
"Papa bicaralah yang benar! Kakak nggak mungkin pergi ninggalin Rain sendiri, Papa bercandakan. Katakan Pa bahwa Papa bercanda! kak Roby nggak meninggal!". Ucap Raina dengan suara bergetar air matanya sudah mengalir bak bendungan air bah.
Subroto menggelengkan kepalanya ia memejamkan matanya dan berusaha berucap memberikan pengertian kepada Raina."Kakak mu sudah pergi sayang Papa tidak bercanda, dia mengalami kecelakaan ".
Raina mendapati raut muka Papanya tak menunjukkan kebohongan berita yang di sampaikan bukanlah sebuah candaan seperti pikirannya. Ia pun menangis histeris dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Rasa sesak membara di dadanya baru saja dia berkumpul dan berjumpa dengan sang kakak namun kini kakaknya pergi jauh meninggalkan dirinya.
"Kakak kenapa ninggalin Rain sendirian, kakak jahat kenapa kakak ninggalin Rain". Rutuk Raina dengan berapa kali menghentakan kakinya kelantai atas ungkapan kekesalan dan kesedihan yang dia rasa ia menangis terseduh-seduh.
"Rain sayang sudah tenang, ada Papa kau tidak sendiri, ada Papa sayang tenanglah". Broto merangkul dan menenangkan putri semata wayangnya yang di landa kesedihan yang mendalam.
Tidak di pungkiri Broto pun juga merasakan derita kehilangan yang mendalam, setelah kepergian istrinya kini anak laki-lakinya pun pergi meninggalkan dirinya. Ini bukan saatnya dia ikut lemah tak berdaya karena kehilangan ia harus tetap kuat untuk anaknya Raina.
"Sayang sebaiknya kita ke rumah sakit ya". Ujar Broto dengan suara paraunya. Di lepasnya pelukan rangkulan kepada Raina, ia membantu anaknya bangkit berdiri.
Raina duduk di sofa dengan mata kosong tangan kirinya mengenggam erat celananya sedangkan mulutnya menggigiti jari tangan kanannya. Terlihat jelas di wajah Raina ia terpukul atas kejadian yang menimpa kakaknya.
"Sayang minum air dulu". Suguh Broto memberikan gelas berisi air putih.
Perlahan Raina mengambil gelas dari tangan papanya, seteguk dua teguk Raina menyudahi minumnya. Ia menunduk menangis terseduh kembali di genggam erat gelas di tangannya. Tubuhnya bergetar karena isakannya yang kuat.
"Sayang ayo kita kerumah sakit! Kamu yang kuat nak!kalau nggak bisa biar Papa sendiri ya yang menemui kak Roby di rumah sakit". Ucap Broto seraya memegang pelan pundak puterinya.
"Rain ngak ikut Pa . Papa saja yang temuin kak Roby ". Jawab Raina Lemah.
" Ya sudah Papa sendiri yang ke rumah sakit, Papa teleponin Weni untuk menemani mu ya nak ".
Raina mengangguk pertanda menyetujui untuk Papanya saja yang sendiri menjemput kakaknya di rumah sakit.
**
" Sekarang kau baru tahu rasanya kehilangan orang yang kau cintai Broto! ". Gumam Mr.Ben di dalam ruanganya sembari melihat potret tiga orang anak kecil yang sedang berdiri rapi di belakang mereka ada pria dengan muka tegasnya.
Mr.Ben merayakan kematian atas terbunuhnya Roby. Anak-anak buahnya berkumpul di mansion miliknya berpesta pora ada yang mabuk dengan banyak meneguk minuman keras ada yang bercumbu dengan wanita di sekelilingnya. Mr.Ben memberikan bonus besar bagi mereka terutama untuk Rico, di sana juga sudah ada Regi dan Keysha yang duduk santai meneguk wine.
