Blue Of Love

Blue Of Love
Terhenyak


__ADS_3

Benyamin meletakan wine yang sudah dia teguk habis, ia tersenyum pahit ketika mengenang semua kenangan masalalu,


Mr.Ben pun meletakkan kembali ke atas nakas poto yang dia tatap dari tadi.Suara berisik dari anak-anak buahnya sudah senyap. Regi, Keysha, Rico dan yang lainnya sudah pamit dari mansion.


Keesokan paginya Broto serta Raina dan beberapa kerabat termasuk Inspektur Bram, melayat ke tempat peristirahatan terakhir Roby. Isak tangis terdengar sayu dan piluh mengiringi pemakaman Roby.


Sekitar 1 jam-an setelah ustad selesai mengahanturkan Do'a tahmid dan tahlil pemakaman pun kembali sepi di tinggal oleh beberapa orang yang datang untuk melayat. Kini hanya tinggal Broto dan Bramantyo juga Kenzo, serta Raina, dan Weni yang merupakan sahabatnya.


Mata Broto sayu saat melihat kuburan anaknya tepat di samping istrinya, ia sudah tak bisa lagi meneteskan air mata karena kering sudah ia menangisi Roby semalaman di rumah sakit, saat ini Broto hanya ingin terlihat tegar di mata anaknya Raina, walau hati pedih teriris-iris.


" Yang sabar , saya turut berduka cita atas meninggalnya anakmu Broto, Roby pasti sudah tenang di sana ". Ucap Bram seraya meneckram lembut bahu Broto,ia turut merasakan kehilangan Broto.


" Aku gagal, aku gagal menjadi seorang ayah! Inspektur.. Kasihan Rain sekarang ia kehilangan Mama dan kakaknya, sungguh bodoh aku ini.. Coba kalau saja aku dapat menghentikan Roby keluar malam itu, mungkin ini semua tidak akan terjadi! ". Keluh Broto dengan suara bergetar, ia merasa bersalah hebat atas kejadian yang menimpa Roby.


" Sudah Broto tenanglah, bersabarlah, ini ujian untuk mu dan keluarga mu, kau tidak usah mengeluh seperti ini, fokus saja untuk menjaga puteri mu". Ujar Bramantyo menenangkan Broto yang kalut atas kepergian anaknya.


"Inspektur..izinkan saya melihat tempat kejadian". Pinta Broto dengan mengusap kasar wajahnya.


" Iya Kombes Broto,besok kita investigasi kecelakaan Roby".


Raina menangis terseduh sambil menggenggam tanah merah kuburan sang kakak.


" Dulu Mama ku yang pergi, sekarang kakak ku yang pergi!! Setelah itu siapa lagi Wen". Grutu Rain dengan air mata merebak di pipi, Weni pun menenangkan Raina dengan merangkul sahabatnya itu dengan lembut.


"Sudah jangan ngomong seperti itu Rain, kasihan kak Roby dan Mama mu melihat kamu seperti ini, mereka ingin Rain kuat, yang sabar Raina.. ". Weni ikut terisak bersama Raina.


" Benar kata Weni Rain, kamu jangan bersedih berlarut seperti ini, ada Om Broto yang masih bisa kamu sayangi Rain, Be strong Rain ". Timbal Kenzo seraya mengelus rambut Raina.

__ADS_1


Raina lalu mengusap pelan air mata di wajahnya yang mengalir tak terbendung, matanya melihat nanar ke arah Papanya yang berdiri menatap kuburan kakaknya, Raina sedikit tersenyum getir diiringi air mata melihat ketegaran Papanya itu.


Mama,kakak, kalian yang tenang di sana.. Rain akan menjaga Papa dengan baik, terimakasih untuk Mama yang telah melahirkan Rain walaupun rain tak tahu seperti apa tawa dan suara Mama, untuk kakak beristirahat lah dengan tenang, kau sudah menjaga Rain dengan baik, kau laki-laki terbaik kedua setelah papa, i love you.


Raina membatin sembari menyirami makam kakaknya dengan karangan bunga, kemudian dia bangkit dan juga memberikan karangan bunga di makam Mamanya. Air matanya jatuh membasahi tanah merah itu.


Subroto melihat Raina dengan tatapan nanar, nafasnya berhembus lembut lalu kemudian dia mendekati Raina. Raina menatap manik mata Papanya dengan sayu dan senyum getir.


"Come my sweet heart ". Ucap Broto seraya merentangkan tangan, lalu Rain segera mendekap tubuh Papanya itu.


Sementara itu dari kejauhan Regi melihat ke arah pemakaman Roby, matanya menangkap Raina yang sedang menangisi kepergian kakaknya di atas makam sang kakak.


