Bloodthristy Lady

Bloodthristy Lady
Chapter 42


__ADS_3

Disuatu tempat yang penuh dengan teriakan menggelegar, memenuhi suatu ruangan, teriakan yang membuat seseorang kehilangan telinganya.


Terdapat 6 pemuda, 3 wanita diruangan yang bising itu. 3 Pemuda sedang merebutkan seorang wanita, 1 pemuda mencoba melerainya, 1 pemuda mendukung mereka untuk bertengkar dan satunya duduk manis dengan tatapan datar.


2 wanita yang melihat pertengkaran itu tertawa canggung, mereka tidak tau harus berbuat apa, sedangkan yang diperebutkan sedang duduk bersandar didada bidang pemuda yang sedang duduk.


"Kakak?" Hanya suara deheman yang didengar oleh wanita bersurai hitam dengan mata ruby sebelah, mata biru tua seperti safir dan keduanya berkilauan seperti berlian.


Pemuda yang ditanya melirik adiknya yang jauh lebih pendek darinya. "Kita tidak melerai mereka?" Ya, itulah jawaban yang didapat.


Didalam benak sang wanita "Kenapa suasananya menjadi seperti ini?"


...30 menit yang lalu......


"Kenapa kalian kesini!?" Tanya Axel dengan pandangan mata tidak suka, menatap 3 orang yang satunya kakak sepupu wanita yang dia suka, Nathan dan yang satunya tunangan wanita yang dia suka, David.


Ketinggalan satu! Seseorang yang tidak ada hubungannya dengan wanita yang dia suka, Nicole.


...《Kasihan banget sih mas Nicole ಥ_ಥ》...


"Kami lelah... terlebih lagi aku ingin bersantai dengan Anna" Ucap David, tunangan Anna, wanita yang disukai oleh Axel.


Kedua tangan Nathan diletakkan dibelakang punggungnya dengan posisi istirahat di tempat 《Grak! (・–・;)ゞ》


Nicole menatap Axel, Alex dan David yang sedang beradu tatap dengan mata kelincinya. Sekarang ini, mereka berada dilantai 14.


^^^Mentang-mentang tunangan, jadi bisa mengumbar-ngumbar kesemeraaan kalian didepan para jomblo ya!?^^^


^^^Iya, bilang aja kalau kamu itu iri karena tidak bisa berduaan dengan Anna!^^^


^^^(Duo bersaudara)^^^


Gk apa iri, setidaknya aku punya status pasti dikehidupannya😏


(David)


^^^KAMPR*T!!! NGAJAK BERANTEM!!^^^


^^^(Axel)^^^

__ADS_1


^^^Si*lan!!!^^^


^^^(Alex)^^^


Apa hah!? Melotot, melotot😒


(David)


...Dan terjadilah perdebatan diantar ketiga pria tersebut...


"Nathan-kun...." Sapa seorang gadis berpakaian dengan busana yang penuh dengan hiasan, namun khusus untuk para penyihir wanita bangsawan.


Disampingnya ada seorang gadis yang sudah tidak berniat merebut David dari Anna dan berganti mencintai pria yang berada disampingnya.


"Oh! Ada Leona, Felicia dan umm..." Bukan Nathan yang berbicara, tapi Nicole yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lah yang bertanya.


Pria yang berada diantara kedua gadis cantik bernama Leona dan Felicia pun berkata "Phillip"


"Tuan Phillip" Kata Nicole dengan senyum manisnya yang semanis gula, melebihi para wanita kecuali Anna tentunya.


Phillip menunjukkan reaksi, dia membalas senyuman Nicole dengan senyum lebar khasnya, menampakkan gigi putihnya.


"Nathan-kun lihat! Bukankah ini indah?" Leona, wanita yang menyukai kakak Anna, Nathan, memperlihatkan sebuah kalung yang indah namun terlalu ribet.


Anna sebenarnya tidak tahan melihat kalung yang sebegitu besarnya, banyak hiasan permata, dan juga terlihat mahal dimatanya.


