
Setelah beberapa tahun Om Ditto melihat anak-anak buahnya sudah menjadi mafia handal, termasuk Ben, Danu, Broto, mereka terkenal dengan Tiga serangkai berdarah.
Iya mereka terkenal sadis dan selalu berhasil dalam misinya bahkan tak segan-segan mereka menghabisi musuh-musuh yang menjadi penghalang. Danu yang terkenal akan kesadisanya, Broto yang terkenal akan kepintaran dan strateginya serta Ben terkenal akan keahlian dalam bertarungnya. Jika ketiga orang itu bergabung dalam satu misi maka bukan tidak mungkin musuh atau pebisnis yang melanggar peraturan akan habis sampai ke akar-akarnya tak heran julukan itu tersemat kepada mereka.
Hari itu Om Ditto mengumpulkan Anak-anak buahnya di lapangan.
"Kalian semua harus berlatih dengan serius, karena nanti kalian akan menghadapi banyak sekali rintangan, jalan kita tidak semulus jalannya orang-orang di luaran sana,buktikan bahwa kalian bukan sampah! kalian bisa hidup tanpa mengemis bahkan tangan kalian bisa berada di atas. Kelak suatu saat nanti bisnis ku ini akan di teruskan oleh kalian. Salah satu di antara kalian akan memegang tongkat ku ini!. Ucap Om ditto dengan suara lantang dan menggelegar seraya mengangkat tongkat naganya itu.
Suara Riuh dan teriakan semangat terdengar dari puluhan orang dengan hati dan jiwa yang membara.
Om Ditto memperhatikan satu-satu anak buahnya. Ia melirik dan tampak memperhatikan Broto yang asik berbicara dengan Ben dan Danu sepertinya ia tertarik dengan kemampuan yang dimiliki pemuda satu itu .
"Broto kemarilah". Teriak Om Ditto dengan melambaikan tanganya menyuruh Broto mendekatinya. Kemudian Broto menoleh serta mengangguk ke arahnya.
"Tunggu sebentar ya". Ujar Broto seraya menepuk pundak Ben yang tadi tengah bercerita denganya. Broto pun melangkah ke arah Om Ditto.
"Ada apa Om memanggil saya". Tanya Broto dengan kepala menunduk hormat.
"Silahkan duduk dulu, jangan segan begitu ".
Ucap Om Ditto seraya tersenyum. Broto pun duduk di kursi yang bersampingan dengan Om Ditto yang di tengah-tengah mereka terdapat meja bundar dengan segelas teh yang sudah tinggal setengah karena di seruput oleh Om Ditto, beliau memang menyukai minuman teh.
"Aku punya kerjaan untukmu".
"Tugas apa yang ingin Om berikan? Aku akan melakukanya dengan bersih".
" Kau antarkan paket sabu kita di daerah Blitar, berhati-hatilah rekan kita agak sedikit nakal". Om Ditto tersenyum ke arah Broto seraya meneguk tehnya,"Om yakin kau bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik, oh iya bawalah Ben untuk membantu mu".
Broto mengangguk mengerti, ia pun pamit untuk undur diri.
"Broto..". Panggil Om Ditto yang langsung menghentikan langkah Broto. Broto pun menegok ke arah Om Ditto.
"Ada apa Om? Apakah masih ada yang ingin di sampaikan? ".
__ADS_1
" Tidak ada tolong kau panggilkan Danu kemari, temui aku di ruangan ku". Jelas Om Ditto yang kemudian masuk ke dalam mansion.
**
Broto pun masuk ke dalam kamar Ben dan Danu yang tengah tiduran bersantai, karena sejak satu minggu terakhir mereka sibuk dengan latihan dan urusan pekerjaan yang di berikan Om Ditto.
"Danu, Kau di suruh Om Ditto ke ruanganya". Ujar Broto yang masih berdiri kepada Danu yang bergumam mengiringi lagu yang biasa ia dengarkan di radio.
"Danu,Om memanggil mu". Tegas Broto sekali lagi.
"Hah! Apa! Om memanggil ku? Ada apa rupanya? ". Tanya heran Danu seketika ia duduk terperanjat.
" Iya Om meminta ku memanggil mu datang menemuinya. Cepatlah temui beliau jangan membuat Om menunggu lama!". Ujar Broto seraya duduk di kasur milik Danu.
