Bloodthristy Lady

Bloodthristy Lady
Chapter 25


__ADS_3

...Tanpa a, b, c, dan d, dia langsung mengarahkan tongkat ke properti terlarang milik Axel dan Alex, lalu.......


...BUK!!...


...Tunggu!...


Seorang gadis ber syal hitam dengan kain hitam yang menutupi matanya, seperti diperban, muncul dihadapan Twelve dan menghentikan tongkat bisbol yang mengarah ke arah properti Alex dengan tenang.


...Klontang...!...


Twelve menatap horor gadis itu, kemudian dia menjatuhkan tongkat bisbolnya dan mundur beberapa langkah dari sang gadis.


"Aku tidak bisa merasakan kehadirannya" Ucap Twelve didalam hati dengan banyak pertanyaan yang bermunculan di benaknya, menatap gadis yang saat ini sedang melepaskan kedua temannya dari tali yang menggantung tangan mereka berdua sesaat sebelum menyiksa mereka.


"Sepertinya, aku terlambat ya..." Ucap gadis tersebut dengan Wajah tanpa dosa yang tersembunyi dibalik kain dan syalnya.


..."Kamu bukan terlambat, tapi KAMU SANGAT TERLAMBAT!!" Teriak Axel penuh kekesalan....


Bahunya berdarah, perutnya dipenuhi luka lebam yang berwarna keunguan dengan darah yang mengalir keluar dari tubuhnya.


Twelve hanya bisa diam, menatap gadis yang sedang di omelin oleh Axel dan Alex dengan tatapan kebencian, bergumam...


"Dalam sekejap dia membuat kedua orang yang daritadi hanya diam saja, seperti seorang psychopath yang tidak bisa merasakan rasa sakit, tertawa"


Tatapan yang semula hanya bermula dengan alasan tidak senang dengan ekspresi yang ditunjukan, sekarang berubah menjadi tatapan yang penuh dengan kebencian, mendengar perkataan yang dilontarkan oleh gadis ber syal hitam.


"Bukankah ini tidak adil? Kamu sudah menguasai sihir kutukan yang berada ditubuhmu dan juga, level mereka berdua jauh dibawahmu"


"Bukankah ini yang dinamakan pecundang? Hanya bisa melawan serta menyiksa orang yang lebih lemah darinya" Ucap gadis itu dengan penuh kesabaran.


Axel mengobati dirinya dengan Alex di air mancur yang berisi coklat, lalu memperingati gadis itu, "ANNA! Jangan memprovokasinya! Dia bukanlah tandinganmu! level mu masih berada di level 6 sedangkan dia berada di level 22 Dan lagi sihir kutukannya itu, sangat tidak adil"


...!!!...


...ANNA!? ANAK DUKE MONSTER ITU!?...


...Pikir para penonton....


Hanya ada satu orang yang bernama Anna, dan ia adalah anak dari Duke monster. Anna berbalik, melepas syal hitamnya agar terjaga kebersihannya serta melepas jubah yang menutup seluruh tubuhnya.


Terlihatlah, lekuk tubuh bak boneka porselen, wajah cantik, bersih dan bersinar seperti seorang dewi, dan kulit putihnya yang seperti salju, sungguh perpaduan yang sempurna.


"Diamlah, Axel! selagi belum kalah, kamu tidak boleh menyerah!" Ucapnya, sembari menatap tajam pemuda yang memperingatinya.


Ia kembali berbalik, mengabaikan 'Twelve' gadis berusia 27 tahun yang tidak bisa tumbuh lebih tinggi, semenjak berusia 12 tahun.


"Lagipula, kalian kan bisa bekerja sama untuk menyingkirkannya! Pasti kalian memanfaatkannya" Mendengar ucapannya, kedua pemuda yang terluka itu terkekeh, sedangkan penonton dan Twelve hanya bisa ber'cengo'ria.