Nathan dengan cuek-cueknya, sedatar-datarnya menjawab "Tidak" Memalingkan wajah ke arah Anna yang mengobati luka ketiga pemuda yang tadi berdebat dan berujung pertarungan.


Hanya ada satu raut muka yang ditunjukkan oleh Leona didalam bawah sadarnya, raut wajahnya terlihat sangat menyedihkan "😟"


"Apa kalian ingin naik lantai?" Tanya Nicole kepada Anna beserta sahabatnya. Ketiga jiwa yang ditanya pun menggelengkan kepala secara bersamaan.


Mereka saling bertatapan satu sama lain, setelah menyadari sesuatu yang salah di antara mereka.


...ANNNA, KAPAN KAMU MEMAKAI MASKERMU!?...


...AXEL POV...


Aku menarik halus, lengan Anna dan bertanya kepadanya "Kenapa kamu memakai maskermu?"

__ADS_1


Ia pun menjawab dengan tangan menutupi mulutnya sembari berbisik kepadaku "Jangan sampai dia tau kecantikanku, jika tidak nanti ada seseorang yang kembali seperti dulu"


Ah, apa yang dia maksud Felicia? Yah... memang sih Anna cantik, tapi bukankah yang menderita adalah dirinya?


Dia menjadi tidak bebas untuk menunjukkan wajahnya. Separuh mukanya tertutup oleh masker dan hanya memperlihatkan kedua matanya beserta jidat yang tertutup oleh poni.


Padahal dulu sesaat masih hidup bahkan jika dia bekerja sebagai guru, aku merasa dia sangat bebas karena ada beberapa orang yang sepantaran dengannya.


Perasaan nostalgia ini membuatku teringat pertemuanku dengan Twelve yang bilang bahwa aku merebut Anna (master) darinya.


Padahal aku bertemu dengannya karena dia mendaftar di sekolah dimana aku dan kembarannya berada.


Tidak kusangka ternyata, sebelum dia mendaftar ditempat itu, dia telah mendaftar di tempat yang seperti itu 2 hari setelah dia dikeluarkan dari sekolahan.


Dan disanalah orang yang bernomor 02 berada dan saat sekolah kami mengadakan perkumpulan antar cabang sekolah.


Disanalah kami yang sebelumnya tidak bernomor menjadi bernomor dan orang yang awalnya 02 (zero two) menjadi 12 (twelve).


Sepertinya aku terlalu lama bercerita.


Kembali ke topik


"Kamu terlalu percaya diri" Ucapku mengajaknya untuk bercanda. Ia pun tertawa kecil mendengar candaanku.


"Gapapa sedikit percaya diri yang penting gk sampai jual diri" Ucapnya sambil memperlihatkan gigi putihnya dan matanya yang tertutup.


Kesannya dia terlihat menunjukkan saat-saat dirinya bahagia. Aku bahagia melihat dirinya bahagia, tidak mungkin jika aku seorang psychopath jika aku bisa merasakan emosi ini.


...AXEL POV END...


Seseorang menatap mereka berdua yang saling berbisik dengan tatapan deathglarenya. Pria bersurai silver yang panjang dan dikuncir asal-asalan itu menatap dengan penuh permusuhan ke arah Axel.


Otomatis tubuh Axel yang lebih jujur dari perasaan Axel sendiri merasakan perasaan yang tidak mengenakkan, bahkan bulu kuduknya ikut berdiri.


Ia tersenyum walau perasaannya saat ini tidak karuan. Dirinya dipenuhi oleh amarah. Bisa diartikan dia cemburu dengan kedekatan mereka berdua.


Anna sendiri tidak pernah berbisik sedekat itu dengan dirinya. Yap, ia adalah David. Tanpa disadari, dipinggir senyuman manisnya, terdapat gigi yang sedang menggigit bibirnya.


...-TBC-...

__ADS_1


__ADS_2