
Sekitar pukul 23.38 malam, Roby belum juga pulang kerumah membuat Subroto khawatir. Dia mondar mandir di depan pintu menunggu kepulangan anaknya. "Kemana anak itu sudah jam segini belum pulang. Di telpon juga ngak di angkat,mending aku telpon lagi".
Tut.. Tut..
Suara ponsel terhubung ke seberang.
~
Drtt.. Drtt.. Drtt.
Nada dering handphone Roby berbunyi, ini sudah kesekian kalinya ponselnya berdering. Roby sengaja tidak menjawab panggilan teleponnya karena dia sedang fokus mengendarai motornya. Sekilas Roby menengok kebelakang melihat kalau saja ada orang yang membuntutinya. "Sepertinya mereka sudah tidak ada". Gumamnya berbisik kecil dan menghela nafas lega. Roby pun menepikan motornya ke pinggir trotoar jalan. Dengan cepat ia merogo sakunya dan mengambil hp yang sempat berbunyi berkali-kali namun kini telah mengakhiri panggilan karena tidak kunjung di angkat sang penerima telepon.
"Papa? Tumben nyariin, ada apa ya? ". Ucap Roby setelah memeriksa panggilan teleponya dengan sedikit mengkerutkan dahinya seraya membuka helm.
Tut..Tut..Tut..
Roby menghubungi kembali sang Papa.
~
" Kemana Roby kok telepon Papa ngak di angkat!". Ketus Broto.
Drtt..Drtt..
Handphone miliknya berbunyi , senyumnya terukir tatkala ia melihat nama penelpon adalah Roby, dengan cepat ia menyambut panggilan telepon itu.
"Halo ". Terdengar suara pria serak basah di seberang sana.
"Roby,kau belum mau pulang? Sudah larut malam ini. Kasian adik mu nungguin kamu dari tadi".Keluh Broto dengan nada suara sedikit lembut,"Pulang nak Papa minta maaf, Papa tahu Papa yang salah tolong pulang lah sekarang. Papa akan menuruti kemauan kamu nak, Papa akan izinkan kamu kembali bermusik, Papa akan mendukung mu dengan penuh sekarang pulang lah".Imbuh Broto, nada suaranya terdengar memohon pilu.
Beberapa detik tak ada jawaban dari Roby sekitar satu menitan kembali terdengar sautan Roby.
"Papa, apakah benar yang Papa bilang? Baik Pa Roby bakal pulang. Roby sayang Papa".
Suara Roby terdengar bersemangat.Subroto juga amat sangat terharu mendengar kata sayang yang sudah lama tidak terucap dari mulut Roby untuknya.
__ADS_1
Sambungan telepon pun berakhir.
~
Air mata Roby menyucur, isak tangisnya terdengar jelas di malam itu.ia mengusap perlahan air mata yang mengalir. Senyum kebahagiaan terpancar dari pemuda berlesung pipi itu. Kebahagiaannya tak terkira berulang ia menangis haru juga di selangi tawa kecil bahagia darinya karena apa yang Roby inginkan selama ini mendapatkan persetujuan dari sang Papa.
Papa aku akan membanggakan mu!.
Roby kembali memasang helm ke kepalanya untuk melanjutkan perjalanannya. Roby sengaja tidak menceritakan kejadian yang ia alami tadi ia ingin menceritakan semua ketika sudah sampai ke rumah.
**
"Sialan kenapa musti pecah ban si, apa sudah kalian ganti? ". Maki Rico kepada teman-temannya yang memasang ban serap, karena mobil ban mereka pecah ketika mengejar motor Roby hingga mereka kehilangan jejak Roby,"Ayo buruan bisa-bisa cowo itu sudah sampai ke rumahnya". Ban pun telah terpasang dengan cepat Rico dan yang lain masuk mobil dan melajukan mobil dengan kencang.
Sial gimana kalo dia berhasil lari. Apakah aku gagal malam ini! Sungguh memalukan!
"Sial! Sial! Sial!". Rico berdecak kesal dengan emosi nya hingga ia menghentakan kakinya ke lantai mobil, para komplotannya yang lain hanya memandang tipis ke arah Rico. Mereka tahu Rico tidak pernah gagal dan bertele-tele menghabisi orang tapi sapa sangka targetnya berani melawan karena mereka pun berpikir Roby hanyalah anak manja yang lemah.
"Ric! Coba lihat itu sepertinya bocah tadi?!". Tanya teman Rico yang membuat Lamunan dan emosi Rico buyar seraya menunjuk ke arah pemuda berjaket kulit di pinggir trotoar.
***
Roby menyalakan motornya dan melaju perlahan, matanya juga masih agak berkunang-kunang ia sempat istirahat sebentar setelah menjawab telepon Subroto untuk mendapatkan fokus nya kembali kini sepertinya dia sudah sanggup untuk melanjutkan perjalanan.
