Blue Of Love

Blue Of Love
My poor brother ll


__ADS_3

Roby melajukan motornya dengan perlahan, hanya sedikit mobil maupun motor lalu lalang karena memang hari sudah larut malam di tambah jalanan yang di tempuh memang kawasan yang sepi, bisa di bilang jalan alternatif. Roby berhenti ke sebuah minimarket untuk sekedar membeli minuman dingin untuk menyegarkan tenggorokannya yang haus.


"Lima ribu rupiah mas". Ujar kasir minimarket sembari membungkus minuman Roby.


"Ini,tidak perlu di bungkus". Roby membayar minuman itu dan beranjak keluar dari minimarket tersebut.


BUGH!


Tubuh Roby tersenggol oleh seorang pria.


"Sorry Bro". Pria itu meminta maaf dengan santai.


Roby hanya mengacungkan jari jempolnya pertanda dia tidak apa-apa dan berlalu pergi.


Di luar minimarket Roby berniat untuk duduk di kursi yang di sediakan minimarket itu untuk pengunjung. Roby membuka minuman yang telah ia beli di teguknya beberapa kali minuman dingin bervarian rasa capucino itu.


Ia teringat kembali perkataan Bartender di Bar tadi.


Apakah aku harus berdamai, dan mengalah akan mimpi ku,Papa tidak akan mendengarkanku bukan?.


Roby membatin memikirkan kemungkinan yang akan terjadi. "Ah bodoh kenapa aku berpikir dangkal seperti ini". Roby bergumam kecil dengan di selangi tegukan minumannya.


"Permisi? ". Tanya pria berbaju coklat pada Roby yang tengah duduk di kursi, " Apa kau punya korek api? ".


" Ada ini.." Roby mengulurkan korek miliknya.


~


"Kenapa kau Ric?". Tanya seorang temannya kepada Rico yang terlihat risih dan tampak memikirkan sesuatu.


"Emm ". Rico hanya berdehem dan buru-buru mengambil ponsel di sakunya, "Oh Sial!". Rico berdecak kesal, "Pria yang ku senggol tadi adalah target kita Roby! ".Teriaknya pada temannya. Mereka berdua langsung lari dengan terburu-buru


"Dia masih duduk di luar ".


" WOY ITU TARGET KITA! ROBY! ". Teriak Rico dengan berlari.


~


Roby menyadari ada yang tidak beres di dalam minimarket itu, seorang pria beteriak kasar menargetkan dirinya.


Roby saling tatap dengan Pria di depannya. Yang hendak meminjam korek api padanya, dengan sigap pria itu mencoba meraih tangan Roby. Pria itu ternyata juga teman dari orang aneh yang meneriakinya dari dalam minimarket, dengan cepat Roby menarik kembali tangannya dan di lemparnya korek itu ke kepala pria itu hingga meringgis kesakitan.


"Sialan! ". Ketus Roby.


Rico yang telah keluar dari minimarket langsung mencoba menangkap Roby yang hendak menuju motornya. Bruk Roby terpental kebelakang karena tarikan Rico. Roby perlahan mundur dari Rico yang menyeringai kepadanya.


BUGH!


Salah satu komplotan Rico menendang Roby.Nampak Rico menggepalkan tangannya untuk meninju ke arah Roby yang terlentang tetapi dengan cepat Roby menendang Rico hingga terpundur kebelakang,segera Roby meraih kursi dan melemparnya ke arah Rico hingga membuat Rico hilang fokus,sedangkan beberapa pria lain yang mencoba menangkap Roby hendak melanyangkan tinju namun Roby dengan tangkas meraih meja di depan minimarket itu dan mendorongkan ke arah para pria tersebut hingga mereka terpojok ke dinding kaca minimarket. Roby berlari mencoba menaiki motornya lagi-lagi Rico menariknya.

__ADS_1


BUGH!


BUGH!


BUGH!


Rico menghujani tinju kepada Roby tepat di perut, Rico tampak emosi dengan Roby yang berusaha melarikan diri.


"He-hentikan". Ucap Roby memelas.


Mendengar Roby memohon segera Rico menarik kerah baju Roby yang membuat Roby sedikit terangkat. Dengan keadaan terpojok membuat Roby mengehentakan kepalanya ke kepala Rico hingga Roby terhempas ketanah dengan tergesa-gesa Roby bangkit dan mendorong Rico.


BUGH!


Roby menginjak perut Rico.


"Sialan kau mau lari kemana!". Teriak Rico


Teman Rico tampak menarik tangan Roby yang berusaha kabur tapi gagal setelah Roby menendang kenjantananya.


Kreess!


"AAAAAARRRRGGGGHHHHH ". Pekik pria itu kesakitan setelah tendangan mendarat di sesuatu yang paling berharga baginya.


Roby berbalik dan hendak kabur namun...


Kepala Roby di hantam benda tumpul dengan kuat, penglihatan Roby seakan menggelap, matanya berkunang-kunang. Terdengar cekikikan tawa jahat dari seseorang yang tak lain adalah Rico dengan menggenggam balok besi yang ia dapat di samping minimarket.


