
Aku tak boleh mati! aku tak boleh mati!.
Terbayang semua kenangan di dalam pikiran Roby yang kalah itu sedang di selimut ketakutan. Kenangan manis saat dia bersama Papa dan Mamanya kenangan saat dia bermain dengan Raina semua kenangan manis terputar di ingatanya. Air matanya berderai mengalir keluar.
" Ahhhhrrrrrggg". Roby berteriak dan melajukan motornya.
letusan tembakan terlepas namun gagal mengenai Roby,yang kembali menambahkan laju motornya. Mobil yang berisikan Rico tertinggal lagi di belakang mereka melihat Roby melaju dengan kencang.
"Sialan bocah itu!, ayo semuanya hujani ia tembakan lobangi seluruh tubuhnya! ". Ucap Rico pada yang lain.
DOR! DOR! DOR!..
Suara tembakan di malam hari itu terdengar nyaring, tempat jalan yang di lalui memang tempat yang sepi apa lagi sudah tengah malam seperti ini.
"Papa..tolong Roby". Tangis Roby pecah ia berteriak dan berusaha terus fokus ke jalan raya. Ia ketakutan dengan hal yang di alami sekarang, "Aku harus bisa, para penjahat itu tidak akan bisa membunuh ku". Ucapnya memberikan semangat pada dirinya sendiri.
DOR!
Tembakan melesat di samping Roby sontak membuat hilang fokusnya. Motor Roby menjadi oleng dan hilang kendali sehingga menabrak pembatas jalan. Roby pun terpental sampai berguling-guling di jalanan pada akhirnya kepalanya yang sudah terlepas dari helm nya menghantam tembok jalan.Darah segar bercucuran keluar dari mulut, hidung serta telinga Roby.
Melihat Roby mengalami kecelakaan membuat Rico sedikit terperanjat kaget, sungguh di luar dugaan bahwa pria malang itu tewas meregang nyawa bukan di tangan para penjahat seperti mereka.
" Cepat kita dekati lelaki itu!". Ujar Rico, mobil pun berhenti di dekat Roby yang terkapar lemah itu. Serpihan motor yang pecah bertebaran di jalan raya itu.Motor Roby mengalami kerusakan parah.
Terlihat Roby masih bergetar tubuhnya masih bergerak menahan sakit,matanya buram berkunang-kunang ia menangkap beberapa orang dengan pandangan samar-samar. Salah satu dari mereka menendang tubuhnya yang tergeletak tak berdaya untuk memastikan dirinya hidup atau mati.
"Dia sepertinya sudah tidak berdaya, apa aku harus menyudahi deritanya". Ucap lelaki yang menarik keluar pisau dari pinggangnya.
"Sudah tidak perlu sebentar lagi juga dia bakal tewas dengan sendirinya. Lagi pula ini menguntungkan buat kita, polisi mungkin akan berpikir ini sebuah kecelakaan saja bukan?". Jawab teman Rico menghalangi temannya yang lain yang berusaha menusuk Roby yang masih menggeliat gara-gara alami luka dan pendarahan di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
"Mamp*s!, Ayo kita cabut sebelum ada orang yang melintas ". Tegas Rico, mereka pun beranjak pergi meninggalkan Roby yang tengah sekarat oleh perbuatan keji mereka.
Roby menatap sayup dengan penglihatan yang sudah menghitam ke arah langit malam yang menyaksikan kemalanganya. Bibirnya bergetar berusaha mengucapkan kata-kata dari mulutnya.
"Pa..pap.. Papa.. Ra-Raina a-aku menyayangi kalian". Ucapnya dengan terbata-bata suara lemah dan parau terdengar sayu nan pilu,"Ma-maafkan Roby".
Mata Roby mulai meredup dan menutup setelah mengucapkan kata-kata terakhirnya yang semampunya terlontar dari mulutnya. Roby meninggal di tempat dan pergi meninggalkan dunia bersama semua mimpi-mimpinya untuk bermusik.
**
Mr.Ben senang mendapat kabar baik dari Rico bahwa Roby telah meninggal dan kabar itu membuat lengkungan tergurat jelas di wajah Benyamin.
"Hebat Rico, misi kita pertama sudah berhasil berkat mu, silakan nikmati minuman ini". Mr.Ben menuangkan minuman ke cangkir yang di pegang Rico.
"Iya Mr ini semua berkat dukungan Mr juga selama ini". Ucap lantang Rico dengan senyum bangganya sambil meneguk wine yang di tuangkan Mr.Ben.
