
Laki-laki itu mendekati gadis yang sedang terpojok itu, perlahan-lahan ia melangkah. Terdengar deruh nafas si gadis yang kempas-kempis berhembus hingga lelaki itu dapat merasakan wangi nafas gadis cantik itu.
"Tolong jangan sakiti saya, ku mohon lepaskan saya". Lirih gadis itu, dengan masih menahan menutupi dadanya. Ia takut dua lelaki di belakang pria ini akan menyentuh dirinya.
"Tenang ini tidak akan sakit kok, rasanya seperti di gigit semut". Ucap laki-laki yang sedang di hadapan gadis itu, jarak matanya dan mata gadis itu teramat sangat dekat. Lelaki itu mengeluarkan senjata apinya dan meletakkan ujung mulut senjata itu ke kening gadis itu hingga gadis itu gemetar menutup mata.
Aku tidak boleh mati! Aku tidak boleh mati ! Aku tidak boleh mati!.
Begitulah terus hingga berulang-ulang gadis itu membatin, ia sangat tidak ingin mati sia-sia di tangan para lelaki jahat itu. Matanya memejam menahan takut ia tidak berani untuk menatap ajalnya.
DOR!
Darah menyucur deras mengalir dari kepala pria yang sedang membidikkan pistol. Pria itu pun tersungkur di kaki gadis yang masih memejamkan matanya. Ben berhasil membunuh pria itu.
Aku tidak mati?..
DOR!
DOR!
Suara tembakan menyusul dua kali berbunyi, dua tubuh pria itu terjatuh, mereka tak sempat menarik pelatuknya tatkala Ben lebih cepat melepas pelurunya. Gadis itu tak berani membuka matanya tubuhnya menjadi lemas hingga ia sempoyongan mau terjatuh, dengan cepat Broto yang baru tiba ke lokasi setelah mendengar letusan tembakan tadi sontak reflek Berlari mendahului Ben yang juga hendak menangkap tubuh gadis itu, Ben pun menatap Broto yang berlari melintasinya. Gadis itu pun jatuh di pelukan Broto.
"Ss..".Gadis itu berusaha berucap, samar-samar ia melihat wajah Broto lalu kemudian ia benar-benar pingsan.
"Oh gosh, dia pingsan lagi.. Ben ayolah bantu aku, apa yang harus kita lakukan pada gadis ini". Seru Broto saat tubuh gadis itu pingsan di pangkuannya, ia bingung harus berbuat apa.
"Kau tahan saja dulu, tunggu dia sampai sadar!". Ujar Ben seraya tersenyum melihat Broto yang kebingungan.
"Aku bisa penat kalau dia terlalu lama pingsan!". Broto menatap gadis yang sedang ia pangku itu, gadis itu nampak manis kulitnya putih dan bersih dengan rambut terurai dan mata tertutup bak seorang putri tidur, tergurat senyum di bibir Broto, "Cantik sekali". Gumam Broto dengan suara berbisik kecil .
__ADS_1
"Apa? Apa aku tadi tidak salah dengar?, kau bilang apa tadi? Cantik? Iyakan! Pfft hahah". Ben tertawa terbahak-bahak ketika mendengar gumaman Broto ia tak sengaja mendengar perkataan itu hingga membuat Broto terdiam dengan muka dungu menatap wajah Ben yang asik menertawakanya.
"Heh apa yang lucu! Sialan kau salah dengar, aku tidak bicara seperti itu! ".
Elak Broto yang makin membuat Ben menertawakanya, ingin sekali ia menyumpal mulut Ben dengan daun yang berguguran di dekatnya," Eh sialan berentilah tertawa cepat kau pangku gadis ini, aku sudah penat".
"Ah biar kau saja yang memangkunya, kapan lagi kau bisa bersama perempuan apa lagi dengan posisi seperti itu ". Ben menggoda Broto terdengar cekikikan kecil darinya.
" Heh buruan! Lagi pula aku mau mengambil mobil, apa kau yang mau mengambil mobil kita! ".
"Kau saja yang ambil mobil! itu jauh sekali!".
" Ya sudah sini kau pangku gadis ini ". Broto meminta Ben. Kemudian Ben duduk, lalu Broto mengangkat kepala gadis itu dari pangkuannya ke pangkuan Ben.
"Kau cepatlah! Jangan lama-lama".
