Brave Heart

Brave Heart
Kesalah pahaman 2


__ADS_3

Sejujur Yohan menyesali sikapnya yang buruk pada Tania saat di cafe tempo hari. Namun dia tidak punya solusi untuk memperbaiki kesalahannya itu. Yohan ingat bagaimana usaha Tania yang telah bersusah-payah untuk menemuinya, hanya untuk berterima-kasih dengan tulus bahkan mereka pun sampai bersedia mengundangnya makan. Akan tetapi, saat Yohan mendengar bahwa ayahnya & wanita itu mengundangnya untuk makan malam, tiba tiba saja Yohan pun menjadi marah. Namun sayangnya Tania lha yang kena imbas kemarahannya itu. Yohan berpikir bahwa Tania pasti membencinya sekarang, dan Yohan rasa dia pantas menerimanya. Tiba-tiba Yohan rindu untuk menuangkan isi hati pada buku diary nya itu.


"Aku tanpa sengaja bertemu lagi dengan ayahku, sejujurnya aku rindu padanya namun rasa sakit yang dia torehkan di hatiku masih belum sembuh, dan sekarang aku justru menyakiti orang yang tidak berdosa. Mungkin dia membenciku saat ini dan aku layak menerimanya. Namun aku ingin diberikan kesempatan untuk meminta maaf pada gadis itu sehingga aku bisa terbebas dari rasa bersalah" tulisnya sungguh-sungguh.


"Jika waktu dapat diputar kembali, aku ingin agar ayah & ibu hidup bersama sampai tua, saling mengasihi dalam suka maupun duka. Aku masih tak percaya, ayah lebih memilih wanita itu daripada anak & istrinya yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Apakah kami bukan yang terpenting dalam hatinya? Tapi kenapa sekarang dia tiba-tiba mengakui ku sebagai anaknya di depan orang lain? Apakah karena rasa bersalah, ataukah sebenarnya ayah masih perduli & mencintai kami sama seperti dulu?. Sejujurnya aku sangat senang mendengar bahwa aku diakui olehnya. Namun aku tidak bole egois, rasa sakit hati yang ibu derita akibat dihianati oleh orang yang paling dicintainya itu pasti lebih besar dari sakitku sendiri. Tapi jika aku bole sedikit berharap, aku ingin memiliki waktu yang tepat untuk berbicara dari hati ke hati tentang alasan ayah menceraikan ibu, disaat kami terlilit hutang karena kebiasaan buruknya Itu.


Yohan sempat menyalahkan & membenci ayahnya kala itu, yang tidak bertanggung-jawab & membuat hidup mereka bertiga menderita selama 5 tahun ini.


Seperti janji Tania, dia mulai melancarkan misi untuk mendekati Yohan & jika beruntung dia ingin bisa berteman dengannya. Dengan alasan menemui Dion, dia selalu datang berkunjung ke Fakultas Kedokteran tersebut sambil membawa 3 bekal dari rumah, untuk Dion, Yohan & untuk dirinya selama 2 minggu berturut- turut. Sejak awal Tania meminta Dion agar mereka hanya meluangkan waktu makan siang bersamanya saja tanpa teman seganknya itu. Dion yang masih memiliki perasaan pada Tania, sempat mengira bahwa sepupunya itu mulai membuka diri serta berusaha untuk mendekatinya. Sehingga dia pun kesempatan untuk bermanja-manja pada Tania. Sedangkan Yohan sering menghindar jika Tania berada dekat denganya, semakin menjauh Tania justru semakin mendekat, Yohan sampai risih dibuatnya. Dion yang merasa sangat heran dengan perubahan Tania yang bisa dekat dengan Yohan tanpa memicu 'phobia akut'nya itu. Bahkan dia bisa bercanda & tertawa lepas bersama Yohan.


"Bro, menurutmu Tania agak berbeda gak sih? "serunya penasaran pada Yohan.


"Berbeda gimana maksudmu? kalau aku lihat, dia hanya coba membuka diri & belajar untuk beradaptasi dengan orang lain saja" ujarnya berkomentar lirih.


"Nah, itu dia..Tania itu punya trauma 'pada laki-laki' tapi anehnya dia fine-fine aja dekat sama kamu Yo" ujarnya bingung.


"Ya mungkin karena ada kamu didekatnya kali, jadi dia merasa aman"ujarnya lirih.

__ADS_1


"Iya kali ya...apa jangan-jangan dia lagi 'pdkt' ke aku ya Yo?"ujarnya menebak.


"Maybe...ya kamu tanya aja ke Tania, beres kan?" ujarnya memberi saran.


"Terus kalau kamu sendiri, apa pendapatmu tentang Tania?"ucapnya ingin tahu.


