
Lelaki itu menyeringai tertawa ke arah Danu yang menatap tajam kepadanya, Terlihat jelas Danu ingin menghabisinya saat itu juga.
"Kenapa kau kaget?, sudah kuduga expresi mu akan seperti itu saat melihat diriku, Tapi kau simpan saja expresi bodoh itu! Aku tak ingin melihatnya". Ucap lelaki itu dengan terkekeh kecil.
Tak banyak pikir Danu meletakkan Regi ke tanah lalu berlari mendekati lelaki itu dengan amarah yang memuncak.
Bruk..
Tubuh lelaki itu terhempas ke tanah, Danu menindih tubuh lelaki itu dia mencekram erat kerah baju lelaki itu. Lelaki itu hanya menatap dengan seringai,sedikit pun ia tak merasa takut terhadap amarah Danu.
"Apa maksud dari semua ini! ". Tanya Danu dengan tegas, " Kenapa kau mengganggu keluarga ku! Dan dimana istri ku!!". Tanya Danu berturut-turut dengan sorot mata tajam.
Lelaki itu terkekeh mendengar Danu berbicara, ia kemudian mencekram bahu Danu membalikkan Danu hingga posisi mereka berubah. Kini lelaki itu berada di atas Danu.
"Kau kaget ya? Kaget atas apa yang terjadi bukan haha.. Kau tahu tidak, kau pantas mendapatkannya, aku merasa kurang dengan penawaran harga murah dari kalian,aku susah payah meraciknya,itu kualitas terbaik! kalian seharusnya menghargai lebih tinggi,tapi aku bisa apa? Kalian gembong narkoba besar, salah dikit aku bisa kena Dor!! ". Jelas lelaki itu dengan sorotan mata yang tak kalah seram. Lelaki itu adalah Robert rekan bisnis yang di temui Danu malam saat di tugaskan Benyamin.
" Berengs*k kau! Kenapa kau sampai meneror keluarga ku! Kita bisa membicarakan semua ini baik-baik Robert!, masalah harga sebelumnya sudah kita sepakati bukan?! ". Ucap Danu lantang dengan suara keras.
" Hahahah.. sepakat?!Cih!". Robert tertawa keras,lalu menggepalkan tinju dan mendaratkan pukulan berulang-ulang ke muka Danu. Danu tampak susah menghindari bobot tubuh pria yang jauh lebih besar darinya.
"Hosh.. Hosh.. Kau tahu? rasa istri mu itu enak sekali ". Ucap Robert dengan wajah menikmati membayangkan ketika dirinya menyetubuhi Laisa.
Mendengar ucapan Robert membuat mata Danu terbelalak besar dadanya menjadi sesak dan berat, giginya menggeretak matanya menatap seakan ingin segera menelan Robert di hadapannya itu.
"Kenapa kau? Haha, istri mu sungguh sexy dan mahir di ranjang! Desahan di campur tangisan itu membuat diriku semakin semangat Danu!! ". Robert membisikan ke telinga Danu seraya terkekeh.
BUGH!
Danu memukul wajah Robert hingga terlentang kebelakang, tak ada sepatah kata pun terucap dari bibir pria bermata sipit itu. Ia hanya terus-terusan memukul Robert yang tidak bisa melawan karena sudah berada di posisi terpojok. Sedetik pun Danu tak memberikan kesempatan untuknya membalas.
Aku tidak bisa kalah melawan orang ini! Keluarga ku bisa dalam bahaya kalau aku gagal.
BRUKK!
Danu terpundur saat dagunya di tendang Robert. Robert menyerang balik Danu, dua pukulan melayang telak ke wajah Danu hingga darah muncrat dari mulutnya.
"Ayo Danu lawan aku!". Ucap Robert seraya menyekah bibirnya yang juga pecah berdarah karena Danu.
Danu datang menyerang dengan emosi memuncak namun Robert berhasil menghindari Pukulan Danu. Ia pun meninju perut Danu hingga terduduk.
BUGH!
Danu terlentang saat tendangan kuat dari Robert mendarat ke wajahny ia terlentang, segera Robert membabi buta menyerang Danu, Robert mengambil balok kayu dan memukuli kepala Danu. Darah segar mengalir deras.
"Susul saja istri mu ke neraka! ". Ucap Robert dengan mengangkat kayu di tangannya hendak menusuk ke wajah Danu.
Danu segera menahan hantaman balok kayu itu menggunakan tangannya." Apa kau bilang?". Ucap Danu dengan sorot tajam.
"Istri mu sudah sekarat di sana! Karena anak buahku pasti sudah menggiliri istri mu!". Robert berucap santai.
__ADS_1
Mendengar semua omongan Robert membuat Danu melemah, ia merasa perih membayangkan Laisa terhina di tangan para biad*b itu.
