
Tepat jam makan siang, Dion pun segera berjalan cepat menuju ke 'Rooftop' yang ada di gedung olahraga. Tanpa sepengetahuan Dion, keempat orang temannya itu sedang menguntitnya dari belakang, mereka ingin tahu apa rencananya menemui Yohan berdua saja disini. Karena saat mereka berempat hendak ke kantin untuk makan siang, tanpa sengaja Angga & Rian mendengar para mahasiswi yang kelasnya tersebut biasanya diajar oleh Yohan sedang bergosip tentang Dion yang mengamuk & menyerang Yohan saat sedang mengajar di kelas tadi pagi.
Mendengar hal tersebut, dugaan mereka tentang sikap Dion yang beda saat di kelas terjawab sudah. Akhirnya mereka berempat sepakat untuk melindungi Yohan jika Dion benar-benar akan bertindak nekat apalagi mencelakainya saat bertemu muka.
15 menit kemudian, ada suara langkah kaki menaiki tangga kearah 'Rooftop' tersebut, serta-merta keempat temannya yang sedang menguntit Dion pun segera bersembunyi di gudang yang ada di sebelah dekat pintu masuk menuju ke 'Rooftop'.
Setelah melihat Yohan masuk, Dion segera kalap & mencengkeram kerah baju Yohan saat hendak meninju mukanya, Yohan dengan sigap menangkap tangan Dion sebelum mengenai mukanya tersebut. Kemudian dia pun memutar pergelangan tangannya & menguncinya dibelakang punggung Dion dengan kuat, sehingga sesaat Dion pun sempat merintih kesakitan. Baik Dion & juga keempat temannya yang sedang mengintip sejak tadi, terkejut melihat Yohan ternyata bisa bela diri. Yohan bukan cowok lugu & kutu buku seperti dugaan mereka selama ini.
Lalu Yohan mendorong Dion menempel ke tembok saat dia berontak ingin melepaskan diri dari cengkeraman Yohan tersebut.
"Dengar aku baik-baik..jika kamu berjanji untuk bicara tanpa kekerasan, maka aku akan melepaskan mu sekarang. Jangan coba-coba menguji kesabaran ku, kamu paham, Dion!!!" ucapnya dingin dan nada penuh ancaman. Dion diam seribu bahasa, namun akhirnya mengangguk setuju. Pelan-pelan Yohan pun melepaskan tubuh Dion serta cengkeraman tangannya tersebut. Dengan wajah marah Dion menatap Yohan namun dia justru membalas tatapannya dengan garang, bagai singa yang siap menerkam & mencabik-cabik tubuh Dion. Sejenak mereka hening, tanpa kata hanya saling menatap.
"Dion..aku tidak suka tindakan gegabah mu tadi pagi, jika aku tidak memandangmu sebagai teman, aku tidak akan segan-segan berduel dengan tadi. Tapi karena reputasiku hingga aku mampu mengontrol emosiku" ucapnya tegas & lugas.
__ADS_1
"Huh...teman? bullshit!! Apa ini yang dilakukan seorang teman dibelakang temannya? Jangan membuat ku tertawa" ujarnya kasar & menghina.
Disisi lain.. saat Tania yang sedang mencari-cari keberadaan Yohan yang tak tampak batang hidungnya tersebut, segera dia teringat 'Rooftop'. Tania pun segera berlari dengan cepat menuju kesana & saat mendengar suara 2 orang pria yang dia kenal betul suara tersebut, dengan pelan dia membuka pintu itu sedikit agar bisa menguping percakapan mereka tersebut.
"Tutup mulut, Dion..aku tulus berteman dengan kalian berlima. Justru kamu lah yang berhianat pada ku & menusuk dibelakang ku.
Kamu dengan sengaja memfoto setiap 'skandal' yang terjadi antara para fans ku denganku beberapa waktu lalu, kemudian kamu mendekati Tania untuk membongkar foto-foto 'skandal' agar dia menjauhi ku, kan?" ucapnya kasar & penuh amarah.
