
...ANNA POV...
Burung besar itu menunjukkan gelagat aneh, dia seperti sedang menahan sesuatu dimulutnya dan
...BBBBBLLLLLRRRRR....!!!!...
Burung itu memuntahkan cairan ungu yang ku tebak sebagai racun. Aku baru tau ini... aku ingin menelitinya.
Biarkan aku memeriksa tubuhmu! Tidak akan lama! Aku hanya ingin meneliti bagian-bagian di tubuhmu seperti jantungku dan organ lainnya.
Ara~ memikirkan ini, aku terdengar seperti Hange di anime AOT. Meski begitu, sifatku berbeda darinya, aku hanya ingin meneliti burung besar ini dan membuat monster ciptaanku sendiri.
Tetapi sepertinya aku tidak akan bisa menelitimu. Kenapa? Karena dua orang yang kau sedang tadi, sudah bersiap untuk menghajarmu.
Lihatlah wajah psychopath mereka, iris mata mereka mengecil sedangkan pupil mata mereka membesar, Axel tersenyum lebar tapi menakutkan sedangkan Alex tersenyum simpul namun terkesan berbahaya.
Mungkin partyku memang cocok dengan nama Adios, sebab adios berarti Selamat tinggal. Jadi... Selamat tinggal burung besar, mungkin waktumu hanya tersisa sedikit lagi.
...ANNA POV END...
"HEY HEY HEY, KE ARAH MANA KAMU MELIHAT?" Tanya Axel yang berada di punggung sang burung. Ia berulang kali menebas leher burung itu, namun serangannya terhalang oleh sihir pertahan level rendah si burung.
Note: 'Hey hey hey' bacanya juga boleh 'Kora kora kora'
"Hoi, jangan lupakan aku juga!" Alex tengah berada di bawah sambil bersiap untuk mengayunkan katananya.
Di telapak tangan kirinya, terdapat sebuah buku, Alex pun membaca mantra dan mengeluarkan sihir yang dapat merusak pertahanannya.
"Astaga... mereka pasti bodoh, sungguh bodoh '-v-" Tangannya memijat keningnya, menyaksikan pertarungan sahabatnya dan burung besar itu.
...KWAKKKKKKKKKKK!!!!...
...(Anggap aja suara burung Elang peregrine (Falco peregrinus))...
"Oi oi oi, berisik banget sih..." Alex memotong sayap burung itu, Axel memotong kedua kaki si burung, namun burung itu masih hidup.
"Tidak bisa dipercaya, mungkinkah nyawamu ada sembilan?" Yang paling tua disana pun memeriksa HP burung yang mereka lukai, namun HP burung tersebut hanya berkurang sedikit.
Yang artinya, si burung belum mengeluarkan kekuatannya yang sesungguhnya. Tidak percaya mengenai apa yang mereka lihat, ketiga orang yang sibuk dengan urusan masing-masing itu terkagum dengan transformasi sang burung.
"Menurutmu, dia itu burung apa kalau, dia bukan seekor monster dan hanya seekor burung biasa?" Tanya Anna. Alex pun menjawab "Kalau aku tidak salah, dia burung elang peregrine (Falco peregrinus)"
...-Note-...
__ADS_1
Elang peregrine (Falco peregrinus) suka memangsa burung lain dan kelelawar. Burung ini punya penglihatan akurat dan bisa menukik tajam dari atas ke bawah untuk menyergap mangsanya dengan kecepatan 200 mil per jam.
...-End-...
"Hebat... dia beregenerasi dengan cepat" Kagum Anna, kaki yang semula buntung dengan sayap yang sudah tidak dapat mengepak.
Saat ini, kaki dan sayap itu tumbuh kembali, hanya saja kedua anggota tubuh burung itu bertransformasi menjadi dipenuhi oleh kristal hitam.
"SEMANGAT...!" Sorak Anna kepada kedua sahabatnya yang sedang berpikir dengan keras. "Oh!? Mereka serius? Atau melatih skill berpedang mereka?"
Kedua belah pihak bertarung dengan sengit, Axel dan Alex yang mulai kehabisan tenaga pun ingin menyelesaikan ini dengan satu kali serangan.
Burung itu juga sudah bersiap untuk menyerang dengan sekali serang, dia mengepalkan sayapnya dan terbang tinggi ke langit.
Si burung meluncurkan serangan kristalnya yang diselimuti oleh racun ke arah dua bersaudara dengan sekali kepakan sayap.
Disisi lain, dia bersaudara sudah memasang kuda-kuda dan mengeluarkan serangan gabungan.
...'SORA NO SURASSHU'...
Teknik tebasan langit yang berasal dari penggabungan teknik pedang angin Alex dan teknik mata pedang Axel.
...KWAKKKK!!!...
Alex dan Axel terkapar di arena bersalju ini karena kelelahan setelah mengeluarkan teknik gabungan yang begitu menguras tenaga.
