
Lanjutan..
Bu Narti, ayah & ibu bergadang semalaman untuk menjaga Indira agar panas tidak bertambah tinggi karena kalau panas tubuhnya mencapai 40°C lebih maka bisa-bisa mengalami kejang. Untunglah bu Narti punya obat herbal untuk penurun panas dan tubuh Indira merespon obat itu dengan baik. Tak henti-hentinya mereka bergantian mengganti air kompres hingga jatuh tertidur.
Keesokan paginya, Indira bangun & membuka mata ketika dia melihat ke sekeliling ruangan, dia yakin bahwa ini adalah rumah bidan persalinan karena banyak pernak-penik bayi disana. Tenggorokannya terasa kering & sakit sekali, lalu dia merasakan tangannya itu dipegang erat oleh ayah & ibunya saat dia berusaha menggerakkan jari tangannya sedikit saja, spontan ayah & ibunya pun terbangun. Melihat Indira yang sudah sadar ibunya segera memeluknya sambil menangis.
"Ibu aku haus..badanku sakit semua bu" ujarnya lirih. Ayah pun segera memberi anaknya minum air hangat dan Indira minum dengan perlahan.
Seminggu telah berlalu, Indira sudah sembuh total dan dia mulai sibuk untuk mengurusi pendaftaran kuliahnya yang sebentar lagi akan dimulai. Indira masih sering mengalami mual-mual dan nafsu makannya berkurang karenanya, namun agar ibunya tidak curiga dia sering bersikap baik baik saja. Kandungannya telah 2 bulan sekarang, agar dia menutupi perubahan fisiknya, dia memakai stagen namun sepandai-pandainya bangkai ditutupi pada akhirnya tercium juga.
Ibunya menemukan bahwa perilaku anaknya sedikit berubah begitu juga bentuk tubuhnya yang berbeda terutama di area dada, pinggul, pantat namun sering dia sangkal, dia anggap Indira hanya bertambah gemuk saja. Hingga suatu siang ketika ibunya pulang, dia pun mengambil beberapa pakaian kotor dari kamar anaknya lalu disana dia menemukan sebuah stagen, mengikuti instingnya ibunya pun mencari-cari benda apa saja yang tidak lazim lainnya. Hasilnya ibu Indira menemukan kondom, bungkus tes pack, pakaian dalam dengan size berbeda dari size yang biasa Indira pakai, dan kalendar mens anaknya itu.
Di tempat lain.. bandara 'Gusti Syamsir Alam'
Hans akhirnya tiba di Kotabaru lagi. Kali ini dia bertekad untuk bertemu dengan Indira untuk memastikan sendiri bahwa gadis itu baik-baik saja & sehat walafiat. Kenapa Hans mendadak terbang kesini lagi karena sebulan lamanya dia bermimpi terus tentang Indira yang sedang menangis lalu dia mendapat firasat aneh setiap kali melihat bayi atau pun anak kecil seolah-olah mereka memanggil 'ayah' dengan matanya itu. Karena itulah dia akhirnya nekat pergi & meninggalkan segala bisnis yang menjadi tanggung-jawabnya.
Setelah mencari info alamat kampus Indira lewat ponselnya itu, segera dia naik taxi menuju 'ULM' tersebut. Saat Hans tiba kebetulan sekali dia melihat Indira yang melintas di taman kampusnya. Dengan langkah cepat Hans menghampiri tempat Indira di dekat sebuah pohon besar.
__ADS_1
"Hai...kamu Indira kan, masih ingat aku ga?" sapanya spontan dengan ciri khas suara seraknya itu. Indira pun terkejut bukan main, karena entah kenapa dia langsung mengenali pria asing yang menyapanya tadi.
"Ka..kamu...cowok yang mencuri 'first kiss' & 'Segel suciku'..pria mabuk itu kan!" jeritnya histeris lalu memukul dada Hans dengan keras. Sesaat Hans hanya diam saja namun karena Indira sepertinya tidak berniat berhenti, Hans langsung menangkap kedua tangannya agar berhenti memukul dirinya.
"Sstt..relax girl...dengerkan aku dulu, bole?" ujarnya lirih & lembut, saat merasa bahwa Indira sudah tenang barulah Hans melepaskan tangan Indira. Lalu mereka duduk untuk mengobrol baik baik.
"Bole aku panggil kamu indy? or ira nih?" serunya memulai dengan lirih.
"Indy aja..kamu siapa?" sahutnya lugas.
"Haahh...pak Hans klien ayahku!" sahutnya histeris. "Aku kira anda orang paruh baya, ternyata masih muda.. jadi ayah ga bohong waktu bilang kalau anda muda dan.."sahutnya lagi lirih namun dia tidak sanggup meneruskan kalimatnya itu, wajahnya pun tersipu malu.
" Apa...kok ga dilanjutin, coba aku tebak..pasti ayahmu bilang kalau aku ini muda & tampan, betul kan?" serunya jenaka lalu tersenyum lagi. "Ohya, ga usah terlalu formal ngomongnya pake kata 'pak' atau 'anda' ok..kita cuma selisih 5 tahun doank" serunya lagi dengan nada jenaka.
"Terus kenapa kamu mencariku sampai kesini?" ujarnya heran & penasaran.
"Eh...kalau aku bilang aku kangen kamu, percaya ga?" serunya menggoda.
__ADS_1
"Gombal...mana ada, serius donk!" sahutnya mulai kesal.
"Ok..ok..aku datang kesini ingin bertanya hal penting samamu, tapi janji kamu jawab jujur ok?" ujarnya lagi dengan nada serius kali ini.
"Ok aku janji..buruan mau tanya apaan sih?" serunya penasaran. Namun Indira sepertinya tahu apa yang mau ditanyakan oleh Hans.
"Emm..emm..'segel suci' kamu kan sudah aku ambil tanpa sengaja waktu itu so apa kamu..kamu.. ha..ha..hamil dy sekarang?" ujarnya lirih dan ragu-ragu. Spontan Indira meneteskan air mata sebagai jawabannya. Hans pun spontan memeluk Indira erat-erat.
"Ya...dan aku sempat berpikir bahwa ayah bayiku ini tidak perduli & juga orang brengsek" serunya sedih & terluka.
"Maaf dy..aku memang cowok brengsek, dan aku menyesalinya..apa aku bole menebusnya dy?" ujarnya penuh penyesalan.
"Aku ingin menikahimu secepatnya sebelum anak kita lahir, apa kamu setuju?" ujarnya lagi.
"Kamu yakin..bagaimana dengan keluarga kita?" sahunya ragu & masih tak percaya.
"Hari ini kita bertemu orangtuamu minta restunya, baru setelah itu aku bawa kamu ke Bandung untuk minta restu dari orangtuaku juga" ujarnya memberi saran dengan yakin. Akhirnya sore itu mereka berdua pun naik taxi menuju rumah Indira.
__ADS_1