
"Regi, Rico, bagaimana pekerjaan kalian tadi? ". Suara berat yang sudah serak itu bertanya kepada Rico dan Regi.
"Sukses Mr. Itu semua berkat rencana matang dari Rico ". Ujar Regi, tak lupa memuji ide Rico. Rico tampak tersenyum bangga.
" Bagus kalian kompak untuk saling mendukung".
" Tapi saya bingung Mr. Kenapa kita tidak langsung membunuh gadis itu, dia sudah di depan mata saya". Tanya Regi dengan expresi bingungnya.
Mr.Ben mengangguk dengan senyum simpul lalu berjalan ke arah kursi kebesarannya. Mr.Ben duduk dengan penuh wibawa.
" Regi bukan saatnya. Nanti kau dekati gadis itu, kita jadikan alat untuk menggusarkan hati Subroto kep*r*t itu ,bagaimana ketika dia tahu anaknya dekat dengan seorang mafia". Terlihat jelas mata Benyamin menatap dengan penuh dendam amarah.
Regi dan Rico menunduk saat mata Mr.Ben menatap seperti pembunuh haus darah itu.
"Kalau begitu untuk mempersingkat waktu bagaimana kalau aku dan Regi besok menangkap gadis itu Mr? ". Rico membuka suara menyarankan pendapatnya.
Mr.Ben menatap Rico dengan tajam hingga membuat Rico gugup karenanya. Ia menunduk takut.
" Rico.. Rico.. Dengan kejadian malam itu, pasti penjagaan pada gadis itu makin ketat. Makanya saya menugaskan Regi untuk mendekati gadis itu ". Mr.Ben menjelaskan pada Rico. Rico menelan salivanya saat Mr.Ben berdiri mendekat ke arahnya.
" Ka-kalau begitu biarkan saya mendekati gadis itu toh saya lebih berpengalaman mendekati wanita ". Pinta Rico percaya diri dengan tergugup. Regi hanya melirik enggan.
" HAHAHAHA..".
Regi dan juga Rico menatap heran Mr.Ben yang tertawa begitu keras dengan tiba-tiba.
" Muka seperti mu ingin mendekati gadis itu? Yang ada gadis itu menjauh! Biarkan tugas ini jadi urusan Regi. Mukanya tidak menunjukkan siapa dirinya sebenarnya". Benyamin menyela Rico seraya menatap lekat manik mata Rico.
Rico menelan pahit salivanya. Wajahnya tertunduk lesu, juga malu karenanya mendengar semua itu membuat dirinya merasa di bedakan oleh Mr.Ben .
Regi terdiam tanpa suara jauh di lubuk hatinya, sebenarnya ia sangat setuju jika Rico menggantikan dirinya, karena ia tahu ia tak bisa mendekati wanita.
"Baiklah Mr. Ben saya akan melakukan tugas yang di beri kepada saya dengan baik".
" Saya permisi Mr.Ben ". Rico pun pamit dan keluar dari ruangan tersebut. Rico merasa jengkel dengan Regi saat itu.
**
Sejak kejadian malam itu, Raina memikirkan pria yang menyelamatkannya waktu di Villa saat kelompok penjahat datang mengganggu. Raina berharap dirinya bisa bertemu lagi dengan pria itu yang tak lain adalah Regi. Ia ingin mengucapkan terima kasih padanya.
Raina pun mengambil ponselnya untuk menelepon Weni dan ingin mengobrol dengan sahabatnya itu.
"Hallo Rain, ada apa? "
" Kangen.. ". Raina menjawab Weni dengan manja.
__ADS_1
" Astaga! Kau ini, aku banyak tugas Rain..".
"Temenin aku ngobrol Wen, aku udah berapa hari ngak keluar gara-gara Papa ngelarang sejak kejadian beberapa waktu lalu. Please". Rengek Raina merasa bosan.
Weni yang berada di seberang hanya menghela nafas mendengar rengekan Raina.
Panjang lebar malam itu Raina menghabiskan waktu mengobrol dari telepon dengan Weni. Raina sedikit merasa lega dan senang karena ada yang menemani kesunyiannya.
Raina tidak lupa untuk menceritakan semua kejadian yang terjadi di malam itu. Weni nampak menyimak dengan baik semua obrolan dari Raina. Sampailah saat seorang pria datang menyelamatkan dirinya yang sebenarnya Raina tidak tahu itu adalah Regi.
"jadi kau tidak tahu siapa lelaki itu, lagian pake pingsan segala sih ".
Raina mengerucutkan bibirnya saat Weni mengejeknya.
" Aku hanya melihat sekilas wajahnya sebelum pingsan ". Ujar Raina sembari membayangkan sosok Regi yang samar-samar di lihatnya.
"Yaah sayang banget, ah aku yakin sebenarnya pria itu adalah pria tua. Hahah".
