Blue Of Love

Blue Of Love
Kenangan masalalu XI(Kado Pernikahan)


__ADS_3

Setelah beberapa tahun kepergian Broto berhembus kabar dirinya menjadi anggota kepolisian berkat bantuan Ayah Amira. kabar itu terdengar ketelinga Om Ditto hingga membuat Om Ditto menjadi pesakitan. Benyamin pun menjadi dendam pada Broto karena telah mengkhianati Om Ditto yang selama ini telah mempercayainya untuk menjadi pemimpin mafia. Sampai akhirnya Om Ditto meninggal dan menyerahkan kepemimpinannya pada Benyamin. Ben berjanji akan membalaskan dendam pada Broto, sejak itu ia selalu mengintai kehidupan Broto. Sedangkan Danu tak mengetahui kepergian Broto yang telah menjadi Polisi, semua kabar di tutupi darinya, Ben tak ingin sahabatnya itu terluka seperti dirinya.


**


Danu merasa senang saat dirinya menyambut putera pertamanya lahir di dunia.


Ia menciumi bocah kecil itu berulang-ulang.


"Tampan sekali anak kita ya Lai, Terimakasih kau telah hadir di hidupku dan memberikan aku putera yang lucu". Ucap Danu kepada Laisa yang sibuk memasak makanan untuknya itu.


"Dia akan jadi lelaki kuat seperti mu, sini Regi biar ku peluk kau makan lah dulu ". Ujar Laisa sembari mengambil Regi yang berumur 1.5 tahun itu, ia telah menyiapkan makanan di meja makan untuk suaminya itu.


Danu asik makan di meja makan itu, Regi kecil tampak bermain melempar makanan sembarangan, tingkah lucunya membuat orang tuanya tersenyum.


Tiba tiba suara pintu rumah di ketuk, Laisa membukakan pintu rumahnya ia terkejut ada seorang pria di depan rumahnya dengan senyum ramah, Laisa mengizinkan lelaki itu masuk.


"Siapa Lai? ". Tanya Danu yang menyeka bibirnya dengan lap .


" Kenapa kau tak cerita punya keluarga kecil seperti ini Danu". Ucap lelaki dengan jas bewarna hitam dan sebuah tongkat kepala naga di tangannya itu yang membuat Danu terkejut melihat ke arah suara lelaki itu.


"Ben, kau? Kenapa kau bisa tahu tempat ini, oh ya mari duduk, Laisa siapkan secangkir teh untuk tamu penting kita ini".Ucap Danu sumeringah saat kedatangan Ben di rumahnya, sebelumnya ia memang belum menceritakan tentang keluarga kecilnya sejak kejadian perkelahian itu, ia takut mereka akan terganggu dengan kehadiran Laisa dan Regi di sisinya. Tetapi ketika melihat Ben hadir dan tersenyum hangat membuat dirinya merasa senang.


"Kenapa kau selama ini merahasiakan semua Dan. Kau tak bercerita telah memiliki putera selucu ini dan istri secantik itu". Tukas Ben seraya melirik ke arah Laisa yang memangku Regi duduk di samping Danu, yang membuat Danu dan Laisa tersenyum malu.


"Kok kau bisa tahu tempat ku ini?".


"Ah itu aku menyuruh anak buah ku mengikuti mu dan akhirnya aku bisa menemui istana mu ini ".


Danu tersenyum manis ke arah Ben, ia pun menegeuk secangkir teh yang di sediakan istrinya itu.


" Dan..aku datang kemari untuk mengajak mu melakukan bisnis penting malam ini, setelah itu kau bisa pensiun dari kerjaan ini, ku lihat kau bahagia dengan keluarga mu". Ben tersenyum manis melihat Danu. Kemudian meneguk teh manis itu.


Setelah pertemuan itu Danu setuju untuk ikut pergi melakukan bisnis malam ini, karena Ben pun sudah berjanji memberikan bonus besar untuknya, dan juga mengizinkan dirinya pensiun dini. Walau sedikit berat meninggalkan istri dan anaknya karena sejak ia hidup bersama Laisa, Danu tidak pernah mengambil bisnis di luar kota.


"Aku pergi dulu ya Lai, jaga dirimu dan Regi, lusa aku kembali, i love you ". Ucap Danu seraya mencium kening istrinya.


" I love you too, hati-hati Nu". Lirih Laisa saat menatap pergi sang suami.

__ADS_1


Setelah dua hari melakukan perjalanan bisnis dengan mafia lain pekerjaan pun selesai. Danu mendapatkan uang yang banyak dari Ben dan di izinkan berhenti, dengan senyum hangat dari Ben ia meminta Danu untuk tidak pulang dulu malam ini, karena dia ingin bersama Danu untuk melepas rindu, Danu yang sedikit ragu juga merasa rindu kepada keluarga kecilnya pun agak ragu mengiyakan permintaan Benyamin.


"Ayolah Dan satu malam ini saja, Kau tidak rindukah dengan ku?".Benyamin memohon kepada Danu.


"Bukan Ben, Aku juga rindu padamu, tapi..".


"Ah sudahlah, pergilah sana!! Biarlah aku kesepian di sini, bahkan sehari pun aku tidak bisa bersama keluarga ku. ". Benyamin menatap ke arah langit-langit ruangan itu dengan mata berbinar-binar.


Mendengar itu membuat Danu menghempas nafas perlahan." Dasar kau ini, ya sudah satu malam ini aku temani kau semalaman".


Ben tersenyum bahagia, ia pun memeluk erat sahabatnya itu. Mereka menghabiskan waktu bersama di malam itu. Sekitar tengah malam Ben terbangun dari sofa, ia sudah melihat Danu tertidur pulas di atas meja bekas pesta minumannya. Ia melangkah perlahan sedikit menjauh dari Danu. Kemudian dia mengambil ponsel di sakunya.