Tetapi burung yang sudah diserang ratusan kali itu masih hidup dengan HP yang masih tersisa ¼ dari 100%. "Anna, hajar dia untuk yang terakhir kalinya!" Kata Axel mengangkat tangan kanannya yang dikepal.
Kedipan polos diberikan oleh Anna untuk Axel, tak lama kemudian dia pun tersenyum simpul "Aku mengerti!"
...Wusss...!!!...
Tangan Anna bergerak seperti sedang memotong sesuatu dan muncullah sebuah katana dengan mata pedang berwarna merah.
...SLASSSH!!!...
Burung yang tadinya terbang ke bawah dengan kecepatan tinggi, sekarang berhenti didepan Anna tanpa suara.
Anna pun memasukkan katananya di samping pinggangnya, lalu katana itu menghilang. "Kenapa tidak kamu saja yang membunuh burung itu tadi!?" Kesal Axel.
"Udah gk usah protes, lagipula kalian kan bisa mengubah arena burung itu menjadi arena kalian" Jelas Anna dengan memasang wajah cueknya, menjetikkan jari ke kening Axel.
Axel pun mengerucutkan bibirnya, Anna menarik baju Axel dengan santainya seperti tidak ada beban sama sekali dan membopong Alex yang tidur seperti karung.
__ADS_1
Muncul sebuah lingkaran sihir yang Anna dan Axel duga sebagai lingkaran portal dan sebuah peti disampingnya.
Tanpa banyak drama, dia pun membuka peti itu dan mengambil isinya. Setelahnya, dia berdiri di atas lingkaran sihir tersebut dan melihat burung yang masih berhenti dilangit.
Ia menutup kedua matanya dan darah berserakan diamna-mana, burung tersebut terpotong menjadi beberapa bagian sampai kecil.
Para penonton pun hanya bisa membuka mulut mereka lebar-lebar dan ada pula yang memuntahkan makanan yang mereka makan pagi ini.
...-...
"Jadi lantai 11 seperti ini? Monster yang terlemah adalah monster level 6" Selama perjalanan diseret oleh Anna, Axel selalu melihat sekelilingnya yang dipenuhi oleh monster level 6.
"Anna pasti kamu bukan wanita kan? Kamu pasti pria kan?" Oceh Axel yang sedari tadi tidak berhenti. "Bukan, aku siluman naga_-" Balas Anna.
"Pantas saja kamu begitu kuat, tenang saja aku selalu menyukaimu apapun jadinya dirimu" Walau tubuhnya sudah tidak punya tenaga untuk bergerak, dia masih saja menggoda Anna.
Dengan berat hati, Anna masih menyeret Axel yang menjengkelkan sekali baginya. "Percaya atau tidak, aku akan melemparmu dan membuangmu jika kamu masih bicara hal aneh sekali lagi" Ancam Anna.
"Astaga... aku hanya bercanda, jangan marah..." Axel mendongakkan kepalanya ke belakang melihat raut wajah Anna yang datar.
"Hm...." Anna hanya membalasnya dengan deheman.
Di lantai 34, tempat dimana David, Nathan dan Nicole, teman mereka berada. "Anna kuat sekali..." Gumam David Yang masih bisa didengar oleh Nathan, melihat layar yang berada di depannya dengan penuh keterkejutan.
Nathan mengangguk sambil mengingat waktu Anna menghunuskan pedangnya, "Itu terlalu cepat, aku bahkan tidak bisa melihatnya" Batin Nathan.
"Hei, hei, hei, apa-apaan adikmu itu Nathan? Bukankah dia masih berada di level 6?" Kata Nicole, raut wajahnya menunjukkan bahwa dia tidak percaya bahkan dia sampai mengecek status Anna yang hanya bisa dilihat nama, tanggal ulang tahun, ras dan levelnya.
David mengangguk mengerti perasaan yang saat ini dihadapi oleh Nicole, dia juga pernah mengalami hal itu dan mengecek status Anna dengan segera.
"Aku hanya bisa melihat nama, tanggal ulang tahun, ras dan levelnya" Kata Nicole lagi. David yang mendengar itu juga mengecek status Anna.
Dulu, saat dia mengecek status Anna, itu juga pernah terjadi. Seingatnya setelah Anna berumur 7 tahun, dia tidak pernah mengecek statusnya lagi.
"Benar juga, kenapa ya? Biasanya jika seseorang memiliki level yang lebih rendah dariku, maka orang itu tidak akan bisa melihat statusku dan begitu pula sebaliknya" David menghirup naga sebanyak-banyaknya setelah berbicara begitu panjang.
"Seharusnya kita bisa melihat keseluruhan status Anna" Glek! Glek! Glek! David menyelesaikan ucapannya dan mengakhirinya dengan suara air yang masuk kedalam tenggorokan.
Nathan pun ikut berpikir seperti David dan Nicole, disisi lain para penonton pun ikut-ikut dan memeriksa status Anna.
Quest: Bagaimana cara David, Nathan dan Nicole menonton pertarungan Anna?
...-TBC-...
__ADS_1