Maafkan aku Laisa.. Maafkan aku yang gagal melindungi mu.. Aku tidak pantas hidup, maafkan aku sayang..
Batin Danu dengan derai air mata bercampur darah mengalir di pipinya. Robert menatap Danu dengan remeh ia menyeringai seolah mengerti Danu putus asa.
"Aku akan membantu kau untuk menyusul wanita mu! ". Ujar Robert, kemudian ia mengangkat balok itu dan memukul Danu. Tetapi Danu masih menggeliat hidup, "Sialan susah memakai balok ini, eh sepertinya itu sebuah pistol.. ". Ujar Robert sembari membuang balok itu dan hendak mengambil pistol yang tergeletak di samping Regi. Iya itu adalah pistol milik Danu yang terjatuh pas berjongkok saat menemukan Regi.
Danu terkaget betapa bodoh nya dia melupakan Regi,ia seharusnya tidak pasrah dengan keadaan ini. Danu berbalik badan hingga tengkurep ia menggerakkan tangannya berusaha bergerak mendekati Robert ia takut Robert melukai Regi.
"Ja-jangan sakiti anakku..".Lirih Danu pelan hampir tak terdengar suaranya.
Robert hanya tersenyum melihat Regi menangis meraung sungguh malang anak kecil yang tidak mengerti apa - apa yang sedang terjadi menimpa keluarganya itu. Robert menggendong Regi kemudian ia mendekati Danu yang berusaha merambat berjalan mendekati Robert.
"Ck.. Ck.. Kasihan sekali ". Robert tertawa lebar sembari menodongkan pistol ke arah Danu yang menatap nanar kepadanya.
" Ku Mohon lepaskan anakku..". Danu memohon dengan suara lemah ia mencekram kaki Robert dengan erat.
Robert mendengus, matanya menatap tajam namun sayup. "Maafkan aku".
Keluarga ku juga dalam bahaya Danu.
Batin Robert dan kemudian Robert mendekap Regi yang menangis, ia menekankan kepala Regi ke dadanya supaya mata kecil Regi tidak melihat kejadian itu.
Danu menggelengkan kepala dengan tatapan memohon namun Robert tak peduli.
DOR!
Robert terduduk lemah,mulutnya mengeluarkan darah saat sebuah peluru melesat ke belakang tubuhnya dan tembus kedadanya. Ia tersenyum lalu menangis, Regi jatuh pelan dari tangannya.
"Maafkan aku .. ". Ucap Robert pelan menatap langit, kemudian matanya tertutup dan jatuh tersungkur di samping Danu.
Melihat Robert tewas karena tertembak Danu kaget, ia segera berusaha bangkit memeluk Regi di depannya. Matanya mencari sumber tembakan, seketika manik matanya membulat saat melihat Laisa dengan tubuh tercakar-cakar, terlihat darah mengalir di sekujur tubuh istrinya itu. Bibirnya mengeluarkan darah, matanya sembab karena menangis dan juga terdapat biru di matanya serta tubuhnya.Ia hanya memakai dalaman wanita yang talinya sudah terlepas sebelah. Ia gemetar menggenggam pistol di tangannya air matanya merebak deras jatuh.
"Ahhhhhhhhhhhkkkkkkhhh". Laisa berteriak dengan air mata deras di pipinya. pekikanya begitu nyaring dan memiluhkan.
"Lai.. Sa-sayang.. ". Lirih Danu mendapati istrinya dengan keadaan begitu memilukan, air mata danu tak kalah deras, ia merasa tidak berguna sebagai kepala rumah tangga. Danu mencoba bangkit dan menggendong Regi yang berhenti diam tidak rewel lagi ketika melihat ibunya, " Lai tunggu aku akan menghampiri mu..".
"Nu..jaga Regi, aku sudah tidak sanggup dan malu untuk hidup! Aku tidak pantas bersama mu Nu. Aku sudah tidak pantas. Mereka semua sudah merenggut mahkota ku Nu. Mereka biad*b.. Hiks.. A-aku sudah membunuh mereka semua Nu..kau jaga Regi ya sayang ". Laisa berucap dengan Lirih air matanya mengiringi setiap katanya.
" Sa-sayang..jangan berbicara seperti itu. A-aku tidak perduli apa yang sudah terjadi, mari kita lupakan sayang,Aku akan terus melindungi mu,maafkan aku sayang. Kumohon le-letakan pistol itu Lai kasihan Regi,Kemarilah sayang ". Ujar Danu dengan terisak saat melihat istrinya putus asa dan menodongkan pistol ke kepalanya sendiri. Mata Danu terlihat memohon kepada Laisa.
