
Keysha berjalan terburu-buru meninggalkan Regi yang menatapnya penuh kebingungan. Air mata kecewa berderai di pipi mulus Keysha. Ia menuruni anak tangga dengan cepat lalu duduk di sebuah kursi di dekat gedung tersebut. Keysha pun menumpahkan kekecewaan serta kekesalanya pada Regi.
"Ada apa denganmu Regi, sedikitpun kau tak memahami isi hatiku, aku memang hanya seorang gadis tomboy aku tidak secantik wanita di luaran sana". Rutuk Keysha pada Regi.
"Hah lagian kenapa pula aku pergi seperti tadi, Regi pasti berpikir yang tidak - tidak, haish dasar Keysha bodoh". Keysha berusaha menghentikan air matanya dengan menyesali perbuatan yang di anggapnya bodoh tersebut.
Tiba-tiba seseorang memberinya sapu tangan. "Ternyata kau bisa menangis juga ya". Ucapnya.
Keysha terdiam lalu memandang sang pemberi sapu tangan tersebut.
"Rico..kok kau bisa ada di sini? ".
" Kau kenapa Key? ". Tanya Rico seraya duduk di samping Keysha.
" Tidak apa, mataku hanya perih ". Keysha menyangkal Rico dengan cepat ia menyeka air matanya.
"Cerita saja dengan ku key..". Ucap Rico pelan.
"Rico terimakasih untuk sapu tangannya aku mau ke markas dulu, Mr.Ben tadi mencari ku".
Rico membalas dengan senyuman hangat,
Keysha bergegas pergi meninggalkan Rico. Rico sebenarnya mengetahui Keysha menangis karena Regi, karena ia sempat melihat Keysha pergi berdua dengan Regi dan mengikutinya.
"Andai saja kau memberikan cinta mu padaku, tak akan kubiarkan kau menangis key". Lirih Kenzo seraya menatap bayangan Keysha yang menghilang di gelap malam.
***
Pagi hari yang cerah, Raina duduk di sofa dengan membaca novel kesukaannya, Papanya masih sibuk setelah sarapan, membereskan makanan di atas meja, bukannya Raina tidak mau membantu tetapi Subroto melarang keras Raina membantu pekerjaan rumah jika masih ada dirinya di rumah.
Subroto melangkah hendak menuju kamarnya namun menghentikan langkahnya saat melihat Raina masih duduk santai di sofa dengan di temani novel favoritnya.
"Rain papa heran dengan mu, waktu itu kenapa kau pergi mendadak meninggalkan Kenzo? ". Ucap Subroto sembari duduk di samping Raina.
Raina meletakkan novelnya dan menatap sang Papa, apakah dia harus menjelaskan semua, apakah Papanya tidak bisa merasakan bahwa anaknya tidak menginginkan perjodohan tersebut.
" Kau tahu, apa yang kau lakukan itu bisa membuat hati orang terluka ".
" Rain belum siap Pa untuk menjawab lamaran itu, tolong beri Rain waktu ". Keluh Raina.
__ADS_1
Subroto merasa kesal dengan jawaban Raina, dia menarik nafas panjang lalu menghempaskannya dengan kasar.
" Rain, Kenzo baik untuk mu, dan juga masa depan mu, Papa tidak mau tahu kau harus menerima lamaran Kenzo nanti ". Broto bersikeras untuk Raina.
" Papa..".
"Sudah! Keputusan Papa sudah bulat dan nanti malam Ken akan datang bersama keluarganya ". Bentak Broto pada Raina.
" Papa Egois! ". Raina bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Subroto, yang masih duduk menatap lekat Raina.
Raina menangis terseduh di dalam kamarnya, ia merasa kesal karena harus menerima perjodohan yang tidak pernah ia inginkan itu,namun Raina hanya bisa pasrah, lagi, lagi dan lagi.
Prangg..
Terdengarlah suara jendela kamarnya pecah karena di lempari sesuatu oleh orang.
Raina segera bangkit dari kasurnya dan memeriksa keluar jendela namun tidak ada siapapun di luar sana. Raina melihat ada sebongkah batu yang di libut kertas. Raina pun jongkok dan mengambil kertas tersebut.
