Blue Of Love

Blue Of Love
Risau


__ADS_3

"Rain.. Bangun sayang, hey bangun".


"Regi.. ".


Seketika Raina langsung terbangun dari tidurnya.


" Astaga,aku kira ada Regi ". Raina meraup wajahnya dengan kasar dan menepuk jidatnya, Raina pun terkekeh geli membayangkan mimpinya tadi.


Tok.. Tok..


" Raina udah bangun belum? ".


" Iya Pa udah bangun kok".


"Ayo turun sarapan ".


Raina pun bergegas bangkit dari ranjangnya dan kemudian mencuci muka dan menyikat giginya laku turun untuk sarapan.


" Papa mau kemana? Kok sudah rapi". Tanya Raina heran saat melihat Subroto yang telah rapi, sebenarnya itu hal yang biasa tetapi mengingat ini merupakan hari libur jadi Raina merasa heran.


"Papa mau rapat soal pembunuhan kakak mu, Papa takut ini ulahnya para pemabuk jalanan, sebaiknya kau habiskan sarapan mu". Ujar Broto seraya mencium kening Raina.


"Iya Pa ".


Papa kok sepertinya merahasiakan sesuatu dari Raina.


" Hati - hati ya Pa.. ".


Subroto tersenyum lalu berangkat. Raina kemudian melanjutkan sarapan pagi nya. Seusai sarapan Raina membereskan kembali piringnya. Ia pun mencuci piring kemudian mencuci pakaian serta menjemurkanya lalu kemudian ke atas kamarnya untuk mandi. Sebenarnya jika Subroto tahu Raina mengerjakan pekerjaan rumah yang berat Subroto akan memarahi Raina karena semua bisa di kerjakan olehnya dan untuk pakaian bisa ia loundrykan. Tetapi sebagai wanita Raina tidak keberatan membereskan pekerjaan rumah.


Setelah menunaikan ritual mandinya Raina duduk di atas kasurnya kemudian membaluri kaki, tangannya dengan conditioner untuk merawat kulitnya supaya tetap lembab.


"Permisi.. ".


"Permisi..!!".


Raina mendengar seseorang berteriak memanggil namanya, kemudian Raina turun dengan cepat.


" Weni".


"Ya tuhan, kau lama sekali membuka pintunya! ".


" Lagian kau tidak menekan bel saja, dan juga kau tidak meneriaki namaku! Biasanya kau tidak seperti tadi ". Ujar Raina saat melihat Weni sahabatnya datang kerumahnya.


" Kau mau menyuruh ku masuk? Atau mau ceramah seperti itu terus menerus?! ". Grutu Weni pada Raina. Raina tersenyum lalu menyilakan Weni masuk, merekapun saling berpelukan seperti biasa.

__ADS_1


" Kau terlihat makin cantik saja". Puji Weni pada Raina yang tengah merawat tubuhnya.


"Yaiyalah tidak seperti mu! Sangat cuek dengan penampilan ". Ledek Raina pada Weni yang hanya memakai kaos oblong pendek berwarna hitam.


" Natural itu cantik tahu! ".


" Halah bilang aja kalau kau tidak tahu cara mempercantik diri! ".


" Ck sialan kau ini huh". Weni mengerucutkan bihirnya.


"Eh aduh ngambek dih haha, Wen jalan keluar yok". Pinta Raina pada Weni yang sibuk dengan ponselnya.


"Wen... Ayo ajak aku keluar ". Raina mengoyang-goyangkan tubuh sahabatnya itu.


" Heh kau katanya cantik, tapi kok merengek minta jalan sama aku". Ketus Weni, membuat Raina langsung duduk menjauh darinya, "Cie dianya ngambek hahaha, Yaudah ayok".


Seketika wajah muka Raina terkesiap saat Weni mengiyakan ajakanya.


"Wait, aku mau ganti baju dulu ". Raina melangkah ke lemari pakaiannya.


" Ya ampun, kau ini barusan pakek baju itu sekarang mau ganti lagi ". Weni menggelengkan kepalanya saat melihat Raina mengganti pakaian yang baru saja ia kenakan.


" Sudah bawel! Ayo kita jalan".


"Nona mau kemana? ". Tanya anggota polisi yang menjaga Raina. Seketika Raina menepuk jidatnya ia melupakan para penjaga itu.


"Biar kami ikut untuk menjaga nona".


