
Benyamin melanjutkan ceritanya kepada Broto atas apa yang terjadi di malam saat dia bersama Om Ditto.
"Di malam itu, Om Ditto menyuruhku datang ke kamarnya,beliau menyerahkan kepemimpinan-nya padaku karena dirinya yang sudah sepuh,kau tahu aku sangat bangga menerimanya,hal yang selama ini aku impikan itu sekarang ada di gengaman ku".tersunging senyum getir di wajah Benyamin, ".Aku pikir Om percaya padaku,setelah apa yang aku lakukan untuknya".
Broto nampak menyimak dengan baik apa yang di ceritakan Ben kepadanya,matanya menyipit serius menunggu lanjutan cerita Ben.
" Si tua bangka itu ternyata menyuruhku menjaga bisnis ini untuk mu,sakit hatiku! selama ini aku yang selalu bersamanya tapi dia lebih memilih ******** seperti mu! Sialan..! ".Ben memaki dan berteriak.
Mendengar semua itu Broto tahu Benyamin kecewa berat atas keputusan Om Ditto, karena memang benar Ben lah yang selama ini selalu berada di sisi beliau.
"Ambil saja bisnis haram ini untukmu Ben aku tak menginginkannya, lagipula sebaiknya kau berhenti dari pekerjaan haram ini,aku akan membantu mu". Broto menyingkirkan pistol di kepala Ben dan mencekram erat pundak sahabat karibnya itu berharap Ben mendengarkanya dan merasakan rangkulan darinya.
"Jangan sok suci kau! ". Ben melepaskan pegangan Broto dengan kasar.
Melihat sikap Ben, membuat Broto mengerti sahabatnya masih tak bisa menerima dan terpukul atas semua. Cacian dan makian yang terlontar dari mulut Ben sedikitpun tak membuat Broto tersulut amarah karena diapun sadar tindakannya selama ini melukai banyak orang di sekitarnya dahulu, apa lagi luka membekas kepada sahabatnya ini.
"Pergilah Ben..". Seraya mendorong Benyamin, "pergilah sebelum pak inspektur sadar! ". dengan melihat Inspektur Bramantyo yang pingsan karena tendangannya tadi untuk menghindari tembakan Danu.
Ben sedikit terpaku matanya merah menahan semua emosinya, "Oke tapi ingat aku akan membalas dendam padamu,ingat itu Broto ". Ben pun berlalu pergi dengan keadaan marah.
"Ben aku memiliki anak perempuan, dia cantik seperti Mama nya". Teriak Broto kepada Ben yang berlalu di hadapannya.
"Anak..? ". Ben tersenyum mendengarnya dia pun berlalu meninggalkan Broto di gelap malam yang menelan bayangannya.
**
20 tahun kemudian..
**
" Regi tidak sia-sia aku mendidik mu jadi anak buah kesayangan ku, pasti ayah mu Danu bangga melihat mu jadi mafia yang handal". Ujar pria paruh baya yang tak lain adalah Benyamin kepada pemuda tampan nan gagah di hadapannya itu.
" Terimakasih Mr.Ben, ini semua berkat pengajaran yang Mr berikan selama ini kepada saya".Ujar pria itu,terlihat senyum indah dengan gigi tersusun rapi dari pemuda berusia 21 tahun tersebut.
__ADS_1
"Yaa.. yaa.. yaa.. ". Mr Ben menepuk pundak pemuda tampan itu,"Tapi kau harus ingat Regi, jangan pernah kau berhubungan dengan seorang gadis karena mereka dapat mengubah mu dan menyakiti mu".Ujar lelaki yang biasa di sapa Mr.Ben oleh bawahanya.
" Baik Mr aku tak akan bermain dengan wanita dan lagi aku mana ada waktu untuk bermain dengan boneka seperti itu,urusan ku sangat banyak, seperti yang sudah Mr berikan padaku".Regi tahu dia tak mungkin bermain dengan wanita karena di hidupnya hanya ada dunia hitam yang setiap saat dia geluti.
Mr.Ben tersenyum bangga melihat pemuda di hadapannya itu sangat mengabdi padanya, harapannya sangat besar pada anak mendiang sahabatnya itu,sekilas ia mengenang ingatan masa lalu saat dirinya bersama dengan Broto dan Danu.
**
"Broto kau mau nanas tidak?".Teriak bocah berusia 11 tahunan itu dan menunjukan sebuah nanas yang di tentengnya.
"Hah nanas, bagaimana kau mendapatkannya Ben? , aku mau kemarilah". Sautan bocah yang ada di seberang, tengah duduk dengan baju yang basah oleh keringat.