Kau tak boleh menyerah Roby! Ayo bangkit!


BUGH!


Roby menendang muka Rico yang berusaha meraih dirinya. Dengan sisa kekuatannya Roby menangkap Rico dan melempar tubuh Rico ke arah 3 orang temanya yang berusaha mengejar Roby.


BRAK!


Terhempaslah ke-empat lelaki itu ke tanah. Roby Mengambil Besi itu dan memukulkan ke arah satu pria yang mencoba menyerangnya dari arah samping. Darah menyucur dari kepala lelaki itu. Perlahan Roby melangkah dengan cepat menaiki motornya. Roby mengerlingkan matanya beberapa kali untuk memastikan fokusnya ia memegang kepalanya diraba-rabanya kepalanya sesuatu mengalir dari kepalanya,cairan merah kental menyucur deras. Roby sedikit terisak menahan perih dan sakitnya, segera ia memasangkan helm kekepalanya yang terluka. Terlihat Rico dan yang lainnya berusaha bangkit dan mengejarnya,dengan cepat dan gemetar Roby menyalakan motor sportnya tampak Rico mengarahkan Pistol ke arahnya.


Brummm...


"Sialan, Ayo kejar keparat itu!".Rico berteriak dan menendangi teman-temanya yang perlahan bangkit, dengan berlari cepat mereka menaiki mobil dan mengejar Roby.


**


Tok.tok.tok...


"Raina ini Papa nak, buka pintunya".


Berkali-kali Broto mengetuk pintu sang anak yang sejak tadi mengurung dirinya di kamar.

__ADS_1


"Sayang buka dong pintuya,biarin Papa bicara ". Bujuk Broto.


" Paa.. Rain mau sendiri dulu". Pinta Raina dengan suara lesunya.


"Ayolah Rain, buka pintunya maafin Papa ". Lirih Broto.


Raina pun membukakan pintu kamarnya. Terlihat matanya sembab karena dari tadi menangis. Broto terkejut melihat muka sang puteri matanya menatap nanar.


" Ya Tuhan Rain, Sayang maafin Papa ". Sesal Broto ia pun memeluk anaknya itu.


Raina kembali terisak di pelukan sang Papa, Broto mengencangkan pelukannya matanya sedikit berlinang-linang menahan turunnya air mata.


" Kita duduk di sana ya". Broto merangkul Raina di pelukanya ke arah kasur kamar Raina.


"Papa minta maaf ya sayang, Papa jahat sama kakak mu". Ujar Broto Lirih sembari menghapus air mata sang puteri.


"Papa jangan bertengkar lagi dengan kakak, Rain sedih Pa , kalian berseteru terus. Tidak bisa kah kalian saling menyayangi kayak dulu Pa? ". Rintih Raina, dia menunduk dengan isakanya.


" Iya sayang maafin Papa ". Broto mengangkat dagu sang anak dan mencium kening puterinya itu.


" Maafin Papa ya". Sembari mengelus puncak kepala Raina. Yang di balas anggukan Raina.


"Pa kak Roby, Rain takut kalau kakak tidak pulang kerumah. Rain takut terjadi sesuatu sama kak Roby Pa ! ". Ucap Raina seraya memeluk sang Papa.


" Tenang sayang kak Roby pasti pulang,biasanya kakak mu juga akan pulang kalau habis menenangkan diri". Jelas Broto, "Maafin Papa ya sayang. Gara-gara Papa Roby jadi pergi, nanti Papa telepon kakak mu ya".Broto kembali memenangkan perasaan gundah Raina.


" Pa.. "


" Iya sayang, kenapa? ".


" Pa kakak pasti pasti pulang kan? Kakak gak akan pergi jauh kan?". Tanya Raina gelisah memikirkan kakaknya.


"Iya, kakak mu nggak akan pergi jauh,Papa janji nanti setelah kak Roby pulang Papa akan minta maaf dan Papa akan mengizinkan Roby kembali bermain musik lagi. Papa sadar selama ini Papa selalu mengekangnya, dia sudah besar dia sudah bisa memilih jalannya sendiri, jagoan kecil Papa udah besar seharusnya Papa mendukung pilihannya dan bukan malah memaksakannya dengan pilihan Papa". Ujar Broto dengan lirih, manik matanya berair. Ia mengingat betapa kerasnya ia terhadap anak lelaki nya itu.


" Terimakasih Pa ".Ucap Raina seraya memeluk papanya, ia terharu dan teramat senang atas apa yang papanya ucapkan di usapnya air mata di pelipis pria paruh baya itu.


.


.


.


.


.Bersambung...


Terima kasih readers telah mampir dan membaca cerita saya, maafkan kalau ada kesalahan kata atau typo saya hanyalah penulis baru yang masih sangat kurang dalam menulis


Jangan lupa like komen dan subrek😌

__ADS_1


__ADS_2