"Iya aku tahu! Kau kan tidak kuat menahan otak mesum mu itu haha, awas kalau kau macam-macam dengan gadis ini". Broto tertawa kecil setelah menggoda Ben hingga muka Ben memerah padam,"Tunggulah aku akan segera kembali". Broto berlari meninggalkan Ben bersama gadis pingsan itu.
"Cantik benar-benar cantik, hei gadis cantik siapakah namamu, kenapa kau bisa berada dalam bahaya seperti ini, untung aku segera datang menolong mu kalau tidak kau sudah celaka". Ben berbicara sendiri ke arah gadis itu, tiba-tiba saja tubuh gadis itu bergerak perlahan matanya mulai berusaha membuka, dengan cepat Ben menjauhkan kepalanya yang mendekat ke muka gadis itu.
Perlahan-lahan gadis itu mulai membuka mata, berapa kali gadis itu mengerjapkan mata untuk mendapat fokus penglihatanya, terlihat bayangan pria di matanya, "Apakah aku di surga? Kenapa ada bayangan lelaki atau ini adalah malaikat?". Ucap gadis itu seraya memegang pipi Ben yang membuat jantung Ben terasa mau lepas dari tubuhnya. Setelah wajah samar pria itu mulai terlihat mata gadis itu membelalak besar.
"Ahhhh, kau lelaki sungguhan!Se-siapa kau?". Gadis itu berteriak dan menjauh dari pangkuan Ben. Ia merasa malu dan bodoh karena telah menganggap dirinya di surga dan pria di hadapanya itu adalah malaikat. Mukanya menjadi merah merona,"Kau siapa! Kenapa kau memeluk ku!aku dimana ini ?". Tanya gadis itu dengan ketus.
Ben yang hanya menatap dengan tatapan bingung melihat tingkah sang gadis,bukan kah tadi ia pingsan hingga memaksakan dirinya menggantikan Broto yang pergi untuk memangkunya, apa dia mengalami Disleksia? lupa secara tiba-tiba kejadian yang di alami!.
"Apa kau memang pelupa? Ah maksud ku kau tidak ingat sama sekali kejadian tadi? ". Tanya Ben kepada gadis itu, kemudian gadis itu menutup matanya dan setelah beberapa detik ia membuka kembali matanya. Mata coklat gadis itu terlihat indah saat terbuka lebar.
" Oh Tuhan, aku baru ingat kejadian tadi, ya ampun". Gadis itu menepuk jidatnya, kemudian ia menatap Ben lalu ia tersenyum dengan manisnya, "Maafkan saya, saya cuma kaget karena saya tiba-tiba berada di pelukan mu". Gadis itu menjelaskan ia terlihat manis dengan senyuman itu.
__ADS_1
"Ah tidak apa-apa kau santai saja". Ben menyungingkan senyuman, dadanya sedikit berdegup saat melihat senyuman manis dari gadis cantik di depannya itu.
"Emmm siapa namamu? ". Tanya gadis itu dengan sedikit malu.
" Namaku Ben, Benyamin orang-orang biasa memanggil Ben". Kembali Ben melempar senyum hangatnya. "Lalu siapa nama nona?".
"Oh perkenalkan namaku Amira ". Gadis itu mengulurkan tangannya, kemudian Ben menyambut tangannya.
" Nama yang bagus sama seperti orangnya ".
Mendengar itu membuat gadis bernama Amira itu menjadi tersipu malu, dirinya yang seperti itu makin membuat Ben yang menatapnya jadi terpana.
" Mmm tuan? Maksudku Ben kapan kita bisa pulang? ".
" Ah tunggu teman ku belum datang,dia sedang mengambil mobil yang tadi kami pakai ". Jelas Ben seraya melihat ke arah jalan yang tadi di tuju Broto, "Eh itu dia teman saya, mari nona saya bantu berdiri ". Ucap Ben saat melihat kehadiran Broto seraya membantu Amira untuk berdiri karena sepertinya masih sedikit lemas.
Broto datang dan kemudian turun dari dalam mobil. Broto menatap gadis yang di tolong tadi telah sadar ia melempar senyum tipis ke arah Amira Ia terlihat sangat gagah dengan wajah yang serius itu.
.
.
.
.
. Bersambung..
Maafkan saya kalau ada kesalahan kata dan typo bertebaran, saya hanyalah penulis baru yang menemukan wadah untuk hobinya.
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan subrek (love) 😌