
Di dalam ruangan tersembunyi di dalam Bar, gadis cantik yang sempat melarikan diri kini di tahan di dalam ruangan itu. Gadis itu merontah-rontah beberapa kali ingin di lepaskan. Sudah 1 minggu dia di dalam kandang besi itu. Kandang besi merupakan tempat kurungan bagi para pekerja wanita yang kabur, di sana para bodyguard atau penjaga Klub tak akan segan-segan memberikan hukuman kepada orang yang membangkang, suara pukulan, cambukkan serta suara pekikan wanita yang menahan perih dan sakit siksaan sering kali terdengar nyaring namun di sana adalah tempat dengan kedap suara. Jadi para pengunjung tak akan mendengar dan terganggu dengan teriakan kesakitan para wanita atau orang yang membangkang.
"Kau masih tidak mau makan! Aku tidak punya waktu untuk terus membujuk mu makan gadis sialan!". Seorang lelaki memaki gadis cantik yang sempat membuatnya babak belur karena lalai menjaga gadis itu hingga kabur.
Gadis itu hanya memalingkan wajahnya ke arah pintu keluar dari ruangan itu, matanya menatap nanar dengan bibir bergetar. Ia mengabaikan lelaki yang hendak menyuapinya makan. Sudah 5 hari sejak ia di kurung ia tak makan, terakhir makan saat ia di paksa oleh penjaga dengan memaksa makanan masuk ke mulutnya dengan kasar. Saat ini dia bersikeras tak mau makan walau di pukul ataupun merelakan wajahnya di cengkram dengan keras untuk membukakan mulut, tak segan ia memuntahkan kembali makanan yang masuk ke mulutnya, ia berharap dengan begitu orang-orang biadab ini mau melepaskannya, karena mungkin dengan kondisinya yang seperti ini para pelanggan lelaki hidung belang tak akan tertarik untuk memesannya. Lebam serta luka dia terima karena kekerasan kepalanya ini .
Para penjaga pun kewalahan menghadapi gadis ini mereka sudah melakukan segala cara supaya gadis ini menurut, namun semua sia-sia belaka gadis ini sangat bersikeras terbebas dari tempat itu.
"Cih kau ini! Ya sudah mati kelaparan saja kau! ". Rutuk lelaki itu dengan kesal ia melempar piring nasi itu dengan keras ke wajah gadis itu. Hingga lauk pauk dan nasi bececeran di wajah dan rambut gadis berkulit kuning langsat itu.
Gadis itu terisak menangis menahan semua perlakuan orang-orang itu, dirinya terkurung bak seekor hewan yang menunggu kapan akan di sembelih.
Gadis cantik bertubuh mungil itu tak dapat memungkiri semua yang terjadi, hal yang dia rasakan sekarang bermula saat dia pulang dari kerja, ia bekerja di sebuah warung makan kecil dengan gaji yang sedikit, dia harus memenuhi semua kebutuhannya dengan bekerja keras, gadis itu hidup sebatang kara sejak keluarganya meninggal dunia dalam kecelakaan besar waktu dia berumur 15 tahun. Di umurnya yang masih muda dia harus menerjang kehidupan yang keras ini tak ada sanak famili yang bisa ia mintai tolong karena keluarganya pun adalah seorang perantau, gadis itu pindah dari rumah warisan orang tuanya, ia menjual harta warisan satu-satunya itu untuk merantau ke kota. Saat di kota ia pikir hidupnya akan lebih mudah, bekerja, melanjutkan pendidikan yang tertinggal, biasa seperti setiap impian para perantau lalu semua sirna saat melihat kerasnya ibu kota. Uang hasil penjualan rumah tanahnya habis, untuk memenuhi kebutuhan selama di kota, ia kemudian melamar kerja kesana kemari pada akhirnya mendapatkan pekerjaan di warung makan yang biasa di singgahi para pemudik atau para sopir mobil truk maupun fuso yang melakukan perjalanan jauh. Di sana dia bekerja dari jam 08.00 pagi sampai ke jam 22.08 malam.
Malam itu gadis itu pamit untuk pulang setelah membantu mencuci piring dan menutup warung, ia biasa pulang di antar oleh anak laki-laki ibu pemilik warung.
"Buk Yem aku pamit pulang dulu ya". Ucapnya kepada buk Yem pemilik warung makan itu.
"Iya hati-hati nduk".
Gadis itupun menaiki motor yang di bawa oleh Rudi anak pemilik warung itu.
Di perjalanan Rudi biasa mengajak gadis yang ia boceng itu ngobrol, mereka memang akrab karena umur mereka pun sebaya. Sedang asik-asiknya mengobrol motor mereka di hadang oleh mobil jeep bewarna putih.
CIITT..
Rudi mengerem motornya dengan mendadak, di dalam mobil keluar tiga orang berbadan besar menggunakan pistol. Mereka berjalan mengarah Rudi dan gadis itu.
"Heh kau gadis yang di belakang cepat turun!". Bentak pria itu ke arah gadis yang ketakutan bersembunyi di balik badan Rudi.
__ADS_1
"Jangan sakiti kami! Tolong lepaskan kami!. Akan kami berikan semua uang asal jangan sakiti kami ". Rudi mencoba membujuk laki-laki yang sedang mengarahkan pistol ke arah mereka.
