
Malam harinya, Hans akhirnya berhasil membujuk Windy agar tidak ikut serta ke Bogor bersamanya. Windy yang sejujurnya merasa sedih karena Hans ternyata masih menyimpan rasa cinta terhadap Indira walaupun mereka sudah lama berpisah dari keluarganya itu.
Hans pun mengendarai mobil mercedes hitamnya dengan hati bahagia, dia membawa banyak sekali buah tangan yang telah lama dia beli namun tidak pernah bisa diberikan.
Hari itu cuaca cerah, jalanan menuju Bogor juga lancar sehingga Hans pun tiba di rumah keluarganya tepat saat mereka sedang makan malam bersama.
'Ting...tong...ting...tong'
Kemudian Tania pun segera membuka pintu depan, melihat Hans ada di depan pintu Tania pun segera melompat ke dalam pelukannya dengan hati gembira. Lalu Tania pun segera membawa masuk Hans beserta buah tangannya yang sangat banyak itu.
"Tante...lihat siapa yang datang?!"serunya riang. Lalu segera berjalan kearah Yohan.
Cukup lama, mereka bertiga hanya saling berpandangan dengan canggung. Melihat hal tersebut Tania pun segera berinisiatif mendorong ibu Yohan mendekat kearah Hans begitu juga sebaliknya.
"Hai...Apa kabar? Maaf, aku datang terlambat" ucapnya kikuk & sedikit malu. Lalu Hans pun menjulurkan tangan untuk bersalaman.
__ADS_1
"Tante Indira..kalau gak mau salaman, peluk aja bole kok...Pa, papa aja gih yang peluk tante"godanya jahil lalu dengan sengaja mendorong tubuh Hans hingga akhirnya mereka berdua berpelukan sesaat.
"Maafkan aku Indira...Aku sudah jadi suami yang jahat & tidak bertanggung-jawab selama ini bagimu juga anak-anak kita"ucapnya lirih & sarat akan penyesalan yang mendalam.
"Aku...aku...sudah memaafkanmu mas, semua sudah menjadi masa lalu bagiku" ucapnya tulus sambil menitikkan air mata bahagia. Kemudian Hans pun mengusap air matanya itu dengan lembut.
"Terima kasih Indira...hatimu sangat mulia dari dulu, itulah yang membuat aku jatuh hati padamu...kamu tau?!"ucapnya jujur & tulus.
"Apaan sih mas...malu ah, dilihat ama anak-anak"ujarnya lirih & sedikit tersipu lalu segera mendorong tubuh Hans menjauh.
Sekarang Hans menatap mata Yohan dengan tatapan sedih serta kerinduan yang begitu mendalam. Tania pun lagi-lagi menyenggol lengan Yohan lalu dengan cepat mendorong tubuhnya hingga menabrak tubuh Hans cukup keras, dengan segera Hans pun memeluk erat tubuh jangkung putranya itu sambil menepuk pundaknya. Seketika Hans & Yohan pun sama-sama menangis melepas rindu yang mendera. Baik Indira & juga Tania sampai ikut menangis terharu karenanya.
"Welcome home dad...i glad you back" ucapnya tulus.
"Thank you my son...I'm home now"ucapnya lirih & gembira.
__ADS_1
"Baiklah...Saatnya makan, ntar keburu dingin" ucap Indira spontan.
"Asyik...aku kangen masakan tante lho..laper..laper.."serunya antusias. Mereka semua pun tertawa melihat tingkah konyol Tania tersebut.
Mereka pun makan dengan sangat lahap sambil sesekali bercanda-ria. Setelah selesai makan, Hans pun segera menengok Virna putrinya di dalam kamarnya itu. Saat Hans masuk, Virna juga sedang membuka matanya lalu saat melihat sosok ayahnya itu, Virna pun sampai mengerjapkan matanya tak percaya.
"Hai...my princess...gimana kabarmu, sweety? "ucapnya lirih & lembut sambil membelai rambut Virna dengan sayang.
"Ayah...beneran ini ayah?! Virna gak lagi bermimpi khan?!"serunya girang. Saat merasakan cubitan lembut dipipinya itu, Virna sadar bahwa ayah beneran datang menjenguknya saat ini.
"My princess...kamu buat ayah khawatir setengah mati, tau gak?! Jangan sakit-sakit dong sweety, badan mu jadi kurus begini kan!!
Siapa yang sudah buat putri ayah bersedih, huh?! Biar ayah hajar nanti orang itu, ok!!" ucapnya tanpa henti karena khawatir.
Namun Virna yang ditanya justru malah menangis tersedu-sedu padahal matanya masih bengkak & merah akibat menangis terlalu lama kemarin. Hans pun hanya bisa memeluk & mengusap rambut Virna sampai tangisan putrinya itu berhenti sendiri.
__ADS_1
Hati Hans sangat sakit bagai teriris melihat Virna jadi seperti sekarang ini; kurus, lemah & penuh air mata. Dalam hati Hans yakin bahwa ini pasti ada kaitannya dengan seorang cowok, pasti putrinya itu sedang patah hati.