
Pagi itu Indira pulang ke rumahnya seperti pencuri, karena dia sangat takut bertemu orangtuanya itu, mereka pasti akan menanyakan tentang keberadaan dirinya semalaman sampai tidak pulang dan tidak memberi kabar pada mereka. Dan untuk saja ibu & ayahnya suka berangkat kerja. Ayah Indira adalah seorang supir untuk turis & ibunya penjual ikan di pasar. Mereka hidup sederhana namun selalu berkecukupan.
Dua minggu telah berlalu sejak kejadian 'tidur bersama' dengan pria asing tersebut, Indira jadi mulai banyak berdiam di dalam kamarnya, padahal seharusnya dia hari ini memiliki jadwal ke kota bersama temannya untuk pendaftaran kuliah tapi dia masih malu dan belum siap jika temannya nanti bertanya macam-macam. Saat hendak mandi, tiba-tiba telpon rumahnya berdering.
"Hallo, keluarga Maheza disini..bisa dibantu?" sapa Indira spontan dan sopan.
"Hallo, saya Hans Wibowo, apa pak Mahezanya ada?" ujarnya dengan suara yang agak serak. Dan entah kenapa Indira tertarik pada suara pria ini.
"Maaf pak, ayah saya sedang bekerja saat ini.. ada keperluan apa ya, nanti begitu beliau pulang nanti saya sampaikan" jawabnya memberitahu dengan nada yang sopan.
"Begini, saya besok lusa akan pulang ke Bandung jadi apakah pak Maheza bisa datang menjemput saya di 'Crystal Hotel' Jl. Veteran no.58_Kotabaru jam 11 pagi. Oh ya, kalau bole tau saya bicara dengan siapa ya?" ujarnya lagi memberi info pada Indira dengan detail. Dan anehnya saat Hans mendengar suara gadis muda dengan suara lembut & merdu tersebut, dia merasa nyaman sekaligus penasaran serta ingin lebih mengenalnya.
__ADS_1
"Eh..ini dengan Indira pak, putrinya pak Maheza. pesan pak sudah saya catat, ada lagi pak?" serunya dengan nada datar namun sejak mendengar nama 'Crystal Hotel' disebut seketika dia punya firasat buruk tapi dia berusaha menyangkali & menganggap itu hanyalah kebetulan belaka.
"Jangan panggil pak donk, saya ini masih muda & single lho, panggil mas aja gimana?" celetuknya dengan nada santai & jenaka.
"Maaf..seperti kurang sopan kalau saya sok akrab dengan bpk, apalagi bpk adalah klien ayah saya. Berapa pun umur bpk & status bpk apa seperti tidak ada kaitannya dengan saya" serunya sedikit kesal karena ternyata orang ini genit & seorang penggoda. Namun Hans justru tertawa mendengar nada kesalnya itu.
"Relax..jangan marah donk nona manis, saya tadi hanya bercanda tapi sepertinya saya jadi suka sama kamu, gimana kalau.." ujarnya lagi masih dengan nada santai & jenaka. Namun belum selesai dia bicara, telpon diseberang sana sudah ditutup sepihak. Hans yakin gadis itu benar-benar marah saat ini.
"Dasar cowok stress, sinting...ga inget umur, awas aja kalau ketemu pasti aku hajar juga tuh orang!" makinya dengan nada dongkol pada si penelpon barusan, sangking jengkelnya Indira tadi tanpa sadar dia pun menutup telpon itu sepihak.
Ibunya pulang dari pasar saat tengah hari, sedangkan ayahnya baru tiba di rumah tepat saat waktu makan malam. Mereka bertiga makan malam dengan gembira sambil saling bercerita tentang apa yang mereka alami hari ini saat di tempat kerja mereka. Tiba-tiba saja Indira teringat dengan notes dari klien ayahnya itu, buru-buru dia mengambil notes itu lalu menyerahkan pada ayahnya.
__ADS_1
"Ayah, tadi pagi ada klien bernama 'pak Hans' menelpon minta di jemput lusa besok di ''Crystal Hotel' jam 11 pagi, beliau bilang akan balik ke Bandung" ujarnya dengan nada datar.
"Ooh..Nak Hans toh, dia itu klien tetap ayah. Dia itu masih muda, tampan & juga sopan orangnya. Hebatnya lagi dia itu GM perusahaan besar di Jakarta lho bu" ujarnya bercerita dengan nada kagum. Namun dimata Indira si Hans ini hanyalah pria 'genit & mesum', jadi dia pun malas mendengarkan ayahnya yang terus memuji nama Hans itu. Segera saja Indira pergi ke kamarnya sendiri untuk belajar untuk persiapan tes atau ujian masuk Universitas dua minggu lagi.
Dua hari kemudian ayahnya pergi menjemput kliennya 'Hans Wibowo' di ''Crystal Hotel' jam 10:30 tepat. Lalu mereka pun menuju bandara 'Gusti Syamsir Alam'. Selama perjalanan, mereka mengobrol dengan akrab & tertawa bersama kemudian tiba-tiba Hans bertanya perihal Indira anaknya itu.
"Pak..anak bpk namanya Indira ya? masih kuliah atau sudah kerja pak?" tanyanya tanpa basa-basi dan malu-malu.
"Iya nak Hans, Indira calon mahasiswa di Universitas Lambung Mangkut 'ULM' Fakultas kedokteran kalau ga salah nak, dia baru 18 tahun tahun ini" ujarnya menjelaskan dengan nada sangat bangga. "Kenapa kok nak Hans tiba-tiba nanyain anak bapak, kenal dimana?" ujarnya lagi sedikit bingung.
"Belum ketemu sih cuma ngobrol lewat telpon aja pak, wajah anak bpk pasti cantik ya?" serunya jujur sambil tersenyum kecil.
__ADS_1
"Iyo..cantik banar anak bpk, ini lho yang namanya Indira, nak Hans" ujarnya lagi senang sambil memamerkan foto keluarganya tersebut. Saat melihat wajah Indira, tiba-tiba Hans merasa seperti dejavu..seakan mereka pernah bertemu sebelumnya, tapi kapan & dimana Hans tidak bisa mengingatnya. Lalu diam-diam Hans memotret foto itu ke ponsel pribadinya.
Setelah berpamitan layaknya kerabat dekat, Hans pun berjalan menuju pintu gerbang keberangkatan.