
Raina menangis melihat pertengkaran kedua orang yang di sayanginya itu, dia berlari pergi menangis meninggalkan Papanya dan tamunya. Dengan cepat ia menaiki anak tangga, Broto merasa iba melihat Raina sekaligus merasa tidak enak dengan Inspektur Bram karena perjamuan makan malamnya jadi berantakan.
"Inspektur tolong di maklumi kejadian tadi dan maafkan sikap anak-anak saya". Broto merasa tidak enak dengan semua kejadian tak terduga itu.
"Ah tidak apa-apa, biasa anak muda".Ucap Bram seraya menepuk pundak Broto, "Kalau begitu saya pamit pulang dulu".tambah Bram.
"Om, Ken pamit dulu, Sampein aja salam ke Rain". Kenzo menyalami Subroto.
"Iya nak, lain kali mampir ke sini lagi".
Kenzo dan Bramantyo beranjak keluar rumah,Kenzo mencoba menengok ke atas berharap Raina mengantarnya pulang,namun sepertinya dia tahu gadis itu tidak akan keluar kamar karena hatinya sedang bersedih jadi Kenzo memaklumi keadaan ini. Kenzo dan sang Daddy pun memasuki mobil.
"Hati-Hati di jalan ". Broto mengantar tamunya ke depan.Setelah mobil itu berlalu Ia pun membuang nafasnya dengan kasar. Ia kembali masuk kerumah, makan malam yang di adakanya untuk memperakrab keluarga menjadi kacau balau,Broto duduk di sofa ruangan tengah rumahnya di sandarkannya tubuhnya di dinding sofa,matanya berkeliling menelisik ruangan tengah rumahnya itu banyak sekali foto-foto keluarganya terpajang.Mulai dari foto pernikahanya dengan sang istri hingga ke foto ia bersama istri dan anaknya Roby,juga foto dirinya yang menggendong Raina serta Roby yang berdiri di sampingnya.Broto menjadi kalut saat melihat semua potret kenangan itu air matanya pun berair teringat semua hal manis di keluarganya. Broto pun mendekati potret dirinya dengan Roby dan Raina.
Dulu kau lucu dan imut sekali Roby, kau juga nakal dan aktif seperti Papa sewaktu kecil ,sekarang kau bertumbuh besar tidak ada lagi kau yang rewel waktu bola mu tersangkut di genteng rumah, karena kau suka sekali melempar bola mu sangat tinggi. Barulah kau merengek hingga Mama mu menggerutu kepada ku karena dia berpikir aku tidak becus mengasuh mu, setelah itu kau langsung tertawa melihat Papa mu di omelin Mamamu sampai Mama mu berhenti bergumam kalau Papa berjanji membelikan mu mainan baru. Kau dan Mamamu seolah kompak menjahiliku.
Air mata Broto mengalir mengigat semua memori indah di hidupnya yang tak mungkin bisa di ulang. Di elusnya foto yang sudah di bingkai rapi, senyum getir tergurat di wajahnya tatkala ia menatap Raina yang kala itu masih bayi. Berbeda dengan Roby, Raina tak pernah bertemu sang Mama, tidak bisa mengabadikan gambar bersama Mamanya itu karena Mamanya pergi tepat setelah beberapa menit dia terlahir ke dunia. Broto pun menegok ke arah kamar Raina dia yakin anaknya itu sedang bersedih.
**
__ADS_1
Raina menangis di dalam kamarnya dia teramat sedih dengan kejadian tadi Papa dan kakaknya memang jarang akur karena sang Papa menginginkan kakaknya menjadi seorang polisi sepertinya namun sang kakak lebih memilih menjadi seorang musisi. Papa Raina selalu melarang kegiatan bermusik Roby sampai pernah melarang konser tunggal puteranya itu sehingga sang kakak mulai menjadi sosok yang tertutup dan terkesan dingin sampai sang kakak pun berubah menjadi orang yang pemarah dan membenci Papanya itu.
"Mama laki-laki di rumah kita sering kali bertengkar, Rain pikir Papa dan kakak sudah akur setelah lama Rain di Inggris,tapi kelihatannya perselisihan masih saja terjadi sampai kini. Rain gak mau Papa dan kakak berantem terus, Rain sayang banget sama mereka berdua, coba kalau ada Mama disini Mama pasti bisa menenangkan mereka".Raina menangis dengan keluhanya.