Dengan cepat Danu bergerak bak kilat ia segera memasang baju kaosnya dan lari keluar kamar untuk menemui Om Ditto.
"Kenapa dia? Mengagetkan ku saja! ". Rutuk Benyamin tatkala ia terbangun dari tidurnya karena kebisingan yang di buat Danu.
" Dia terburu-buru untuk menemui Om Ditto". Jelas Broto yang kemudian merebahkan tubuhnya ke kasur,"Aaahh sungguh nyaman sekali". Ucapnya dengan merentangkan tangan.
BUGH...
"Hei sialan kau mengabaikan pertanyaan ku dan tidur , dasar kau! ". Caci Ben dengan melemparkan bantal ke arah Broto yang sontak membuat Broto terbangun hingga reflek duduk.
" Haish kau ini! Kenapa mengganggu tidur ku saja! Baru juga terlelap ". Omelan Broto ke arah Ben, membuat Ben tertawa tatkala ada bulu ayam di rambut Broto," Heh kau menertawakan apa? ". Tatap Broto heran namun Ben masih tertawa melihatnya.
" Kau terlihat begitu lucu hahah".
"A-apa yang lucu! sialan kau!". Broto meminta penjelasan ke Ben apa yang lucu dari dirinya namun Ben masih tertawa ngakak.
"Ah sudahlah tidak apa-apa. Pfft ". Ucap Ben dengan menahan tawanya," Jadi kenapa kalian berdua di panggil Om sedangkan aku tidak? Apakah kalian merencanakan sesuatu atau misi penting tanpa ku?! Aah aku harus menanyakan ke Om Ditto ". Ucap Ben berdecak kesal seraya bangkit ke luar kamar.
" Heh mau kemana kau". Broto menarik tangan Ben dan Membuat Ben terduduk kembali,"Kau bisa bersabar tidak aku belum sempat menjawab kau sudah berpikir aneh-aneh dan cemburu!".
__ADS_1
"Hemm??". Lotot Ben meminta Broto segera menjelaskan yang dia tanyakan.
"Aku dapat tugas di luar kota mengantar sabu ke Blitar, kau juga di suruh oleh Om membantu ku. Besok kita ke Blitar.
Mendengar itu membuat Ben tersenyum hingga menunjukkan giginya. Ia terkesiap mendengar misi baru lagi. Ya Ben, Danu, dan Broto memang suka menjalankan misi yang di berikan Om Ditto apalagi Ben sangat menggilai pekerjaanya yang kadang menimbulkan resiko dan mengancam bahaya bagi mereka, namun itu tak ada apa-apanya ketimbang keberhasilan yang di capai hingga kebahagiaan terpancar dari wajah dewa mereka Om Ditto.
"Ahh Kenapa kau tidak mengatakanya dari tadi?aku tidak sabar untuk besok". Tukas Benyamin.
Broto hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah lucu sahabatnya itu. "Dasar kau manusia pecicilan". Ledek Broto hingga Ben hendak bangkit dan mengarah ke arahnya dengan bantal di tangannya.
"K-kau mau apa? ". Ucap Broto ke arah Ben yang mulai mengangkat bantalnya.
" Stop! Apa yang kalian lakukan seperti anak kecil saja". Tukas Danu yang baru datang dengan raut muka sedikit cemberut, "Heh Broto kepala mu ada bulu ayam sepertinya itu isi dari bantal yang terkeluar" . Ucap Danu saat melihat bulu-bulu ayam di kepala Broto.
"Ah sialan kau Ben, rasakan ini! ". Teriak Broto seraya menangkap tubuh Ben yang berdiri di hadapannya. Mereka pun saling pukul dan serang menggunakan bantal hingga isi bantal menghambur keluar.
"Kekanak-kanakan sekali haha". Ledek Danu ketika melihat tingkah sahabatnya yang asik memukul dengan bantal satu sama lain. Danu menghempas nafas berat tersirat sesuatu yang membuat perasaannya sedikit sedih.
"Gadis Disco.."
.
.
.
.
.
. Bersambung..
Maaf kalau ada kesalahan kata dan banyak typo tersebar maklum saya hanyalah penulis baru yang menemukan wadah untuk hobinya
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan subrek(love)😌