"Kerjakan tugas kalian!jangan sakiti kelinci kecilnya mengerti!". Ujar Ben kepada seseorang yang berada di seberang.


"Ben..kaukah itu? Kemarilah Ben bantu aku ke sofa itu aku mau tidur dengan nyenyak". Danu memanggil Ben dengan suara yang mabuk, Ben tersenyum simpul kemudian membantu Danu ke sofa.


"Ugh berat sekali kau". Ujar Ben terkekeh seraya meletakan Danu ke sofa.


Drrrtt.. Drrrttt.. Drrtt..


Ponsel Ben berbunyi, kemudian ia melihat ke arah Ponselnya lalu senyuman jahat menyeringai di wajahnya.


Ben terkekeh kecil dengan Air mata di pipinya.


Keesokan harinya Danu bangun dari tidurnya, ia mengucek matanya, kemudian dia duduk lalu Ben masuk dengan pakaian rapi ke arahnya.


"Sudah bangun rupanya, baru saja aku mau membangunkan mu". Sapa Ben dengan memberikan secangkir teh hangat di pagi hari itu,"Minumlah, setelah itu lekaslah mandi, aku sudah menyiapkan mobil untuk mu pulang itu hadiah dari ku, untuk kado pernikahan mu, maaf aku baru bisa memberinya karena aku juga baru tahu kau sudah menikah". Ujar Ben sembari menghempaskan tubuhnya di samping Danu yang tersenyum dengan wajah bahagia itu.


"Aku, tidak perlu mandi lagi, aku sudah tak sabar pulang menemui istri ku Ben, dan terimakasih banyak Ben untuk semua, aku sungguh bahagia, maafkan aku karena baru memberitahukan semua padamu itupun kau tahu karena kau datang mengikuti ku,aku akan terus ada untuk mu jangan sungkan meminta bantuan ku walau aku sudah berhenti". Ujar Danu sembari memeluk erat tubuh Benyamin, ia begitu bahagia dengan semua.


Danu pun pergi pamit untuk pulang, dia pulang menggunakan mobil pemberian Ben sebagai kado pernikahannya. Suara klakson di pencetnya. Ben melambaikan tangan pada sahabatnya itu.


Cepatlah kembali aku menunggu mu!


Ben tersenyum menyeringai dari atas jendela.,dengan meneguk teh di tangannya. Ia menatap jauh ke arah mobil Danu yang kemudian hilang di pandanganya.


***

__ADS_1


Selama perjalanan Danu merasa bahagia, kini ia bisa hidup dengan tenang bersama keluarganya. Tidak perlu takut lagi akan banyangan menyakiti keluarga kecilnya. Sekitar beberapa jam kemudian Danu pun sampai di rumah kecilnya.


TINN.. TINN.. TINNN..


Danu memencet klakson mobilnya berharap sang istri keluar membukakan pintu rumah dan terkejut melihat dirinya datang membawa mobil untuknya. Namun berulang-ulang ia memencet klakson masih saja istrinya tak kunjung keluar membuka pintu.


Danu kemudian merasa heran dan segera keluar dari mobil, ia kemudian mengetok pintu, namun pintu itu terbuka dengan mudahnya karena sepertinya Laisa tidak menguncinya. Danu kemudian membuka pintu dan masuk kedalam rumahnya itu.


"Lai, aku pulang.. ". Danu terperangah kaget ketika masuk melihat rumahnya sudah berantakan. Ia segera dengan panik berlari masuk ke kamar istrinya.


BRAK


Danu membuka pintu kamar istrinya dengan kasar.


" Laisa..!!". Matanya terbelalak kaget, ia tak menemui istrinya di sana, Danu pun berlari ke luar kamar menuju kamar sang anak, tetapi hal yang sama pun terjadi, ia juga tak menemukan istri dan anaknya.


"Laisa, Regi.. Kalian dimana ". Mata Danu nanar melihat ke sekeliling ruangan ia berlari mencari kedapur namun tak menemui istrinya, rumah mereka terlihat sangat amat berantakan. Pikiran Danu kacau balau, ia takut istri dan anaknya kenapa-kenapa.


" Laisaaa... ". Teriak Danu dengan keras. Kini ia mencari kebelakang rumahnya, di belakang rumah Danu memang sebuah hutan kecil dengan tebing jurang yang dalam. Dulu ia memilih tempat itu karena ia ingin tinggal di tempat yang asrih sesuai permintaan Laisa.


Danu dengan cepat berlari membuka pagar menuju hutan belakang itu. Ia berjalan sembari berteriak memanggil Laisa dan Regi. Terdengar tangis Regi dari arah depan hutan itu, Danu dengan mata memerah berlari menuju sumber suara.


"Regi sayang.. ". Danu terkesiap menemukan Regi, air mata bocah berumur 1.5 tahun itu mengalir deras, terlihat darah berlumuran di tubuhnya, Danu memeriksa tubuh Regi namun sepertinya itu bukan bekas darah anaknya," Ma-Mana ibu mu? ". Ucap Danu gemetar sembari memeluk anaknya, matanya berkeliling mencari Laisa.


" Sudah tiba kau rupanya, hampir saja aku menghabisi anak mu! ". Ujar lelaki yang datang dari arah belakang Danu.


Danu dengan cepat menggendong anaknya dan melihat ke arah sumber suara.


" Ka-Kau.. ". Netra mata Danu mengecil menahan amarah saat melihat orang tersebut.


.


.


.


. Bersambung..

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan tekan tombol love😌💕.


__ADS_2