Sebenarnya Mr.Ben bukan hanya balas dendam untuk kematian Danu dan Om Ditto. Tetapi dia juga membalaskan dendam akan kisah cintanya di masa lalu.
Dulu Benyamin dan Broto hanyalah anak jalanan hidup mereka luntang lantung tak ada arah tujuan. Waktu itu umur mereka sepuluh tahun di umur mereka yang masih belia sudah harus hidup di jalanan yang keras, ketika itu Broto sangat menginginkan baju anak-anak bergambar kartun yang di pajang di sebuah mall tapi dia tak punya uang, tentu saja uang hasil mengamen tak akan cukup untuk membeli pakaian mahal di tempat itu .
Subroto hanya menatap pakaian itu entah sudah berapa lama ia berdiri mengagumi barang itu.
"Hei kenapa kau? ". Tanya heran seorang bocah dengan pakaian lusuhnya kepada bocah yang memegang krincingan dari bekas kaleng tutup minuman yang di pukul pipih dan di pakukan ke kayu papan.
" Tidak apa-apa bukan urusan mu". Jawabnya ketus tanpa menoleh ke arah suara yang bertanya padanya.
"Kau dari tadi ku perhatikan menatap kaca gedung tokoh besar ini ". Ucap Ben seraya menatap dengan serius dan bibir mengerucut.
" Hey sudah ku katakan ini bukan urusan mu! Sudah pergi sana,mengganggu saja!". Rutuk Broto dia tak ingin ritual pemujaannya terganggu.
Benyamin berdecak heran karena sudah lebih dari lima menit anak yang di sampingnya itu menatap kaca mall itu. Ia lantas mengikuti arah mata anak itu. Dan kemudian ia mengangguk tersenyum.
__ADS_1
"Kau mau baju itu? ". Tanya Benyamin seketika membuat Broto melengos ke arahnya menatap dengan mata membesar.
Broto hanya terdiam kenapa anak itu bisa tahu apa yang sedang di inginkannya.
" Kenapa kau menatap ku seperti itu?menyeramkan tahu. Kau tunggu saja di sini".
Mendengar ucapan Benyamin membuat Broto heran ia sedikit mengkerutkan keningnya tatkala melihat bocah sebayanya itu masuk ke mall tersebut.
Setelah berapa menit berselang terdengar suara ribut dan gaduh dari dalam mall. Terlihat Benyamin berlari dari dalam mall.
"Larii". Teriaknya ke arah Broto yang menatapnya. Sontak reflek Broto ikut berlari. Tampak Benyamin menggengam baju di dadanya.
"Hei pencuri! Dasar kalian anak nakal. Berhentilah pencuri!". Teriak salah seorang yang mengejar mereka.
Mata Broto menatap tajam ke arah Ben yang bersemangat lari. Ia membutuhkan penjelasan kenapa mereka di teriaki pencuri. Mereka berdua berlari dengan sangat gesit dan lincah.
"Kenapa kau mencuri! ".
" Sudahlah yang penting kita mendapatkan bajunya ". Jawab bocah itu dengan masih fokus berlari.
" Apa kau sudah gila kita bisa ****** kalau tertangkap oleh mereka! ". Caci Broto dengan nafas terengah-engah.
Benyamin hanya membalas dengan senyuman bocah itu terlihat manis saat gigi putihnya terlihat.
" Nama kau siapa?". Tanya Broto.
"Namaku Benyamin kau panggil saja Ben. Lalu kau siapa namamu?".
Mereka berdua nampak saling melempar senyuman. Itu pertama kalinya mereka bertemu dan mulai menjalin persahabatan. Benyamin dan Broto berlari dengan gesit dan lincah para warga yang mengejar sudah tidak terlihat mengikuti lagi dan tampaknya mereka berhasil lari dari kejaran orang-orang.
Mereka pun berhenti di sebuah gang kumuh. Keringat mereka menyucur deras membasahi baju mereka.
Hosh..Hosh..
