
Raina di ajak Regi ke suatu tempat yang banyak sekali terdapat bangkai Bak mobil yang terbuang. Regi yang berjalan di depan berbalik ke arah Raina yang mengikutinya.
"Kita sudah sampai, sekarang kau mau ngomong apa? ". Tanya Regi pada Raina yang masih sibuk menelisik tempat yang dia tunjukkan.
" Hallo nona? Kau mau ngomong apa? ". Tanya Regi sekali lagi.
" Tempat ini gak senyaman yang saya pikir ". Ucap Raina santai tak memperdulikan Regi yang bertanya dari tadi.
Regi terbengong dengan mata menatap tajam Raina. Regi menghempas nafas lalu berjalan melewati Raina dan menekan pinggangnya dan membelakangi tubuh Raina.
" Kau mau ngomong sekarang!, atau nggak saya tinggal! ". Ucap Regi tegas. Melihat Raina yang belum meresponya Regi pun berdecak lalu hendak pergi.
" Ehh tunggu.. ". Raina menarik tangan Regi dengan cepat sehingga membuat tubuh Regi berbalik ke arah nya, dan seketika mata mereka berdua beradu saling memandang.
Raina dan Regi bertatap mata dengan lamat, entah apa yang sedang mereka pikirkan masing-masing. Yang pasti mereka menatap dengan tatapan yang dalam.
" Pria ini memang galak, but he's so handsome, sangat tampan ". Ucap Raina di dalam hatinya.
" Ck. Sial nih cewe kok buat hati saya berdebar sih!". Grutu Regi di dalam hati.
Mereka berdua larut dengan pikiran masing-masing. Tanpa di sadari akhirnya mereka menyadari ke intiman mereka saat itu dengan cepat Regi dan Raina saling membuang pandangan.
"Setidaknya cari tempat yang bisa kita duduki, lihat tuh semuanya tanah dan yang ada cuman Bak tua". Seru Raina memecahkan keheningan yang sempat hadir.
"Ohh. Kau mau duduk, ya sudah sini ikut saya". Ujar Regi dengan menarik tangan Raina.
"Awh jangan tarik-tarik dong! Sakit tahu! ". Raina menggerutu kesakitan dengan mulut mengerucut.
Regi menarik Raina ke sebuah bak kontainer yang sudah tidak di pakai. Ia melepaskan tangan Raina dari genggamnya, lalu menaiki bak tersebut. Ia berhasil naik dengan meloncat dari sebuah mobil bekas yang hanya tinggal kerangka saja itu yang terdapat di dekat Bak kontainer tersebut.
Melihat Raina yang menatapnya dengan aneh membuat Regi tersenyum karenanya.
"Ayo naik.. ".
" Gak lah! ". Tolak Raina, ia merasa kesal karena pria itu mengajaknya ke tempat seperti ini.
" Katanya mau duduk, kalau tidak mau ya sudah saya beneran pergi nih". Regi menggoda Raina yang enggan mengikutinya.
"Ck, kau gila ya! Bagaimana aku bisa naik, aku ini cewek loh susah naik-naik, itu kan nggak ada tangga ". Raina berdecak kesal, saat Regi mengancamnya. Lagi pula dirinya menggunakan mini dress.
Regi terkekeh kecil melihat Raina yang menggerutuinya, gadis itu terlihat lucu di matanya. Ia pun turun dari Bak itu dan membantu Raina untuk menaiki Bak tersebut.
__ADS_1
"Ayo saya bantu naik". Regi mengulurkan tangannya, Raina pun menyambut tangannya.
Regi menuntun Rain menaiki Bak tersebut dengan di awali menaiki mobil kecil supaya lebih mudah menaiki Bak kontainer itu.
"Ayo sekarang naik ke Bak ini". Ujar Regi dengan menepuk Bak tersebut.
"Ngak bisa ya ampun ini terlalu tinggi, kalau mobil kecil tadi oke lumayan bisa karena ada besi yang tertanam di dekatnya ".
Regi mengerti untuk seorang wanita memang sulit untuk menaiki Bak ini, tanpa bantuan tangga. Regi pun setengah tengkurep ia menjadikan tubuhnya sebagai anak tangga untuk Raina naiki.
