
"Ya".
" Ayo bilang "iya" Rain". Broto berbisik kecil, saat melihat Raina yang tak kunjung menjawab Kenzo.
Kenzo masih terlihat dengan posisi berjongkok dengan menadahkan sebuah cincin pertunangannya itu. Raina masih bingung dan ragu menjawab, orang - orang masih bersorak mendukung Kenzo.
Bramantyo menatap Kenzo dan Raina dengan harap-harap cemas. Ia menggengam tangan istrinya dengan erat. Betapa malu-nya dirinya dan keluarganya jika Raina menolak Kenzo.
Raina yang sedang di landa gelisah membiarkan matanya berkekeliling mencari ketenangan, tak sengaja seketika Raina melihat sosok pria yang menyelamatkannya dulu yaitu Regi. Raina menarik tangannya dari genggaman Kenzo yang masih berlutut di hadapannya yang menunggu jawaban Raina.
Regi yang sedang menatap dari luar itu bergegas pergi setelah Raina mengetahui kehadirannya. Raina keluar terburu-buru untuk mengikuti Regi.
"Rain.. Mau kemana?hei! ". Teriak Broto dengan pelan kearah Raina yang berjalan tergesa dari restaurant.
Kenzo berdiri dari posisinya ia mengigit bibir bawahnya merasa tidak enak dan juga malu, karena dirinya di tinggal begitu saja oleh seorang gadis saat melamar gadis tersebut.
Sementara Bramantyo menatap dengan malu dirinya kehilangan muka di dalam hatinya ingin rasanya menarik Kenzo keluar dari restaurant itu supaya anaknya tidak kehilangan muka di hadapan para tamu restaurant beruntung ada sang istri yang menenangkannya.
"Sudah Kombes, biarkan dia pergi mungkin Raina belum siap ". Tegas Bramantyo dengan lantang.
Broto terdiam dan merasa tidak enak atas hal yang terjadi. Sepatutnya hal ini tidak terjadi kalau saja Raina dapat menahan dirinya untuk tidak pergi.
" Maafkan anak saya Inspektur ". Lirih Broto.
" Tidak apa apa, Ken.. ". Bram memanggil Kenzo yang masih berdiri terdiam menatap keluar.
" Maafkan sikap Raina tadi Ken.. ".
Broto mendekati Kenzo dengan cepat.
Kenzo hanya tersenyum dan mengangguk,
Kenzo mendekat ke arah Daddy-nya dan Maminya. Dina langsung mengelus punggung belakang Kenzo untuk menguatkan Kenzo.
" Sayang jangan sedih mungkin Raina masih malu, kau sebaiknya jangan lemah karena ini". Bisik Dina pelan.
"Om jangan merasa tidak enak, Kenzo tidak apa-apa kok mungkin Rain masih butuh waktu, Kenzo juga salah karena terlalu cepat melamar dia, mungkin kalau Kenzo kasih waktu lagi Rain bakal mengerti dan menerima ".
" Tapi Raina sudah mempermalukan mu nak.. Dengan tidak menjawab lamaran mu".
__ADS_1
Kenzo tersenyum ia menarik nafas panjang kemudian mendekat ke arah Subroto.
" Iya Om tidak usah di pikirkan, saya akan tunggu jawaban Raina nanti, sekarang saya mau nyusulin Raina, bahaya kalau dia keluar sendirian". Ucap Kenzo memberi pengertian pada Subroto.
Subroto tersenyum dan merasa tenang dengan sikap jantan yang di ambil oleh Kenzo. "Hati - Hati ya". Subroto melempar senyum pada Kenzo.
Kenzo mengiyakan, lalu pamit pada kedua orang tuanya dan segera menyusul Raina yang keluar dari tadi.
**
"Kemana sih dia, cepat banget ngilangnya". Grutu Raina saat kehilangan jejak Regi. Mata Raina mencari dengan Celinguk celinguk berharap dapat menangkap sosok pria penyelamatnya itu.
Raina kembali melanjutkan perjalanannya mencari Regi. "Duh cepat banget ngilang, saya kan cuman mau bilang terimakasih sama dia".
Rain mencari hingga memasuki ke dalam gang sempit dan benar saja ia menemukan sosok yang di carinya itu. Raina tersenyum semangat.
"Hey tunggu!". Teriak nya ke arah Regi. Ia lari-lari kecil untuk mengejarnya.
"Tunggu!!! "..
" Hey pria yang di sana tunggu saya!!! ".
