
...ANNA POV...
"Anna! Jangan bercanda!" Dia sedikit membentakku walau terdengar tidak terlalu keras. "Iya, ini bukan sepertimu" Diseberangnya ada seseorang yang juga protes kepadaku.
Disisi lain ada juga yang membelaku "Kakak, adik, jangan marah, Anna pasti punya alasannya" Dan adapula yang hanya diam menatap dingin maupun datar ke arahku "..."
Kesal? Tentu saja kesal, siapapun akan kesal jika pembicaraannya dipotong secara sepihak dan seseornag mengambil keputusan atas cerita yang bahkan belum diselesaikan.
Untung saja aku sudah menyiapkan stok kesabaran yang mungkin saja akan habis dalam waktu yang singkat.
"Kakak-kakakku sekalian...." Berhasil, mereka menatap ke arahku dengan tatapan bertanya. Bisakah kalian tenang? Aku tersenyum penuh kemarahan.
Bahkan mataku yang tidak pernah tertutup waktu tersenyum, saat ini tertutup sepenuhnya, serapat-rapatnya.
Dalam sekejap mata mereka menurutiku dengan ekspresi ketakutan, kecuali orang yang hanya menatap dingin dan datar ke arahku.
"Violet tolong selesaikan ceritaku tadi" Kataku kepada Violet salah satu kepribadianku yang muncul di chapter 14.
Yah saat ini, aku berkumpul dengan kepribadianku yang lain. Karena mereka selalu bersikeras untuk mengontrol tubuhku. Violet melanjutkan cerita yang sebagian kepribadianku potong.
"Lalu kenapa kamu tidak melawan saat David menyiksanya!?" Gadis kecil berambut hitam dengan mata merah, tubuh yang mungil seperti anak berusia 8 tahunan, dia adalah kakak pertamaku Ruby.
Walau bertubuh kecil seperti Twelve, dialah yang paling tua karena dia telah hidup selama 100 abad didalam tubuh yang berbeda-beda sebelum ditubuhku.
Aku akan menceritakan detailnya, tapi bukan sekarang
"Itulah yang kalian tidak sadar, tapi apakah kakak tau jika sihir David itu sangat kuat?" Mereka diam, mengingat setiap David mengeluarkan sihirnya.
"Kalian pasti tidak sadarkan? Sejak pertama kali aku melihat David menggunakan sihir es nya, aku selalu berpikir apakah David benar-benar manusia dari kalangan rendah"
Kakak ketigaku [Hidup selama 70 abad didalam tubuh yang berbeda-beda], yang datar pun membalas perkataanku "Tapi Anna walau begitu, kamu jangan lupa peranmu"
Aku terkejut, aku jelas masih ingat akan hal tersebut. "Hidupmu dipertaruhkan Anna, kamu tau kan saat ini kamu sedang apa?" Kakak keduaku yang tenang seperti air juga memperingatkanku.
Aku tidak akan pernah lupa kakak, aku tidak akan pernah lupa. Aku ingat jelas apa yang dikatakan oleh orang itu kepadaku.
__ADS_1
"Ya kakak, aku tau"
Tanpa disadari oleh semua orang, aku memiliki ribuan rahasia yang mungkin saja tidak akan pernah terungkap bahkan jika aku hidup abadi.
...AUTHOR POV...
Ada apa dengan Anna? Mood nya langsung turun setelah diam beberapa saat. Nathan kebingungan terhadap sikap adik kecilnya.
Axel dan Alex pun juga heran, meski mereka tau jika Anna barusan berbicara dengan para kakaknya.
Mereka berdua merasa tidak berguna, sudah lama mereka mengenal Anna, tetapi mereka sama sekali belum mengetahui rahasia Anna yang sebenarnya.
"Axel, ada apa dengan Anna?" Nicole menyenggol tubuh Axel sembari berbisik. Axel tidak menjawab, ini adalah saat dimana mereka hanya bisa membiarkan Anna sendirian.
"Hei... Axel, Alex, apa kita harus berhenti di lantai ini saja? Lagipula kita masih murid baru" Ucap Anna secara tiba-tiba, mengejutkan semua orang.
"E-em... Kita ikut kamu saja" Balas canggung Axel diikuti oleh anggukan Alex. Yah... mereka bisa merasakan suasana yang begitu hambar disini.
"Tidak! Sebaiknya kita langsung selesaikan lantai ini dan segera berada di lantai dimana kakak berada" Tolak Anna setelah kembali dari kenyataannya.
