
Setibanya di Bandung, Hans pun segera merebahkan dirinya di spring bed yang empuk tersebut, sesaat dia memejamkan mata hendak tidur sejenak. Namun tiba-tiba pikirannya melayang ke Indira 'gadis bersuara lembut & merdu' itu lalu dia pun mengambil ponselnya lalu mencari foto Indira di galeri itu. Beberapa menit Hans hanya memandang wajah Indira dengan senyum sumringah, dalam hati dia kagum & mengakui kecantikan alami yang terpancar dari gadis itu. Namun semakin dilihat, perasaan dejavu itu pun kembali lagi. Tiba-tiba saja ingatan Hans akan 'malam panas' di Crystal Hotel pun bermunculan lagi. Sangking terkejutnya, Hans pun melompat bangun dari tempat tidur itu lalu menepuk dahinya sangat keras.
"OMG..dia..dia itu gadis adalah gadis yang telah aku nodai, dia baru 18 tahun dan putri pak Maheza...Mampus, tamat riwayatku!" ujarnya kaget dan nyaring. Lalu segera dia pun berlutut untuk berdoa pada Tuhan.
"God..ampunilah aku, karena kebodohanku aku telah menodai gadis tak berdosa..God jika bole aku meminta, semoga Indira tidak hamil..tapi jika dia hamil, aku pasti akan menikahinya..biar kehendakMu lah yang jadi bukan kehendakku, amen" doa Hans dalam hati. Lalu dia pun pergi mandi kemudian turun menemui orangtuanya untuk makan malam.
__ADS_1
Tiga minggu telah berlalu, namun tiap hari Hans selalu saja dihantui rasa bersalah pada Indira. Ingin rasanya dia terbang kembali ke Kotabaru saat ini juga, jika dia tidak sesibuk ini tiap hari sejak ayahnya jatuh sakit, tanggung jawab perusahaan berada dipundaknya bahkan dia sendiri pun sampai jarang istirahat karenanya. Dia hanya bisa berharap bahwa Indira dapat hidup bahagia & memiliki masa depan yang cerah.
Disisi lain..tepatnya dikediaman Indira.
Setelah menyelesaikan seleksi ujian masuk Universitas & mengecek hasilnya yang tertera dipapan pengumuman yang ditempel tersebut, Indira lega karena dia berhasil lolos & resmi keterima di Universitas Lambung Mangkurat 'ULM', dia serta kedua temannya yang juga lolos pun melompat-lompat sambil berteriak kegirangan, sampai-sampai mereka pun jadi tontonan orang banyak disana, namun mereka tidak perduli.
__ADS_1
Keesokan harinya, tiba-tiba Indira terbangun karena rasa mual yang parah hingga tubuhnya menjadi sangat lemas. Reflek Indira melihat kalender untuk mengingat tanggal menstruasinya terakhir kali. Dan saat menyadari kalau dia sudah telat mens sebulan lebih, spontan Indira panik lalu dia mengambil sebuah alat tes pack yang dihadiahkan oleh temannya secara iseng kala itu. Indira segera mencoba mengetes alat itu ke urine yang ditaruh disebuah gelas kecil. Alangkah terkejutnya Indira ketika melihat alat tes pack itu muncul 2 garis merah. Lalu tanpa sadar dia pun menjerit histeris. Dia berharap bahwa ini hanyalah mimpi & bukanlah kenyataan, dia pun menangis sejadi-jadinya sampai jatuh tertidur karena lelah secara fisik & mentalnya. Hingga ketika ibunya masuk ke kamarnya untuk mengajak makan malam, Indira tidak menyadarinya sama sekali.
"Sayang..bangun, ayo makan dulu jangan tidur terus nanti badanmu sakit lho" seru ibunya lembut sambil menggoyang-goyangkan lengan Indira agar segera bangun. Betapa terkejutnya ibu Indira saat menyentuh kulit & seluruh tubuhnya ternyata demam tinggi. Segera ibu berteriak memanggil ayah untuk datang ke kamar anaknya.
"Mas..Indira panas mas, cepat kesini bantu ibu menggendongnya..kita bawa dia ke bidan" serunya dengan suara nyaring & panik. Mendengar teriakan istrinya itu, ayah segera berlari ke kamar anaknya lalu segera menggendongnya menuju mobil. Tak lama kemudian mereka pun tiba di rumah seorang bidan bernama bu Narti, beliau biasanya hanya membantu persalinan saja, karena panik & terburu-buru jadi mereka terpaksa membawa anaknya itu ke bidan dulu.
__ADS_1
"Bu..bu Narti, tolonglah Indira anak kami, badannya panas sekali & sepertinya dia pingsan bu" ujar ibu & ayah dengan nada panik. "Tenang dulu, bapak..ibu jangan panik, ayo..baringkan Indira disini biar saya bisa memeriksanya. Mulai kapan dia panas, bu?" ujar bu Narti dengan nada menenangkan.
"Eh..saya kurang tahu, karena kami seharian sibuk bekerja.. tapi pas saya mau bangunkan dia, baru saya tahu kalau badannya sepanas ini bu" ujar ibunya menjelaskan dengan nada sedih. "Apa anak kami bisa sembuh bu?" ujarnya lagi tambah panik, lalu ayah segera menggenggam tangan ibu lembut untuk menenangkannya. Setelah mengukur suhu tubuhnya, panasnya sudah mencapai 39,8°C.