Brave Heart

Brave Heart
Yohan & buku diary 1


__ADS_3

Suatu hari Yohan yang sedang sedih, duduk dipinggir pantai sambil termenung. Banyak hal yang ada dipikirannya saat ini namun tak satu pun yang bisa dia perbuat untuk menyelesaikan masalah tersebut. kemudian dia pun bermain selancar sejenak untuk menyegarkan otaknya yang mulai 'panas' tersebut. Yohan yang tumbuh besar di Kotabaru dan lebih tepatnya di pulau samber gelap ini sudah terlatih dengan olahraga air. Bahkan dia pun jago berenang, setiap ada kompetisi renang di Sekolahnya itu Yohan selalu menjadi juara ke-1. Dia juga jago menyelam & berselancar. Pokoknya segala hal yang dia geluti dengan serius maka hasilnya selalu berbuah baik. Namun Yohan tidak pernah menyombongkan diri karenanya. Dan berkat didikan kedua orangtuanya itulah maka kini dia bisa menuai banyak prestasi.


Setelah selesai berselancar, Yohan hendak beranjak pergi namun tiba-tiba dia mendengar seorang ibu berteriak minta tolong. Saat diliat dengan seksama barulah Yohan sadar bahwa ada seorang nenek yang nyaris tenggelam. Spontan Yohan pun terjun kembali ke dalam air untuk menyelamatkan nenek tersebut. 10 menit kemudian mereka pun sudah berada di tepi pantai, segera saja Yohan melakukan cpr pada jantung si nenek. Tak lama, si nenek pun siuman. Kami pun mulai bercerita tentang banyak hal hingga menjelang petang. Dan saat Yohan hendak pamit pulang, si nenek memberi sebuah buku persegi berwarna coklat tua yang sudah usang termakan usia. Awalnya Yohan menolak dengan sopan karena dia berpikir dia menolong si nenek tanpa pamrih.


"Nak..tolong terimalah buku diary ini sebagai ucapan terima kasih, nenek" ujarnya dengan suara lirih & mata sayu.


"Nek...tidak perlu imbalan apapun, karena Yohan tadi tulus-ikhlas menolong kok" ujarnya sunguh-sunguh. Namun si nenek tetap bersikeras dan dia juga bilang kalau buku diary ini akan sangat berguna bagi hidupnya kelak. Akhirnya Yohan pun menerima buku diary tersebut.


"Baiklah nek..aku terima buku ini & akan kujaga dengan baik" ujarnya berjanji.


"Ingat nak, apapun yang kamu tulis disana pasti akan terwujud jadi berhati-hatilah!" ujarnya memberi peringatan pada Yohan, sebelum akhirnya nenek itu menghilang secara ajaib.

__ADS_1


Dan pada akhirnya, Yohan pun mulai rajin menuliskan apapun juga seperti tentang kesehariaannya, tentang pikirannya, tentang perasaan dihatinya semua dia tuangkan dalam buku diary tersebut. Sehingga lambat-laun dia pun tidak merasa kesepian lagi.


Suatu ketika Yohan sedang dalam perjalanan pulang sekolah, tiba-tiba dia berpapasan dengan para rentenir. Karena melihat wajah Yohan yang mirip seperti fotocopy wajah Hans itu, mereka pun langsung memukuli Yohan berkali-kali hingga pingsan. Dan saat dia sadar ternyata dia sudah ada di RS. Ibu & Virna adiknya pun datang menjenguknya, melihat putranya luka parah Indira pun tak kuasa menahan air matanya dan Virna pun juga ikut menangis paling keras.


"Ko..siapa yang berani pukul wajah koko sampai kayak gini sih?" serunya emosi sambil terus menangis.


