
Suara alarm berdering kencang membangunkan Raina dan Weni yang tertidur lelap, Weni menginap setelah Raina meminta di temani olehnya selepas pulang dari rumah temannya untuk mengerjakan tugas.
Raina meraih alarm dan menekan tombol untuk menghentikan suara bising itu, tangannya meraba-raba malas membuka matanya kemudian alarm pun berhenti berbunyi, Raina kembali melanjutkan tidurnya. Terlihat Weni menarik kasar selimut dan menutupi wajahnya. Raina dan Weni memang sahabat karib, jadi tidak ada rasa sungkan sedikitpun.
Subroto berpakaian rapi untuk dinas pagi itu, ia tak mengambil waktu cuti untuk berduka atas kepergian anaknya,baginya semua itu adalah takdir. Tuhan tidak akan memberikan suatu musibah tanpa adanya pembelajaran baik setelah musibah itu.
"Anak-anak belum bangun juga". Ucap Broto seraya menatap ke arah kamar Raina di lantai atas,"Raina.. Rain bangun, sudah pagi". Teriak Broto seraya menyiapkan sarapan untuk Raina dan temannya. Namun beberapa kali memanggil tak ada sautan dari Raina padahal suara Broto sudah berisik sekali. Subroto tersenyum lalu naik ke atas untuk membangunkan Raina.
Trekk
Pintu kamar terbuka perlahan, terlihat dua orang gadis tertidur lelap dengan posisi sembarangan, ada yang tengkurep dan ada yang terlentang dengan selimut menutupi muka. Broto terkekeh melihat kedua kebo itu. Kebo sebutan untuk orang yang susah bangun tidur alias kesiangan terus.
Subroto melangkah masuk, ia duduk di ranjang tepat di samping Raina yang tertidur dengan tengkurep tersebut, Broto tersenyum tipis lalu menepuk pelan pundak anaknya.
"Rain.. Sayang bangun udah pagi..hey bangun ih kebo ". Broto membangunkan Raina yang hanya menggeliat malas.
" Hey sayang, anak cewe kok molor bangun nak! Udah pagi, nanti rezekinya di patok ayam loh ". Kembali Broto membangunkan Raina.
" Hmmm". Gumam Raina dengan mata masih malas untuk membuka.
"Rain ayo dong bangun, Papa mau berangkat kerja ".
Dengan cepat Raina membuka mata, ia langsung menatap mata Papanya dengan heran dan di sertai bibir yang mengerucut.
" Pa, kok Papa udah masuk kerja?". Tanya Raina heran, ia pikir Papanya akan mengambil cuti untuk satu atau dua hari karena sedang berduka," Gak mau nemenin Raina hari ini Pa?". Lirih Raina seraya bangun dan duduk berhadapan dengan Papanya.
"Nanti siang Papa temenin Rain kok, Papa masuk hari ini juga untuk mengivestigasi kasus kakak kamu. Ya memang sih walau Papa tidak masuk tetap di jalankan tapi Papa ingin melakukan yang terbaik untuk kakak mu, Papa tidak bisa lepas tangan dan menunggu hasil saja bukan? ". Jelas Broto seraya mengusap rambut Raina.
Raina mengangguk pertanda mengerti, mungkin Papanya ingin melakukan hal yang terbaik terakhir kalinya untuk kakaknya Roby.
" Ya sudah, kamu cuci muka abis itu turun sarapan ya..". Pinta Broto lalu keluar dari kamar.
Raina mengusap lembut wajahnya, ia merenggangkan otot-otot tubuhnya. Matanya melirik ke arah Weni yang masih setia untuk tidur, Raina menggeleng lucu melihat Weni yang sedikitpun tidak terganggu karena dari tadi Raina dan Papanya berbicara.
"Woy bangun.. Ya tuhan gadis macam apa ini! Masih ngebo ntar gak dapat jodoh baru tahu rasa!". Teriak Raina sembari menggoyang-goyangkan tubuh Weni, "Bangun.. Wen udah pagi woy bangun..!". Kini Raina berteriak kencang di telinga Weni seraya menarik selimut yang menutupi muka Weni.
"Ck ". Dengus Weni dengan wajah seperti harimau yang ingin ******* habis orang yang membangunkan tidurnya.
BUGH
Raina menepuk muka Weni dengan bantal hingga membuat Weni langsung terduduk kesal.
" Apa? Kau mau marah?! Liat udah pagi ". Ujar Raina terkekeh seraya membuka tirai yang langsung membawa masuk sinar mentari.
__ADS_1
" Ck, kau ini mengganggu tidur ku saja, kau tahu sendirikan semalam aku tidur jam berapa? ". Ketus Weni dengan wajah cemberut. Weni menginap di rumah Raina saat Raina meminta dirinya untuk di temani saat itu Weni sedang mengerjakan tugas yang masih setengah lagi hingga dia harus rela membagi waktunya untuk sahabatnya itu. Jadi Weni bergadang di rumah Raina tadi malam untuk melanjutkan tugasnya.
Raina membuka pintu kamarnya yang menghubungkan dengan teras balkon kamarnya. Ia melangkah wajahnya tersenyum saat angin pagi menyapa dirinya Rain lalu menutup mata kemudian menghirup udara pagi yang menyegarkan itu.
Sementara itu Weni hanya tersenyum melihat sahabatnya yang mulai tersenyum lagi itu. Ia pun masuk duluan ke kamar mandi untuk mencuci muka.
**
Di atas meja sudah tersedia sarapan pagi yang berupa roti dan beberapa macam selai. Raina turun dari anak tangga di ikuti oleh Weni.