Dia langsung menarik kedua rekan dan sahabatnya itu dengan terburu-buru. Meninggalkan kelompok Nathan yang akan kembali ke lantai mereka setelah melihat sekilas gambar Anna dikehidupan yang lalu saat masa SMA.
Selama 5 hari berturut-turut, Anna beserta kedua sahabatnya sekaligus rekan timnya mengeluarkan kemampuan mereka untuk naik ke lantai berikutnya.
Dan sekarang mereka berada di lantai 36, dimana kelompok Nathan hampir saja mati. Nasib baik bagi mereka karena pintu lantai itu tidak tertutup, jadi seseorang bisa keluar dari tempat itu.
Bukan karena mereka lemah, namun kegagalan mereka adalah ujian yang telah diberikan untuk mereka yang telah sampai sejauh ini.
Kekompakan mereka tidak sekompak kelompok Anna. Dilantai ini, mereka harus kompak, bekerja sama untuk mengalahkan monster itu.
Dilain sisi, kelompok Nathan bukannya tidak kompak, hanya saja mereka sibuk atas perlawanan mereka dengan cara masing-masing.
"Aaaaaaaaaa~ hidup ini melelahkan~" Kata Axel, mengupas tubuhnya yang penuh keringat bahkan setelah dia melepas bajunya sehingga dia bertelanjang dada.
Anna yang tidak sengaja melewatinya, membalas "Kalau begitu mati saja" Sembari mencari kemana tim kakaknya itu berada.
__ADS_1
Padahal beberapa waktu yang lalu, dia melihat mereka bertiga yang bersiap entah kemana. "Anna, bisakah kamu mengurangi perkataan toxicmu itu?" Tanya Axel dengan pipi yang seperti ikan buntal.
Alex yang melihat tingkah kembarannya itu memperlihatkan wajah penuh kejijikan, banyak pertanyaan muncul dibenaknya.
Point dari pertanyaan Alex adalah kakaknya saat ini sudah tidak waras lagi. "Dan juga kamu..." Axel menunjuk dirinya.
"...Berhentilah menatapku dengan tatapan yang tidak mengenakkan itu" Gerutu Axel. Alex sebagai kembarannya mengangkat kedua bahunya. Memberi jawaban yang tidak pasti kepada Axel.
...-...
"Huwaaaaa..... laparnya..." Keluh Anna. Perutnya menggeram minta diberi makan.
HIIKKHH.... "Hanya kamu yang makanan berkali-kali dalam satu jam" Balas Axel dengan wajah terkejutnya. Bahkan Alex langsung merasa mual mendengar kata lapar dari Anna.
David pun tersenyum walau didalam hatinya dia berpikir untuk mencari uang yang banyak agar dapat menghidupi Anna yang seperti seekor babi.
Nicole menggaruk pipinya yang tidak gatal, meski dia belum lama bertemu Anna. Melihat reaksi adik kelasnya, sudah tidak salah lagi bahwa Anna terlalu banyak makan.
Dia menyarankan suatu tempat yang berada dilantai tersebut dan dipenuhi oleh karakter-karakter buatan seperti NPC didalam game yang mungkin dapat membuat hasrat makan anna terpenuhi.
...-Disuatu tempat-...
...I love you so much 🔊...
Suara dering hp, membuat diri Anna terganggu "Ada apa, Twenty? Bukankah baru beberapa menit aku menelponmu?" Twenty menelfonnya.
"Ojou-sama (Nona), Sensei (Bu guru), Anna!! Ini penting, katanya kamu akan mewakili akademi mu saat perkumpulan cabang² akademi"
Hah!? Kenapa harus dirinya? Dia kan murid baru!
"Nona aku tau yang ada di pikiranmu, tapi kepala sekolah baru saja selesai berbicara dengan ayahmu"
Aku kesal, sungguh kesal, kesan pertamaku kepada kepala sekolah yang satu ini sangat buruk, dia menggunakan ayahku sebagai tamengnya untuk memperalat diriku
"Apa yang dikatakan oleh ayah?"
__ADS_1
"Ayah anda mengatakan semua keputusan berada ditangan anda, tapi dia juga merasa tidak enak dengan kepala sekolah sekaligus mantan anggota kelompoknya saat berada di akademi" Jawab Twenty.
Apa katamu? Kepala sekolah adalah anggota kelompok ayah? Dengan begini aku tidak bisa menolak permintaannya bukan? Aku menyayangi ayah.