" Hmmm...emangnya kalau aku bilang ga suka dekat-dekat si Tania, percaya gak?" ucapnya blak-blakkan. Tepat saat Yohan membicarakan Tania, dia sedang berada dibelakang mereka. Spontan Tania pun bertanya pada Yohan, "Apa salahku Yohan, kenapa kamu begitu benci padaku? kamu..kamu egois!!" ujarnya marah lalu berbalik meninggalkan tempat itu. Saat Dion hendak mengejarnya, namun kali ini Yohan menahannya. Dia lalu berlari sangat cepat menyusul Tania, ternyata dia berlari menuju ke 'rooftop' gedung olahraga.


"Tan...Tania... tunggu aku Tan, dengarkan penjelasanku dulu ok" teriaknya lantang sambil terus berlari mengejarnya, tiba-tiba Tania berhenti berlari & membalikkan badan, Yohan yang berlari kencang tidak sempat mengontrolnya hingga tabrakan pun terjadi, mereka pun terjatuh bersamaan lalu dengan sigap Yohan mengulurkan tangannya dan menarik tubuh Tania. Tiba-tiba terdengar bunyi 'Cup', tanpa sengaja bibir mereka bertabrakan. Muka Tania & Yohan pun memerah, tapi seketika Tania pun pingsan tepat diatas tubuh Yohan. Hampir 10 menit Yohan dengan sabar menunggu Tania sadarkan diri di 'rooftop' tersebut. Dan ketika mulai sadar sepenuhnya & membuka matanya perlahan-lahan, dia melihat wajah Yohan yang tampan tampak bersinar terkena sinar matahari. Yohan pun melihat kearah Tania, seketika wajah mereka pun kembali bersemu merah. Tania yang sadar masih tidur dipangkuan Yohan, segera duduk agak jauh.


"Maaf..." ujarnya mereka berdua bersamaan. Lalu mereka pun tertawa pelan.


"Aauww...sakit, pelan dikit donk" jeritnya pelan sambil merintih kesakitan.


"Sorry...sini dekat sedikit donk..tenang aku gak gigit kok" ujarnya bercanda sehingga Tania pun tertawa lirih karenanya. Namun saat melihat bibir Tania itu, tiba-tiba saja konsentrasi Yohan pun buyar, dia menelan ludah dengan susah payah & tangannya pun jadi berkeringat.


"Woi...Yo..Yohan... kenapa Yo, kesambet lo!" serunya nyaring sambil menjentikkan jarinya.

__ADS_1


"Hah..apa...Ooo, gak aku tadi teringat sesuatu" ujarnya berkilah lalu duduk menjauh.


"Tania maafkan aku, soal ucapan yang kamu dengar di kantin tadi. Aku punya alasanku sendiri, jadi bukan seperti dugaanmu. Jujur awalnya aku merasa risih & sedikit terganggu, tapi sekalipun aku tidak pernah membencimu aku hanya alergi & phobia pada itu..."ujarnya menjelaskan kesalah pahaman di kantin kemudian dia menunjuk beberapa helai bulu binatang yang tertinggal di bajunya itu. Tania pun menarik bulu-bulu halus milik kucing anggora kesayangannya itu, lalu menatap Yohan dengan heran.


" Hah...bulu ini..wait, jangan bilang kamu itu 'phobia kucing' Yo!!"serunya kaget & tak percaya namun saat melihat Yohan menganggukkan kepala. Akhirnya Tania pun menutup mulutnya untuk menahan tawanya agar tidak sampai keluar.


"Emang lucu ya? aku memang phobia, karena waktu kecil aku pernah digigit & dicakar ama kucing tetanggaku, nih bekasnya masih ada kalau gak percaya"ujarnya menjelaskan. Tanpa sadar Tania pun langsung menyentuh bekas luka Yohan tersebut.


"Masih sakit gak Yo? kasihan kamu"ujarnya merasa iba.


"Hah..ya gak lah, kan sudah lama sembuh" ujarnya lirih sambil menahan geli.


"Ooo...syukur lha..."ujarnya lega. 'Sepertinya aku gak bisa pelihara kucing lagi nih, kalau gak bisa-bisa Yohan gak mau bertemu aku lagi batinnya.


"Tania...kok diem sih, lagi mikirin apaan?" serunya bingung.


"Hah, apa...ga aku gak lg mikir apa-apa kok"ucapnya berkilah.

__ADS_1


"Tan..Tania.. aku minta maaf ya atas kelakuan ku yang menyebalkan di cafe tempo hari" ucapnya tulus & sungguh-sungguh. Tania pun mengangguk sambil tersenyum sebagai jawabannya. Akhirnya kesalah pahaman antara Tania & Yohan.


__ADS_2