Ben berlari membawa nanas yang di gengam erat olehnya,nampak senyum khas anak-anak polos terpancar darinya, dia menaiki sebuah bangunan tua yang sudah roboh itu di lihatnya Broto antusias menunggu nanas yang di dapatnya.
"Ini kau makanlah,kelihatan sekali kau kelaparan ya? ". Sembari menyodorkan nanas yang ia dapat diiringi tawa kecil darinya.
" Hey bodoh bagaimana kau tahu aku sangat lapar, hahah dan lagi kau membawa nanas itukan kesukaan ku.. ". Broto menyambut nanas yang di berikan oleh Ben padanya.
"Kau pikir aku tidak tahu kau sedang di hukum Om Ditto hah? Makanya kau jangan malas untuk bangun di subuh hari lihat kau di hukum bukan? ". Ledek Ben yang mengusap rambut sahabatnya yang masih fokus melihat nanas yang ia beri.
melihat tingkah sahabatnya yang tiba-tiba cemberut.
"Kalau kau tidak mau kembalikan sini nanasnya". Ben sepontan kesal atas sikap Broto yang cemberut melihat nanas pemberiannya.
"Kau sungguh bodoh Ben,bagaimana aku makan nanas ini kau tidak membawa pisau untuk mengupasnya" .Caci broto yang membuat Ben menyadari kebodohannya.
"Aduh.. aku lupa,kau tinggal gigit saja nanas ini daripada kau kelaparan! hukuman mu kan sampai nanti malam bisa-bisa kau mati sebelum di kasih makan oleh Om ".
Arahan Ben terlihat konyol membuat Broto ingin sekali menampol bocah pendek di sampingnya itu,mana mungkin dia mengupas nanas dengan giginya bukanya kenyang malah hal itu dapat membuat bibirnya luka karena kulit nanas sedikit berduri.
" Ini pisau kupaslah jangan lupa bagian ku" seseorang tiba-tiba menyodorkan pisau di hadapan meraka berdua.
"Danu.. ".
__ADS_1
Kompak Broto dan Ben memanggil sahabat mereka yang bertubuh lebih besar dari mereka. Danu tersenyum lebar melihat tingkah lucu sahabat-sahabatnya itu.
"Kau memang selalu bisa di andalakan ketimbang Ben". Ledek Broto yang membuat Ben mendegus kesal.
"Hei bocah tak tahu terimakasih, tanpa nanas dariku pisau yang di bawa Danu tak berguna tahu! ". Ben mencekik Broto di ketiaknya.
" Sudah-sudah sekarang kupaslah nanas ini sebelum ketahuan Om Diito". Danu memberikan pisau yang ia bawa.
"Ya lagi pula aku sudah sangat lapar". Ucap Broto seraya memegang perutnya yang kurus,melihat tingkah lucu Broto membuat Ben dan Danu tertawa terbahak-bahak.
Mreka pun menyantap habis nanas yang telah di kupas.
"Bagaimana kau bisa tahu Danu,aku kemari membawa nanas? ". Tanya heran Ben.
" Aku melihat kau mengendap-endap seperti orang maling di dapur, kebetulan aku hendak mau minum,ku lihat kau tak membawa pisau jadi aku ikutin saja kau kemana dan benar kau menemui Broto ". Jelas Danu panjang lebar di sertai anggukan Broto dan Ben.
"Kalian sungguh baik terimakasih tetaplah seperti ini sobatku" .Broto tersenyum atas kasih sayang dan rasa tolong menolong yang tinggi dari dua orang sahabatnya itu,sebagai sesama orang yang tak memiliki orang tua membuat mereka terikat erat satu sama lain. Danu, Broto,dan Ben pun berpelukan atas rasa syukur telah memiliki perasaaan persaudaraan yang erat.
"Kita harus berjanji sampai besar harus terus bersama-sama". Teriak ketiga bocah itu di bawah terik mata hari.
Mr ben tersentak dari lamunan kenangan masalalunya, sedikit ia mengusap air mata di pelupuk matanya,lalu ia menghempaskan nafas berat, terukir senyum getir di wajahnya. Melihat itu Regi memberi segelas air yang terletak di meja di samping kursinya.
"Minumlah Mr". Senyum Regi sembari menyodorkan minuman yang sudah dia tuang.
.
.
.
.
. Bersambung...
__ADS_1
Terimakasih readers sudah membaca maafkan, saya hanyalah penulis baru apabila ada kesalahan dan typo
Like komen dan subrek😌