"Cepat kalian turun!". Ujar lelaki lain yang menarik paksa Rudi dan gadis itu sehingga mereka berdua terjatuh.
"Kau kalau mau selamat biarkan kami membawa teman mu itu!". Lelaki itu mencengkram erat wajah Rudi yang menatap dengan nanar, " Kau mau warung ibu mu kami rusak dan obrak-abrik! kau tahu siapa kami? Kami adalah geng tongkat naga ! Kalau kau bersikeras menahan kami membawa gadis itu, baiklah siap-siap saja ibu mu yang akan menanggung semua!".Mata Rudi terbelalak besar itu sungguh pilihan yang sulit, satu sisi ibunya di sisi lain gadis yang di cintai. Iya Rudi menyimpan rasa pada gadis cantik itu.
" Ahh Rudi tolong aku! lepaskan kau lelaki brengsek! Rudi bantu aku". Lirih gadis itu seraya membrontak melepaskan pengangan erat pria itu, gadis itu menatap Rudi yang hanya terdiam memaku.
BRUK
Tubuh Rudi terhempas tatkala di pukul dengan kayu oleh lelaki penjahat itu. Mata Rudi menatap nanar air matanya mengalir melihat gadis malang itu di tarik masuk ke dalam mobil.
"Maafkan aku.. "
Sejak itulah gadis cantik itu bisa berada dalam gengaman para baj*ngan ini. Dirinya yang hilang seolah tidak ada yang mencari mungkin Rudi menutup mulut atas kejadian ini.
" Hei bangun! Hei bangunlah".
Gadis itu mengerjapkan mata saat seseorang menepuk-nepuk wajahnya dengan lembut, samar-samar ia melihat muka seorang lelaki.
"Hah! Apa yang kau lakukan! Menyingkir dariku! ". Gadis itu terperanjat ketika melihat seorang pria berada dekat sekali dengannya, ia melihat kesekeliling ternyata dirinya berada dalam sebuah kamar.
Pria itu yang tak lain adalah Danu tersenyum miris melihat gadis itu, iya sejak hari pertama kali ia bertemu dengan gadis itu ia tidak dapat melupakan sosok gadis itu. Ia selalu terpikir dengan gadis cantik yang sedang di hadapannya itu, berapa jam yang lalu ia menerima telepon dari para penjaga, mereka mengatakan gadis yang sempat kabur itu sakit lalu pingsan. Kebetulan Danu memang berniat menemui gadis yang terus menghantuinya, wajah gadis yang menatap penuh perasaan hari itu selalu membayangi dirinya.
"Mau apa kau! Jangan sakiti aku! Belum cukupkah kalian menyiksa ku membawa ku ke tempat yang seperti neraka ini". Gadis itu terisak, air mata kesekian kali pun lagi-lagi mengalir dari pipinya,"Kalau kalian mau! langsung saja bunuh aku! Aku tidak mau hidup seperti ini! hiks! Ku mohon habisi saja aku..". Gadis itu merintih menahan semua derita yang ia rasa selama di tempat itu.
Melihat gadis itu membuat perasaan Danu teriris-iris. Ia tak sanggup melihat air mata jatuh di pipi gadis itu,ada rasa kalut yang dalam saat melihat keadaan gadis itu. Tanpa sadar dengan cepat Danu memeluk erat gadis di hadapannya itu,gadis itu tak bergeming saat tubuhnya di dekap oleh pria jahat di depannya. Saat ini gadis itu tak perduli siapa yang sedang mendekap tubuhnya yang penuh lebam yang penting rasa hangat dari pelukan lelaki itu membuatnya tenang seakan-akan lelaki itu adalah sandaran untuknya.
"Jangan menangis lagi, jangan sedih lagi aku akan menjagamu, aku akan menjagamu".
__ADS_1
Mendengar ucapan Danu membuat gadis itu berdecak kaget, Air matanya berhenti mengalir sesak di dadanya hilang, ucapan itu mampu membuat keresahan dan deritanya sirna. Ia kemudian melepaskan pelukannya dari dekapan pria bermata sipit itu.
"Apa yang barusan kau katakan? ". Gadis itu menatap manik mata Danu seraya
mengelap lembut air mata dipipinya .
" Aku mau menjaga mu, aku akan membuatmu bahagia, maafkan aku dan semua teman-teman ku yang telah memperlakukanmu dengan bejat ". Danu memohon dengan menggenggam tangan gadis itu.
Gadis itu terdiam ia menatap manik mata Danu sedikitpun tidak terlihat keraguan di mata Danu.
Kenapa lelaki ini memperlakukan seperti ini bukankah kemarin dialah yang menyakiti aku, dialah penyebab aku di sini. Tetapi kenapa aku merasa luluh saat menatap matanya.
Gadis itu membatin. Tangannya masih di gengaman tangan lelaki di hadapannya itu. Sesaat matanya mulai berkunang-kunang lalu kemudian pingsan di pelukan Danu.
.
.
.
.
.
. Bersambung..
Maafkan saya kalau ada kesalahan kata dan typo bertebaran, saya hanyalah penulis baru yang menemukan wadah untuk hobinya.
Jangan lupa like komen dan tekan lovenya😌
__ADS_1