"Ahhh tidak usah pak, bapak sekalian tidak usah khawatir aku ini atlet beladiri taekwondo jadi Raina bakal aman jalan sama saya, lagian kita berdua cuma mau ke rumah teman kita kok pak dekat banget ". Ucap Weni membantu Raina supaya mendapat izin pergi tanpa para pengawal itu. Walaupun ia sebenarnya berbohong bisa beladiri.


" Please pak ". Raina memohon dengan mata bebinar-binar.


" Baiklah nona, hati-hati, dan jangan pulang sore ya nona, biar nanti saya menghubungi Kombes Broto".


"Ehhh..aku udah minta izin kok Pak jadi tak perlu repot-repot menghubungi Papa ku".


Para pengawal itupun dapat di kelabui oleh Raina dan Weni, mereka pun di izinkan.


Kedua gadis itupun keluar rumah untuk sekedar jalan-jalan santai, mereka biasanya menghabiskan waktu bersama dengan menonton film di bioskop, shopping, maupun hanya sekedar makan di luar saja.


"Kau sudah seperti anak presiden saja, pakai pengawasan segala hahah". Weni menggoda Raina yang sedang membuka bungkus permen.


"Ck,kau tidak tahu betapa malunya aku".


"Hey itu semua karena Om Broto ingin kau terus dalam pengawasan dan tidak kenapa- kenapa ".

__ADS_1


" Hemm jadi ingat kak Roby, aku rindu dirinya Wen". Lirih Raina saat teringat sosok kakaknya.


"Jangan sedih ah, aku jadi ikutan sedih nih, mending kita happy-happy aja hari ini oke? ". Hibur Weni saat melihat Raina murung.


" Baiklah.. ".


" Ayoo dong semangat! Jangan kusam gitu mukanya, udah kayak jemuran kering kusut gitu hahah".


Raina pun terkekeh saat Weni menghiburnya. Sahabat memang sangat di butuhkan saat situasi seperti ini. Sejenak Raina pun dapat melupakan Kenangannya terhadap sang kakak.


Raina jangan bersedih ya, aku ikut sedih kalau melihat mu seperti tadi, aku akan selalu menjadi teman berbagi mu, kau gadis yang kuat. Aku berharap kau segera melupakan derita mu dan segera bahagia sahabat ku.


Lirih Weni di dalam hatinya, kemudian diapun fokus kembali untuk menyetir.


**


"Selamat pagi rekan-rekan semua, hari ini saya mengumpulkan beberapa dari kalian untuk memecahkan kasus pembunuhan Roby anak dari Kombes Broto. Sudah kita ketahui semua kejadian ini, jadi adapun di antara kalian memiliki gagasan atau pendapat mengenai kasus ini saya harapkan kalian segera memberitahu saya. Supaya kita bisa memecahkan kasus lebih cepat".


"Inspektur, apakah kasus pembunuhan ini ada keterkaitannya dengan kasus gembong narkoba 20 tahun lalu ". Tanya seorang.


DEG!


Seketika saja, dada Kombes Broto dan Inspektur Bram tersentak kaget mereka berdua hanya saling menatap dan tak pernah terpikirkan oleh mereka bahwa kemungkinan kejadian tersebut di sebabkan oleh benyamin yang masih berkeliaran.


"Yah mungkin saja, tetapi kami sudah menuntaskan gembong mafia itu. bagaimana menurut mu Kombes Broto? ". Ucap Inspektur Bram saat berapa menit terdiam.


Kombes Broto masih terdiam dalam Lamunannya ia pun teringat kata-kata dari Benyamin 20 tahun lalu.


" Aku akan membalas dendam padamu, ingat itu Broto! ".


" Ahhrgg Tidakk!!!". Seketika Subroto berteriak saat terngiang perkataan Benyamin. Teriakan Kombes Broto sontak membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu terkejut.


"Kau kenapa Kombes? ".


" Maaf Inspektur, saya mau berbicara empat mata dengan anda! ". Tatap Subroto dengan penuh cemas pada Bramantyo.


" Baiklah semuanya hari ini rapat kita selesaikan. Terimakasih telah hadir di dalam rapat ini ". Ucap Inspektur Bramantyo, lalu menatap Broto dan kemudian berlalu meninggalkan Ruangan tersebut. Subroto pun mengikuti dari belakang.


.


.


.


.

__ADS_1


. Bersambung...


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa, like, komen dan tekan tombol love💕😌.


__ADS_2