
Akhirnya tibalah hari yang dinantikan oleh Tania, besok adalah hari ulang tahunnya. Sekali lagi dia mengecek foto 3 pria yang rencananya akan menculiknya hari ini. foto pertama adalah 'bad guy' bernama umar sekertarisnya Yamato, foto 2 & 3 'good guy', foto kedua adalah Peter seorang pengacara & foto ketiga adalah Hans teman mami Windy, beliau yang akan membawa aku pergi dari Jepang menuju Indonesia.
"God semoga hari ini misi kami bisa sukses, tolong lindungi aku, mami, om Hans & om Peter..Amen" ucapnya berdoa dalam hati.
Saat mobil penjemputan tiba, betapa terkejutnya Tania bahwa mami tidak datang sendiri bersama supir, disana juga ada Yamato beserta sekertarisnya itu di dalam mobil. Terlebih lagi mobil yang dipakai saat ini bukanlah mobil keluarga melainkan sebuah mobil limousin. Si sopir membukakan pintu belakang bagi kami, Yamato masuk lebih dulu kemudian disusul oleh aku & yang terakhir mami. Kami hanya bisa saling berpandangan, di seberang Yamato sedang tersenyum licik melihat kearah kami.
"Ada apa Tania, kelihatan kamu kaget & tidak melihat ayah?" ujarnya menyindir.
__ADS_1
"Hah...ti..tidak a..yah, aku hanya sedikit bingung, kenapa banyak sekali orang yang datang menjemputku hari ini?" ujarnya gugup.
"Tentu saja sayang..bukankah ini hari yang istimewa buatmu, jadi ayah sudah siapkan kejutan untukmu..semoga kamu suka?" ujarnya licik lalu tersenyum lagi.
"Honey.. kemana kita akan pergi hari ini, bukankah seharusnya kita pergi ke 'Grand Prince' Hotel?" ujarnya bingung. Windy diam-diam menelpon Hans dengan mode 'speaker on' saat hendak masuk mobil tadi.
"Diamlah..nanti juga kamu akan tahu? ohya, dimana ponselmu sayang?" ujarnya kasar. Mendengar Yamato bertanya tentang ponselnya, Windy seketika menjadi kalut lalu segera mematikan sambungan telpon.
__ADS_1
"Bajingan! lepaskan mami, jangan sakiti dia" teriaknya emosi lalu menjambak & menggigit telinga Yamato dengan keras. Saat Yamato lengah itulah, Windy mengambil alat kejut listrik yang dia sembunyikan dibalik gaunnya itu, dalam sedetik saja Yamato pun tumbang. Mereka pun saling berpelukan dengan tubuh yang gemetaran.
Disisi lain.. Dalam mobil Hans.
Setelah telpon Windy ditutup, dia menjadi emosi lalu dengan cepat menelpon Peter memberitahukan untuk menjalankan 'plan B'. Selesai berbicara dengan Peter, Hans segera melaju sangat kencang untuk menyusul mobil limousin yang diikutinya sejak tadi melalui alat pelacak gps di ponsel Windy. Dia terus berdoa dalam hati berharap semoga mereka baik-baik saja sampai dia tiba disana.
Saat melihat mobil limousin yang dikejarnya itu Hans melaju mendekati mobil tersebut setelah cukup dekat dia menyalip dan memberhentikan mobil beberapa meter di depannya lalu keluar dari mobil, supir mobil limousin itu segera menginjak rem secepatnya sebelum terjadi tabrakan naas. Dengan langkah cepat, Hans membuka pintu depan lalu menarik tubuh 'Umar' keluar dan menghajarnya hingga pingsan. Pada saat bersamaan Windy & Tania keluar dari mobil, melihat Hans berdiri disana segera mereka berdua berlari kearahnya dan memeluknya dari belakang. Hans pun berputar dan melihat bahwa mereka selamat, dia lega & bersyukur dalam hati. Mereka masih berpelukan selama semenit. kemudian Windy & Hans berjalan menuju mobil limousin tersebut, Windy berbicara pada supir pribadinya itu & memberi instruksi padanya, Sedangkan Hans sibuk menarik tubuh Yamato yang pingsan keluar mobil, segera dia menelpon polisi & memberitahukan lokasi mereka sekarang. Kemudian dia mengambil tali besar dan memotongnya 2 bagian sama rata, lalu segera mengikat 2 orang pria yang masih pingsan tersebut. Mereka pun menunggu sampai polisi datang. Beberapa menit kemudian mobil patroli polisi pun tiba, segera para polisi membawa kedua orang pingsan yanga tubuhnya terikat itu ke dalam mobil patroli, sedangkan mereka bertiga pun mengikutinya dengan mobil Hans menuju kantor polisi untuk membuat laporan tertulis. Tak lupa Hans menelepon Peter agar datang ke kantor polisi untuk menolong mereka.
__ADS_1
Saat Peter datang dan memperkenalkan diri sebagai pengacara Windy, segera saja polisi dan Peter berbicara serius, Dia membuat laporan tuntutan berlapis untuk 'Mr. Yamato' sedangkan untuk anteknya 'Umar' tuntutan penculikan atas nama Tania setelah memberikan bukti-bukti asli yang telah disiapkan tersebut akhirnya 2 orang pingsan tersebut resmi ditahan di sel sementara sampai kasus ini disidangkan di pengadilan. Kemudian mereka semua pergi ke 'Grand Prince' Hotel untuk melanjutkan acara perayaan ultah Tania yang ke-16 tahun dengan gembira & sukacita bersama temen & kerabat dekat saja sebagai tamu undangan.
Satu bulan kemudian, sidang pengadilan terhadap Yamato berlangsung, dengan segala bukti & saksi yang mendukung, akhirnya kasus tersebut dimenangkan oleh tim Peter dan Yamato dijatuhi hukuman penjara seumur hidup sedangkan Umar dijatuhi hukuman penjara selama 5 tahun. Setelah mengucapkan terima kasih pada Peter, Windy menawarkan posisi pada sebagai pengacara pribadi mereka dengan syarat Peter harus ikut pindah ke Indonesia bersama mereka, Dia pun langsung setuju & merasa sangat terhormat, sedangkan Hans ditawari posisi sebagai CEO serta Dewan Direksi di seluruh kerajaan bisnis peninggalan 'Mr. Xanders'.