
Mama Windy, bersama temannya yang bernama om Hans bersiasat membuat rencana penculikan Tania. Ide tersebut muncul ketika tanpa sengaja Windy mendengar percakapan telepon antara suami dengan sekertaris pribadinya bernama 'Umar'.
"Umar bulan depan adalah hari ulang tahun Tania yang ke-16 tahun, dua tahun lagi surat wasiat ibunya akan bisa dia miliki seutuhnya..jadi aku tidak ingin mendengar tentang kegagalanmu lagi untuk kesekian kalinya, mengerti!" ujar Yamato membentak sekertarisnya itu.
"Baik tuan, akan segera saya kerjakan" jawabnya lugas.
"Ohya, satu lagi saya tidak ingin melihat gadis pembawa sial itu lagi ada disekitarku!" ujarnya lagi memberi perintah.
"Baik tuan..tunggu kabar baik dari saya" ujarnya berjanji. Percakapan mereka pun berakhir, dan Windy yang mendengar hal tersebut dari balik pintu sangat kaget & hampir tak percaya bahwa suaminya adalah manusia keji & berdarah dingin. Padahal Yamato pernah berjanji padanya selama dia menurut & menjauhi Tania, maka dia akan berhenti menganiaya serta mencelakainya. Ternyata semua itu hanya sandiwara & kebohongan belaka.
__ADS_1
Keesokan harinya, Windy menelpon Hans meminta untuk bertemu dengannya di cafe 'Quey' jam makan siang. Windy memilih bertemu disana karena tempat paling luas & padat pengunjung saat jam makan siang, karena sudah sejak lama Windy sadar bahwa suaminya mengutus orang bayaran untuk mengikuti setiap gerak-geriknya itu. Karena itu Tania sengaja tinggal di asrama putri agar Yamato tidak bisa datang dengan leluasa, kepala sekolah beserta pengurus asrama mengetahui bahwa Tania selalu dianiaya oleh Yamato namun mereka tidak berani melawan apalagi membela Tania secara terang-terangan. Sehingga Windy sebagai wali sekaligus ibu tirinya, kini yang berjuang tanpa henti demi masa depan Tania.
Tepat jam makan siang, Hans sudah tiba di cafe 'Quey' dan dia langsung memilih kursi untuk berdua di tempat yang jauh dari jendela maupun pintu masuk, sehingga jika benar seperti yang dikatakan Windy kalau dia diikuti oleh orang bayaran suaminya itu maka 'orang' tersebut tidak akan menemukan mereka disini. Jadi nantinya mereka akan tetap aman selama berdiskusi serius. Tak lama Windy pun muncul dalam dress pendek warna hitam, dia segera melepas topi & kacamata hitam miliknya kemudian berjalan kearah Hans yang tengah melambai padanya. Hans pun segera menarik kursi untuk Windy, hal itu merupakan salah satu kebiasaan yang selalu dilakukannya ketika mereka masih pacaran.
"Apa kamu sudah lama menunggu Hans?" ujarnya lirih. Lalu meletakkan kacamata serta topinya di kursi kosong.
"Ga..aku baru tiba 5 menit yang lalu" ujarnya datar. Lalu membuka menu makanan. "Win..kamu mau makan apa nih? menu seperti biasa kah?" ujarnya lagi spontan. Baik Hans & Windy memiliki selera makan yang hampir sama serta hobi yang sama juga.
"Hans..kemarin aku mendengar suamiku menelpon sekertarisnya dan memberinya instruksi untuk menculik & bahkan membunuh Tania tepat di hari ultahnya ke-16 tahun bulan depan" ujarnya memberi info.
__ADS_1
"Kenapa Yamato begitu membenci anaknya, Win? pada anak kandungnya sendiri lagi?" ujarnya Hans bingung.
"Karena mereka bukanlah ayah & anak kandung..Yamato bersedia merawat Tania sebagai wali yang sah karena syarat dari kakek Tania 'Mr. Xanders' sebelum meninggal. Setelah dia mengelola kerajaan bisnis milik 'Mr. Xanders' bertahun-tahun sepertinya sekarang dia ingin menguasai sepenuhnya bisnis tersebut. Namun karena surat wasiat mantan istrinya yang melimpahkan seluruh aset kekayaannya kepada putrinya Tania saat dia genap berusia 18 tahun" ujarnya menceritakan motif tersebut dari Yamato suaminya itu.
"Lalu apa rencanamu sekarang, Win?" ujarnya lirih. "Kita harus menggagalkan rencana penculikan Yamato, namun kita bisa menjadikan penculikan tersebut sebagai tiket kebebasan untuk Tania" serunya serius. Hans terdiam untuk sesaat, dia sedang memikirkan sebuah ide yang tepat, sehingga resiko untuk gagal bisa ditiadakan sebisa mungkin. Lalu tiba-tiba ponsel Windy berbunyi, si penelpon adalah Yamato suaminya.
"Ada apa honey..apa kamu akan pulang siang ini?" ujarnya dengan nada pura-pura lembut. "Kamu dimana sekarang, kenapa tidak ada di rumah saat aku pulang, hah!" ujarnya membentak dengan keras. Sampai sakit telinga Windy mendengarnya. "Maafkan honey..aku pergi ke salon dengan temanku karena aku bosan di rumah sendirian" ujarnya berbohong. "Pulang sekarang juga, waktumu 10 menit!" ujarnya lagi membentak. Lalu Yamato menutup telpon sepihak.
"Maaf Hans, aku harus pulang sekarang.. lain hari kita bertemu lagi ok, bye" ujarnya sedih lalu buru-buru meninggalkan cafe tersebut.
__ADS_1
Windy tiba di rumah tepat waktu, namun Yamato yang sejak awal datang sudah 'bad mood' akhirnya tetap saja melampiaskan hasrat gila serta kemarahan kepada istrinya itu, karena dia berulang kali berusaha menolak serta meronta untuk dilepaskan alhasil Windy jadi sasaran kekerasan suaminya itu hingga pingsan.