"Mari makan, ayo Weni juga ya". Ujar Broto menyilakan Raina dan Weni untuk duduk menikmati sarapan pagi itu.
Di sela-sela sarapan Broto menanyakan kepada Raina soal kedekatanya dengan Kenzo. Hal itu membuat Raina hampir tersedak.
"Bagaimana? Kenzo anaknya baik kan Rain?". Ucap Broto seraya mengoles selai strawberry di rotinya.
"Iya Pa Kenzo baik, kan Kenzo anaknya teman Papa pasti dia akan berlaku baik ke pada Rain karena Rain anaknya Papa ". Jelas Raina dengan malas.
Weni hanya fokus melahap Roti di tangannya ia tidak bersuara mengganggu obrolan Ayah dan anak itu.
" Coba deh kalau kamu lebih dekat sama Ken, Papa sangat setuju loh ,siapa tahu jadi calon suami kamu".
"Uhuk..uhuk..". Weni terbatuk mendengar ucapan Subroto. " Eh ma-maaf Om". Ucap Weni merasa malu dan tak enak. Ia tahu betul Raina pasti tidak menyukai perihal di jodoh-jodohin.
Subroto hanya tersenyum melihat weni yang meneguk cepat air di gelas tersebut.
"Jadi bagaimana Raina bisa mencoba supaya dekat tidak sama Ken, coba deh soalnya Ken baik sekali anaknya ".
Mata weni melotot ke arah Raina seakan minta penjelasan apa maksud dari Papanya itu.
" Mmm Kebetulan malam ini Raina bakal jalan sama Kenzo Pa, katanya mau ajak Rain ke suatu tempat untuk bantu menghilangkan rasa sedih Rain".
"Oh bagus dong, Kenzo memang menantu idaman. Pokoknya Rain cocok sama Kenzo ".
BRUSSHHH
Weni menyemprotkan air dari mulutnya. Melihat itu membuat Subroto dan Raina terkaget di campur bingung dengan tingkah aneh Weni.
"Nak pelan- pelan dong minumnya". Ucap Broto halus seraya tersenyum lucu melihat Weni yang mengelap mulutnya dengan cepat karena basah oleh semburan air.
"Aduh.. Sorry Om, Weni udah buat hal memalukan begini ". Lirih gadis tomboy itu merasa tidak enak. Raina hanya menepuk jidat melihat kelakuan aneh Weni.
" Tidak apa-apa, Oh ya Om mau pamit kerja dulu, Weni temanin Rain ya". Ujar Broto seraya berdiri lalu mengusap puncak kepala Rain.
__ADS_1
"Sayang Papa berangkat ya". Broto mencium kening putrinya itu lalu Broto pamit untuk berangkat kerja.
"Hati-hati Pa..".
Setelah Broto keluar dari Rumah dan terdengar suara mobil menyala pergi, Raina menatap tajam Weni meminta penjelasan atas kelakuan yang terlihat bodoh itu.
"Kau kenapa sih? Bertingkah bodoh seperti tadi?". Tanya Rain seraya menatap serius.
Weni segera membenarkan posisi duduknya untuk menatap Rain yang berada di sampingnya itu.
"Harusnya aku yang nanya". Tanya balik Weni membuat Raina menjadi bingung mendengar jawaban Weni, "Maksud ku kau kenapa tadi?sudah seperti mau menikah aja, kau beneran tertarik sama itu siapa tadi namanya".
"Kenzo..". Celetuk Raina.
"Iya itu, kau ada rasa ya, dan dari tadi Om semangat betul membicarakan dia, di tambah kau? Kau malam ini jalan sama dia?! Oh hell, kau serius kau sudah seperti kencan tahu tidak! ". Weni berbicara tanpa henti membuat Raina menatap bingung.
" Kau gila, aku mana mungkin mau di comblangi, cowo itu anaknya atasan Papa di kepolisian jadi aku lumayan dekat dan lagi mana mungkin cowo itu mau sama aku di tambah kita baru bertemu juga. Dan.. Untuk malam ini pasal dia mau ajak aku jalan itu aku setuju karena kebetulan aku memang butuh refreshing, kali aja aku bakal melupakan sedikit kesedihan ku". Tukas Raina menjelaskan semua kepada Weni.
"Gosh ku kira kau beneran naksir hahah, aku tidak masalah sih malahan senang kau bisa bersama anak polisi yang juga katanya seorang perwira juga, yang penting kau bahagia itu saja. Dan wait.. ". Ucap Weni membuat Raina menunggu perkataan selanjutnya, " Kau bilang kau butuh refreshing, kau bisa kan lakuin itu sama aku? Kau jangan - jangan..". Weni melotot ke arah Raina.
"Apa! Hei bodoh kalau aku jalan sama kau, si jomblo akut emang kau tahu tempat yang bisa bikin senang hah?". Tukas Raina seraya tertawa saat mendapati muka Weni dengan bibir mengkerucut.
Weni memang sudah jomblo sejak lahir, istilah itu sangat cocok untuk gadis tomboy itu. Padahal dirinya sangat cantik dengan muka Jepangnya, Weni memang keturunan Jepang. Gadis itu memang lebih suka menjomblo dan menghabiskan waktu bermain video game setelah Raina kuliah di luar negeri. Biasanya waktunya terbagi untuk Raina.
"Kau ini meledek ku saja! Kalau aku mau sudah beribu-ribu cowo mengantri. Bwelee". Ujar Weni tak terima dengan menjulurkan lidahnya meledek Raina.
Raina tertawa lepas saat melihat wajah lucu Weni. Sungguh Weni sahabat sejatinya.
.
.
.
.
.
.
. Bersambung..
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like, komen dan subrek/tekan tombol love 😌💕
__ADS_1