Brave Heart

Brave Heart
'Sakau' 1


__ADS_3

Setelah mendapat berita buruk dari Brian, Virna pun mendadak jatuh sakit. Dia demam tinggi hingga mengigau terus-menerus seharian.


Yohan & Tania pun akhirnya tiba di Bogor. Setelah mengecek kondisi tubuh Virna, Yohan segera menyutikkan obat penenang agar dia bisa tidur pulas. Baru kemudian dia segera memasang infus pada tangan Virna.


"Ibu kenapa kondisi Virna tiba-tiba drop seperti itu?"ujarnya penasaran.


"Kemarin dia baik-baik saja, tapi sejak menerima surat dari Brian ini..seharian dia menangis di kamarnya tanpa makan apapun" ucapnya ibunya lirih & sedih, kemudian menyerahkan sepucuk surat Brian tersebut.


Yohan & Tania pun membaca isi surat tersebut bersama-sama dalam diam. Setelah selesai membaca, dia segera menyobek surat itu menjadi serpihan kecil. Tangan Yohan mengepal menahan amarahnya, Tania pun segera mengelus lembut pundak kekasih itu.


"Honey...sabar ya, semua akan baik-baik saja. Virna gadis yang kuat, dia akan segera sembuh. Aku akan menjaga & merawatnya dengan baik jadi tenanglah"ujarnya lembut.


"Thank you Babe...aku tau kamu bisa diandalkan, tapi hatiku sakit sekali melihat Virna jadi seperti itu gara-gara kak Brian" ujarnya lirih & sedih. Lalu Tania pun memeluk tubuh Yohan dengan lembut cukup lama, kemudian mencium kening & air matanya yang mulai menetes perlahan.


"Honey...ini semua salah ku, gara-gara aku memisahkan mereka, sekarang Virna benar-benar patah hati karena ditinggalkan olehnya" ujarnya menyesal.


"Ssttt....ini bukan salah siapa-siapa ok, anggap saja mereka memang tidak berjodoh" ujarnya lirih.

__ADS_1


"Seandainya aku menceritakan lebih awal kabar tentang kak Brian, maka Virna tidak akan shock berat seperti ini, aku memang bodoh & kejam"ujarnya sedikit emosi.


"Honey...tatap mataku...Dengarkan, ini bukan salah mu ok. Kak Brian juga terpaksa harus menerima perjodohan itu, jadi aku rasa hal ini adalah tindakan yang tepat. Cepat atau lambat Virna akhirnya akan tahu juga tentang pertunangan tersebut"ucapnya bijak.


Tiba-tiba ponsel Tania berdering, saat melihat bahwa Hans ayah angkatnya yang menelpon, dia segera menatap mata Yohan meminta persetujuaannya. Dengan berat Yohan pun mengangguk tanda setuju. Kemudian Tania segera menjawab telpon tersebut dengan mode speaker on sehingga mereka semua bisa ikut mendengar percakapan tersebut.


"Tania sayang...kamu ada dimana? kami sedang dalam perjalanan mau ke Villa mu" ucap Hans lembut.


"Pa...Apa papa bersama mama saat ini?" ujarnya lirih.


"Pa...sekarang Tania ada di rumah Yohan di Bogor, Virna jatuh sakit sejak kemarin"ujarnya lirih.


"Hahh...Virna sakit? sakit apa, apakah parah?!"


ujarnya panik.


"Tenang dulu pa...Virna demam tinggi & mengigau, tapi Yohan sudah memeriksa kondisinya tadi jadi sekarang sudah stabil" ujarnya lirih.

__ADS_1


"Apakah Yohan ada di dekat mu, sayang? Apa istri ku juga baik-baik saja?"ujarnya lirih.


Yohan shock mendengar ayahnya ternyata masih perduli pada ibunya bahkan masih memanggil 'istriku' dengan nada lembut. Yohan pun segera melihat kearah ibunya, ternyata ibunya sudah meneteskan air mata terharu. Yohan pun sadar bahwa ternyata ibunya juga masih mencintai & merindukan suaminya itu, namun tidak pernah sekalipun ditunjukkan kepada anak-anaknya itu. Lalu dengan lembut Yohan pun segera memeluk tubuh ibunya lembut dengan perasaan seperti ditusuk sembilu tepat dijantungnya.


"Ya...Yohan & tante Indira ada disini bersama ku dan tante sehat walafiat"ujarnya lirih.


"Syukurlah...karena penyakitnya mudah kambuh kalau tiba-tiba terkena shock"ujarnya lirih.


"Aku ingin sekali menjenguk Virna, tapi kehadiranku nanti justru akan membuka luka di hati Yohan & istri ku lagi...jadi tolong gantikan papa ya, sayang..kabari segera jika ada hal mendesak & penting terjadi ok" ucapnya lugas & lirih.


Dengan cepat, Yohan pun menjawab ayahnya itu sebelum telpon tersebut ditutup.


"Ayah...jika kamu memang rindu pada kami, datang lah sendiri ke Bogor..aku memberimu satu kali kesempatan saja"ucapnya tegas.


"Yohan... ini kamu nak, apakah kamu serius?! Baiklah, malam ini ayah akan datang sendiri ke Bogor...Yohan...terima kasih nak" ujarnya dengan nada gembira & bersemangat.


Kemudian sambungan telpon tersebut ditutup oleh Hans. Melihat Yohan yang masih memeluk ibunya itu, Tania pun bergabung bersama mereka sambil menangis bersama.

__ADS_1


__ADS_2