Brave Heart

Brave Heart
Kisah Tania 2


__ADS_3

Seminggu Windy harus mengurung diri dalam kamar, karena wajah & seluruh tubuhnya penuh memar dan lebam-lebam akibat kekerasan fisik yang dialaminya tempo hari. Untungnya lagi Yamato juga jarang pulang ke rumah akhir-akhir ini. para membantu & pengurus rumah tangga lah yang menolong saya Windy pingsan atau tak sadarkan diri, mereka juga lah yang mengobati serta merawat luka-luka ditubuhnya Itu.


"Nyonya... bole bibik masuk?" ujar suara pengurus rumah tangga lirih.


"Masuk saja bik..tidak dikunci kok" ujarnya lirih juga.


"Ini Nya, bibik bawakan sarapan kesukaan Nyonya biar cepat pulih" ujarnya lembut.


"Makasih ya bik, taruh saja dimeja..nanti saya makan" ujarnya tulus lalu tersenyum.


"Ini obatnya, jangan lupa diminum ya Nya..bibik ke dapur dulu" ujarnya lagi dengan nada ke-ibuan.


"Iya bik..pasti saya minum obatnya" ujarnya patuh. Setelah bibik pergi, Windy pun pergi mandi. Saat melihat ke cermin, dia menyadari betapa parah kondisinya kali ini dibanding sebelumnya. Tiba-tiba terlintas sebuah ide untuk memfoto bukti kekerasan fisik disekujur tubuhnya itu, siapa tahu bisa berguna sebagai barang bukti jika tiba saatnya untuk balas dendam, pikir Windy.


Hari sabtu, seperti biasa Tania pulang ke rumah karena hari itu dia libur sekolah. Supir pribadi Windy lah yang menjemput Tania dari asrama kali ini. Saat dia bertanya dimana ibunya, si supir hanya bilang ibu sakit. Dan saat tiba di rumah, dia juga tidak melihat ibu datang menyambutnya seperti biasa. Langsung saja Tania panik & ketakutan, dia segera berlari menuju kamar ibunya di lantai dua. Saat melihat sosok wanita cantik yang sedang tertidur itu, hati Tania jadi lega. Namun saat dia mendekat diam-diam, lalu terkejut lah Tania melihat kondisi ibunya penuh dengan luka, spontan dia menutup mulutnya dan menangis sejadi-jadi disisi tempat tidur ibunya. Tiba-tiba Windy terbangun, karena dia seperti merasakan ada orang yang sedang menangis. Disana lah Tania yang beruraikan air mata bersitatap dengan mata ibunya yang kaget selama sekian detik. Spontan Tania memeluk tubuh ibunya itu erat-erat selama beberapa menit.


"Sssttt...cup..cup...anak mami yang cantik, datang-datang kok nangis sih?" ujarnya menghibur Tania sambil menghapus air mata anaknya itu.


"Pasti ulah 'si gila' itu lagi? sekarang juga aku telpon polisi!" ujarnya sangat marah, saat hendak mengambil ponsel ibunya, Windy segera mencegah niat anaknya itu.

__ADS_1


"Sweety, tenang dulu & dengarkan mami, please?" ujarnya memohon dengan lembut.


"Mami tahu kalau perbuatan suami mami kali ini kelewat batas, tapi belum saatnya kita mengumumkan bendera perang padanya. Tenang saja, mami sudah punya rencana yang bagus untuk balas dendam padanya kelak. Jadi yang penting sekarang adalah menyusun rencana ultahmu, serta menggagalkan rencana penculikanmu sebagai tiket kebebasanmu selamanya" ujarnya bersemangat.


"Mami..bolekah kita hentikan saja ide gila ini, aku takut jika kita gagal maka kita berdua lah yang akan terbunuh..aku ga mau kehilangan ibu lagi" ujarnya sedih & ketakutan.


"Sweety..dengar & tatap mata mami, mami sayang kamu jadi mami ingin yang terbaik bagi masa depanmu. Dan kita akan hidup bersama selamanya, mami janji" ujarnya tegas & lugas.


Setelah benar-benar sembuh, Windy janjian lagi dengan Hans untuk membahas rencana mereka secara mendetail. Saat bertemu Hans segera mengetahui ada yang salah dengan sikap Windy kali ini.