Laisa tersenyum dengan derai air mata, matanya menatap penuh kasih kepada Danu dan Regi yang di gendong oleh Danu. Tangan Regi meraih-raih ingin segera ibunya menghampiri dan menggendong dirinya.
"Maafkan ibu sayang.. Maafkan Aku Danu. Aku mencintaimu.. Jagalah anak kita". Ucap Laisa dengan bibir bergetar seakan mengisyaratkan kata perpisahan.
Danu hanya memandang dengan tatapan memohon dan gelengan kepala. Ia tak sanggup berlari menangkap tubuh istrinya untuk menghentikan niat istrinya karena tubuhnya sudah lemah dan terluka parah akibat bertarung dengan Robert tadi.
Laisa berjalan mundur mendekati lereng jurang,tangannya masih menggenggam pistol. Danu hanya terdiam seakan semua sudah tidak bisa ia kendalikan lagi hanya nafas sesak di dada yang bisa ia rasakan.
__ADS_1
DOR!
Peluru menembus kepala Laisa ia kemudian jatuh ke dalam jurang. Ia pergi meninggalkan Danu dan Regi yang di cintainya,ini adalah akhir dari deritanya kini tiada lagi derita yang akan menghampirinya. Anak sebatang kara itu pergi meninggalkan dunia untuk selamanya.
Danu melihat istrinya bunuh diri di depannya membuat dirinya syok berat, bahkan ia tak bisa menguburkan tubuh istri dengan layak karena istrinya memilih menjatuhkan diri di jurang. Mata Danu menjadi samar-samar lalu kemudian dia pingsan. Regi kecil menangis di samping ayahnya itu.
**
Sekitar pukul 7 malam Danu tersadar ia kemudian bangkit demi Regi. Ia melihat Regi tertidur di samping dirinya sedikit pun dia tak menjauh dari ayah nya padahal di umur seperti Regi sudah pasti berjalan dan bermain tanpa arah. Danu sesak melihat Regi ia kemudian memeluk erat anaknya dan bangkit menggendong Regi, dengan sisa tenaga yang ia miliki Danu keluar dari hutan yang penuh tragedi bagi hidupnya.
Danu masuk kedalam rumah mereka. Ia terisak ketika mengenang semua kenangan tercipta saat bersama Laisa,ia kemudian keluar dari rumah itu dan membakar rumah kenangan mereka berharap semua luka terbakar bersama api besar membarah itu.
Ia lalu masuk kedalam mobil yang telah ada Regi yang tertidur pulas.
~
Di dalam ruangannya, Benyamin duduk dengan cerutu di tangan asap dari cerutu itu mengepul memenuhi ruangan itu. Terdengar suara mobil memasuki mansionya,senyum sampul terulas di wajahnya. Ia mematikan cerutunya dan duduk seperti menunggu seseorang datang.
"Dia telah kembali.. ".
BRAK!
Pintu rumahnya terbuka lebar, terlihat laki-laki dengan wajah penuh luka dan baju berlumuran darah memapah bocah berusia 1.5 tahun melihat ke arah Ben dengan mata kosong dan bibir gemetar. Air mata mengalir tanpa suara dari sang pemilik.
"Dan..Danu ada apa? Apa yang terjadi! ". Ucap Ben dengan tatapan nanar kepada sahabatnya itu. Segera ia berteriak memanggil bawahannya untuk memanggil dokter pribadi mereka." Danu ada apa Dan.. Apa yang terjadi! ". Benyamin menangkap tubuh Danu dan memeluk Danu dengan erat dan hangat, Danu tak bergeming ia hanya terdiam di pelukan Benyamin.
Danu pun di rawat oleh Dokter yang sudah tiba. Benyamin mengkhawatirkan keadaan sahabatnya itu." Tenang Dan aku akan selalu bersama mu! Tinggalah di sini dengan Regi. Aku akan bersama kalian. Dokter rawat sahabat ku ini dengan baik". Ujar Benyamin,lalu ia pun keluar dari ruangan Danu di rawat,ia melangkah dan masuk keruangan Regi yang sedang tertidur.
"Kau akan jadi penerusku, tidurlah yang lelap ". Benyamin mengelus rambut Regi lalu mengecup kening bocah lelaki itu. Kemudian ia keluar dan pergi ke dalam ruangan pribadinya.
Ia menekan tombol di ponselnya lalu telepon pun tersambung.
"Lepaskan istri Robert, suaminya telah berhasil menjalankan misinya".
Telepon pun berakhir, Benyamin tertawa keras di dalam ruangannya itu dengan di temani wine di tangannya. Semua rencana dan tujuannya tercapai sudah.
.
.
.
.
.
.
.Bersambung..
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like komen dan tekan tombol love 😌💕.