***
Sementara itu Roby duduk di dalam sebuah Bar tempat yang sering ia kunjungi saat dirinya dalam masalah. Dengan begitu semua masalah terasa ringan,ia menghisap rokoknya dengan panjang. Sesekali ia meraup kasar wajahnya.
"Mau di buatkan minuman tuan ?". Tanya lelaki berkacamata yang merupakan seorang Bartender di Club malam itu.
"Tidak usah, saya hanya duduk sebentar ". Tolak Roby dengan lembut.
Bartender itu melempar senyum hangat pada tamu Bar itu, "Kau kulihat sering mampir di sini tuan, tapi kau tidak pernah memasan alkohol.Kau berbeda dengan pengunjung yang lain mereka selalu memesan minuman ber-alkohol tinggi untuk sekedar memuaskan hasrat diri".Tanya Bartender itu yang membuat Roby menatapnya bingung.
" Oke kalau tuan tidak tertarik dengan minuman keras kenapa tuan tidak bermain wanita, seperti mereka ". Tunjuk Bartender itu ke arah seorang pria mabuk dengan tiga orang wanita di sekelilingnya yang salah satu dari mereka di pangkuan pria itu.
"Apakah salah saya mencari ketenangan di sini? Kau sebaiknya urus saja pekerjaan mu. Aku tak minum alkohol karena takut suara ku akan rusak dan lagi aku tak tertarik bermain wanita, itu hal yang menjijikan ". Roby berkata ketus.
" Mencari ketenangan? bukankah tuan salah tempat? ".
__ADS_1
Roby mengkerutkan dahinya ke arah pria yang sejak tadi sibuk melayani tamunya namun masih saja berusaha mengobrol denganya.
Pria Bartender itu menangkap muka bingung Roby, " Tuan jika anda lari terus dari masalah, masalah tuan tidak akan terselesaikan,saya banyak sekali menemukan orang seperti kau tuan, di Bar ini bermacam-macam orang datang membawa masalahnya masing-masing berharap masalah mereka hilang,dengan menikmati disco dan musik yang keras di temani wanita Bar sexy di sekelilingnya, bergoyang seakan mereka bebas dari beban masalah. Tapi kau tahu tuan semua hanya sementara, kesenangan yang mereka dapatkan cuman sementara menghilangkan masalah mereka, esoknya mereka akan kembali lagi melakukan hal-hal konyol seperti itu dan masih dengan harapan yang sama, berulang-ulang lah seperti itu masalahnya tak akan berkurang namun hidup mereka yang berguna akan berkurang,semua sia-sia saja membuang kesempatan untuk memperbaiki masalah itu sendiri". Ucap Bartender itu panjang lebar dengan sesekali melayani minuman untuk tamunya.Roby semakin menelisik maksud orang yang di hadapannya ini.
"Apa maksudmu?".
"Hahah tuan kau tak seharusnya berada disini,mencari ketenangan yang kau maksud bukan di sini, tapi di rumah Tuhan Mu, di sana kau akan dapat ketenangan jiwa, kedamaian yang di cari, kau akan merasakanya,kembalilah tuan ini bukan tempat yang baik untuk orang seperti tuan, saya tahu tuan orang baik jadi kembalilah selesaikan masalah yang tuan hadapi ".Jelas Bartender itu yang membuat Roby tersentak kaget karena apa yang di bicarakan orang ini adalah hal yang benar, selama ini dia selalu lari dari masalahnya tidak pernah memberikan kesempatan untuk dirinya maupun sang Papa untuk berdamai dengan masalah yang selama ini membuat jarak di antara mereka.
"Kau benar, aku harus selesaikan, terimakasih kau menyadarkanku". Tepuk Roby ke pada Bartender itu. Roby langsung berangkat dari kursinya dan langsung keluar dari Bar itu. Pria berkacamata itu tersenyum melihat Roby menerima masukanya.
.
.
.
.Bersambung...
Terima kasih readers telah mampir dan membaca cerita saya, maafkan kalau ada kesalahan kata atau typo saya hanyalah penulis baru yang masih sangat kurang dalam menulis
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan subrek😌
.