Brave Heart

Brave Heart
Petemuan Pertama 2


__ADS_3

Akhirnya Tania resmi menjadi mahasiswa di 'UPH' Fakultas Bisnis Management. Karena alasan phobia akut 'takut laki-laki' Tania yang belum sembuh benar sehingga dia harus rela tidak mengikuti 'ospek MaBa' tersebut. Tania hanya bisa berinteraksi & kontak fisik dengan pria yang merupakan anggota keluarga atau kerabat dekat, semisal; Hans, Peter, Dion & Lexi sepupu jauhnya itu. Sebenarnya Tania anak tunggal sekaligus yatim-piatu karena ibu kandungnya meninggal saat saat dia berusia 2,5 tahun lalu kakek 'ayah dari ibu' juga meninggal saat dia berusia 4,5 tahun, sedangkan Yamato sendiri ternyata bukan ayah kandungnya, sehingga dia tidak pernah merasakan kasih sayang saat balita, yang dia dapatkan justru siksaan demi siksaan. Sampai dia bertemu mami Windy & om Hans serta om Peter, yang sudah menyayanginya dengan tulus & melindunginya mati-matian. Sedangkan Dion & Lexy adalah keponakan mami Windy sehingga mereka pun menjadi saudara sepupuku sekarang, aku masih bisa berinteraksi dengan mereka tanpa memicu traumaku sama sekali adalah sebuah pengeculian yang lainnya.


Namun ketika aku baru mulai masuk kuliah dua hari yang lalu, Tania yang masih gugup & perlu banyak beradaptasi tersebut merasakan perutnya yang sakit, lalu dia pun pergi ke toilet cewek dan saat keluar dari toilet, tiba-tiba saja ada cowok yang menghadang di dekat toilet cewek tersebut. Cowok itu bernama Indra, dia seangkatan denganya hanya beda fakultas. Indra pun spontan menyatakan cinta pada Tania namun karena takut, sehingga Tania pun tidak hiraukan sama sekali. Pada saat Tania hendak kabur, tiba-tiba saja Indra menarik tangannya lalu menggenggamnya selama 2 menit saja. Namun hal spontan tersebut justru memicu 'phobia akut' nya itu dan akhirnya membuat Tania pun jatuh pingsan. Saat itu tiba-tiba ada seorang cowok yang menopang tubuh Tania, lalu menepuk-nepuk pipiku supaya sadar, aku pun membuka mataku sesaat & samar-samar kulihat wajahnya yang sangat tampan sedang khawatir tersebut menatapku kemudian aku pun hilang kesadaran lagi. Yohan langsung menggendongku menuju ruang 'UKS' yang jaraknya lumayan jauh tersebut.


Setibanya disana, Yohan membaringkan aku di 'ranjang perawatan'. Pertama-tama Yohan melepaskan sepatuku, memeriksa kedua sisi telingaku dan kedua buku jari tanganku, lalu dia memeriksa denyut nadiku juga kemudian dia dengan sangat hati-hati membuka satu kancing paling atas blouseku agar dia bisa mengecek detak jantungku menggunakan stateskop, dia juga memeriksa pupil mataku, semuanya dia lakukan dengan sangat ahli. Sebenarnya sejak tadi Tania sudah sadar namun karena malu, dia pun berpura-pura masih pingsan. Yohan cemas sekaligus bingung, karena setelah mengecek tubuhnya sesuai prosedur 'pertolongan pertama'. Menurutnya, kondisi gadis ini baik-baik saja dan hanya shock sesaat. Namun anehnya kok gadis ini masih saja pingsan batinnya. Akhirnya Yohan pun memutuskan menunggu sebentar lagi, saat Yohan memandangi wajahnya dengan cermat tiba-tiba dia teringat pada wajah gadis yang ketemu dengannya di Mall 'TerasKota' bersama ayahnya itu beberapa minggu yang lalu.

__ADS_1


Lalu ponsel Tania yang disaku celananya berbunyi, kemudian dengan sangat hati-hati Yohan menarik keluar ponsel Tania itu, lalu dia pun segera memjawab telpon tersebut sebelum terputus. Ternyata si penelpon adalah ibu gadis itu, setelah mengobrol sejenak perihal kondisi Tania tersebut, barulah Yohan mengerti bahwa gadis bernama Tania ini memiliki trauma masa kecil, sehingga dia memiliki 'phobia akut' terhadap laki-laki. Saat Windy bertanya siapa nama si penolong putrinya itu, Yohan pun segera memperkenalkan dirinya dengan sopan. Kemudian dia meminta Windy untuk datang menjenguknya agar gadis ini bisa cepat pulih atau segera membawanya ke RS.


