
Sesampainya di Villa, Tania yang masih kesal langsung masuk ke kamarnya, Hans & Windy yang kebetulan sedang minum teh di ruang keluarga merasa heran melihat wajah Tania yang jutek setelah pulang bertemu Yohan.
"Sweety...bole mami masuk?" ujarnya lirih.
"Iya mami, masuk aja" jawabnya juga lirih.
"Kenapa Sweety...datang-datang kok mukanya jutek?" tanyanya penasaran.
"Habisnya Tania kesal mi...aku nyesal buang-buang tenaga sama 'cowok bar-bar' kayak gitu!" gerutunya dengan wajah cemberut.
"Cowok bar-bar? maksudnya cowok yang kerja di bar gitu? emangnya dia ngapain kamu Tan?" ujarnya setengah bercanda.
"Iihh mami...apaan sih, 'cowok bar-bar' bukan cowok bar mi. Tuh cowok freak banget! Tampang ok tapi kelakuan bikin orang ill feel! "ujarnya sewot lalu memanyunkan bibir. Melihat reaksi Tania saat ini, 'kayak orang habis kebakaran jenggot' membuat Windy tertawa geli dalam hati.
"Sudah, ga bole marah-marah & benci sama orang...entar naksir lho!"ujarnya serius.
__ADS_1
"Idih, amit-amit mi...naksir si cowok bar-bar? Ogah lha yao!" serunya makin sewot.
"hush...inget jangan sesumbar Tan, ga baik" tegurnya lirih sambil membelai rambut Tania.
"Uupss, sorry...tapi emangnya ada benci jadi cinta, mi?"ujarnya tak percaya.
"Lho ga percaya? ada kok, mami ini buktinya" ujarnya jujur lalu tersenyum.
"Hah, bener..serius mi? Siapa orangnya? ganteng ga?"serunya antusias.
"Ok..ok..sabar donk, hemm..orang ganteng, baik, jujur, rajin & bertanggung-jawab banget. Dia adalah..."ujarnya memuji, tapi tiba-tiba Hans mengetuk pintu kamar Tania.
"Hei..kalian kok lama banget, lagi ngobrolin apaan sih? yuk, makan malam dulu ntar keburu dingin lho" ujarnya lirih. Windy yang merasa terselamatkan seketika jalan paling depan dan turun lebih dulu. Hans & Tania pun menyusul kemudian.
30 menit kemudian...
__ADS_1
"Ohya sayang... bukannya hari ini kamu ketemuan sama Yohan ya, terus gimana dia setuju makan malam weekend ini?" ujar Hans tiba-tiba padanya. Spontan Tania pun jadi 'bad mood' lagi.
"Huh...boro-boro setuju, yang ada Tania dibikin kesel abis sama dia om"ujarnya sewot.
"Lho kok bisa Tan...emangnya Yohan bilang apa ke kamu?"ujarnya bingung.
"Mending kalau ngomong...aku kira bisu tuh cowok, masa Tania bilang 'thank you' ke dia, eh..dianya ngangguk doank. Terus pas aku bilang kalian ngundang makan malam di rumah, malah dicuekin..dan yang bikin aku makin sebel tuh tatapannya, kayak ga sudi ngobrol & ketemu sama aku gitu" serunya sewot bercampur geram. Spontan Hans pun tertunduk sedih karenanya. Seketika Tania sadar bahwa Yohan itu anak om Hans, dan mulut besarnya itu telah melukai hati 'ayah baptis' nya itu.
"Om Hans... maafkan Tania, ga seharusnya aku ngomong kayak gitu tentang Yohan" ujarnya menyesal. Tania & Windy spontan menggenggam tangan Hans dengan lembut.
"Ga, kamu ga salah...Om lah yang harusnya minta maaf ke kamu. Semua itu salah om, Yohan berubah kayak gitu gara-gara, Tan. Jadi tolong jangan benci sama dia ya"ujarnya lirih.
"Om...Tania tadi cuma kesal sesaat kok, jadi bukan serius benci sama Yohan.. om ga usah khawatir, Tania janji ga akan berantem sama Yohan, karena Tania percaya kalau Yohan itu orang baik sama seperti ayahnya"ujarnya lirih.
Seketika Hans pun tersenyum bahagia. Mereka pun akhirnya saling berpelukan, dan tertawa dengan gembira.
__ADS_1
Dalam hati Tania berjanji akan berusaha untuk belajar mengenal Yohan dengan baik dan mencoba berteman dengannya, sesulit apapun itu akan Tania hadapi karena dia ingin melihat om Hans selalu tersenyum bahagia. Begitu juga halnya dengan maminya tercinta, Kebahagian mami Windy adalah kebahagiannya juga.