Sementara itu Subroto masih menunggu kepulangan Roby namun tak kunjung pulang malam semakin larut di telepon pun tak ada jawaban. Mungkin anaknya sedang mengendarai motor pikir Broto hingga tak dapat mengangkat telepon atau mungkin dia mengalami kerusakan ban pada motornya. Berkali-kali ia memeriksa jam di tanganya yang sekarang sudah menunjukkan pukul satu malam lebih,Raina saja tertidur pulas karena kelamaan menunggu Roby.
Broto terkejut setelah Raina memanggilnya. Karena gadis itu tadi tertidur di sofa dan bangun. Raina mengucek-ucek matanya memfokuskan penglihatanya matanya masih terlihat sembab karena ia banyak sekali mengeluarkan air mata.
" Kenapa sayang kok bangun?".
"Kakak sudah pulang Pa?". Tanya Raina yang membenarkan diri untuk duduk.
"Kakak mu belum pulang,mungkin lagi ada urusan sebentar ". Jawab Broto.
" Kok belum pulang si, Rain kan takut kalo terjadi apa - apa sama kakak". Raut muka Raina menjadi cemberut. Tergurat kekhawatiran pada kakaknya.
Broto hanya terdiam dan membalas senyum singkat untuk pertanyaan anaknya, diapun mendaratkan pantatnya ke sofa di kecupnya kening Raina untuk memenangkanya. Bukan hanya Raina yang merasakan keresahan dan kekhawatiran malam itu broto juga turut merasakannya.
__ADS_1
Triingggg..
Telepon rumah berdering Broto dengan segera bangkit mengangkat telepon itu. Ia melangkah dengan cepat dan meletakkan telepon itu ke telinganya.
"Hallo"
Setelah berapa lama tiba-tiba saja tangan Kombes Broto menjadi gemetar hebat bahkan bibirnya dan tubuhnya terlihat seperti orang kedinginan wajahnya menjadi pucat pasi ia ternyata mendapat kabar dari kepolisian bahwa puteranya Roby mengalami kecelakaan dan tewas di tempat.
"Nggak mungkin ". Air mata Broto menyucur deras telepon di gengamanya terlepas ia terduduk lemas karena mendengar kabar yang baru saja ia terima. Suara gagang telepon yang terjatuh membuat Raina menghampiri sang Papa yang berada di ruang sebelah.
" Papa!". Teriak Raina seusai menjumpai papanya yang terduduk lemas dengan air mata berlinang, "Papa! Papa kenapa?". Raina berjongkok berusaha membantu Papanya untuk berdiri,namun Broto tak bergeming sedikit pun matanya kosong dengan buliran air mata yang jatuh. Raina beberapa kali teriak memanggil nama Papanya sembari menepuk-nepuk pipi Broto yang masih terpaku bak patung itu.
"Rain..". Subroto menoleh ke arah Raina ia mendapatkan kembali kejernian pikirannya.
Subroto langsung memeluk Raina dan menangis sejadi-jadinya. "Maafkan Papa nak! maafkan Papa mu ini, gara-gara Papa kakak mu". Broto tersendat ia tak sanggup melanjutkan lagi.
Mendengar itu membuat Raina melepaskan pelukan sang Papa dengan mata yang mulai berair Raina meminta penjelasan dari papanya,ia meminta untuk Papanya melanjutkan ucapannya tetapi lidah Broto masih keluh dan kaku berapa kali ia mencoba bicara namun ia tersendat seolah sesuatu menahan tenggorokannya. Dengan cepat Raina menggoyangkan tubuh Papanya berusaha untuk menjawab kekhawatiranya.
"Kakak mu tewas kecelakaan, Roby meninggal ".Ucap lantang terdengar dari mulut pria yang di sapa Papa oleh Rain.
Mata Raina terbelalak besar ia menatap nanar ke arah Papanya dia bergeser mundur beberapa senti dari Subroto , kepalanya terus menggeleng menandakan tidak mempercayai ucapan yang di lontarkan Papanya itu. Papa nya hanya bercanda bukan? Itu sungguh bukanlah lelucon yang bagus!.
.
.
.
. Bersambung..
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca jangan lupa di love ya. Harap maklum kalo ada salah kata atau typo bertebaran di mana-mana. Maafkan saya readers saya hanyalah penulis baru yang menemukan tempat untuk mencurahkan hobbynya.
Jangan lupa like komen dan subrek(love) 😌