Tiba-tiba Roby di ikuti oleh beberapa orang tak dikenal menggunakan mobil.
"Siapa mereka sepertinya mengikutiku ". Ujar Roby kepada dirinya sendiri,sambil melihat dari arah spion motor sportnya. Roby menggubris pikiran buruknya dia berharap itu hanya perasaannya saja, kembali ia melajukan motornya.Roby kembali melihat ke arah spion dan mobil tersebut masih membuntutinya. Perasaan Roby kini menjadi kalut dan risau karena terlintas di benaknya mobil itu milik orang-orang yang tadi sempat menyerangnya,"Oh gosh!". Roby menaikkan gas laju motornya.
DOR!
DOR!
DOR!
Tiga kali letusan tembakan di lepas oleh orang di dalam mobil itu yang sempat mengenai besi kenalpot motornya hingga suara dentingan peluru berbunyi. Roby menundukkan kepalanya dan motornya berkelak kelok menghindari tembakan brutal itu.
__ADS_1
"Brengsek kurang kerjaan, kenapa mereka menembaki ku, haish! ada apa dengan hari ini! ". Rutukan Roby tatkala ia menerima berapa kali serangan tak terduga dari orang asing. Karena sangat aneh orang pendiam dan tak pernah ada masalah sama orang lain tiba-tiba mengalami hal-hal membahayakan keselamatan dirinya. Roby pun menambahkan kecepatan motor sportnya.
~
Di dalam mobil Rico menyeringai, mukanya menatap serius ke arah Roby yang tengah ngebut melajukan kuda besinya. Sesekali ia melepaskan tembakan ke arah Roby.
"Kelinci kecil malang hahah". Tawa jahat Rico menggema.
Mobil yang di kendarai Rico pun sudah mendekati Roby mereka sekarang tepat sedang berderet berdampingan.
"Mau lari kemana? Kau tak akan bisa lari dari maut mu!". Ledek Rico setengah berteriak di jalanan tersebut ke arah Roby yang fokus melajukan kendaraanya.
"Mau apa kalian?! Apa salah ku hingga kalian terus saja menggangguku? ". Saut Roby dengan sedikit menoleh ke arah mobil di sampingnya," Berhentilah bermain-main ini sudah bukan kenakalan remaja kulihat kalian sudah dewasa berhentilah melakukan hal bodoh! ". Imbuh Roby kepada Rico dan komplotannya karena Roby mengira ia hanya sedang di ganggu oleh orang yang mencari hiburan dengan melukai dan menakut-nakuti orang lain. Terdengar tawa cekikikan dari dalam mobil itu
"Bangs*t kau pikir kami masih anak kecil? Bocah tol*l!, kami sedang tidak bermain-main dengan mu kami memang sedang ingin menghabisi mu!. Kau benar kau tidak bersalah tapi Papa mu lah Broto yang menyebabkan semua ini. Dia yang bersalah bocah malang! ". Ujar Rico dengan muka dan senyum iblisnya seraya menodogkan pistol nya dari jendela mobil yang melaju cepat.
Mata Roby terbelalak kaget ia heran. Hal apa yang sudah di perbuat Papanya hingga ia harus berada dalam bahaya seperti ini karena sang Papa. Melihat Rico menarik pelatuk ke arahnya segera Roby mengegas motornya sampai full. Motor Roby pun melaju kencang dengan cepat meninggalkan mobil yang mengejarnya tertinggal di belakang.
Rico tak kalah cepat ia mendengus melihat motor Roby melaju di depan. "Cepat Susul dia, cukup bermain-mainnya". Pinta Rico kepada temannya yang menyetir.
Rico terus-terusan melepaskan tembakan ke arah Roby yang berusaha terus mengelak.Terlihat Roby sedikit oleng sepertinya Roby sudah hilang fokus karena terus-terusan menerima hujanan peluru, sebisa mungkin Roby berusaha menghindari. Namun Rico yang mengendarai mobil berhasil berada di samping motornya. Tampak Rico menodongkan pistolnya, senyum jahat menyeringai bak seekor singa yang berhasil melihat mangsanya. Di tariknya pelatuk pistol itu ke arah Roby yang terlihat panik dengan mata yang membulat besar di sertai gelengan kepala darinya.
"Goodbye honey ". Ucap Rico ke pada Roby yang menatap tajam matanya.
.
.
.
.
. Bersambung..
Terimakasih sudah membaca jangan lupa di love ya. Harap maklum kalo ada salah kata atau typo bertebaran di mana-mana. Maafkan saya readers saya hanyalah penulis baru yang menemukan tempat untuk mencurahkan hobbynya.
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan subrek(love) 😌