anna, Nathan berhasil memenangkan pertandingan babak final dengan mudah.
__ADS_1
Kali ini, lawan Nathan bukanlah orang biasa, seperti saat menonton pertandingannya, bisa dibilang dia sangat kuat namun Anna menyuruh dirinya untuk terus berpikir positif.
Dan jangan negatif thinking!
Anna melihat pria yang akan menjadi lawan kakaknya dengan tatapan datar dan dingin. Dia tidak menyukainya, sungguh tidak menyukainya!
Hanya seorang anak yang berasal dari keluarga Baron sudah berani berlagak kuat didepan anak dari saudara Duke. Jika bukan karena benda itu, maka dia tidak akan bisa sekuat itu.
Ia harus merebut benda itu sampai berada tepat ditangan pemilik yang sebenarnya. Level Nathan dan Pemuda berinisial S itu sama.
Hanya saja, mereka tidak tau skill pemuda S itu berada di level apa. Karena selama pertandingan, pemuda itu hanya menggunakan serangan yang sama dan sudah diketahui level skillnya.
Skill yang dipakai oleh pemuda itu secara terus-menerus, berada di level 21, makanya dia bisa melawan peserta lainnya dengan mudah, karena tidak ada orang yang dapat menandingi level skill pemuda itu kecuali Nathan dan beberapa orang dari kelas lainnya.
"Yo.. yo... yo... bukankah kamu adalah anak dari saudara Duke yang meninggal beberapa tahun yang lalu?" Ejek pemuda S dengan santainya.
Kenapa dia tidak takut, sedangkan keluarga Baron dan keluarga Duke masih tinggi keluarga Duke? Karena dipertandingan ini, status sosial tidak digunakan.
Yang hanya digunakan hanyalah kekuatan, kelincahan dan kepintaran para murid.
...Mulai๐...
Sion menyerang Nathan dengan menggunakan pedang yang dilapisi oleh sihir airnya. Air adalah kelemahan Nathan yang memiliki sihir api.
Dengan demikian, ia lebih unggul daripada natan dalam bidang sihir. Nathan hanya bisa menahannya dengan pedangnya sendiri.
Sion memanggil hewan familiarnya dalam wujud air dan bukan nyata, familiarnya adalah Hippocampus, sementara Nathan memanggil familiarnya yang bernama An.
An adalah binatang sihir jenis ular yang dapat menyemburkan api. Anna yang melihat saudaranya melawan Sion dengan sihir api, mulai khawatir sebab api bukanlah lawan bagi air.
Sion tertawa keras, hahahaha. Bianatang sihir tipe api melawan binatang sihir tipe air? Hei brengsek, jangan bercanda tentang ini... ini sama sekali tidak lucu!
Terutama yang berkelahi dengannya adalah putra dari keluarga terhormat. Hanya memikirkan kemenangannya saja membuat dirinya seakan melayang, bagaimana jika itu menjadi kenyataan!?
Karena ular Nathan begitu cepat, ia bisa lolos dari serangan hipokampus yang tidak nyata dan terbuat dari air.
Tidak ada gunanya, jika dia menyemburkan api kepada lawannya yang tidak nyata dan berwujud air, api yang dia semburkan akan lenyap karena Air dapat memadamkan api.
__ADS_1
Natan dan Sion saling beradu pedang, keduanya sama kuat, meskipun sihir Sion lebih kuat daripada natan, tetapi Nathan lebih unggul dalam berpedang.
Bagaimana Nathan dapat melawan Sion? Karena Nathan memiliki pedang tahan air yang diberikan oleh Anna sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke 15.
Anna menatap gerak-gerik Sion dengan tatapan mendominasi. Tidak sengaja tatapannya mengarah ke suatu benda yang keluar dari saku celana milik Sion.
Ketemu!
Sudah Anna duga jika Sion memiliki benda yang selama ini dia cari. Anna membisikkan sesuatu pada Vicent agar tidak ada seorangpun yang dapat mendengarnya.
Karena Vicent sangat tinggi, Anna harus naik ke atas tepi arena untuk membisikkan sesuatu pada Vicent. Beberapa ornag yang melihat Anna yang bersusah payah naik ke atas arena, tertawa kecil, kemudian dia turun kembali.
Nathan dan Sion terpukul mundur secara bersamaan akibat serangan mereka yang saling berbenturan. Mereka berdua memuntahkan sedikit darah.
Sementara itu, familiar mereka telah lenyap dan kembali kepada pemilik mereka sebab sihir tuan mereka yang tidak beraturan.
"Kakak! Kakak! Kamu harus menang, dia mencuri sesuatu dariku, jadi kamu harus mengalahkannya! Kalau kakak gk bisa memang, ya udh biar Anna aja yang menghajarnya" Polos Anna yang membongkar seluruh hal yang dia rahasiakan.
Melihat suasana yang hening, Anna Melihat sekelilingnya dengan tatapan bertanya, Vicent memukul bagian ubun-ubun anna dan bertanya "Kenapa kamu mengatakan itu secara terang-terangan?"
"Hm? Sebentar!" Anna mencoba mengingat apa yang dia katakan tadi, Vicent pun mengejek Anna 'Masih kecil aja udh lupa, besar nanti semoga kamu gk hilang ingatan ya...' Sambil menepuk kepala Anna.
APA!? Anna pun mencubit perut Vicent yang datar, dengan benjolan-benjolan sexy berbentuk roti sobek diperutnya. Gk mau tau, yang penting kakaknya harus mengalahkannya, titik gk pake koma.
Mendengar ucapan Anna, Nathan menjadi kesal, berani-beraninya orang yang ada di depannya itu mencuri sesuatu dari adiknya yang imut seperti sebuah boneka!
Tidak akan dimaafkan, dia benar-benar tak memaafkan seseorang yang sedang tertatih untuk berdiri. Mata yang awalnya dingin dan datar, menjadi buas.
Seketika, Nathan muncul didepan Sion dan menginjak perut Sion dengan kencangnya sampai dirinya memuntahkan beberapa teguk darah.
Nathan menendang Sion kembali, amarahnya benar-benar memuncak, tetapi sebuah teriakan menghentikan langkahnya "Kakak jangan terbawa emosi, kalau kakak hilang kendali, Anna akan membunuh kakak!" Dengan tatapan dingin dan suara mencekamnya.
Nathan yang mendengar itu hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah, dia kembali normal seperti biasanya dan mengalahkan Sion dengan mudah setelah amarah menguasai tubuhnya.
Anna pun ingin turun ke arah Sion yang sedang diangkat oleh para perawat dengan tandu. Dia melihat ke arah Vicent, Vicent yang mengetahui itu...
...-TBC-...
__ADS_1