Mendengar nama Yohan disebut oleh Windy barusan, Hans pun bertanya apa yang terjadi. Windy pun memberitahunya kalau 'phobia akut' Tania kambuh & sekarang masih pingsan di 'UKS' ditemani Yohan seniornya. 30 menit kemudian, Windy & Hans pun tiba namun di 'UPH' kampus Tania. Mereka pun segera bertanya pada seorang mahasiswi yang sedang lewat tersebut, dimana letak ruang 'UKS' berada. Sayangnya saat tiba di 'UKS' tersebut Yohan sudah pergi. Mereka pun segera menghampiri Tania yang pura-pura tidur tersebut, saat Windy memanggil nama Tania barulah dia berani membuka matanya serta bangun dari ranjang 'UKS' itu. Mereka mengbrol sejenak sambil menunggu si penolong 'Yohan' kembali ke UKS untuk berterima-kasih padanya.


Sejak pertemuannya dengan 'keluarga baru' ayahnya itu, Akhir-akhir ini Yohan sengaja menghindar saat berpapasan dengan Tania, bahkan saat Dion membahas sepupunya yang bernama Tania tersebut di kantin, Yohan sama sekali tidak tertarik untuk ikutan nimbrung bersama mereka. Baru ketika Dion menunjukkan foto 'Tania' pada Yohan, dia pun akhirnya bercerita kalau mereka sudah bertemu tanpa sengaja minggu lalu.

__ADS_1


Tania berusaha memberanikan diri untuk datang menemui Yohan untuk berterima-kasih namun dia merasa Yohan sengaja menghindar darinya dan tidak ingin berbicara dengan Tania. Saat dia tahu kalau sepupunya Dion berteman baik dengan Yohan, dia bercerita perihal masalahnya itu dan meminta bantuan Dion untuk mengatur pertemuan tersebut serta bersedia menemaninya saat bertemu dengan Yohan.


Akhirnya penantian Tania pun berakhir, Dion berhasil membujuk Yohan sepulang dari kampus untuk ikut dengannya ke cafe diseberang kampus mereka. Dion & Yohan tiba di cafe 'The Magician' pukul 6:00 pm. Cafe tersebut bernuansa 'Sulap' karena memiliki berbagai macam alat peraga 'sulap' sebagai dekorasi cafe tersebut. Tempat itu jadi salah satu tempat hang out favorite anak muda jaman now. Sepuluh menit kemudian Tania pun datang, dia masuk cafe tersebut lalu mencari tempat Dion & Yohan duduk, saat melihat Dion melambaikan tangannya Tania berjalan menuju ke meja mereka. Saat Tania duduk tepat di depan Yohan duduk, dia pun terkejut melihat Tania disini lalu dia pun memandang Dion dengan tatapan kesal, Dion malah cuek bebek.


Lama sekali mereka berdua terdiam, sampai Dion jadi gemas melihatnya. Lalu Dion pun pergi memesan minuman dan sengaja memberi mereka sedikit privasi untuk bicara dari hati ke hati. Akhirnya Tania memberanikan diri memulai percakapan, hal pertama yang terucap dari bibir mungilnya adalah ucapan terima kasih atas pertolongan Yohan tempo hari. Yohan pun hanya menganggukkan kepalanya. Saat dia bilang orangtuanya ingin mengundang Yohan untuk makan malam di rumah hari sabtu besok, lagi-lagi Yohan menggelengkan kepalanya sebagai jawabannya. Dalam hati Tania sangat jengkel dengan sikap Yohan yang acuh tak acuh padanya, seakan memberi kesan bahwa dia tidak menyukai Tania berada di dekatnya. Lalu karena jengkel Tania pun berkata pada Yohan, 'dasar cowok bar-bar' kemudian berlari keluar cafe tersebut. Yohan pun diam saja & tidak perduli, saat Dion kembali ke meja membawa minuman mereka, dia pun melihat Tania yang tiba-tiba berlari keluar langsung dikejar olehnya dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2