"Kenapa kamu tidak bisa dihubungi selama seminggu, Win? apa ada suatu hal buruk menimpamu saat kita berpisah terakhir kali? jawab aku dengan jujur atau aku akan mundur jadi 'partner in crime' mu sekarang juga" ujarnya tegas & sedikit memaksa. Akhirnya Windy pun menunjukkan foto bukti kekerasan fisik yang dia alami tempo hari pada Hans.


"Stop Hans, please...redakan emosimu & tolong dengarkan aku ok" ujarnya memohon.


seketika Hans berbalik & mendekap erat tubuh Windy yang bergetar hebat. Dengan lembut diusapnya rambut serta bahu Windy sampai dia benar-benar tenang kembali.


"Makasih Hans...aku baik-baik saja kok" serunya lirih lalu memegang tangan kiri Hans.


"Janji padaku satu hal Win..jika misi kita berhasil kamu harus tinggalkan 'bajingan' itu selamanya ok?" ujarnya lugas.

__ADS_1


"Hans..kalau bukan demi kebahagian Tania, sejak dulu aku ingin pergi meninggalkan 'bajingan' itu. Aku tidak pernah mencintainya" ujarnya sedih & putus asa.


"Ok...percaya padaku, misi kali ini aku jamin akan sukses 100%..setelah itu hiduplah bahagia bersama dengan Tania putrimu" ujarnya mantap & yakin.


"Bagaimana denganmu Hans, aku dengar kamu sudah bercerai?" ujarnya perduli.


"Ya...tapi itu kulakukan demi kebahagian mereka, aku telah gagal sebagai ayah & suami..aku tidak pantas hidup bahagia bersama mereka lagi" ujarnya sangat sedih. Hening sesaat dengan pikirannya masing-masing.


"Ok..sekarang saatnya membahas misi kita, are you ready?" ujarnya serius kembali. Windy pun mengangguk tanda setuju. Kemudian Hans menunjukkan 2 foto pria asing padanya,


"Amati & ingatlah baik-baik karena kedua orang ini yang beraksi menculik kalian" ujarnya tegas. "Kami berdua diculik? dan siapa mereka?" ujarnya bingung & penasaran.


"Yang berjas necis ini bernama "Peter" dia adalah seorang pengacara & dia temanku. Lalu yang satunya lagi ini bernama 'Umar' sekertarisnya Yamato. Tugasmu adalah mencari bukti kekerasanmu serta Tania, menyerahkan hasil tes DNA mereka, kemudian menemukan bukti asli surat wasiat ibunya Tania dan setelah itu mengadopsi Tania sebagai anakmu yang sah" ujarnya panjang-lebar dengan serius.


"Bukannya mengadopsi anak butuh proses lama & syaratnya banyak serta ribet kan?" serunya ragu-ragu. "Tenang serahkan semua pada Peter, dia pengacara handal & tak pernah kalah sekalipun.


"Ohya setelah kalian berdua diculik, Tania akan langsung aku bawa terbang ke Indonesia ketempat kerabatmu. Sedangkan akan sedikit bersandiwara, akan ada pelecehan & adu fisik dengan Peter untuk menguatkan foto kekerasan dalam rumah tangga tersebut, dan sisanya biar kami berdua yang handle, pokoknya aku jamin Yamato beserta 'antek-anteknya' akan masuk penjara seumur hidup" ujarnya lagi memberi instruksi dengan serius.


Dua minggu Windy bekerja keras menyelesaikan segala dokumen hak asuh anak, menyerahkan hasil tes DNA & foto tindakan kekerasan fisik, serta surat wasiat yang ditulis mendiang ibu Tania dan bukti surat tulisan tangan ibunya sebelum dibunuh. Semuanya selesai dengan baik & lancar, seakan-akan Tuhan sedang mendukung misi kami ini. Tak lupa, Windy juga menceritakan ide tersebut pada Tania agar dia bisa ikut bersandiwara dengan baik. Setiap hari tak hentinya mereka berdua berdoa pada Tuhan, memohon agar segala usaha mereka berjalan lancar sesuai rencana mereka tersebut.

__ADS_1


__ADS_2