__ADS_1


"Kami ketahuan ya.... Aku memanfaatkannya untuk membangkitkan sihir kutukannya, tapi tidak kusangka dia tidak menyadarinya dan hanya kamu yang tau"


...!!!...


...MELISSA 2, HAJAR DIA SAMPAI MENJADI BABAK BELUR!!!...


"Oh... tidak semudah itu, Ferguso" Dengan senyuman yang begitu tipis, Anna menghindari serangan boneka tersebut dengan santainya. Setelah beberapa menit kemudian, dia pun mulai bosan.


...!!!...


Mereka semua kecuali Axel dan Alex terkejut, Anna mengeluarkan pedangnya, entah darimana lalu memotong beruang yang besarnya lima kali lebih besar dari tubuhnya dengan satu kali tebasan.


"Apa!?" Cengo Twelve, menatap kapas dari isi bonekanya, beterbangan kesana - kemari. Ekspresi wajah yang diperlihatkan oleh Anna, begitu mempesona, bagi semua orang.


...WOSSSH!...


Ia melesat seperti petir ke arah Twelve. Kedua pedang yang salah satunya baru saja diambil entah darimana, menusuk kedua bahu Twelve.


Twelve tidak merasakan apa-apa, karena dia seorang psychopath. Dia mengeluarkan darah begitu banyak, disebabkan oleh tusukan yang diberikan oleh Anna.


Darah yang keluar dari kedua bahunya, keluar seperti air mancur, dan mengenai wajah cantik milik Anna.


Suara bunyi benda yang diseret, didengar oleh Twelve. Dia melihat Anna yang menyeret tongkat bobolnya dan memberikan tongkat itu kepada Axel dan Alex.


Axel memegang tongkat bisbol dan Alex memegang pisau kecil yang di gunakan untuk menyiksa dirinya



Pemandangan yang awalnya penuh dengan kesan wanita, sekarang telah berubah. Mereka semua disuguhi pemandangan yang suram.


Hutan yang penuh dengan aura yang tidak mengenakkan, sesuatu menunggu mereka, dari balik pepohonan. Terdapat sebuah gedung yang besar, jauh dari tempat mereka berada.


"Tidak disangka, tidak disangka" Gumam Twelve dengan penuh kekaguman, iris matanya bersinar terang, yang membuat dirinya terlihat semakin menyeramkan.


..."Saatnya balas dendam nona kecil"...


Dalam sekejap mata, mereka berada didepan tubuh Twelve dan menyerangnya, namun Twelve berhasil menghindar dan membalikkan serangan.


Mereka bertiga saling menyerang, tidak ingat waktu yang sekarang, seharusnya anak kelas dua sudah berada di hutan. Nathan dan David yang berada di kelas tiga, harus menunggu waktu sembari menonton pertandingan Axel dan Alex.


Banyak para siswa yang sudah menonton pertandingan Axel, mencari tau tempat dimana mereka berada. Namun tidak ada satupun, seseorang yang mempunyai peta, tempat dimana mereka berada.


Sudah 20 menitan mereka bertarung, Axel sedang menggenggam sebuah tongkat, Alex menggenggam pisau dan Twelve menggenggam dua pistol.


...DOR!...


...DOR!...

__ADS_1


...DOR!...


...TRING!...


Alex berhasil, menepis peluru yang melesat ke arahnya, sedangkan Axel berhasil lolos dari tembakan itu dengan lincah.


Entah karena faktor apa, apakah mereka hilang ingatan sementara, amnesia permanent atau memang lupa, mereka melupakan seseorang yang sedang duduk dipojokan pohon karena bosan.



Awalan





Mulai bosan





Sadar kalau diabaikan, padahal dikira pertarungan ini hanya sementara





Sedikit despresi





Despresi tingkat menengah



__ADS_1


Para penonton yang melihat itu hanya bisa tertawa canggung, tertawa kecil, sedih karena pernah merasakan perasaan yang sama dengan perasaan yang saat ini sedang dihadapi oleh Anna.


...-TBC-...


__ADS_2