Blue Of Love

Blue Of Love
Hero?!


__ADS_3

Di tempat persembunyianya Regi memantau dengan cermat di balik semak-semak. Rico pun datang ke arahnya.


"Regi, sekarang giliran mu. Gadis itu berlari ke arah selatan, ini tugas mu untuk menjadi pahlawan ". Rico mengarahkan Regi untuk segera melakukan tugasnya. Regi pun berjalan setengah berlari meninggalkan Rico.


Regi merasa sedikit ragu, ia takut akan mengalami kegagalan dengan rencana mereka saat ini. Rencana ini di susun oleh Rico dan di bantu oleh Keysha. Kini Regi berlari mempercepat langkahnya itu berharap supaya tugasnya lekas selesai.


~


Raina berlari dengan sekuat tenaga, keringatnya menyembur deras di wajahnya. Niat untuk menenangkan diri menjadi kacau saat beberapa orang jahat datang mengacau.


Tiba-tiba sebuah tangan kekar berhasil menarik pundaknya hingga langkah Raina menjadi terhenti, Raina membalikkan tubuhnya ke arah para penjahat itu. Tawa jahat dari lelaki-lelaki jahat itu terdengar mencekam di telinga Raina, sontak mata Raina terbelalak besar.


"Tolong.. Jangan sakiti saya. Ka-kalian mau apa. Jangan ganggu saya ". Lirih Raina terbata-bata memohon berharap orang-orang itu melepaskannya.


" Wah gadis yang manis. Tenang gadis manis jangan ketakutan seperti ini kita-kita tidak akan menyakiti mu kok. Iya kan teman-teman?". Ujar salah satu dari mereka, menggoda Raina yang gemetar ketakutan seraya melangkah mendekati Raina.


Raina melangkah mundur dengan terus menatap memohon tetapi para lelaki jahat itu terus mendekatinya serta menggodanya dengan terus-terusan menyentuh rambut, pipi dan bahkan ada yang berani menyentuh kehormatan Raina. Dengan kasar Raina menepis tangan busuk itu.


"Kalian brengs*k! Berhentilah mengangguku. Jangan sakiti aku, ku mohon! ". Lagi-lagi Raina harus memohon pada orang-orang itu.


Namun tampaknya para pria itu tidak menghiraukan gadis muda di hadapan mereka itu,malah mereka makin senang menggoda Raina yang ketakutan. Bahkan mereka tertawa melihat gadis cantik itu kini menangis gemetar ketakutan.


Berkali-kali Raina menepis setiap sentuhan nakal dari para penjahat mesum itu. Namun mereka terus menerus mencoba menyentuhnya. Sebuah tangan yang penuh dengan tatto hendak menyentuh bagian vital Raina. Raina yang melihat tangan itu segera ingin menepis lalu dengan cepat seseorang yang lain menahan tangannya.


Regi pun datang tepat waktu ia mencekram tangan itu dengan kuat hingga terdengar suara tulang berderak karenanya.


"Ahhhhhhhkkkkkkk".


Regi menyeringai saat lelaki itu meringis kesakitan. Regi memukuli pria itu tanpa basa-basi lagi. Kelompok pria itu mencoba membantu temannya yang kesakitan dengan cepat Regi juga melayangkan sebuah tendang yang nyaris tidak terlihat membuat lelaki tersebut terlentang ke arah samping. Regi menatap sisa teman mereka. Regi pun memukuli semua orang itu dan semua tumbang. Para penjahat itupun kabur dan lari terbirit-birit.


Raina hanya terdiam menyaksikan semua di depan matanya, bak adegan sebuah film dimana seorang jagoan datang menyelamatkan kekasihnya. Di pikirannya siapa lelaki ini?.


Regi yang baru saja selesai menangani para penjahat, yang tidak lain juga adalah teman-temannya sendiri.


Duh apa aku tadi terlalu kasar dan kelewatan ya?..


Regi membatin, ia merasa pukulannya terlalu kuat pada teman-temannya tadi. Apa lagi dia sudah mematahkan salah satu lengan temannya yang tadi hendak menyentuh Raina.


"Nona.. Apa kau baik-baik saja? ". Tanya Regi dengan lembut. Nafasnya sedikit menderuh karena ini kali pertamanya berdialog dengan wanita selain Keysha. Iya walaupun sebelumnya, bahkan sangat sering berbicara dengan wanita tapi itu semua dengan kata-kata kasar. Karena tidak ada kata lembut untuk musuh atau bahkan hanya seorang pelac*r. Tapi berbeda dengan Raina konteksnya dia harus lembut untuk misinya. Supaya nanti kesan yang di dapat Raina akan sangat baik.

__ADS_1


"Halo nona kau tidak apa..? ". Regi mengulang bertanya. Mata Raina hanya kosong, Raina terdiam lalu kemudian pingsan.