" Gadis itu menerima kesalahan dari ayahnya, sungguh malang sekali". Ucap Regi seraya menatap Raina dari kejauhan.


" Iya Regi kau benar, tapi tidak ada lagi kata mundur untuk keluarga Subroto, gendrang perang dari Mr.Ben sudah di bunyikan. Ya sudah ayo kita ke makam ayahmu". Tukas Keysha seraya menarik tangan Regi dengan lembut, Regi hanya tersenyum dan mengikuti Keysha.


"Pelan-pelan Key..".


**


Subroto dan yang lain memutuskan pulang dari pemakaman karena hari juga sudah mulai sore. Didalam mobil juga ada Inspektur Bramantyo juga Kenzo yang duduk di samping Raina, sementara Weni sudah pulang duluan dia naik motor karena juga ada kerjaan di rumah temannya.


Di perjalanan Raina hanya terdiam tak ada suara apapun yang terkeluar dari mulut mungilnya. Ia hanya menatap jalanan dengan tatapan kosong. Kenzo hanya melihat sekilas Raina sebenarnya Kenzo sangat ingin menegur Raina dan mengajaknya mengobrol agar sedikit mengurangi rasa sedih di hatinya, tetapi ia lebih memilih untuk mengurungkan niatnya, mungkin Raina butuh waktu menyendiri.


" Kenapa ya semua terasa mimpi?..yang kemarin ada sekarang sudah tiada, akhirnya akupun juga bakal hilang seperti mereka". Ujar Raina menatap ke arah luar jendela.


Mendengar Raina berbicara membuat Kenzo tersenyum tipis. Tampaknya gadis itu sudah mulai mau bicara setelah beberapa jam diam sunyi tampa suara.

__ADS_1


" Kau jangan bersedih seperti ini, masih ada aku disini, maksudku masih ada Papa mu bersama mu". Ucap Kenzo menenangkan Raina, Raina sedikit pun tak menatap Kenzo yang menjadi lawan bicaranya itu ia hanya fokus melihat ke luar jendela mobil tersebut.


" Hemm bagaimana kalau aku ajak kau main ke sebuah tempat yang nyaman supaya kau bisa menghilangkan rasa sedih mu itu, bagaimana mau tidak?". Tawar Kenzo kepada Raina , yang kemudian Raina menatap ke arahnya dengan senyum manis.


"Emmh oke Ken, Baiklah aku mau". Ujar Raina seraya melempar senyum manis walaupun masih terlihat jelas kesedihan di hatinya. Mungkin dengan mengikuti Kenzo rasa sedih ia rasakan bisa menghilang.


" Syukurlah kalau kau mau, bagaimana kalau malam ini aku jemput kau di rumah mu, kita kesana sekitar jam 8 malam, bisa ..? A-atau besok malam saja dengan waktu yang sama gimana? ". Tanya Kenzo lembut.


" Ya sudah besok malam saja, aku malam ini butuh waktu sendiri dulu ken". Ujar Raina lembut


"Okey besok malam aku kerumah mu". Kenzo tersenyum menatap Raina.


Raina pun mengangguk dan kembali menatap ke arah luar jendela. Melihat Raina masih bersikap acuh dan bersedih membuat Kenzo khawatir . Kenzo pun menekan tombol untuk menutup kaca jendela mobil,Raina terhenyak kaget melihat tingkah Kenzo barusan.


"Kemarilah, bersandar di pundak ku.. Udara di luar cukup dingin nanti kau sakit". Ucap Kenzo merangkul Raina dan menyadarkan tubuh Raina di samping pundaknya, kemudian ia menjauhkan tangannya supaya Raina tidak merasa risih. Tangan kananya diam tak bergerak karena ada tubuh Raina yang bersandar, sedang tangan kirinya santai di atas penyangga pintu mobil.


Raina hanya menerima perlakuan Kenzo, ia tak memaki Kenzo karena sebenarnya ia juga sudah kelelahan dan pada akhirnya kepalanya tersandar di pundak pria itu, hingga matanya pun terpejam lelah dan tertidur. Kenzo tersenyum lebar dan merasa bahagia serta dag dig dug an ketika Raina diam dan mengikuti tindakanya.


Subroto tersenyum melihat dari kaca depan mobil saat Raina sudah terlelap di pundak Kenzo,Bram juga melempar senyum ke arah Broto yang mencuri pandang Kenzo dan Raina.


.


.


.


.

__ADS_1


. Bersambung..


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like komen dan tekan tombol love ya😌💕.


__ADS_2