Suara nafas mereka tersengal-sengal karena berlari cukup lama menghindari kejaran orang-orang. Tubuh Subroto setengah menunduk dengan tangan menekan lututnya keringat berjatuhan deras sedangkan Ben terduduk dengan desahan nafas kelelahan.
Prok.. Prok.. Prok
Terdengar tepuk tangan dari seseorang.
"Hebat kalian memang hebat! Sekecil ini kalian bisa berhasil lari dari kejaran orang-orang dewasa, memangnya apa yang sudah kalian lakukan? ". Tanya pria dengan memegang tongkat naga. Mata Broto dan Ben saling bertatap mulut mereka mengangah apakah mereka sudah tertangkap pikir dua bocah itu.
" S-saya mencuri". Ucap Ben ragu.
Pria itu hanya mengangguk.
"Lalu bagaimana dengan kau? ". Tanya pria itu ke arah Broto yang berdiri dan seketika melepaskan Kerincingan yang tadi tetap ia bawa.
" Saya..saya tidak tahu saya hanya di suruh dia lari lalu saya ikut lari saja". Jawab Broto dengan menunjuk ke arah Ben yang melotot ke padanya.
__ADS_1
"Hey aku mencuri baju ini untuk mu! ". Ketus Ben seraya melempar baju hasil curianya ke arah Broto.
" Eh apa-apaan kau ini aku tidak menyuruh mu untuk mencurinya".Tukas Broto sembari melempar kembali baju itu ke arah Ben tepat mengenai mukanya.
"K-kau..". Ben berdecak kesal hendak berdiri namun.
"Ah sudah-sudah kenapa kalian jadi berantem. Apa kalian tidak lapar? ". Lerai pria itu dan membuat langkah Ben terhenti. Ben dan Broto mengangguk pertanda mereka memang sudah lapar.
" Ya sudah mari kalian ikut saya".
Ben dan Broto melangkah mengikuti pria yang sepertinya sudah berkepala tiga itu.
Apakah aku akan di culik Om ini?.
Pikir Broto di dalam hatinya.
Lama sekali bocah di samping ku ini jalan, ah semoga Om ini memberi ku makanan yang banyak.
Batin Benyamin dengan senyuman dan lidahnya keluar menjilat bibirnya, "Yummy". Seraya memegang perutnya sehingga membuat tingkahnya seperti orang bodoh di mata Broto.
"Dasar bocah bodoh ". Ucap Broto pelan dengan sendikit cekikian tawa.
Mereka kembali mengikuti pria yang berpakaian layaknya seorang preman tapi mereka terkejut setelah melihat mobil mewah yang menunggu mereka di jalan raya itu. Ternyata orang ini adalah preman kaya pikir Broto dan Ben.
Seseorang membukan pintu mobil dan mereka pun masuk tanpa ragu Karena perut mereka sudah lapar sekali. Di dalam mobil tidak hanya ada Ben dan Broto namun juga ada seorang anak yang lebih besar dari mereka.
"Kalian bertiga kenapa belum berkenalan".
" Namaku Danu". Ujar anak itu dengan senyum hangat.
"Saya Ben".
"Kalau saya Broto ".
Mereka pun saling berjabat tangan.
" Kalian bertiga akan saya angkat menjadi anak. Kalau kalian mau, panggil saja saya Om Ditto. ". Ucap Om Ditto dengan senyum terulas di wajahnya.
" Baik Om ". Kompak Ben, Broto dan Danu menjawab,Sampai mereka saling tatap dan tertawa. Mereka sangat bahagia karena memperoleh teman baru bahkan keluarga baru.
.
.
.
.
.Bersambung..
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca jangan lupa di love ya. Harap maklum kalo ada salah kata atau typo bertebaran di mana-mana. Maafkan saya readers saya hanyalah penulis baru yang menemukan tempat untuk mencurahkan hobbynya.
Jangan lupa like komen dan subrek(love)😌