
Setelah lulus sma, Yohan beserta ibu dan Virna memutuskan untuk hijrah ke Jakarta. Walaupun ibunya cukup sehat namun belum bisa dikatakan sembuh total, ibunya dengan senyum tulus menyetujui keputusan anaknya Yohan untuk ikut hijrah ke Jakarta demi masa depan kedua anaknya tersebut. Merekapun pindah dengan berbekal barang yang seadanya karena di desa mereka memang hidup sederhana namun bahagia. Dengan tabungan yang Yohan hasilkan selama bekerja, akhirnya mereka mampu mengontrak sebuah rumah kecil yang cukup bagus dan nyaman untuk ditinggali oleh mereka bertiga. Rumah tersebut Yohan dapatkan dari manager agensi model yang pernah merekrut Yohan kala itu. Lokasi rumah tersebut ada dipinggir kota, sangat strategis karena dekat dengan pasar tradisional dan juga rumah sakit, bahkan akses transportasinya juga banyak. Sehingga kelak Yohan bisa tenang bila terkadang dia akan jarang ada dirumah dikarenakan jadwal kuliah yang padat, serta pekerjaan paruh waktunya yang pasti akan banyak menyita waktunya itu. Namun Yohan selalu bersyukur bahwa Tuhan selalu melindungi dan memberkati mereka sekeluarga. Saat Yohan mulai memasuki masa kuliah sebagai mahasiswa baru alias "MABA" di Universitas Pelita Harapan Jakarta, banyak hal yang membuat dia harus benar-benar extra hati-hati dan harus belajar beradaptasi dengan lingkungan baru yang semuanya sangatlah berbeda jauh saat hidup di desa. Semisal, kalau di desa Yohan terbiasa dengan mengendarai sepeda tuanya jika hendak bepergian namun sekarang dia harus gonta-ganti bis dari rumah menuju ke kampusnya yang ada tengah kota yang berjarak 100km. Pada awalnya Yohan sanggup pergi-pulang dari rumah ke kampus namun alhasil dia seringkali tertidur saat sedang kuliah atau bahkan saat sedang bekerja. Hingga suatu hari manajer agensinya itu yang bernama "mas Brian" menawarkan sebuah sepeda motor ninja bekas miliknya kepada Yohan gratis karena sekarang dia lebih sering mengendarai mobil Honda Freed nya itu untuk mobilitas. Awalnya Yohan menolak tawaran tersebut karena dia tidak ingin menerima barang secara gratis, sehingga akhirnya mas Brian pun memberi solusi kalau Yohan boleh menyicil 1juta/bulan selama 10 kali saja itu syaratnya. Akhirnya motor ninja warna merah itupun menjadi milik Yohan sepenuhnya setelah berhasil melunasinya dalam jangka waktu 6 bulan saja. Kenapa Yohan mampu melunasi dengan cepat? karena dia memiliki 2 pekerjaan sekaligus yang pertama sebagai model dan yang kedua sebagai asisten dosen dikampusnya itu. Yohan dipercaya oleh dekan untuk menjadi asdos melalui seleksi ketat namun dia berhasil lolos berkat otak jenius dan kerja kerasnya. Sehingga dia pun menjadi panutan dikalangan mahasiswa dan juga para dekan serta rektor, karena diusia yang masih sangat muda yaitu 20 tahunan dia berhasil memenangkan banyak kompetisi bidang kedokteran serta mampu menulis tesis tentang obat anti aging. Sehingga rektor dan dekan merasa bahwa Yohan layak menjadi asisten dosen agar membuka wawasan para mahasiswa yang kurang memiliki jiwa kompetitif dalam segala jurusan yang ada. Berkat kerja kerasnya pula, Yohan berhasil membeli rumah kecil yang mereka kontrak menjadi hak milik pribadi hanya dalam kurun waktu 1 tahun saja. Ibu Yohan sudah pasti sangatlah bangga atas prestasi putranya tersebut, apalagi dia juga berhasil mengangkat taraf hidup dari yang sederhana menjadi serba berkecukupan. Bahkan Virna adiknya bisa bersekolah disekolah elit berkat Yohan kakaknya itu.