Raina duduk di kasurnya dan membuka kertas tersebut setelah mengambilnya dari batu yang di libutkannya.
Hai Rain, ini saya Regi laki-laki yang waktu itu. Saya mau mengajak mu untuk ketemuan. Kau pernah bilangkan kau mau ketemu lagi dengan saya dan saya janji akan lebih ramah lagi padamu. Saya tunggu di gang waktu itu dan bukannya saya kurang ajar melempar batu kertas ini ke jendela kamarmu, tapi saya tidak bisa masuk ke rumah mu karena saya telah di usir oleh orang-orang berseragam di depan rumah mu,mungkin karena pakaian saya yang seperti preman ini jadi mereka waspada padaku. Saya tunggu di gang.
Suara knok pintu kamarnya di putar, dengan cepat Raina menyembunyikan kertas tersebut.
"Rain, suara keras apa tadi? ". Tanya Subroto.
" A-anu Pa Hp Rain jatuh". Jawab Raina tergugup.
"Rain boleh Papa masuk..? ". Tanya Subroto, Raina mengangguk mengiyakan.
Subroto duduk di samping Raina ia mengeluh puncak kepala Raina dengan lembut. Raina diam dan berusaha menyembunyikan kertasnya supaya tidak terlihat oleh Subroto.
" Rain.. Bukannya Papa egois, tapi itu semua Papa lakuin semata-mata demi kebahagiaan mu, dan jika kau menolak emm.. Promosi Papa juga bisa terancam di batalkan nak, tapi kalau kau tidak mau Papa tidak memaksa mu". Lirih Broto dengan raut wajah muram.
Mendengar promosi Papanya terancam Raina terkejut. Raina berpikir apakah pernikahannya dengan Kenzo merupakan pernikahan bisnis antara Papanya dan Inspektur Bram. Dengan terpaksa Raina harus mengalah dan menerima lamaran Kenzo nanti.
"Pa.. Papa jangan sedih, Rain bakal nerima lamarannya ". Ujar Raina pelan.
Mendengar jawaban Raina Subroto terkseiap dan sangat bahagia. Akhirnya Raina menyetujui pernikahan itu.
__ADS_1
" Terimakasih ya sayang". Broto memeluk erat Raina.
Demi promosi Papanya sebagai wakil Inspektur Bramantyo, Raina menahan getir yang dia rasakan. Semoga nanti semua keinginan Papanya tercapai pintanya dalam hati.
"Pa.. Rain boleh nggak pergi keluar untuk keliling-keliling, sembari menyegarkan pikiran Pa, Soalnya beberapa waktu ini banyak hal-hal yang bikin Rain stress". Pinta Raina dengan lembut.
"Boleh.. Kau emangnya mau jalan sama Ken ya? ". Tanya Subroto semangat.
" Ngak Pa, Rain jalan sama Weni".
Subroto terdiam lalu tak berapa lama ia kembali membuka mulut. "Ya sudah, mungkin kamu butuh refreshing, tapi kamu jaga diri ya".
"Iya Pa". Jawab Raina tersenyum. Raina sengaja berbohong mengatakan pergi dengan Weni namun kenyataannya pergi menemui Regi.
Hari semakin siang, Raina yang sudah bersiap-siap untuk pergi izin pamit kepada Subroto. Raina pun berangkat untuk menemui Regi, tetapi dia tidak sendiri Raina di jaga oleh 5 orang anggota polisil lengkap dengan senjata laras panjangnya. Sebenarnya Raina malas ditemani oleh orang-orang Papanya itu tetapi tanpa mereka Papanya tidak akan mengizinkan untuk nya keluar.
"Nona, kita mau kemana? ". Tanya sopir yang merupakan anggota polisi tersebut.
" Ke gang dekat jalan raya pak ".
" Baik nona.. ".
~
" Lama sekali Rain datang ". Grutu Regi seraya berdiri di pinggir jalan raya.
Tiba-tiba berhentilah sebuah mobil tepat di depan wajah Regi, tak lama kemudian turunlah 5 orang anggota polisi yang seketika membuat Regi terkejut. Salah satu Polosi membuka pintu mobil.
.
.
.
.
. Bersambung..
Terimakasih sudah mampir, jangan lupa like komen dan tekan tombol love 😌❤️
__ADS_1