" Ck. Kau ini selalu meledek ku, aku yakin sekali itu bukan pria tua. Dia gagah sekali terlihat dari postur tubuhnya. Dan aku juga tidak sepenuhnya lupa bentuk wajah pria itu jika bertemu aku pasti akan mengingat dan mengenalinya".
" Sudah ah aku mau tidur. Kau juga segeralah tidur. Berhentilah menghayal bak sinetron saja ".
" Hei dasar kau ini baru jam berapa sudah mau tidur saja , ya sudah terimakasih sudah menemani aku. Bye selamat malam ".
Raina pun mematikan telepon. Ia tersenyum saat kembali mengingat sosok Regi.
Raina bergumam kecil seraya menatap langit-langit kamarnya . Raina pun memejamkan matanya dan tertidur lelap.
~
Keesokan harinya pagi menyapa dengan lembut, sinar matahari masuk dari celah-celah fentilasi udara. Raina bangun saat sinar surya menyala menyapa wajahnya.
" Hoaamm..".Raina mengucek matanya,bergegas dirinya duduk dan kemudian bangkit untuk membuka jendela rumahnya. Sang surya pun masuk dengan bebas.
Raina membuka handphonenya. Panggilan tidak terjawab dari Kenzo. Hp Raina di silent jadi ia tak mengetahui panggilan itu Raina menggelengkan kepalanya.
Raina bergegas merapikan tempat tidurnya. Setelah itu Raina masuk ke kamar mandi untuk mandi.
Sementara itu Subroto asik mengobrol dengan seseorang melalui telepon. Wajahnya terlihat sumringah, pembicaraan itu terdengar sangat serius.
" Iya, mungkin dia ketiduran semalam. Baik nanti siang kalau begitu ".
Subroto terlihat senang di pagi hari ini, sudah lama angin segar tidak menyapa dirinya.ia segera memanggil Raina yang masih sibuk dengan ritual mandinya.
Sementara itu Raina telah selesai dari mandinya. Ia mengucek-ucek rambutnya dengan handuk.
__ADS_1
Raina bergumam dengan menyanyikan lagu kesukaanya. Pagi ini udara terasa lebih segar, ia keluar balkon kamarnya. Raina tersenyum melihat orang-orang yang sibuk melakukan aktivitas masing-masing, ada yang jogging ada yang berangkat kerja, ada yang memanaskan kendaraan.
"Raina..ayo buruan turun ".
Raina pun segera turun saat Subroto meneriakinya. Ia meletakkan handuknya ke tempatnya. Raina pun menuruni anak tangga dengan cepat.
" Hai Pa, selamat pagi ". Sapa Raina pada Broto yang sedang duduk dengan di temani secangkir kopi.
" Hai sayang. Morning too". Kecup Broto pada kening puterinya," Duduk sini sarapan".
Raina tersenyum manis lalu duduk di dekat Papanya tersebut. Ia mengambil sehelai roti tawar yang sudah tersedia di atas meja.
" Oh iya Rain, ada yang mau Papa omongin".
Raina menyimak sembari mengolesi rotinya dengan selai kacang.
"Rain,hari ini kita akan makan siang bersama keluarga Inspektur Bram ".
" Ehemm". Raina mengangguk, mungkin Inspektur Bram mengadakan jamuan makan siang karena naik pangkat atau apalah pikirnya, jadi Papanya butuh teman untuk menghadiri acara itu.
Subroto terkekeh kecil saat melihat respon Raina yang santai itu.
" Inspektur Bram mengadakan jamuan makan siang untuk melaksanakan pertunangan kamu dan Kenzo".
Raina yang asik mengunyah makanan itu tiba-tiba tersedak karena terkejut mendengar ucapan Subroto. Broto melihat Raina terbatuk -batuk Dengan cepat menyodorkan air putih kepada Raina.
" Pelan- pelan dong makan nya ".
" Iya Pa ". Jawab Raina seraya meneguk air yang ada di gelas. Pikirannya gelisah saat mendengar pertunangan untuk dirinya dan Kenzo padahal jelas dirinya tak mencintai mencintai Kenzo sedikit pun.
" Papa tinggal dulu yaa, kamu makan yang banyak ".
Subroto bangkit dari kursinya dan masuk ke kamarnya untuk mengambil beberapa berkas kemudian setelahnya keluar dengan seragam rapi serta pamit kepada Raina untuk berangkat kerja .
Raina masih terdiam di meja makan dengan roti yang masih menyisah. Ia menekan jidatnya dengan tanganya. Dia sedikit pun tidak mencintai Kenzo di tambah lagi mereka baru kenal tetapi ia tidak bisa menolak pertunangan itu karena bisa menyakiti hati Papanya yang sangat ia sayangi.
"Yah bagaimana kalau aku coba ngomong baik-baik nanti pada keluarga Kenzo , dan Papa pasti mengerti jika nanti keluarga Kenzo setuju di batalin". Gumam Raina pada dirinya sendiri.
.
.
.
.
__ADS_1
. Bersambung..
Jangan lupa like, komen, dan tekan tombol love