" HEY KAU TULI YA! BERHENTI!".
seketika langkah Regi berhenti dengan cepat Raina menghampirinya terburu-buru tanpa sadar Raina menginjak genangan air dan Raina pun terpeleset hingga tak sengaja memeluk tubuh Regi dari belakang. Pelukan itu berlangsung cukup lama. Sampai-sampai mereka sendiri tak menyadari posisi itu.
Seketika Raina tersadar dirinya memeluk tubuh pria yang masih asing di depannya itu. Mata Raina melotot dengan air muka merah padam.
"Aduh.. Aduh maaf, im so sorry, aku tidak sengaja kesandung". Ucap Raina membela diri dengan wajah malu. Ia menatap punggung belakang Regi yang luas dan tampak gagah itu. Raina berjongkok melihat kakinya kotor dengan cepat ia membersihkan kakinya dengan tissue yang ia bawa.
Regi menarik nafas panjang, ia pun berbalik ke arah gadis yang dari tadi mengikutinya.
"Ahh.. Kau ini mau apa sih sebenarnya? Dari tadi manggil - manggilin berisik tahu!, udah bilang saya tuli lagi, ehh sekarang malah meluk - meluk saya, jangan-jangan kau modus ya!!!". Maki Regi kepada Raina dengan menatap tajam ke arah Raina.
"WHAT?! "
" Enak aja! Kan saya udah bilang saya kesandung! ". Teriak Raina tak kalah dari Regi. Raina yang dari tadi sibuk membersihkan kakinya yang kotor berdiri dengan tergesa tidak terima atas makian Regi.
Deg!
__ADS_1
Jantung Regi berdetak kencang saat melihat sosok Raina yang menatap lekat matanya. Raina menatap Regi dengan kesal karena telah memakinya padahal niatnya baik untuk ketemu dengan Regi.
Regi segera mengembalikan fokusnya setelah sempat terbius melihat sosok gadis mungil di hadapannya itu.
"Terus kau mau ngapain? Nyamperin saya sejauh ini". Tanya Regi dengan membuang mukanya yang tadi sempat menatap Raina.
"Aku mau ngomong sesuatu tapi jangan di sini, kau ada tidak tempat yang nyaman buat ngobrol? ". Ujar Raina lembut.
Regi mengkerutkan alisnya, gadis di depannya ini terlihat amat serius, entah apa yang sedang ingin di sampaikannya padanya. Perasaan Regi sedikit gugup karena harus menghadapi seorang gadis berdua saja, apa lagi gadis yang di depannya itu adalah target operasinya.
" Iya, iya ada, kau ikuti saja saya". Ucap Regi tegas dan berbalik melangkah.
Raina lalu mengikuti Regi yang berjalan di didepan nya itu. Ia menatap Regi dengan amat lamat. Tubuh Regi jauh lebih tinggi di bandingkan dirinya kalau di ukur dirinya hanya sebatas bahu Regi. Sesekali muka Raina memerah saat teringat dirinya jatuh memeluk tubuh Regi.
Perasaan Raina sedikit gelisah saat mengigat dirinya meninggalkan acara pertunangannya dengan Kenzo tanpa ia sadari langkah kakinya melangkah mengejar sosok Regi yang tak sengaja ia temui.
"semoga papa nggak marah gara - gara aku kabur tadi ".
Ucap Raina di dalam hati, dia mengigit bibir bawahnya merasakan kegelisahan, sesaat ia pun menepisnya. Biarkan nanti jadi urusannya saat pulang.
Regi sesekali melirikan matanya ke belakang, memastikan gadis di belakangnya masih mengikutinya. Sesaat terbesit bahwa Raina merupakan target dalam tugasnya. Dirinya berusaha mensuport bahwa dirinya bisa melaksanakan tugas yang di beri Mr.Ben bisa di lakukan dengan lancar, tentang ketakutanya akan kegagalan karena tidak bisa mengurus wanita,atau berpura-pura untuk mendekatinya bisa berjalan lancar dan berhasil.
"ayah aku akan segera menyelesaikan tugas ku untuk membalaskan dendam atas kematian ayah".
Dalam hati Regi dengan seringai jahat dari raut wajahnya terpancar saat mengigat bahwa ayahnya tewas karena orang tua Raina.
.
.
.
.
.
. Bersambung jangan lupa like, komen dan subrek/tekan tombol love 😌💕.
Maaf ya gays baru apload lagi di karenakan hp kentang ku rusak, semoga cepat membaik nih hape 😆😊. Enjoyy..
__ADS_1