Melihat Regi seperti itu membuat Raina kebingungan ." Kau mau apa?".
"Kau naik aja di atas sini". Ucap Regi seraya menepuk tubuh belakangnya.
"Hah? ".
" Ck buruan! Tidak apa naiklah supaya kau bisa dengan mudah naik ke atas".
Raina pun mengikuti arahan Regi, perlahan ia menginjak tubuh Regi dan dengan mudah dirinya bisa duduk di atas Bak kontainer tersebut.
"Aku sudah di atas". Raina memberitahu Regi yang masih berjongkok.
Regi pun berdiri dan meloncati Bak tersebut dengan mudah. Raina termenung dan kagum saat melihat sebuah hamparan hijau yang membentang luas.
" Saya nggak nyangka ada tanah lapangan hijau rerumputan yang luas di jakarta ini". Ucap Raina terpesona dengan mata berbinar-binar melihat savana di depan matanya.
"Jadi?! Kau jauh-jauh mengejarku hanya untuk bilang Jakarta masih punya lapangan hijau? Gak penting banget sumpah! ". Rutuk Regi.
" Aduh cerewet banget sih, saya lupa! oh ya nama mu siapa?". Raina tersenyum lebar seraya menyodorkan tanganya.
"Regi ".
" Saya Raina, panggil aja Rain ".
Mereka berdua saling berjabat tangan, itu adalah perkenalan pertama kali mereka setelah kejadian waktu lalu saat Raina di kejar para penjahat dan Regi datang menolongnya.
" Kau lelaki yang menolong ku waktu itu kan?". Tanya Raina memastikan dirinya tidak salah orang karena waktu itu dia samar-samar melihat Regi," Saya cuman mau ngucapin terimakasih atas pertolongan mu malam itu, kalau tidak ada kamu mungkin.. ".
" Saya cuman kebetulan saja lewat dan saya nggak nyangka kalau itu adalah nona, kalau saya tahu saya biarin saja". Ujar Regi memotong ucapan Raina, dan berujar seolah menyesal telah membantunya.
"Apa? Jadi kau tidak ikhlas nolongin saya?! Nyesel saya jauh - jauh ngejar hanya untuk say thanks padamu ! ". Rain tersinggung dan marah dengan ucapan Regi,ia pun meloncat turun, entah kekuatan dari mana dirinya bisa melakukan semua itu sendirian tanpa bantuan dari Regi tidak seperti pas naik tadi,, mungkin karena sangking kesalnya, padahal dirinya masih betah duduk berlama-lama di atas sana melihat pemandangan indah yang disajikan dari atas itu.
__ADS_1
Regi kaget melihat sikap yang di ambil Raina, melihat Raina bergegas turun dengan cepat meninggalkannya di atas Bak kontainer tersebut membuatnya merasa tidak enak. padahal dirinya hanya bercanda.
"Hey kau mau kemana? ".
" Pulang! "
" Emang tahu jalan pulang? ".
Langkah Raina terhenti, yang membuat senyum manis Regi terulas. Raina masih belum hapal jalan untuk pulang.
" Bukan urusan mu! ". Ketus Raina merasa, tidak ingin Regi tahu. kalau dirinya tidak mengetahu jalan pulang.
" Ayo saya antar.. ". Teriak Regi kecil dari atas kontainer.
" Gak usah! ". Raina dengan berani melangkahkan kakinya meninggalkan Regi. Dia meyakini bahwa dirinya bisa pulang tanpa bantuan Regi.
" Kau yakin?! Jangan sampai kejadian malam itu terulang ya.. ".
" Ck sial! ". Grutu Raina di dalam hati
"Ish, kalau mau nganterin ya ayo!!!". Teriak Raina pada Regi dengan muka merah karena malu.
Regi tersenyum melihat tingkah laku Raina yang kekanak-kanakan itu, Regi pun bergegas dengan melompati mobil yang berada di dekat Bak tua tersebut.
"Ayo nona ikutin saya". Ujar Regi bak seorang pemandu wisatawan. Raina tersenyum lalu mengikuti Regi.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
. Bersambung..
Terimakasih sudah membaca jangan lupa like, komen dan subrek. 😌💕