Bloodthristy Lady

Bloodthristy Lady
Chapter 26


__ADS_3

Disebabkan tidak ada siapapun yang ingin mengalah, kedua belah pihak masih saling menyerang walau hasil akhir tetaplah sama.


Twelve memakan sebuah obat yang tidak diketahui, nama obatnya, darimana asalnya dan apa efeknya, tanpa takut.


...DEGH! DEGH! DEGH! DEGH! DEGH! DEGH!...


Jantungnya berdetak lebih cepat, suaranya bahkan terdengar sangat keras. Deru nafasnya tak beraturan, dia memakan obat tersebut dalam jumlah yang sangat banyak.


Mulut Twelve melebar hingga ke pipinya, lidahnya membesar dan memanjang. Orang-orang yang pertama kali melihat, saat seseorang menjadi Demon Counter pun khawatir.


Twelve menendang kedua sahabat Anna hinga tubuhnya terbentur gedung besar yang berada di dimensi Axel.


...UHUKKK!!! UHUKKKK!!!...


...Mereka memuntahkan seteguk darah segar dari mulutnya....


"KYAHAHAHAHAHAHAHA!!! KALIAN TIDAK AKAN BISA MENGALAHKANKU!!!" Kata Twelve dengan bibir yang sobek sampai di pipinya.


Sedangkan Anna? Dia tidur nyenyak di atas pohon dengan posisi, menyandarkan tubuhnya di tubuh pohon dengann kedua kaki, diletakkan di atas batang pohon.


Untuk apa mempedulikan orang yang tidak mempedulikannya? Itulah kata Anna, sesaat sebelum tidur di atas pohon.


Axel dan Alex membangunkan sihir kutukannya, di kening mereka, terdapat sebuah simbol dengan bentuk yang berbeda.


Twelve memandang mereka dengan tatapan yang tidak jelas, dia tersenyun, tetapi matanya terlihat mesum "Oh... ternyata kalian sudah bisa mengendalikan kutukan itu"


.......


.......


.......


...Kamu tidak boleh membunuh kami, Twelve!!! Karena hanya dia yang boleh membunuh kami!...


Ucap Axel yang berbaring di dimensi milik Twelve yang dipenuhi dengan coklat dengan tubuh yang dilumuri oleh darah karena terluka.

__ADS_1


Baju putih Alex, sekarang berwarna merah sepenuhnya, berkat darahnya yang terus mengalir tanpa henti. Ia duduk di tepi air mancur dengan wajah pucat, setelah banyak mengeluarkan darah.


"Dia? Kamu berbicara seolah-olah dia juga berada disini" Ucap Twelve dengan wajah mengejek. Axel tersenyum miring, 'Kenapa tidak?'


Masih dengan wajah mengejeknya, dia bertanya "Mana? Dimana dia?" Giliran Alex yang tersenyum miring, 'Bukankah kamu sudah melihatnya?'


...⚡...


Matanya menatap wanita yang sedang menatap tajam ke arahnya, dengan rambut berwarna hitam dan mata berwarna merah yang dari dekat terlihat seperti merah muda.


...Bruk!!!...


Tubuhnya jatuh, dia berlutut dengan bibir yang mencium telapak tangannya, keringat dingin membasahi tubuhnya. Kenapa dia tidak menyadarinya dari awal?


Rambut hitam yang seperti orang itu, mata merahnya yang begitu mendominasi walau dari dekat terlihat merah kemudaan, karakteristiknya sama sepertinya.


Dia tidak bisa berkata-kata kembali, dia adalah Psychopath tapi ada beberapa orang yang dapat membuat dirinya takut, karena kekuatan mereka jauh diatasnya, salah satunya adalah dia, wanita yang saat ini sedang menatap ke arah Axel dan Alex.


"Kalian menggunakan namaku?" Tanyanya dengan intonasi dingin yang lama tidak didengar. Axel hanya bisa tersenyum polos dengan wajah pucat, sebab kekurangan darah.


Selesai mengobati, dia melemparkan dua buah kantong darah serta dua buah selang kepada kedua insan yang hanya bisa tersenyum.