"Koko bukan dipukul kok tapi karena ga hati- hati pas pulang jadi koko jatuh deh dari sepeda" ujarnya berbohong agar adiknya itu tidak khawatir lagi. Namun Ibu Yohan tahu kalau ini pasti ulah rentenir yang sering datang ke rumah untuk menagih hutang judi Hans yang katanya sudah mencapai 30 juta rupiah. "Nak..kamu baik-baik saja kan? apa ada luka serius ditubuhmu?" ujarnya ibunya itu sangat panik. Namun Yohan hanya bisa menggeleng sedih lalu mereka bertiga pun berpelukan sambil menangis. Saat ibu Yohan mendengar penjelasan dokter tentang kondisi anaknya yang mengalami patah tulang di kaki & tangannya itu, Indira hanya bisa menangis.


Yohan pun harus dirawat inap selama dua minggu di RS sampai kondisinya benar-benar pulih. Selain ibu & Virna yang rutin datang menjenguk, dan ternyata kepala sekolah beserta guru-guru & teman-teman sekolah Yohan pun datang menjenguknya silih berganti, teman Yohan yang paling rajin datang pun rata-rata perempuan. Ibu & Virna baru tahu kalau Yohan sangat populer di sekolahnya itu.


"Waduh jadi merepotkan, bapak & ibu guru sekalian..kunjungan kalian saja sudah cukup buat kami" ujar ibu Yohan dengan nada terharu. "Jangan sungkan bu Indira, Yohan itu kebanggaan sekolah kami jadi sudah sepatutnya lah kami perduli" ujar pak Sony dengan berwibawa. Setelah mengobrol sejenak kepala sekolah & para dewan guru pun pamit pulang. Sore harinya para sahabat & para fans Yohan pun datang silih berganti hampir tiap hari, mereka pun banyak membawa buah tangan untuk Yohan.

__ADS_1


Malam harinya barulah Yohan bisa istirahat dengan tenang, walau sedang terbaring sakit Yohan tak pernah lupa untuk belajar serta rutin menulis di buku diary itu.


"Hari ini banyak orang dari sekolah datang menjengukku, namun ayahku sendiri bahkan batang hidung pun tak tampak" tulis Yohan gembira bercampur sedih.


"Aku dengar dari suster bahwa seorang nenek yang menolongku, apakah dia si nenek yang sama waktu itu? aku rindu padanya" tulisnya lagi sambil memejamkan mata untuk berdoa dalam hati.


Keesokan harinya, doa & harapan Yohan yang tertuang di buku diary tersebut menjadi kenyataan. Si nenek datang berkunjung ke RS, betapa senang hati Yohan bisa bertemu dengannya lagi.


"Nenek.. akhirnya nenek datang juga, Yohan kangen banget lho nek" ujarnya manja sambil memeluk erat si nenek.


"Iya cu..nenek juga kangen sama kamu, apa kamu sudah membaik?" ujarnya lirih sambil menitikkan air mata.

__ADS_1


"Sudah mendingan nenek..lho, kok nenek nangis sih, jangan nangis ya ntar Yohan ikutan sedih" ujarnya lirih dengan nada menghibur. "Iya.. nenek janji ga nangis lagi, tapi kamu janji untuk jaga diri sendiri dengan baik ya..jangan sakit lagi" ujarnya menasehati.


"Siap bos..lain kali Yohan akan belajar ilmu bela diri agar nenek tidak khawatir lagi" serunya berjanji, lalu mereka pun tertawa riang bersama. Saat ibu & Virna datang tiba-tiba si nenek sudah pergi tanpa pamit. Kemudian seperti biasa teman-temanya juga silih berganti sampai Yohan merasa lelah dan jatuh tertidur. Tanpa sepengetahuan Yohan, tiap malam ternyata ayahnya datang menjenguknya. Wajah Hans juga penuh dengan bekas luka sehingga dia tidak berani muncul terang-terangan karena rasa malu serta rasa bersalah yang mendalam itulah, ayahnya hanya bisa datang dengan sembunyi-sembunyi ketika Yohan tidur. Merasa gagal sebagai ayah & suami.


__ADS_2