Dengan cepat Regi menangkap tubuh Raina.


" Aduh kok pingsan ". Grutu Regi, Regi pun menggendong tubuh Raina dan membawanya ke arah Villa.


Sesampainya di tempat itu, Regi menggeletakan tubuh Raina dengan lembut dan pelan. Sebelum pergi Regi menatap Raina dengan sekilas. Ia tersenyum tipis lalu pergi meninggalkan Raina.


**


Kenzo melajukan mobilnya dengan cepat tujuannya bukan ke rumah sakit melainkan ke rumah Subroto. Ia khawatir akan keselamatan Raina.


Sesampainya di rumah Raina, Kenzo membuka pintu mobil dan menutupnya dengan kasar,sehingga Subroto mendengar suara bantingan pintu itu. Subroto keluar dri rumah dengan cepat memeriksa di luar.


Terlihat Kenzo datang dengan terburu-buru. Bahkan membuka pintu gerbang pun dengan suara yang berisik karena ia memaksa dengan cepat.


"Ken.. Ada apa? Kenapa kau buru-buru". Teriak Broto dari depan muara pintu rumahnya.


Kenzo pun masuk dengan cepat dan tergesa-gesa. Detak jantungnya terdengar sangat jelas. Ia pun dapat merasakannya. Kemudian Kenzo menarik nafas panjang dan menghembuskanya dengan lembut. Ia tak mau terlihat seperti ketakutan di depan Subroto.


"Om! ".


" kenapa muka mu nak babak belur seperti ini?! Ada apa, apa yang terjadi? ". Broto khawatir dengan keadaan Kenzo yang terlihat tidak baik itu, " Ayo kita ke rumah sakit dulu ".


" Om Raina masih di pulau! kita terpisah, tadi ada beberapa orang jahat datang menganggu kami berdua, padahal itu pulau pribadi Om, hanya aku dan keluarga yang tahu lokasinya. Maafkan aku Om karena tidak bertanggung jawab pada Raina hingga terjadi hal seperti ini". Lirih Kenzo merasa tidak enak pada Subroto. Ia menjelaskan semua detail kejadian.


Broto memejamkan mata selama beberapa detik lalu kembali membuka matanya setelah mendengar semua penjelasan dari Kenzo. Ia pun menghempas nafas berat.


" Ya sudah biar Om dan anggota Om menyusul Raina ke pulau. Kau sebaiknya segera ke rumah sakit ". Tegas Broto pada Kenzo.


Sebenarnya Kenzo keberatan tidak ikut menyusul Raina, tapi apa boleh buat dirinya saat ini membutuhkan perawatan karena pukulan dari Rico.


***


Sesampainya di pulau Kombes Broto berhasil menemukan Raina di dekat Villa dengan kondisi pingsan.


"Ya tuhan Rain..". Broto sedih melihat keadaan Raina. Ia kemudian memangku Raina. Ia khawatir juga bersyukur Raina tidak kenapa-kenapa.


Subroto menyuruh para anggotanya untuk cepat memeriksa lokasi kejadian. Ia pun pulang membawa Raina.

__ADS_1


~


Berulang-ulang Broto menciumi kening Raina. Ia memanggil nama Raina untuk menyadarkannya serta mengusap tubuh dan wajah Raina dengan minyak kayu putih.


Tak berselang berapa lama Raina siuman dari pingsannya. Subroto terkesiap dan senang puterinya sudah sadar. Ia memeluk erat tubuh gadis kecilnya itu, baginya Raina selalu jadi gadis kecil di matanya.


"Syukurlah kau sudah siuman sayang ".


Raina mengucek matanya, ia sadar dirinya sudah di dalam kamarnya. Ia tersenyum lega.


" Papa.. Rain takut ". Rintih Raina di pelukan Papanya, saat tidur teringat kejadian baru saja yang menimpanya.


" Tenang nak, kita sudah di rumah, kau sudah aman. Jangan takut lagi ya, ada Papa yang akan melindungimu". Subroto menenangkan puterinya itu.


Raina merasa tenang setelah berada di pelukan Papanya, walaupun masih merasakan perasaan cemas. Takut kejadian yang sama akan menimpanya.


" Ya sudah sekarang beristirahatlah, Papa menyayangi mu ". Broto mengecup lembut tangan putrinya. Raina mengangguk lalu memejamkan matanya dan tertidur.


Broto mencium kening Raina lalu menyelimuti Raina.


" Selamat malam sayang ". Broto mematikan lampu kamar Raina lalu beranjak pergi dan perlahan menutup pintu kamar.


Di balik pintu kamar langkah Broto berhenti.


" Semoga penyebab yang terjadi semua ini tidak seperti apa yang aku pikir ".


.


.


.


.


.


. Bersambung...


Jangan lupa, like, komen dan subrek/tekan tombol lov😌💕

__ADS_1


__ADS_2