"Mana ucapannya?" Tanyanya dengan wajah cueknya. Hehehehehe.... Axel terkekeh, Mereka berdua mengucapkan "Terima kasih Anna, sayangku"


Axel menambahkan kata 'Sayangku' di akhir ucapan terima kasihnya, sedangkan alex hanya mengucapkan kata terimakasih dnegan santai.


Anna melangkahkan kakinya, menatap seseorang yang sekarang ini sedang berlutut dibawah kakinya dengan keringat yang membasahi tubuhnya dengan tatapan datar.


Anna bertanya "Kenapa?", Huh!? Twelve mengangkat kepalanya, melihat wajah Anna yang datar. "Bukankah tadi masih bersikap sombong?" Sambung tanya nya.


Twelve kembali menunduk, berlutut didepan kaki Anna "Tidak, tidak berani lagi" Jari telunjuk Anna mengangkat dagu wanita yang sudah menjadi setengah iblis tersebut.


Tidak lupa, sebelum mengangkat dagu wanita tersebut, Anna memakai sarung tangannya. TCH!!!! Decih Twelve yang menahan nyeri di pipi yang sedang dijahit oleh Anna.


Axel dan Alex telah menghabiskan satu kantong darah itu dan mengembalikan selang yang diberikan dalam kondisi bersih, tidak meninggalkan darah sedikitpun

__ADS_1


Satu buah kantong darah yang tersisa, separuh di kantong darah milik Axel dan yang satunya, separuh di kantong darah Alex, dijadikan minuman oleh mereka berdua.


Penonton yang menonton saat-saat, dimana Alex dan Axel meminum darah itu, merasa jijik. Tetapi bagi kedua orang yang sedang meminum darah itu, rasa darah begitu nikmat dan memikat mereka.


"Kalian terlihat seperti seorang vampir" Ucap Twelve setelah pipinya selesai dijahit oleh Anna. Kenapa begitu? Ya karena mereka meminum darah seperti seorang vampir.


Anna membersihkan perlahan yang dia gunakan, "Bagaimana? Apakah ada yang masih sakit?" Tanyanya, memasukkan peralatannya ke sihir 'item box' yang biasa dia gunakan untuk menyimpan setelah dia masukkan kedalam kantong sihir.


Agar semua orang mengira, dia menyimpan peralatan itu, kedalam kantong sihir miliknya. Twelve menggelengkan kepalanya, Anna memberikan dirinya sebuah permen lolipop yang ternyata adalah manisan favoritnya.


"Lidahku mengecil, aku kembali menjadi manusia!..." Senangnya Twelve, merasakan bahwa lidahnya lebih kecil daripada lolipop yang dia makan.


Wajah yang awalnya senang, kembali bingung "... Tapi bagaimana bisa?" Axel tersenyum polos, Alex tersenyum biasa dan Anna tersenyum tipis.


"Itu adalah rahasia!" Ucap Anna, meletakkan jari telunjuknya didepan bibirnya, menutup sebelah matanya sembari tersenyum nakal.


Twelve dengan polosnya mengangguk, mengingatkan Anna dengan umur Twelve yang sekarang. '27 tahun' Jawaban ini membuat tubuh Anna bergetar.


Dengan tinggi yang mencapai 137 cm an? Tunggu... tunggu... tunggu.... tidak baik menghina tinggi seseorang. Tapi... umur 27 tahun, hanya bisa mencapai level 22 itu sudahlah baik.


Sementara kedua pemuda kembar, dapat dibilang jenius yang berumur 12 dengan level 15. Sedangkan dirinya? Dirinya kesulitan untuk menaikan level dan berhenti di level 6.


"Bagaimana cara meningkatkan level ya...?" Lesu Anna, menopang darinya dengan tangan kanannya.


"Well.... sudahlah... lebih baik kita pergi saja!" Ucapnya sembari merenggangkan badannya.


...Kemana?...


...Tanya Mereka bertiga, menatap Anna yang menoleh ke arah mereka bertiga....


Anna tersenyum miring, menjawab....


...Ke Pantai!...


...-TBC-...

__ADS_1


__ADS_2