"Bagaimana kau tahu, kalau aku adalah pelakunya, apa kau punya bukti Yohan?" ujarnya berkilah.
"Iya..Aku membenci mu & aku akan sangat puas jika melihat hancur, Yohan!! Tania tidak pantas untuk mu, jangan bermimpi kau!!" ujarnya berapi-api. Lalu Yohan pun hanya tersenyum mengejek kearah Dion.
"Hahaha...Sayang sekali, Tania adalah wanita ku sekarang!! Berkat ulah kotor mu sendiri, justru membuat kami sadar akan perasaan kami yang terpendam selama ini, Thanks bro!! "ucapnya girang lalu tertawa lepas.
__ADS_1
"Jangan dekati Tania, bajingan!!"serunya marah lalu bergerak untuk menyerang Yohan.
Tiba-tiba Tania mendobrak pintu dengan kuat & berteriak kearah mereka.
"Berhenti Dion.. sudah cukup. Lepaskan tangan mu dari Yohan sekarang!!"teriaknya garang lalu segera berjalan cepat kearah Dion kemudian seketika menampar pipinya dengan sekuat tenaga, 'plak'. Yohan & Dion pun shock melihat Tania yang muncul tiba-tiba dan mengamuk sampai menampar Dion. Segera Yohan pun memegang tangan Tania yang satunya & menarik kesisinya dengan lembut.
"Honey...Kenapa kamu kesini, apa tangan mu sakit? coba aku lihat"ujarnya khawatir.
"Tania...Teganya kamu menampar ku demi bajingan itu!!"serunya shock & marah.
"Tutup mulut mu Dion!!! 'Bajingan' nya itu kamu bukan Yohan. Aku dengar semuanya tadi, jadi jangan berkilah lagi!!!" teriaknya marah. Melihat mata Tania yang menatapnya dengan sorot jijik serta benci. Lalu Dion pun tertawa lepas karena rasa frustasi.
"Ayo babe...kita pergi dari sini, aku muak melihat mukanya sekarang!!!"ujarnya sinis. Yohan pun segera merangkul pundak Tania lembut lalu mereka pun segera pergi meninggalkan Dion seorang diri disana. Saat sunyi, Dion pun mulai menitikkan air matanya. Dia sudah kalah sekarang, Tania pun juga jadi benci & jijik padanya. Hancur sudah semua harapannya bersama Tania. Dia hanya lah seorang 'pecundang' sekarang, batinnya sedih sambil terus menangis pilu.
__ADS_1
Diam-diam keempat temannya tersebut keluar dari persembunyian mereka satu-persatu & melangkah dengan hati-hati sampai keluar dari pintu 'Rooftop' tersebut. Saat tiba di tinggat paling bawah baru mereka pun bisa bernafas lega. Seketika itu Dimas menyimpan video 'penting' kejadian di 'Rooftop' tadi yang dia rekam diam-diam dengan ponselnya itu. Teman-teman yang lain pun merasa salut dengan Dimas yang sigap & cerdik karena berinsiatif merekamnya untuk jadi 'barang bukti' jika Dion masih ingin balas demdam.
Seminggu berlalu sejak kejadian di 'Rooftop'. Baik Yohan & keempat temannya yang lain mulai menjaga jarak & tidak pernah lagi mengobrol apalagi hang out bareng Dion. Walaupun begitu Yohan tidak pernah membenci Dion dalam hatinya itu. Dia hanya belum bisa memaafkan perbuatan & penghianatan Dion tersebut. Namun seperti biasa jika ada tugas kelompok, Yohan tetap menolong Dion walau lewat orang lain yang menjadi timnya sekarang. Bahkan teman-teman yang lain sering memarahi Yohan yang terlalu baik & berhati lembut pada musuhnya itu, padahal dia tidak layak menerimanya. Tapi begitu lah sifat Yohan yang mereka kagumi. Yohan selalu bisa bersikap dewasa & profesional, tidak pernah mendendam pada musuh terlalu lama. Dia benar-benar tulus hati & setia kawan seperti ucapannya itu.